CINTA SMA

CINTA SMA
bab 19


__ADS_3

"bawa kertas contekan itu ke depan,"


ucap Bu Ninda tegas memecahkan keheningan yang sedari tadi tercipta di kelas.


siapa yang dimaksud oleh Bu Ninda?. tidak ada yang tau siapa yang sedang Bu ninda perintah. sebab setelah Bu Ninda mengatakan kalimat perintah itu, Bu Ninda langsung melangkah menuju ke meja dan duduk, tanpa menatap siapa yang dia perintah.


semua siswa yang membawa jimat itu pun tergagap mendengar perintah Bu Ninda.


Bu Ninda adalah orang yang baik, sopan, dan tegas.btapi ketika dia marah, semua takut untuk menatap matanya yang menghunus tajam.


semakin lama anak-anak semakin bergemuruh saling tuduh menuduh.


"saya perintahkan, bawa kesini kertas contekan itu! cepat!," ucap Bu Ninda mulai meninggikan suaranya dan tetap menghadap depan.


"kalau tidak maju, saya akan memberi nilai nol," ancam Bu ninda.


"ayo yang duduk paling belakang maju," ucap Bu Ninda tanpa menoleh tersangka yang di maksudnya.


"Miko, bawa contekanmu ke depan!," perintah Bu Ninda menatap menghunus tajam.


Miko pun maju ke depan dengan membawa kertas jimatnya itu dan ia berikan kepada Bu Ninda.


"sialan," umpat Miko kesal.


"kenapa hanya saya saja yang maju Bu?," tanya Miko ketika memberikan jimatnya kepada Bu Ninda.


"apa maksudmu?," ucap Bu Ninda dengan mengangkat alisnya tanda tak mengerti.


"dia yang memberi saya kertas contekan ini," ucap Miko menunjuk Seno.


Seno yang tadinya memejamkan mata langsung membuka matanya sedikit kaget, karena tiba-tiba Miko menuduhnya.


semua yang ada di kelas pun terkejut, dan saling menatap tak percaya kalau Seno yang selalu mendapatkan peringkat pertama ternyata dihasilkan dengan cara yang tidak murni(menyontek).


Seno tidak membela dirinya, dia tetap duduk di tempat nya.


"kalian berdua ke kantor sekarang juga. sebentar lagi bel pulang berbunyi, jadi tunggu saya di sana," ucap Bu Ninda tegas.


"baik Bu," ucap Seno dan Miko berbarengan.


ketika Seno dan Miko pergi ke kantor, siswa-siswa yang ada di kelas pun bergemuruh semakin keras.


"saya tidak menyuruh kalian untuk berdiskusi, cepat lanjutkan ujiannya," ucap Bu ninda kemudian.


semua siswa pun diam dan melanjutkan ujiannya.


setelah bel pulang berbunyi, semua siswa pun mengumpulkan lembar jawabannya di meja Bu Ninda. dan bersiap-siap untuk pulang.

__ADS_1


"aku yakin bukan Seno pelakunya," ucap mei mantap ketika mei jalan beriringan dengan sendi dan Danu.


"kalian pulanglah dulu, aku ada urusan," ucap sendi lalu pergi meninggalkan mei dan Danu yang masih terbengong-bengong.


"ada urusan dengan siapa dia?," ucap mei yang sudah tidak melihat punggung sendi.


"entahlah, ayo pulang," ucap Danu mengajak mei pulang.


"ku pukul kau nanti," ucap mei mengancam dengan mengepalkan tangannya ke muka Danu, karena Danu mencoba akan merangkulnya.


"aishh, cantik-cantik tapi sadisnya gak ketulungan," ucap danu.


"biarin," jawab mei ketus.


"apa aku gandeng aja tanganmu?," ucap Danu mulai menggoda.


"ku pukul kau kecebong," ucap mei kesal,lalu mengejar Danu yang berlari meninggalkan mei.


"mei, duduk dulu di sini," ucap Danu ketika mereka berdua sangat capek karena habis berlari.


lalu mereka berdua pun duduk di kursi yang terletak di depan toko roti.


"apa kau suka sendi?," ucap Danu tiba-tiba.


"entahlah," ucap mei yang hatinya sedikit berdesir ketika Danu menanyakan hal itu.


"aku tidak tau, kenapa kau bertanya seperti itu?," ucap mei sedikit kesal kepada danu.


"ya secara mereka berdua itu adalah idola junior kita, karena mereka itu tampan, dan


keren kan? dan kau beruntung bisa dekat dengan mereka berdua sekaligus. dan sepertinya terjadi cinta segitiga diantara kalian ya?," ucap Danu menggoda mei yang berhasil membuat wajah mei menjadi seperti kepiting rebus.


"dasar kecebong," ucap mei kesal.


"hahaha, yuk pulang. aku akan mengantarmu," ucap Danu.


"kau pulanglah dulu, aku pergi dulu," ucap mei lalu melangkah pergi meninggalkan Danu sendiri.


entahlah apa yang terjadi, kenapa ada sesuatu yang menarikku untuk kembali ke sekolah?.


dada mei terasa sakit, entahlah ada apa ini?.


apa yang terjadi?.


*****


sendi melangkahkan kakinya melewati koridor sekolah hendak mencari keberadaan miko. di koridor sekolah sendi melihat Miko yang tengah memunggunginya, dia melihat Miko sedang berhadapan dengan pria paruh baya.

__ADS_1


plak


"aku membencimu, kau bukan seperti anakku. mengecewakan," ucap pria paruh baya itu melayangkan tamparan yang cukup keras di pipi kanan Miko.


"ayah menyuruhku untuk mendapatkan nilai bagus, dan sekarang aku sedang melakukannya," ucap Miko lirih dan masih memegang pipi kanannya yang memerah


"bodoh sekali anak ini, malam ini kau tidurlah di luar. terserah kau mau kemana pun aku tidak peduli," ucap pria itu lalu meninggalkan Miko sendirian.


Miko menatap punggung pria paruh baya itu dengan tatapan nanar.


saat akan melangkah pergi, Miko melihat ada seseorang yang bersembunyi di balik papan Mading. miko pun mengeceknya dan menemukan sendi yang tengah bersembunyi itu.


lalu Miko memegang kerah baju sendi dengan erat dan hendak memukul pelipis kiri sendi, tapi di tangkis oleh tangan kanan sendi dengan cepat.


"apa kau benar-benar penasaran dengan hidupku sampai kau menguping? hah?," ucap Miko dengan tatapan menghunus tajam.


"aku tidak peduli dengan urusanmu," ucap sendi tenang.


"kalau kau tidak peduli dengan urusanku, tapi kenapa kau menguping pembicaraan ku dengan ayahku, hah? ucap Miko semakin marah.


"kenapa kau menuduh seakan Seno lah yang memberikan contekan itu padamu?" ucap sendi tidak mau basa-basi.


"kenapa kau ingin tau sekali dengan urusanku?" ucap Miko.


"aku hanya tidak ingin orang yang sebenarnya tidak salah malah kau fitnah," ucap sendi mulai meninggikan suaranya.


"apa yang membuatmu percaya dengan pecundang seperti dia?," ucap Miko dengan sinis.


"kaulah yang sebenarnya adalah pecundang dan sampai kapanpun akan tetap menjadi pecundang," ucap sendi.


bruk


tubuh sendi terhuyung ke samping hilang keseimbangan karena Miko memukul pelipis kiri sendi keras tanpa aba-aba terlebih dahulu. sendi pun bangkit dan mulai memukul pipi kanan Miko keras. lalu terjadilah perkelahian antara mereka yang mengakibatkan Miko dan sendi terdapat luka lebam yang menghiasi wajahnya. tiba-tiba dari arah belakang ada yang memukul pundak sendi dengan benda tumpul.


tiba-tiba sendi kehilangan kesadaran dan semuanya gelap.


*****


jangan lupa jika kalian suka dengan karyaku, kalian bisa memberi like, coment asal kalian, vote, and koin guys biar author bisa tambah semangat lagi untuk update nya yaaaa...........see you


love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love


love love love love love love love love love love


love


maulani safitri

__ADS_1


__ADS_2