
jika yang satu sibuk menata, sedangkan yang lainnya sibuk menghancurkan, sebuah komitmen tidak akan berjalan dengan baik.
(fiersa besari)
:::::::::::::::
"papa.." gumamnya lirih namun masih bisa di dengar oleh pria paruh baya itu. pria itu menatap secara bergantian ke arah mereka bertiga.
"tengah malam seperti ini kau malah keluyuran tidak jelas bersama para lelaki seperti ini," ucapnya dengan menatap Miko dan Sendi tak suka. entah sejak kapan Sendi sudah berdiri di samping mereka walau dengan sedikit kelimpungan.
setelah mengatakan itu, lengan Sinta di cekal oleh papanya dan langsung menariknya masuk ke dalam mobil. sebenarnya Miko hendak menghentikan, namun ia hanya pacar Sinta, dan ia tak bisa melakukan apapun karena papa Sinta lebih memiliki hak terhadap kekasihnya itu. setelah mobil yang Sinta dan papanya kendarai sudah melesat pergi, Miko pergi meninggalkan Sendi. ia begitu marah padanya karena sudah merusak hubungan dengan kekasihnya.
brukk
tubuh Sendi tak mampu untuk berdiri lagi dan tubuhnya langsung terjerembab di aspal dan tidak sadarkan diri.
*****
di pagi harinya Sendi membuka matanya ketika sinar yang masuk melalui jendela menyilaukan pandangannya. kepalanya masih terasa pusing karena tadi malam, selain itu tubuhnya terasa sakit semua hingga membuatnya malas untuk beranjak dari tidurnya. ia melihat ke sekeliling dan mendapati dirinya yang ternyata berada di kamarnya sendiri. membuatnya mengernyitkan keningnya merasa heran.
"siapa yang membawaku ke sini?," gumamnya lirih. dan tak berapa lama dari arah kamar mandi seseorang membuka pintunya yang ternyata adalah Seno. seketika Seno menghampiri nya dan langsung menyentil keningnya pelan. Sendi mengaduh tanpa suara membuat Seno menahan tawanya.
"kau ini menyebalkan sekali. semalam kau mabuk sampai teler itu untuk apa, hmm? sampai pingsan di pinggir jalan lagi," omelnya yang seketika mendapat tatapan tajam dari saudara tirinya itu. namun bukannya takut, justru Seno malah menatap balik Sendi dengan tatapan tak kalah tajam.
Sendi mencoba untuk mengingat-ingat kembali kejadian semalam, namun yang dia ingat hanyalah di berjalan menuju ke bar dan minum-minuman keras hingga ia sudah benar-benar tidak sadar.
__ADS_1
"apa kau menemukanku di pinggir jalan?," tanyanya setelah cukup lama Sendi berkutat dengan pikirannya sendiri, ia pun mulai membuka suara.
lalu Seno duduk di tepi ranjang dengan kaki bersila dan sebelah tangannya menopang dagu menghadap ke arah Sendi dengan tatapan yang serius.
"apa kau tidak ada tempat lain untuk pingsan? kenapa kau harus terkapar di pinggir jalan seperti ikan asin yang di jemur? kenapa kau tidak pingsan di depan rumah saja agar aku tidak perlu repot-repot menggendongmu. jika kau pingsan di depan rumah, kan aku bisa langsung menyeretmu masuk sen," ucapnya yang langsung dapat jitakan bertubi-tubi di kepalanya.
"sialan kau, kalau aku bisa memilih pun, lebih baik aku pingsan di pangkuan wanita saja, dari pada harus pingsan di pinggir jalan," Sendi berucap dengan nada ketus.
Seno mendengus kecil, "bukannya terima kasih, tapi kau malah menjitak ku," setelah mengatakan itu, Seno dan Sendi pun bergulat di atas kasur dengan salto-salto yang membuat kasurnya menjadi berantakan.
"kau berani padaku ya," Sendi menggelitik perut Seno hingga Seno tertawa dan menggeliatkan tubuhnya.
"ampun gak?" sambungnya memberi penawaran.
Seno masih tertawa-tawa hingga tangannya refleks memukul-mukul tubuh Sendi dengan bantal. "hentikan, hentikan," ucapnya di sela tawanya. "ampun sen, ampun Sendi," setelah mengatakan itu, Sendi pun mendorong tubuh Seno hingga ia terjatuh di lantai.
lalu ia berjalan menuju ke cermin besar yang ada di kamarnya dan mulai melihat sudut bibirnya yang sedikit robek.
Seno yang sedari tadi melihat Sendi pun mulai membuka suaranya. "semalam kau habis bertengkar dengan seseorang?," tanyanya yang membuat Sendi seketika menoleh ke arah Seno.
"tidak," ucap Sendi singkat. "apa ibu dan ayah mengetahui itu?," sambungnya dengan raut wajah khawatir.
Seno menyembunyikan senyum jahilnya, lalu ia memasang raut wajah serius. "apa kau tau? kalau ibu dan ayah begitu marah padamu karena semalam kau mabuk? apalagi mereka mengetahui kalau kau terkapar di pinggir jalan. siap-siap saja waktu kita sarapan nanti, sebelum ayah dan ibu memarahimu, lebih baik kau minta maaf dulu," ucapnya yang membuat Sendi seketika takut. lalu Sendi langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung membuka knop pintu lalu turun.
Seno yang melihat itu pun seketika langsung tertawa karena melihat tingkah saudaranya hingga ia memegangi perutnya karena terus tertawa. lalu ia pun berjalan keluar kamar, turun dari tangga pelan-pelan dan bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan percakapan Sendi, pak Johan dan Bu Susi. sesekali Seno mengintip ke arah mereka bertiga yang tengah berdiri berhadapan.
__ADS_1
terlihat Bu Susi memegang dagu Sendi dan melihat sudut bibirnya yang terlihat sedikit robek membuat raut wajah Bu Susi seketika khawatir. "kau habis bertengkar?," tanyanya yang semakin membuat Sendi semakin gelisah.
"ada apa denganmu Sen? kenapa kau hanya diam saja?," tanya pak Johan yang sedari tadi melihat Sendi yang seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun ia selalu mengurungkan.
"Sendi janji tidak akan mengulanginya lagi Bu, yah," ucapnya kemudian, lalu ia menatap wajah kedua orang tuanya bergantian. "Sendi janji tidak akan melakukan hal seperti semalam lagi," sambungnya dengan memperhatikan raut wajah keduanya.
"semalam kau bertengkar dengan siapa sampai bibirmu sedikit robek seperti ini?" ucap Bu Susi masih dengan memegang dagu putranya itu.
Sendi mengernyitkan keningnya, kenapa orang tuanya tidak menyinggung masalah ia yang mabuk semalam? apa mereka tidak mengerti hal itu? apa Seno sedang berbohong? pikirnya yang membuat Sendi seketika ingin bergulat lagi dengan adik tirinya itu.
Bu Susi berjalan menuju ke laci yang berisikan obat-obatan, lalu ia kembali lagi ke tempat anak dan suaminya berdiri dengan membawa beberapa obat luka dan kapas. Bu Susi mengambil satu kursi dan menyuruh putranya untuk duduk, setelah itu Bu Susi pun mengobati luka Sendi dengan obat yang ia bawa tadi. setelah Bu Susi selesai mengobati lukanya dengan obat merah, Sendi pun kembali lagi ke kamarnya untuk menemui Seno. ketika mengetahui Sendi akan kembali ke kamar tadi, Seno sudah berlari duluan untuk masuk kembali ke kamarnya dengan menahan tawanya, takut jika Sendi menciduknya. dan pertengkaran di kamar tadi pagi pun terulang lagi hingga Seno meminta ampun pada Sendi.
setelah mereka berdua berhenti, mereka pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua tangan melipat di belakang kepala.
-
-
-
ikan hiu yang lagi ngaca
I LOVE YOU buat yang baca hehehhehe
jangan lupa pantengin novelku lainnya,
__ADS_1
"BERBEDA" karyaku yang bergenre horor plus romantis....