CINTA SMA

CINTA SMA
bab 45


__ADS_3

mei pun melangkah kan kakinya menuju ke ruang UKS. tapi ketika ia hampir dekat dengan ruang UKS, mei melihat sendi yang tengah keluar dari ruang UKS tapi di cegah oleh Sinta.


"apa tidak bisa sedikit saja kau memberikan rasa cintamu itu padaku sen?," ucap Sinta menahan tangis.


"aku benar-benar sudah kehilangan semuanya. aku kehilangan cinta ayahku, keluargaku,sahabatku, dan sekarang apa aku juga akan kehilangan dirimu sen?," lanjut Sinta dengan mata yang berkaca-kaca.


"kau kehilangan segalanya itu karena ulahmu sendiri. dan jangan memaksaku untuk mencintaimu karena aku hanya milik mei,dan mei hanyalah milikku," ucap sendi tegas tanpa menoleh ke arah Sinta.


"apa tidak ada kesempatan untukku agar bisa mendapatkan hatimu sen?," tanya Sinta penuh harap.


"tidak," ucap sendi singkat.


lalu Sinta pun memeluk tubuh sendi dari belakang. sendi melepaskan pelukan sinta kasar dan pergi meninggalkan Sinta sendirian.


"kau benar-benar membuatku terluka," gumam Sinta lirih. ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menumpahkan tangisnya.


sebenarnya mei ingin menghampiri Sinta yang tengah menangis. tapi ia urungkan karena melihat Sinta yang pergi dari tempat itu.


mei kasihan melihat Sinta seperti ini, tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa.lalu mei pun pergi ke kelasnya.


saat bel pulang berbunyi, semua siswa keluar dari sekolah untuk pulang ke rumah masing-masing.


mei sedang berjalan beriringan dengan sendi dan seno. mei melihat Seno tidak lagi marah dengannya dan juga sendi. saat akan keluar dari halaman sekolah, mereka bertiga melihat Dino yang tengah di pukuli oleh Miko dan kawan-kawannya. lalu mei, sendi, dan Seno pun mendekati mereka.


"apa kalian tidak capek bertindak seperti anak kecil?," tanya sendi dingin dan menatap tajam Miko dan kawannya satu persatu.


"apa kalian tidak capek terus mengurusi urusan kami?" tanya Miko sinis.


"pergilah kalian jika ingin selamat," lanjut Miko.


"seharusnya kalian yang harus pergi jika kalian ingin selamat," imbuh seno.


lalu tanpa memperdulikan mereka, Miko tetap memukuli Dino.


mei yang tidak tega melihat Dino dipukuli pun langsung menatap tajam ke arah Miko. disaat tangan Miko mengepal hendak memukul Dino lagi, tiba-tiba tubuh Miko ambruk ke belakang seperti ada yang mendorongnya. sendi yang terkejut melihat mei itu pun segera menarik tubuh mei agar mei menghentikan aksinya.


mereka semua yang melihat kejadian tadi pun terkejut.


"apa kau superhero?," tanya Pungky masih dengan mulut menganga. sedangkan Dika masih sibuk membantu Miko yang tadi ambruk.


"apa maksudmu?," ucap sendi.


"aku tadi melihat matamu bercahaya ketika kau menatap Miko," ucap Pungky bergidik ngeri.


"yah aku benar-benar melihatnya tadi," ucap Miko masih menatap mei tak percaya.


"siapa kau?," tanya Miko mendekati mei.


"jangan kelewat bodoh kau," ucap sendi menarik lengan mei agar bersembunyi di belakangnya.


"kau mengatai aku bodoh,hah?," ucap Miko marah dan meraih kerah baju sendi.


sedangkan Seno merogoh sakunya dan mengambil ponselnya untuk merekam aksi Miko itu.


"video ini adalah bukti terbaik kekerasan di sekolah," ucap Seno.


Miko panik. Ia langsung melepas kerah baju sendi.


"Pikirkan bagaimana kau saat itu." ucapnya pada miko kemudian seno pergi bersama mei dan sendi.


miko kesal mendengar ucapan Seno itu. Ia mengajak pungky dan dika untuk pergi. karena dia ingin bersenang-senang sekarang.


"Apa kau tidak merasa aneh? Miko selalu membiarkan seno pergi?" ucap dika pada pungky.


"'Saat itu?" Ayo kita cari tahu bagaimana dia saat itu." ucap Pungky benar-benar penasaran.

__ADS_1


*****


sendi, mei dan Seno pun sampai di kafe. sendi baru menyadari kalau Seno masih mengikuti dirinya dan mei sampai rumah.


"kau kenapa ikut kemari?, apa kau tidak pulang?," tanya sendi ketus.


"aku mau tinggal di sini, aku sudah memberi pesan kepada ibuku kalau aku akan tinggal di sini bersamamu dan mei," ucap Seno.


mei yang melihat mereka berdua bertengkar pun memilih untuk masuk duluan dan mengganti pakaiannya di kamar.


"terserahlah apa katamu," ucap sendi menyerah dan masuk ke kafe mendahului Seno.


setelah itu mereka pun membuka kafe.


satu persatu pembeli mulai berdatangan,dan mereka bertiga benar-benar kewalahan. seperti sendi menelpon Danu untuk membantunya di kafe. tapi Danu tidak bisa karena saat ini dia sedang sibuk membantu ibunya beres-beres rumah.


"sudahlah Danu tidak bisa datang,jangan memaksanya," ucap mei.


"iya," jawab sendi singkat.


tak beberapa lama mereka bertiga di kejutkan oleh pak Johan dan Bu susi yang masuk ke dalam kafe dan duduk di kursi yang sudah tersedia.


"sendi, ayah tau ini berat untuk memaafkan ayah. tapi percayalah ayah benar-benar tidak sengaja menabrak kakakmu," ucap pak Johan menatap lekat kedua mata sendi yang sekarang berada di hadapannya itu.


"kita mulai dari awal lagi ya," ucap Bu susi tersenyum ke arah sendi,mei,dan Seno.


"kalian tinggal bersama kami," timpal pak Johan.


"aku tidak mau meninggalkan rumah dan kafe milik kak Tyas, karena di sini terlalu banyak kenangan ku bersamanya," ucap sendi.


"baiklah, kalau begitu bagaimana kalau ayah, ibu Susi dan Seno tinggal di sini bersamamu?. nanti kami juga akan membantu kalian mengurus kafe ini,"ucap pak Johan.


sendi sebenarnya masih belum bisa menerima ayahnya karena ia masih benar-benar terluka atas kejadian waktu pak Johan menabrak kak Tyas hingga menghilangkan nyawanya.


"aku tau ini adalah impianmu sen, aku tau ini yang sebenarnya kamu inginkan.jadi kenapa kamu masih merasa keberatan?," ucap mei.


"ikuti kata hatimu," imbuh mei.


"aku akan menerima kalian semua dengan senang hati," ucap sendi menatap mereka semua secara bergantian.


"Seno,kamu mau kan sayang?," tanya Bu susi lembut.


"apapun keputusan ibu, aku akan menurutinya," ucap Seno.


"baiklah, kami akan bersiap-siap mengambil semua barang-barang kami untuk di bawa kemari," ucap pak johan. lalu mereka pun pamit kepada sendi, Seno, dan mei.


"Seno, kau juga harus menerimanya," ucap mei lembut menatap Seno yang sekarang berdiri berada di sampingnya.


"sepertinya memang harus seperti itu," ucap seno.


iya, dia memang benar-benar harus menerima ini semua.


*****


setelah itu mereka semua disibukkan menaruh barang-barang. karena hari ini Bu susi, pak Johan, dan Seno pindah ke rumah sendi. jadi pak Johan dan Bu susi tidur di kamar milik kak Tyas, seno tidur dengan sendi, dan mei tidur sendiri. setelah selesai, mei pun pergi ke dapur untuk membuatkan makan malam. bu susi yang melihat mei itu pun langsung membantunya.


setelah masakan sudah di hidangkan,mei memanggil sendi, Seno, dan pak Johan untuk turun. lalu mereka makan bersama. masih ada rasa canggung di antara mereka, tapi pak Johan menepisnya.


"aku tau butuh waktu yang cukup lama untuk kita merasa nyaman. tapi ku harap kalian juga bisa rukun layaknya saudara," ucap pak Johan.


"kau dan seno sama, memiliki banyak kesamaan," lanjut pak Johan.


"Dia dan aku terus berlari menuju ketebing. Jika dia jatuh lebih dulu, maka aku akan menariknya dan menyelamatkannya. jadi jangan khawatir."


"Bagaimana jika kau yang jatuh duluan?"

__ADS_1


sendi bilang dia tidak akan terjatuh karena ada seseorang yang harus dia lindungi.


seni yang mendengarnya hanya diam.


setelah selesai, Seno pun masuk ke kamar sendi dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.sedangkan sendi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.


Seno tidak bisa memejamkan matanya karena ia masih kepikiran dengan kejadian tadi siang. seno memang melihat mata mei yang bercahaya ketika menatap Miko, dan saat itu lah Miko terpelanting ke belakang. beberapa menit kemudian sendi keluar dari kamar mandi dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Seno.


"Kenapa kau menyukai mei? Ada begitu banyak cewek yang suka padamu." ucap sendi tiba-tiba.


"Karena mei satu-satunya yang kusuka." ucap Seno datar.


"Dia itu selalu usil. Pikirannya banyak yang aneh. dan selalu membuat dirinya dalam masalah. Dia juga makannya banyak!" ucap sendi melirik seno.


"Kalau begitu menyerahlah!"


"Biar kujelaskan! Meski begitu, dia akan jadi milikku. Kau menyerah saja padaku." omelnya kesal.


"aku sedang malas berdebat denganmu,tidurlah.dengan tidur itu akan membantu otakmu agar cepat tumbuh,"ucap Seno.


"sialan,"umpat sendi lalu ia memejamkan matanya sampai benar-benar tertidur.


Seno yang masih terjaga membenarkan selimut sendi yang berantakan, setelah itu Ia mematikan lampu kemudian keluar kamar.


Seno pun duduk di sofa. di sana juga sepi,pasti ibu dan ayahnya sudah tertidur.tak lama kemudian mei datang. Ia merasa tidak enak melihat seno. mei mengacuhkan seni lalu pergi ke dapur untuk minum.


ketika mei memanggil namanya dan akan mengatakan sesuatu, Seno menyahut lebih dulu kalau hari ini sungguh berat untuknya.


"Aku harus pura-pura tidak melihatmu. Tidak tersenyum saat kau senyum padaku. Tidak semudah yang kupikirkan. Memalingkan pandangan jauh darimu." ucap Seno.


"Yang kudengar cinta manusia selalu berubah. Tapi aku tidak akan berubah. Jadi jangan menungguku. Kau adalah teman baikku dan sendi."jawab mei memaksakan untuk senyum.


"Teman.. Aku tidak tahu kalau kata itu ternyata menyakitkan." ucap Seno sedih.


"aku harap kau tidak menungguku lagi,karena kamu akan semakin terluka sen,"ucap mei lirih.


"itu tidak akan mudah,tapi aku akan mencobanya,"ucap Seno berlalu pergi.


lalu Seno pun naik ke atas menuju ke kamar sendi.


di kamar sendi mengerjapkan kedua matanya.ia melihat ke samping,tapi ia tak menemukan seno.lalu ia pun beranjak dari tidurnya.saat di depan pintu,ia berpapasan dengan Seno.


"darimana kau?,"tanya sendi.


"bukan urusanmu,"ucap Seno dingin.


"dan kenapa kau bangun?,"lanjut Seno.


"tidak tau,"ucap sendi lalu turun ke bawah untuk mengambil air minum.


saat di dapur ia bertemu dengan mei.


kenapa kau belum tidur?,"tanya sendi pada mei yang wajahnya di tekuk.


"aku belum bisa tidur,"ucap mei tersenyum.


"baiklah ikut aku,"ucap sendi lalu mengambil jaketnya dan jaket milik mei.lalu setelah mereka memakai jaketnya masing-masing,sendi pun menggandeng tangan mei menuju taman bermain.


mei pun duduk di ayunan dan di susul oleh sendi duduk di ayunan sebelah mei.


"apa kau merasakan kalau aku ini berbeda sen?," tanya mei.


"aku tidak peduli kau berbeda atau tidak,tapi yang kurasa aku hanya punya dirimu saja,"ucap sendi.


"Sakit di tubuhmu akan sembuh oleh waktu, tapi sakit di hatimu, tidak bisa sembuh dengan cepat. tidak hanya kau, seno juga." ucap mei sedih.

__ADS_1


love


..maulani safitri..


__ADS_2