CINTA SMA

CINTA SMA
Pelarian Sinta.


__ADS_3

Petugas langsung memutar kegiatan di depan kamar milik Sinta. Dito melihat seorang pria mendatangi kamar Sinta dengan berpakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas karena tertutup dengan kacamata hitam dan masker.


Dito terus mengikuti kemana arah pria itu menarik Sinta. Suasana pagi itu masih sangat sepi, sehingga tidak ada yang mendengar keributan Sinta dan pria misterius itu.


Pria itu langsung menuju parkiran, terlihat plat mobil yang bertulis " R 1 O".


Dito pun mengetahui siapa yang membawa Sinta pergi dengan paksa.


Kemudian dia langsung menghubungi Mira. Ponselnya tidak dijawab oleh Mira, barang kali dia masih tertidur.


Karena waktu menunjukkan masih jam tujuh pagi. Dito langsung ke kamar nya dan mengambil peralatannya dan peralatan Sinta yang masih tertinggal.


****


" Rio, kamu akan membawaku kemana?" Tanya Sinta.


" Semalam aku melihat mu berdua sama Dito, kau tahu apa yang kurasakan? " Kata Rio sambil melirik Sinta, " Aku tuh kedinginan di dalam mobil."


" Memangnya ada yang menyuruhmu mengikuti kami." Ketus Sinta.


" Hey, aku hanya ingin tahu kalian akan pergi kemana!." Ujar Rio.


" Untuk apa?" Tanya Sinta.


" Karena aku ----"


" Ah, sudah lah. Sekarang kau harus temani aku." Cetus Rio.


" Kau sedang menculik ku?" kata Sinta sambil menajamkan kedua matanya ke arah Rio.

__ADS_1


" Hey, aku juga ingin merasakan jalan bareng bersamamu." kata Rio.


" Kau egois."


" Egois kenapa?" Tanya Rio heran.


" Saat ini Dito pasti sedang mengkhawatirkan ku." Kata Sinta seraya menatap jalanan.


" Bukankah ini jalan menuju kebun durian milik Terry?" Kata hati Sinta yang mengenali jalan yang sedang di tuju oleh Rio.


Sinta sedang memikirkan cara agar dia bisa lolos dari Rio.


" Rendi, pasti rendi ada di sana!" ujarnya dalam hati berharap ada pertolongan.


" Kenapa kau diam?" Tanya Rio.


Sinta tak menggubris pertanyaan Rio.


" Padahal aku sering bertemu wanita-wanita cantik dan elegan. Tetapi kenapa aku bisa jatuh hati kepada mu?" ucap Rio sambil memegang kemudi mobilnya.


Sinta hanya menghela nafas mendengar pernyataan cinta dari Rio.


" Hey, apa kau tak punya kata-kata?" bentak Rio.


" Maaf, aku sedang tidak ingin bicara." ketus Sinta.


Rio menepikan mobilnya di dekat kebun durian. Sinta pun tersenyum dalam hati melihat Rio memarkirkan mobilnya.


Rio pun keluar dari mobilnya, Sinta menunggu saat dia akan dibukakan pintu oleh Rio.

__ADS_1


Sinta mencari celah untuk melarikan diri, dia mengingat-ingat jalan menuju arah rumah Terry.


Jalannya memang harus melewati tepian sungai. Tetapi dia lupa, ke arah mana dia harus melangkah.


Kedua matanya terus melirik ke kanan dan ke kiri.


Rio pun membukakan pintu mobilnya, dan kaki Sinta satu persatu pun turun.


Kemudian Sinta langsung melangkah kan kaki ke depan. Saat Rio menutup pintu, Sinta langsung mengeluarkan jurus seribu langkah.


Sinta berlari ke arah kiri, entah apa yang dipikirkan nya. Yang jelas dia harus mencari warga untuk meminta pertolongan.


" Sial, tak ada satu orang pun disini." gerutu Sinta yang masih dengan langkah seribunya.


Rio dengan gesit mengejar Sinta, larinya begitu cepat.


Sinta yang tidak mengenakan alas kaki harus berlari pelan agar tidak terinjak batu-batu yang tajam.


Nafasnya tersengal-sengal, Sinta mencoba berlari sejauh mungkin. Pandangan sedikit kabur karena banyak kabut. Udara sangat lah dingin, karena semalam hujan membasahi bukit hamparan kebun durian.


Sinta mencoba mengingat lagi jalanan yang akan dia lalui.


" Ya Tuhan, aku harus kemana? " Gumam Sinta.


" Sinta." Panggil Rio dari arah belakang yang hampir mendekati Sinta.


Sinta terus berlari walaupun kakinya sudah terluka karena menginjak bebatuan.


-

__ADS_1


Ikuti terus episode selanjutnya. Jangan lupa like ya!


__ADS_2