
" Sial, kenapa aku tidak memikirkan ada kamera cctv di hotel itu!" gumam Rio.
" Sebaiknya aku hubungi Dito kalau Sinta tidak bersamaku."
" Huft, aku gak punya nomor telpon nya."
Rio langsung menghubungi Mira.
" Halo, Mira. Kirimkan aku nomor Dito." desak Rio.
" Aku kirimkan, " kata Mira yang langsung memutuskan sambungan telepon.
Beberapa detik kemudian Mira mengirimi nomor telepon Dito.
" Berdering..."
" Halo." Sapa Rio.
" Maaf dengan siapa?" tanya Dito karena tidak mengenali nomor yang menelponnya.
" Aku Rio."
" Ada apa kau menelpon ku?"
" Sinta tidak bersamaku."
Dito pun terdiam, dia mencoba ingin mempermainkan Rio.
"Kau kemanakan Sinta?"
" Aku membawanya ke kebun durian, dan di sana dia melarikan diri." tuturnya.
" Lantas, apa alasan mu membawa Sinta?"
__ADS_1
" Aku hanya ingin dia menemani ku di kebun itu."
" Kau seperti bujang lapuk, usia sudah tua tapi masih mencari anak SMA."
" Hey, kau jangan menghina ku seperti itu." kesal Rio.
" Cepat kau cari Sinta, aku takut dia---"
" Apa ada macan di sana?"
"Aku tidak tahu, di sanakan masih termasuk hutan belantara. Kalau terjadi sesuatu pada Sinta akan aku hajar kau." ancam Dito
Lalu Dito menutup sambungan telepon nya sambil tertawa meringis menahan hal konyol yang akan dilakukan Rio.
" Ckckck..." tawa Dito sambil memikirkan Rio akan mencari Sinta sampai malam.
" Kamu kenapa Dit?" tanya Sinta yang terbangun karena mendengar suara Dito yang tertawa.
" Dito, kamu kok jahat banget sih!" kata Sinta sambil menaikkan kedua alisnya.
" Habis dia sudah membuatku kesal." tutur Dito.
" Sebaiknya kau beritahu dia kalau aku sudah bersamamu." kata Sinta yang tidak tega Dito mengerjai orang.
" Sinta, kamu tuh pemaaf sekali." kata Dito sambil tersenyum.
" Dito!" sambil menajamkan kedua matanya ke arah Dito.
" Oke, oke tapi nanti ya. Tunggu setengah jam saja, biar dia tahu rasanya kehilangan." kata Dito sambil melirik ke arah Sinta.
Sinta hanya menghela nafas dan memutar kedua bola matanya.
KEBUN DURIAN
__ADS_1
Rio terlihat mondar-mandir di area kebun durian Dia percaya dengan perkataan Dito kalau Sinta masih di dalam. Tetapi dia tidak berpikir kalau tadi dia bertemu Rendi di atas bukit.
Rio memberanikan diri memasuki kebun durian itu dengan berjalan kaki.
Dia menyusuri jalanan menuju tempat nya tadi memarkir mobil saat bersama Sinta.
Rio berjalan ke arah Sinta berlari, tidak juga menemukan jejak Sinta.
" Sinta, maafkan aku. Sekarang kau lagi dimana?" ucap Rio dengan putus asa.
Rio kembali ke arah bukit , dia duduk melihat pemandangan. Duduk dengan kaki di tekuk, mencoba berpikir bagaimana cara menemukan Sinta. Rio menundukkan badannya merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya. Cukup lama dia duduk diatas bukit, berharap bisa duduk berdua dengan Sinta.
Tiba-tiba ada yang mencoleknya dari arah belakang. Sontak dia pun terbangun, berharap itu adalah Sinta. Kepala nya menoleh ke arah belakang sambil tersenyum.
" Sin... lho kok kamu lagi?" kata Rio yang bingung melihat Rendi.
" Tuan lagi apa disini?" tanya Rendi sambil melihat muka kusut Rio.
" Aku sedang mencari Sinta, tadi aku bersama dia. Aku membawa nya paksa dari hotel, dan tadi dia melarikan diri. Aku takut Sinta di makan macan." kata Rio sambil memeluk Rendi dan merengek mengeluarkan air mata.
" Teh Sinta sudah balik ke Jakarta dengan Dito." kata Rendi dengan nada yang polos.
" Apa? Sinta sudah ketemu?" kaget Rio dan merasa kegirangan.
" Sinta sudah ketemu?" ucapnya meyakinkan.
" Iya, Tuan. Dan sekarang mereka menuju Jakarta." jawab Rendi.
-
-
Cekidot, maaf up nya dikit-dikit. Tetap setia ya kakak😘 kasih like yuk!
__ADS_1