
Satu minggu telah berlalu, waktu begitu cepat berlalu. Dito sudah menunggu di bandara Soekarno- Hatta. Dia sengaja tidak memberitahu Sinta. Karena dia tidak ingin melihat air mata yang mengalir di pipinya.
Diluar dugaan ternyata Sinta sudah menunggu di terminal 3 bandara Soekarno-hatta.
" Sinta..." Ucap Dito terkejut yang melihat Sinta bersama ketiga sahabat nya di tambah Fadli
" Kenapa kamu gak ngomong kalau mau berangkat hari ini?" tanya Sinta yang langsung menghampiri Dito.
" Kamu naik apa?" Tanya Dito mengalihkan pembicaraan
" Aku naik taksi online." Kata Sinta yang tak berhenti menatap Dito dengan lekat, " Aku ditelpon oleh Kak Sulis tentang keberangkatan mu hari ini." sambungnya.
" Kenapa kamu gak ngomong mau berangkat hari ini?" Sinta mengulang pertanyaan nya.
" Aku hanya tidak ingin membuat kamu bersedih." ungkap Dito.
" Sedih kenapa?" tanya Sinta yang sedang menutupi perasaannya.
" Oh iya, aku lupa. Kita kan akan berpisah sesaat, dan pasti aku akan pulang secepatnya." tukas Dito yang membelai lembut pipi Sinta.
Beberapa detik kemudian Sinta langsung memeluk Dito sangat erat. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya. Perasaan nya tidak bisa di bendung lagi.
Ketiga sahabatnya yaitu Puput, Wahyuningsih, Malik di tambah Fadli hanya tertegun melihat mereka berpelukan.
Mata Puput mulai berkaca-kaca melihat mereka yang akan berpisah sementara.
__ADS_1
" Apa nanti kamu akan seperti itu padaku?" tanya Malik meledek.
Puput menatap tajam ke arah Malik, " Ish mengganggu aja!" kata Puput yang kesal dengan ledekan Malik.
" Sinta memang gak pernah menjawab pertanyaan Dito tentang perasaan nya. Tapi sikap nya sungguh membuat hati terenyuh. Sungguh sayang dirinya pada Dito." Gumam Wahyuningsih.
" Ehem..ehem.." suara Fadli berdehem, " Aku juga mau dong di peratiin kayak mereka." sindir Fadli.
Wahyuningsih hanya melirik ke arah Fadli dengan tatapan malas.
" Kamu tuh harus belajar romantis kayak Dito." kata Wahyuningsih menyindir.
" Iya, nanti aku tanya resepnya sama Dito." kata Fadli.
Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari microphone.
Dito pun mempersiapkan dirinya menuju pesawat.
" Sinta, aku pergi dulu." Kata Dito yang sedari tadi tidak berbicara apapun. Dia hanya memandang wajah Sinta sangat lekat.
Tujuan pesawat nya harus landing di Medan, kemudian baru berangkat menuju bandara di Inggris.
" Jaga kesehatan mu." Kata Sinta, hanya itu yang bisa dia ucapkan sambil mengusap air matanya.
Sebenarnya Dito tidak ingin melihat Sinta menangis karena kepergian nya. Namun karena Sinta sudah terlanjur hadir maka mau tak mau dia harus memasang wajah senyum. Agar Sinta tidak terus menangisi kepergiannya.
__ADS_1
" Sudah Sin, " kata Puput yang mengusap punggung Sinta.
" Iya, Dito kan cuma ke Inggris beberapa tahun aja. Gak lama kok." kata Malik menghibur.
" Malik!" kata Puput yang menyenggol lengan Malik.
" Kan ada kita-kita." kata Wahyuningsih, " Kamu gak akan kesepian." tuturnya.
Setelah melambaikan tangan ke arah Dito dan mengulas senyum di bibirnya. Sinta langsung duduk di bangku, dia masih terus memandangi kepergian Dito yang sudah tak terlihat.
" Aku pesenin taksi online ya!" kata Fadli.
" Iya, " kata Wahyuningsih." Kita pulang yuk, Sin. Doakan Dito biar cepat menyelesaikan studinya." sarannya.
Mereka pun menuju ruang parkir, karena taksi online yang di pesan Fadli sudah menunggu.
Puput dan Wahyuningsih menuntun Sinta menuju mobil.
Malik berada di bangku paling belakang bersama Puput, sedangkan bangku tengah ada Sinta dan Wahyuningsih. Bangku depan di duduki oleh Fadli.
-
-
Silakan like dan vote ya.
__ADS_1
Maaf agak lama upnya, semoga kalian tidak pernah bosan ya! Terima Kasih.