CINTA SMA

CINTA SMA
bab 18


__ADS_3

keesokkan harinya mei bangun lebih pagi karena sekarang dia yang akan membuatkan sarapan karena kak Tyas masih sakit dari kemarin. mei sudah sudah mandi dan memakai seragam sekolah nya itu.lalu dia pun pergi ke dapur. mei tengah sibuk mengudek-ngudek isi kulkas untuk mencari-cari bahan yang akan ia buat sup kentang dan telor ceplok. perlahan mei sudah mulai bisa memasak berkat bantuan kak tyas yang selalu mengajarinya dengan telaten. meskipun tidak seenak masakan kak Tyas, tapi masakan mei masih layak untuk di makan.


mei pun menyiapkan panci dan akan merebus kentang dan wortel yang telah dia potong dadu. setelah air yang ada di panci itu mendidih, mei memasukkan kentang, wortel, bumbu-bumbu, dan sayuran lainnya lalu membiarkannya sampai matang.


setelah itu mei pun menyiapkan wajan lalu memberinya minyak secukupnya dan menyalakan kompor di sebelah untuk membuat 3 telor ceplok. mungkin sudah sekitar 15 menitan mei ada di dapur itu. setelah semuanya siap, mei pun menenteng satu per satu mulai dari piring, nasi, dan mangkok jumbo yang berisi sup kentang yang benar-benar menggugah selera ke arah meja makan.


"aku lapar," ucap mei memegang perut melihat makanan yang berserak di depannya.


mei melihat ada yang kurang dari makanan yang ada di depannya itu, apa ya?.


mei pun menepuk jidatnya lumayan keras karena baru ingat kalau telur ceploknya masih ada di dapur belakang.


lalu mei pun berjalan lagi ke arah dapur untuk mengambil telur ceploknya itu...


baru saja mei hendak berbelok ke arah meja makan, kejadian naas menimpanya.


bruk


plek!


mei menatap geram ketika melihat telur-telur ceploknya jatuh semua ke lantai.


sendi lah pelaku penabrakan tadi. mei semakin geram dengan sendi saat sendi malah nyengir-nyengir gak jelas di hadapannya.


wajah mei yang kalem pun berubah menjadi sangar siap menggigit mangsanya.


"astaga kamu memang benar-benar," ucap mei menatap tajam sendi.


"maaf," ucap sendi makin memperlebar senyumnya. tapi tetap saja wajah mei masih terlihat sangar. sendi pun menatap telur-telur yang mengelepar di lantai.


"belum lima menit, masih bisa diambil," ucap sendi enteng.

__ADS_1


"lantai ini bekas sandal, gak mungkin aku mengambil dan memakannya," ucap mei masih kesal.


lalu mei pun mengambil telur telur itu dan membuangnya ke tong sampah.


"hei jangan marah, aku kan tidak sengaja. aku bantu kau untuk memasak telur ceplok lagi ya," ucap sendi membujuk mei untuk meredam amarah mei.


mei pun mengangguk tanda setuju, lalu kembali ke dapur dan sendi pun mengikutinya. mei pun mengudek-ngudek kulkas lagi dan mengambil 3 telur. sendi menumpahkan minyak secukupnya ke wajan lalu menyalakan kompornya. tidak butuh waktu yang lama untuk membuat telor ceplok.


setelah jadi, mei pun membawa telor ceplok barunya ke meja makan.


"kau duduklah disini, aku akan memanggil kak Tyas untuk sarapan," ucap mei kepada sendi.


mei pun masuk ke kamar kak Tyas yang baru bangun dari tidurnya. lalu mei memapah tubuh lemas kak Tyas menuju meja makan. sendi pun membaur ikut membantu memapah tubuh kak tyas...


"kenapa dengan bibir dan pipimu itu sen?," tanya kak Tyas ketika melihat luka lebam yang ada di pipi dan ujung bibir sendi.


"aku tersandung dan jatuh kemarin, tapi sekarang sudah sedikit membaik," ucap sendi menenangkan.


alamak malapetaka....


bukan maksud sendi untuk membohongi kakaknya, tapi dia hanya tidak ingin kakaknya terlalu memikirkannya.


"kemarin sendi membantu mengambilkan tas ibu Seno yang telah di curi orang kak, saat akan mengambil tas itu pencuri itu mengajak sendi berkelahi," ucap mei jujur.


"lain kali hati-hati, dan kau jangan membiasakan diri untuk berbohong. mengerti?," ucap kak Tyas kepada sendi.


"iya maaf, aku hanya tidak ingin kakak cemas," ucap sendi.


"kalau kau diam dan menyimpan segalanya dariku, itu yang akan membuatku cemas sendi. aku kakakmu, tapi aku tidak tau apa-apa tentang dirimu," ucap kak Tyas semakin lirih.


"iya kak, maaf," ucap sendi menatap kakaknya sendu.

__ADS_1


lalu mereka pun memakan sarapannya.


*****


hari ini adalah hari pertama mereka ujian. huftt....


"hari yang sangat menegangkan," ucap Danu yang tengah berjalan beriringan dengan mei dan sendi.


"kerjakan soal yang kau tahu dulu, dan jika memang ada soal yang benar-benar sulit, maka tinggalkan saja soal itu," ucap sendi kepada Danu dan mei dengan santai.


"kita kan sudah belajar semalam maka sekarang kita harus bisa mendapat nilai 100%," ucap mei dengan tersenyum manis.


"love love love love love lah buatmu mei," ucap Danu genit, dan menaruh kedua telapak tangannya di dagu.


yiekkk. sendi yang melihatnya pun hanya bergidik ngeri melihat Danu yang sok cantik itu.


mereka bertiga sampailah di dalam kelas. bel masuk pun telah berbunyi dari tadi. lalu datanglah Bu Ninda ke kelas dan memulai ujian pertama. tapi sebelumnya, Bu Ninda sudah mengacak posisi duduk para siswanya. bu Ninda adalah guru etika di sekolah.mei duduk dengan Seno di bangku pojok belakang, sendi duduk dengan Santi di meja sebelah mei dan Seno, Danu duduk dengan Sasa, Miko duduk dengan pungky di depan meja Seno dan mei. dan siswa lainnya juga duduknya di acak oleh bu ninda. semua siswa sudah duduk di tempat masing-masing, dan tas juga di taruh di bawah kursi.


masing-masing sudah mendapatkan kertas lembaran soal dan Tinggal mengerjakan nya. mereka tampak tenang mengerjakan tugas masing-masing. tapi ada siswa lain yang terlihat membawa jimatnya masing masing. ada yang menempelkan kertas yang berisi rumus-rumus di pahanya, karena rok seragam wanita itu hanya sampai lutut saja. ada yang menyembunyikan kertasnya di kaos kaki miliknya, ada yang menyelipkan kertas contekan nya di lembar soal, dan masih banyak lagi akal bulus mereka agar mendapatkan nilai bagus. tapi meskipun sendi malas belajar, dia tak pernah membawa jimat sekalipun saat ujian. karena menurutnya percuma saja. akan lebih senang jika nilai yang di dapatkan nya itu hasil jerih payahnya sendiri. satu jam telah berlalu, sendi sudah mengerjakan 90% soalnya. entahlah dia mengerjakan nya dengan ngawur atau bagaimana. dia tidak terlalu memusingkan otaknya. lalu sendi melirik ke arah mei yang ada di bangku sebelahnya, sendi melihat mei yang tenang dalam mengerjakan soalnya. sendi tau karena semalaman mei belajar dengan sangat serius di Teras lantai atas.


"benar-benar wanita pekerja keras," batin sendi dan mengulum senyumnya.


lalu sendi pun mulai menatap Seno yang ada di sebelah mei. sendi melihat Seno sedang duduk menyender ke bangkunya lalu melipatkan tangan di dada dan memejamkan matanya. sendi tau kalau pasti Seno sudah mengerjakan semua soalnya dengan baik.


"dasar munyuk si kutu buku," batin sendi lagi.


jangan lupa jika kalian suka dengan karyaku, kalian bisa memberi like, coment asal kalian, vote, and koin guys biar author bisa tambah semangat lagi untuk update nya yaaaa...........see you


love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love


love

__ADS_1


maulani safitri


__ADS_2