CINTA SMA

CINTA SMA
Panik


__ADS_3

" Lepaskan, Tuan. " kata Sinta yang mencoba melepaskan genggaman tangan Rio.


" Kenapa kau menjauhi ku?" tanya Rio yang menatap mata Sinta dengan intens.


Sinta pun terdiam mendengar penuturan Rio dan juga menatap nya balik.


" Kau jangan pandang aku seperti itu, Sinta." kata Rio yang tertusuk pandangan mata Sinta yang membuat degup jantung berdebar kencang.


Lalu pintu lift pun terbuka, terlihat ada Mira yang berada di depannya.


" Rio." kata Mira yang membulatkan matanya karena terkejut melihat Sinta sedang di himpit oleh Rio.


" Apa yang kalian lakukan di dalam lift?" tanya Mira.


Sinta langsung mendorong tubuh Rio, dan dia berlari ke ruangannya.


" Rio, Rio." panggil Mira yang di tinggalkan Rio yang menyusul Sinta.


Beberapa menit kemudian pintu lift yang sebelah pun terbuka.


" Hey, Mira. Apa kau melihat Sinta ?" tanya Puput yang panik.


" Dia masuk kedalam ruangan nya." kata Mira yang bingung melihat teman-temannya panik dan langsung berlari ke arah ruangan Sinta.


" Hey, sebenarnya apa yang terjadi?" teriak Mira lalu dia menyusul menemui Sinta.


***

__ADS_1


RUANGAN SINTA


" Sinta, jawab aku. Kenapa kau terus menghindar dari ku?" tanya Rio yang sudah berada di ruangan Sinta.


" Maaf, Tuan. Aku tidak bisa." jawab Sinta.


" Aku punya segalanya, lebih dari yang Dito punya." kata Rio yang memaksa.


" Tapi aku tetap tidak bisa." kata Sinta sambil memejamkan kedua matanya.


Kemudian dari luar terdengar suara ketukan pintu.


" Sinta, Sinta." teriak Puput dan Wahyuningsih.


Dan Rendi mencoba mendorong pintu yang di tahan oleh Rio.


Rio belum mendapatkan jawaban yang pasti dari Sinta. Namun karena dia tidak ingin ada ke gaduhan di kantor nya. Maka dia membukakan pintu untuk ketiga teman Sinta.


" Hey, Tuan CEO. Apa yang kau lakukan pada temanku?" tanya Puput sambil mendorong tubuh Rio.


Rio tak menjawab lalu dia langsung berpaling dan berjalan keluar pintu.


" Tuan, aku sudah bilang. Teh Sinta sulit untuk di taklukkan." kata Rendi yang mencegat Rio.


Dengan wajah sinis Rio mendorong Rendi dan berlalu pergi menuju ruangannya.


" Kau tidak apa-apa, Sin?" tanya Wahyuningsih.

__ADS_1


" Aku tidak apa-apa, Ning." jawab Sinta." Sebaiknya kalian ke ruangan masing-masing. Aku sudah tidak apa-apa."


Setelah meyakinkan bahwa keadaan Sinta baik-baik saja, mereka langsung balik ke ruangan masing-masing.


Suasana kantor masih sepi karena pegawai kantor belum kembali dari jam istirahat. Dan kejadian antara kegaduhan Rio dan Sinta tidak di ketahui oleh para pegawainya.


Mira yang melihat dari jauh, langsung menghampiri Rio ke dalam ruangan nya.


" Ada apa denganmu?" tanya Mira yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Rio.


" Apa kau tak punya tangan untuk mengetuk pintu?" kesal Rio.


" Kenapa kau begitu tergila-gila dengan Sinta?" tanya Mira mencibir.


" Entahlah, " jawab Rio, " Pergilah, jangan ganggu aku." kata Rio yang mengusir Mira.


Mira pun pergi dengan wajahnya yang cemberut karena diusir oleh Rio.


" Mengganggu saja." gumam Rio.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, hari ini terakhir mereka magang di kantor. Sinta dan teman-temannya berkumpul dan masuk ke dalam ruangan. Para siswa magang berpamitan dan mengucapkan terima kasih, karena telah mengajarkan dan membimbing mereka. Mira tak nampak kehadiran bergabung bersama mereka. Mira takut bila di dekat Puput, maka dia akan kena sindiran lagi.


-


-


Dukung terus karya author dengan cara like, vote dan berikan komentar mu.

__ADS_1


__ADS_2