
"kenapa kau memberiku nomor telepon rumahmu?," tanya Mia dengan hati yang dongkol.
"memangnya kenapa nona? nomor anda tersambung kan di telepon rumah saya?. jadi lain kali kalau anda ingin memesan makanan di sini, anda bisa langsung menelepon nomor telepon rumah saya," ucap sendi dengan menampakkan senyum manisnya itu hingga lesung Pipit di kedua pipinya terlihat.
"tidak ada yang dibutuhkan lagi kan nona? kalau begitu saya permisi dulu. silahkan di nikmati nona-nona," ucap sendi kemudian, lalu ia pun berjalan ke dapur meninggalkan wanita cantik itu yang masih menampakkan wajah di tekuk.
"menyebalkan sekali," umpat Mia dalam hati. ia benar-benar dongkol akibat ulah sendi yang menyebalkan itu.
sedangkan teman-temannya malah asik menertawakan Mia.
"ku sumpal mulut kalian semua dengan garpu ini," ucap Mia memelototkan matanya ke arah teman-temannya.
seketika tawa mereka pun berhenti menjadi tawa pelik karena takut akan ancaman Mia.
"berani sekali laki-laki itu mempermalukan aku di depan teman-temanku. awas saja kau, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. dan setelah kau jatuh cinta padaku, aku akan mencampakkan dirimu hingga kau memohon bahkan berlutut di kakiku untuk memintaku kembali padamu," gumam Mia dalam hati.
di dapur Seno menghampiri sendi yang tengah sibuk memotong bawang merah dan cabe.
"apa kau sudah mendapat kekasih baru," goda Seno.
"apa kau mau tubuhmu ini ku potong-potong seperti bawang ini?," ucap sendi tanpa menoleh ke arah Seno, ia masih sibuk memotong bawang merah dan cabe.
__ADS_1
"kenapa akhir-akhir ini kau begitu sensitif sekali? apa kau sedang datang bulan?," ucap Seno asal.
"berani kau bicara lagi, ku sumpal mulutmu dengan bawang," ucap Sendi dengan wajah sangarnya.
Seno hanya tertawa pelik melihat wajah sangar Sendi.
"kenapa kalian ini ribut, kalian itu sama seperti kucing dan tikus yang suka bertengkar. setelah selesai, kalian masuklah ke kamar, mandi dan ganti baju kalian," tutur pak Johan.
"iya," ucap Seno dan Sendi bersamaan.
setelah Seno dan Sendi selesai dengan pekerjaannya, mereka berdua pun naik ke atas dan mulai masuk ke kamar.
terlihat Sendi tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil melipat kedua tangan di belakang kepalanya.
ia tengah menatap kosong langit-langit dinding kamar.
sedangkan Seno, ia sedang berendam di kamar mandi.
"apa kabar mei. apa kau baik-baik saja?, aku sungguh merindukanmu. dimana sekarang kau berada? kenapa kau tega meninggalkanku sendirian di sini mei?" gumam sendi. lalu ia pun memejamkan matanya, dan tanpa sadar air matanya pun ikut tersapu di sana.
Sendi sungguh merindukan mei yang entah sekarang ada di mana, apakah Mei menjadi malaikat lagi dan meninggalkan Sendi untuk selama-lamanya?.
__ADS_1
tak lama Sendi pun terlelap dalam tidur nya.
"tumben sekali masih siang sudah tidur," gumam Seno saat ia sudah keluar dari kamar mandi dan mendapati Sendi tengah tertidur.
setelah ganti baju, Seno pun mengambil jaket yang di gantung di belakang pintu dan mulai memakainya. sebelum Seno keluar dari kamar, ia menghampiri Sendi dan membalut tubuh Sendi dengan selimut. setelah itu ia membuka knop pintu dan keluar dari kamar.
-
-
-
readers jangan lupa like, coment, poin and koin....
dukungan kalian sangat berharga.
jangan di anggurin like, dan beri coment ya....
love
M a u l a n i s a f i t r i
__ADS_1