
" Sin, bisa kau jelaskan kenapa bisa sampai ke apartemen Rio?" tanya Puput yang sudah duduk di bangku depan.
" Rio menghubungi ku dengan identitas palsu." Ucap Sinta, " Entah, kenapa aku menurut begitu saja saat dia memintaku untuk mengantarkan pesanan ke apartemennya." jelas Sinta.
" Saat aku akan pulang, dia menyuruhku untuk menemaninya makan malam. Dan selepas utu dia langsung mengantarku pulang." kata Sinta.
" Dia gak berbuat yang macam-macam kan?" selidik Puput.
" Maksud mu?" bingung Sinta.
" Ya masa kamu gak tahu sih, apa yang orang dewasa lakukan saat berdua di apartemen." kata Puput menjelaskan.
" Ya ampun Put, aku gak serendah itu. Aku tahu batasan, dan seandainya dia berbuat yang enggak-enggak akan aku lawan." kata Sinta membela dirinya.
" Iya kita percaya sama kamu, dan ternyata kamu memang sudah di jebak oleh CEO tengil itu." kata Puput.
" Dan Mira terus datang mendesakku. Aku sudah malas meladeni mereka berdua, tapi Rio terus mencari cara Put." kata Sinta mengadu.
" Apa sebaiknya kamu laporkan ke Dito?" kata Wahyuningsih memberi saran.
" Aku takut Dito cemas." kata Sinta sambil meremas-remas jarinya.
" Ya udah sekarang kita pulang, dan Malik akan mengantarkan mu." kata Puput. Kebetulan Sinta dan Malik memang satu arah.
Mereka berjalan menyusuri gang sekolah dan menuju halte bus.
" Lik, jangan sampai kecolongan sama Rio." kata Wahyuningsih.
" Oke, " sahut Malik yang sudah naik angkot bersama Sinta.
Sinta hanya terdiam, dia masih merindukan saat-saat pulang sekolah bersama Dito.
" Kenapa waktu begitu cepat!" gumam Sinta yang sedang melamun.
" Apa Sin?" tanya Malik.
" Enggak, gak apa-apa." kata Sinta seraya melihat ke arah kaca belakang mobil.
__ADS_1
" Kesian banget Sinta, dia merasa sangat merindukan Dito." gumam Malik dalam hatinya.
Lalu dengan refleks Malik memoto Sinta yang sedang melamun. Kemudian dia mengirim foto Sinta kepada Dito.
" ( Gambar Sinta) Liat pacar mu, sedang melamun." unggah Malik dan mengirim ke nomor ponsel Dito.
" Sin, gang rumah mu sudah dekat." kata Malik yang menepuk lutut Sinta.
" Eh iya, makasih ya." kata Sinta yang langsung melihat ke arah depan.
" Kiri, kiri..." teriak Sinta, " Malik, aku duluan ya?" kaya Sinta sambil tersenyum.
" Hati-hati, kalau ngeliat Rio kamu langsung ambil jurus langkah seribu." pesan Malik.
Lalu Sinta pun turun, dan dia membayar ongkos angkot kepada sopir.
Sinta melambaikan tangan nya ke arah Malik, dan Malik pun membalasnya.
Criiingg... terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Malik.
" Apa Sinta naik angkot bersama mu?"
" Iya.." Malik
" Apa dia masih bersamamu?" Dito
" Sudah turun." Malik.
" Aku sedang di angkot, saat dirumah kau hubungi aku. Ada sesuatu yang penting, dan perlu di bahas. Ingat, kau yang menelpon. Karena telpon interlokal mahal." pesan Malik.
" Iya. ( emoticon jempol)" Dito.
SINTA
Sinta tidak begitu bersemangat, dia merasa separuh jiwanya hilang.
" Kak, ada paket." kata Pasha yang memberitahu Sinta yang sudah berbaring di kamar.
__ADS_1
" Dari siapa?" tanya Sinta.
" Seperti nya dari Kak Dito." kata Pasha.
" Dito...!!" kata Sinta dengan wajah senyum berseri.
" Dimana paketnya?" tanya Sinta.
" Tuh di ruang tamu, lagian pulang nyelonong aja." kata Pasha.
Dengan gerak cepat Sinta langsung menuju ruang tamu. Dia melihat bungkusan yang sangat besar.
" Apa Kak isinya?" tanya Pasha.
" Mana kakak tahu, kan belum di buka." kata Sinta.
Sinta membuka perlahan bungkusan nya agar tidak rusak isi di dalamnya.
" Kak, cepetan bukanya." kata Pasha yang tidak sabaran.
" Bantal boneka, gambar kak Sinta sama Kak Dito." gerutu Pasha, " Terus selimut, gambar kakak dan kak Dito." gumam Pasha.
" Ish, kamu cerewet banget." kata Sinta.
" Bucin banget sih kak Dito." kata Pasha.
" Kamu iri ya gak ada yang ngasih paket?" ledek Sinta.
" Ih, ada juga aku yang ngirimin ke cewek kayak kak Dito." protes Pasha.
" Shut, kamu tuh gak boleh pacaran dulu." kata Sinta.
" Nah itu kak Sinta aja pacaran!" sindir Pasha.
" Kakak sama kak Dito hanya berteman." kata Sinta seraya tersenyum melihat bantal yang menggambarkan dirinya dan Dito.
-
__ADS_1
-
Silakan like dan komentar nya.