CINTA SMA

CINTA SMA
bab 22


__ADS_3

mereka pun beriringan menuju taman untuk berputar-putar karena taman adalah tempat yang cocok untuk bersepeda santai, lagipula taman itu cukup luas, tidak terlalu banyak orang lalu lalang. sendi boncengan dengan Sinta, Seno boncengan dengan mei, dan Danu boncengan dengan Sasa. mereka tampak asik menikmati sepoian angin yang menerpa wajah mereka. tapi tidak dengan mei, hatinya menderu entah karena apa. ada yang sakit disini, di hati mei. mei terus merenung dan merasa tidak bersemangat.


"Seno," ucap mei memecah keheningan yang tadi sempat merajalela.


"ada apa?," tanya Seno lembut.


"bagaimana dirimu dengan Miko kemarin? apa Bu Ninda memberi kalian nilai nol?," tanya mei.


"aku yakin dirimu tidak memberikan contekan kepada miko. karena aku tau kamu adalah pria yang baik," lanjut mei.


"terima kasih kau sudah mempercayaiku. bu Ninda sudah mengetahui semuanya. kunci jawabannya semua ada di cctv yang terpasang di dalam kelas. bu Ninda tau kalau sebenarnya aku tidak terlibat. jadi Bu Ninda memberikan hukuman kepada Miko untuk membersihkan taman," ucap Seno panjang lebar.


"ohhh," ucap mei singkat.


di tempat lain Sinta ingin berbicara serius dengan sendi.


"apa yang mau kau bicarakan?," tanya sendi tetap menatap jalan di depan.


"aku berterima kasih kepada m-muu......


aku berterima kasih padamu, karena aku telah mendapatkan banyak kekuatan dalam hidupku. a-aku berterima kasih padamu, kamu adalah penyemangat ku. aku berterima kasih kepada mu, kamu membuatku selalu merasakan debaran yang selalu datang tiba-tiba. aku sangat menyukaimu. aku berharap kau juga merasakan hal yang sama dengan diriku," ucap Sinta sambil memeluk tubuh sendi erat, sangat erat.


sendi tampak diam tak menjawab pernyataan yang tadi Santi sampaikan dengan jelas.


"ini adalah waktu yang tepat untuk bilang hal ini kepadamu. karena aku jadi tidak terlalu malu untuk mengungkap semuanya karena aku tidak melihat wajahmu.


sendi pun mengerem sepedanya dan secara otomatis sepeda itu berhenti.


"maafkan aku, tapi aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap mu," ucap sendi tenang tanpa menoleh wajah gadis yang ada di belakangnya itu.


"apa sedikit saja tidak ada untukku?," tanya Sinta yang masih mengharapkan cinta sendi.


sendi pun turun dari sepedanya dan mulai menatap Sinta yang sudah mulai menangis.


"lebih baik mengatakan sekarang walaupun itu akan sakit untukmu. tapi kau akan cepat untuk pulih, daripada aku harus memberikan harapan yang tidak pasti, itu akan membuatmu lebih terluka lagi. jangan mengharapkan ku lagi," ucap sendi mencoba untuk bijak dalam berkata. ia tidak mau Sinta berharap lagi, karena itu akan semakin membuat luka yang lebih dalam lagi di hati Sinta.

__ADS_1


plak


brukk


pukulan yang cukup dashyat itu bisa membuat tubuh kuat sendi menjadi menggelepar di tanah. astaga, luka lebam yang ada di wajah sendi semakin bertambah karena pukulan yang cukup dahsyat tadi. sinta pun jongkok untuk mensejajarkan posisinya dengan sendi yang jatuh terduduk itu dan Sinta mencoba memeluk sendi untuk membentengi tubuh sendi dengan tubuhnya agar orang itu tidak lagi memukul sendi.


"apa yang kau lakukan hah?," ucap pria itu menatap menghunus tajam.


"jangan sakiti sendi, jangan membuatnya terluka lagi," ucap Sinta menangis dan masih memeluk tubuh sendi itu.


mei, Seno, Danu, dan Sasa yang ada di depan itu pun sontak kaget dengan suara yang cukup keras di belakangnya. lalu mereka spontan menoleh ke arah suara itu dan mulai menyusul sendi dan Sinta.


"kau juga benar-benar anak tidak tau diri. kau apakan anakku sampai dia berani membantahku hm m?" hardik pria itu.


sendi pun melepaskan pelukan sinta yang begitu erat ditubuhnya itu, lalu berdiri menghadap pria berjas hitam itu.


"kenapa kau menatapku hah?," ucap pria itu masih menghardik sendi.


"ayo pulang Sinta, hanya karena lelaki ini kau mau kabur dari rumah? jawab Sinta!," ucap pria itu yang kini menarik paksa tangan Sinta.


ucap Sinta mulai menangis histeris.


"apa yang kau katakan Sinta?," tanya pria itu butuh kejelasan. yang ternyata adalah pak Alan(papa Sinta).


"aku sakit pa, aku benar-benar sakit. harus berapa kali aku bilang ke papa kalau aku sakit, hmm?," ucap Sinta tertahan mencoba menahan tangis dan amarahnya.


"kau adalah putri kebanggan papa, papa ingin kamu mewujudkan cita-cita mu menjadi atlet," ucap pak alan menatap putri kesayangannya itu.


"papa ingin mewujudkan cita-cita ku, atau cita-cita papa?" ucap Sinta yang mulai tersulut emosi nya.


Sinta pun pergi meninggalkan mereka semua yang ada di sana, lalu Sasa pun menyuruh Danu untuk turun dan Sasa mulai menggenjot pedal sepedanya menuju ke arah Sinta.


pak Alan tak mengejarnya dan dia malah pergi menuju tempat mobilnya terparkir dan masuk. ia sedikit tersentak dengan kata-kata putri semata wayangnya itu.


dia termenung, apakah yang dilakukannya selama ini kepada putrinya adalah salah? pak Alan hanya ingin anaknya menjadi atlet yang berprestasi. tapi ia baru menyadari kalau caranya yang menggembleng Sinta itu terlalu memaksa dan terkesan keras karena pak Alan tau kalau anaknya tidak pandai dalam pelajaran. dia terus menerus menyuruh Sinta untuk latihan, latihan dan latihan tanpa istirahat. tidak ada jeda untuknya melepas penat. sampai pak Alan benar-benar menyadari dari perkataan Sinta yang mengatakan dia sakit, benar-benar sakit.astaga, dia adalah orang tua yang egois.

__ADS_1


pak Alan pun menutup wajahnya dengan kedua tangan kekarnya dan menangis sejadi-jadinya.


sedangkan Sinta? dia duduk di kursi depan toko yang kebetulan sepi tidak jauh dari taman ditemani oleh sahabat terbaiknya, sasa. sinta pun menangis di dada sasa, sahabatnya yang selalu mengerti dirinya itu.


"bagaimana papa bisa tau kalo aku ada di taman?," tanyanya kepada Sasa yang bajunya bagian dada sudah benar-benar basah akibat ulah Sinta yang menangis sembarangan.


"aku benar-benar membencinya," ucap Sinta.


di tempat lain Danu mencoba untuk memapah sendi yang meringis kesakitan. tapi sendi menolaknya dan menghampiri mei yang ada di samping seno. ia pun menarik tangan mei agar mendekat ke arahnya.


"mei, tetaplah disisiku," ucap sendi tiba-tiba dan membuat mei, Danu, dan Seno tersentak terkejut dengan perkataan sendi.


pernyataan itu terdengar seperti rasa suka sendi terhadap mei.


mei tak menjawab sendi dan berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga disana.


"apa ada yang salah dengan perkataan ku?," gumam sendi yang masih bisa di dengar Seno dan Danu.


"itu namanya kau curang ketika menyatakan perasaanmu ke orang yang sebenarnya masih belum siap," ucap Seno tenang.


"ku rasa ini adalah waktu yang tepat," batin sendi.


mei tengah jalan sendirian. sedari tadi mei merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. apa ini? aku tidak pernah merasakan hal ini. kenapa kencang sekali?.


beribu-ribu pertanyaan pun muncul di benak mei yang sedang berlalu lalang melintas kepala mei. aishhh malaikat tidak pernah merasakan hal ini.


"apa kau baik-baik saja?," ucap Seno yang sudah berada di sebelah mei menuntun sepedanya agar mengimbangi jalannya.


"iya, maafkan aku sen karena aku telah membohongimu dengan mengatakan aku sepupu sendi," ucap mei menunduk.


Seno mengatakan kepada mei supaya tidak perlu meminta maaf kepadanya.


*****


love

__ADS_1


maulani safitri


__ADS_2