
" Fadli masih sekolah, dia kan SMA bukan SMK kayak kita." tutur Puput.
" Aku mau tahu kejadian kemarin, dan melihat keadaan Sinta." ucap Wahyuningsih.
Lalu mereka turun di halte busway paling akhir, dan lanjut naik angkutan umum yang menuju arah rumah Sinta.
" Put, Malik gimana kabarnya?" tanya Wahyuningsih.
" Dia juga lagi bikin laporan, "imbuhnya.
" Dia gak ke pincut sama kasir di supermarket?" ledek Wahyuningsih.
" Hadeh, Ning. Kamu kerjaan nya gosip terus." tutur Puput.
" Gak kerasa uda sebulan di kantor itu, aku pikir Mira akan berubah." tutur Wahyuningsih dengan polosnya.
" Orang kayak gitu mah gak bakal berubah, malah tambah jahat." cibir Puput.
" Padahal jelas-jelas Dito gak suka sama dia, tapi masih ngotot juga ngejar-ngejar Dito!"
" Sepupunya juga begitu, " ucap Puput.
" Kiri, kiri..." kata Puput yang berteriak pada supir angkot.
Mereka pun sudah sampai di gang rumah Sinta.
" CEO itu?" kata Wahyuningsih.
" Kemarin Sinta di bawa paksa oleh dia. Saat Dito mencari Sinta gak ada di kamarnya, Dito jadi bingung." jelas Puput yang mengetahui cerita itu dari Terry.
" Terus?" tanya Wahyuningsih.
__ADS_1
" CEO itu membawa Sinta ke kebun durian milik Terry. Dan Sinta mencoba melarikan diri. Untung ketemu sama Rendi." ujar Puput.
" Memangnya CEO itu ngikutin Dito dan Sinta?"
" Katanya sih iya!" jawab Puput.
" Ngapain dia ngikutin orang lagi jalan-jalan!" bingung Wahyuningsih.
" Assalamu'alaikum." ucap Puput memberi salam karena sudah sampai di rumah Sinta.
" Wa'alaikum salam." jawab Sinta yang sedang duduk di ruang tamu.
" Sin, ya ampun kaki kamu pada merah-merah gitu." kata Wahyuningsih yang cemas melihat kaki Sinta yang masih kemerahan.
" Ayo masuk, " kata Sinta dengan jalan terpincang-pincang.
" Sin, kamu sendiri aja?" tanya Puput
" Gak usah repot-repot, Sin. Biar aku aja yang ambil." kata Wahyuningsih yang langsung menuju dapur.
Mereka memang sudah biasa bila harus menyediakan minum di rumah sahabat nya.
" Oh iya Ning, di kulkas ada sirop. Kamu bikin di teko aja sekalian." kata Sinta yang sudah duduk di kursi.
" Oke, " kata Wahyuningsih.
" Put, oleh-oleh nya ada di kamarku. Dito membeli banyak sekali, bisa kau ambilkan yang di atas tempat tidur ku." kata Sinta yang sudah memisahkan oleh-oleh yang di beli oleh Dito.
" Oke, aku masuk ya!" kata Puput yang langsung masuk ke kamar Sinta.
Puput mengeluarkan kardus yang ukurannya cukup besar.
__ADS_1
" Dito mau buka toko ya?" kata Puput yang merasa kerepotan membawa kardus.
" Aku juga bingung, anak laki kok doyan belanja." ucap Sinta.
" Buah stroberi yang aku petik dari kebun Terry ada di kulkas. Kamu ambil satu dan Ning satu ya. " kata Sinta, " Oh iya, bikin es buah aja bang Ning." kata Sinta.
" Hadeh nyonya ribet amat sih." kata Puput
" Maafkan aku, kalau saja kakiku gak sakit pasti aku tidak akan merepotkan kalian." kata Sinta dengan wajah memelas.
" Ih, aku becanda kali. Aku dan Ning main kesini mau gosip tahu." kata Puput yang langsung menuju dapur.
Puput langsung menghampiri Wahyuningsih yang sedang membuat es sirop.
" Ning, kata Sinta campurin sama buah stroberi." ucap Puput yang mengambil buah stroberi di dalam kulkas.
" Wah, gede-gede banget stroberi nya." kata Wahyuningsih terkagum.
" Iya, kebun Stroberi milik keluarga Terry kan terjamin kualitasnya." puji Puput.
" Besok kita main yuk ke rumah Terry, aku kangen." kata Wahyuningsih.
" Kita touring, aku akan bilang Malik. Dan kau tentu saja bilang Fadli." usul Puput.
" Boleh, boleh.." kata Wahyuningsih menyetujui usul Puput.
-
-
Dukung terus karya author ya, silahkan like, vote.👍
__ADS_1