
" Sebaiknya habis ujan reda kamu pergi." ujar Sinta.
" Bisa gak kalo sikap kamu gak judes gitu?" pinta Rio.
" Enggak." jawab Sinta dengan ketus.
" Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku?" tanya Rio memohon.
" Semua temanku melarangku dekat dengan mu dan harus menjauhi mu." kata Sinta dengan polosnya.
" Bisa gak kamu membuka hati untuk ku, seenggaknya maafkan aku. Dan aku berharap untuk bisa menjadi temanmu." kata Rio seraya berlutut di hadapan Sinta.
" Apaan sih, uda jangan dekat-dekat." kata Sinta yang mengusir Rio.
Rio hanya menundukkan kepalanya, mencoba menarik perhatian Sinta.
Sinta langsung bangun dari duduknya, dan berjalan menuju pintu.
" Lihat hujan uda reda, sebaiknya kamu keluar." kata Sinta yang membukakan pintu toko.
" Kenapa kamu tega banget sama aku!" kata Rio yang berjalan dengan menundukkan kepalanya.
" Kan aku uda bilang jangan pernah dekati aku, dan sekarang pergi secepatnya." kata Sinta yang mengarahkan wajahnya ke jalanan.
Rio pun keluar dari toko Sinta, dia berjalan di bawah cuaca yang masih hujan rintik-rintik.
Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari toko Sinta. Perasaan nya sungguh kecewa, tapi dia maklum. Seandainya saja sikapnya dulu tidak menyakiti hatinya. Mungkin Sinta tidak akan bersikap acuh terhadap nya.
__ADS_1
Sinta pun menutup pintunya, dan membuat kue.
" Mengganggu saja, harusnya tadi aku sudah bikin kue. " gerutu Sinta yang langsung mengocok telur dengan mixer.
****
" Sinta lagi ngapain ya?" tanya Wahyuningsih yang di boncengi oleh Fadli.
" Mungkin dia lagi jaga toko, atau palingan juga lagi chatingan sama Dito." Teriak Fadli yang sedang fokus mengendarai motornya.
" Oh iya, kasian juga dia. Saat hatinya sedang tertuju sama Dito malah dihadapkan oleh situasi seperti ini." ujar Wahyuningsih.
" Apa nanti kamu juga akan ninggalin aku kayak Dito?" tanya Wahyuningsih pada Fadli.
" Aku belum ada biaya untuk kuliah di luar negeri." kata Fadli.
" Oh jadi kalau ada biaya kamu akan pergi seperti Dito?" kata Wahyuningsih memberangus kesal.
" Pasti aku gak akan sekuat dan setegar Sinta." kata Wahyuningsih.
" Oh jadi kamu gak akan kuat untuk hubungan LDR. Dan nanti kamu akan berpaling?" tanya Fadli.
" Udah, udah ah. Kok jadi bahas soal hubungan LDR!" kata Wahyuningsih yang sudah males berdebat.
" Kan kamu yang mulai bertanya." kata Fadli.
" Iya, udah, udah." kata Wahyuningsih sambil memegang erat pinggang Fadli.
__ADS_1
" Jadi intinya kamu jangan suka bandingin hubungan kita sama mereka." Kata Fadli yang memberitahu Wahyuningsih, kalau setiap hubungan itu punya cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya .
" Iya, iya..." kata Wahyuningsih.
Lalu Fadli terus melajukan kendaraan menuju kebun teh. Sesekali mereka beristirahat di sebuah warung. Kali ini mereka berhenti di warung sate.
" Ning, kamu pesen apa?" tanya Puput yang sudah duduk di teras.
" Aku sate ayam aja, dan minumnya teh manis panas." kata Wahyuningsih.
" Lik, tolong belikan pesanan aku dan Wahyuningsih ya." kata Puput, " Aku sama, trs lontong nya pisah." kata Puput.
" Fadli mana?" tanya Puput pada Wahyuningsih.
" Dia lagi ke toilet." kata Wahyuningsih.
" Oh, " jawab Puput.
" Ya udah, Fadli nanti biar nyusul. Kan kita gak tahu kedoyanan dia." kata Puput.
Lalu Malik menuju tukang sate yang sedang mengipas-ngipas satenya.
" Bang, sate ayam dua porsi. Dan lontong nya dua piring. Sama sate kambing seporsi ya." kata Malik.
" Oke, siap di kipasin." kata tukang sate.
-
__ADS_1
-
Silakan like dan berikan komentar mu.