
" Ini, sekuteng." kata Dito yang memberikan segelas sekuteng.
" Satenya mana?" tanya Sinta.
" Lagi di kipasin." kata Dito yang sudah duduk di sebelah Sinta.
" Emang satenya ke gerahan?" canda Sinta.
" Ih, kamu bisa aja!" kata Dito seraya mencubit pipi Sinta.
Mereka menunggu sate yang sedang di olah oleh tukang sate. Sembari menunggu, Sinta memandangi suasana hamparan kebun teh dan lampu-lampu rumah penduduk. Dari jauh terlihat seperti bintang yang bersinar di malam hari.
Langit seperti nya akan turun hujan, bintang tak nampak menunjukkan kilauannya.
" Sin, aku seneng banget bisa ngajak kamu ke sini." kata Dito sambil memandangi wajah Sinta yang sedang mengamati keindahan malam.
" Aku juga senang," jawab Sinta sambil melihat ke arah Dito.
" Ih, kamu jangan ngeliatin aku kayak gitu!"
" Habisnya kamu cantik banget," puji Dito.
Wajah Sinta mendadak memerah mendengar pujian dari Dito.
Suasana mendadak menjadi romantis, keduanya saling bergenggaman tangan. Hubungan mereka masih termasuk kategori hubungan yang tidak melampaui batas.
" Mas, ini satenya."
Terdengar suara tukang sate yang sudah menaruh pesanan mereka di atas meja.
" Oh iya, bang. Makasih ya!" kata Dito.
" Makan Sin,"
__ADS_1
" Iya, " jawab Sinta.
" Dit, " ucap Sinta.
" Iya, " jawab Dito sambil menarik daging ayam yang tersusun rata dengan mulutnya.
" Maafkan aku," kata Sinta tiba-tiba.
" Maaf soal apa?" tanya Dito keheranan.
" Soal aku yang tidak bilang kalau Rio sering mengantarkan ku pulang." kata Sinta.
Tiba-tiba mata Dito membulat, dia sangat terkejut mendengar penuturan Sinta.
Hatinya terus bergejolak menahan amarahnya karena Rio pernah menciumnya. Menurut penuturan Rio, tetapi dia belum bertanya dengan Sinta. Apakah benar yang dikatakan oleh Rio soal hal itu?
" Tapi dia tidak berlaku yang macam-macam kan sama kamu?" tanya Dito.
" Kemarin----" kata Sinta terhenti. Seperti nya dia sedang memikirkan kata-kata yang tepat agar Dito tidak cemburu.
" Ada apa dengan kemarin?" tanya Dito yang memancing.
Dan dia tidak ingin mendengar penjelasan, kalau Sinta ingin mengatakan Rio telah menciumnya.
" Saat aku pulang dengan Rio, dia menyatakan perasaannya kepada ku." kata Sinta dengan polosnya.
" Dia suka padamu?" tanya Dito.
" Lalu?" telusur Dito terus bertanya.
" Dan aku pun menolak nya." kata Sinta.
" Lalu dia melakukan apa padamu?" tanya Dito menginterogasi.
__ADS_1
" Maksud mu?" kata Sinta yang bingung dengan pertanyaan Dito.
" Kemarin aku memang melihat mu turun dari mobil Rio, lalu selesai kau pulang aku langsung mengejarnya." ucap Dito.
" Saat aku mencegatnya, tiba-tiba dia mengatakan kalau dia sudah menciummu." kata Dito yang langsung mengungkapkan isi hati yang sedari tadi dia tahan.
" Dia mengatakan itu padamu?"
" Iya, apa benar yang dia katakan?" tanya Dito sambil menatap mata Sinta.
Sinta pun terdiam dan menundukkan kepalanya.
" Maafkan aku, " lirih Sinta.
" Dia mencegahku dengan mengunci semua pintu saat aku ingin keluar dari mobilnya.Dan menahanku dengan kedua tangan nya." kata Sinta. "
" Aku mencoba berteriak, tetapi tidak ada yang mendengar. Karena mobilnya kedap suara. Kemudian dia mendekati ku dan aku merasa takut lalu memejamkan kedua mataku. Disaat itu dia mengecup bibirku." ucap Sinta menjelaskan.
" Maafkan aku, seharusnya aku tidak naik ke mobilnya." kata Sinta menyesal.
" Aku percaya kepada mu," kata Dito seraya mengusap pipi Sinta lalu menatap matanya dengan intens.
" Maaf---" kata Sinta terhenti karena bibirnya di tutup oleh jari telunjuk Dito.
" Tidak usah minta maaf terus, sekarang makanlah." kata Dito dengan tersenyum.
-
-
-
Dukung terus karya author dengan cara like, vote dan berikan komentar mu.
__ADS_1