
di saat kita sakit, tuhan akan memberikan penawarnya.
-
-
-
"kau tidur dengan begitu cepat, dirimu pasti lelah karena selalu menghadapi kakakmu yang egois ini," gumam Sendi, ia masih setia menatap wajah Seno yang terlihat polos saat tidur. lalu tangannya meraih selimut yang membungkus tubuh Seno yang sedikit tersingkap karena tubuh Seno yang tiba-tiba bergerak miring memunggungi Sendi.
setelah itu sendi pun memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.
pagi harinya Sendi terlihat berdiri di depan cermin besar yang ada di hadapannya. ia tengah memakai kaos polos berwarna putih hingga tubuh sis packnya terlihat jelas dan dipadukan celana pendek sampai lutut beserta handuk kecil yang ia lilit di lehernya.
"kau mau kemana Sen?," Seno berucap dengan suaranya yang terdengar serak dan parau karena Seno baru bangun dari tidurnya. ia terlihat mengucek-ngucek matanya agar penglihatannya bisa menyesuaikan cahaya yang ada.
"jogging," ucap Sendi singkat. Sendi masih setia menatap cermin besar di depannya dengan sedikit merapikan rambutnya yang tadi telah dia basahi dengan air.
"apa hari ini kau tidak berangkat ke sekolah?," tanya Seno, ia masih belum bangkit dari posisi tidurnya dengan kedua tangan yang melipat di bawah kepalanya menatap langit-langit kamar.
"apa kemarin kau sibuk melamun hingga kau tak mendengar Bu Ninda kalau hari ini dan lusa kita akan masuk siang?," Sendi menatap Seno yang berbaring di atas tempat tidur.
"oh, aku tak mendengarnya. kalau begitu aku ikut denganmu juga untuk jogging. kau tunggulah aku," Seno segera bangkit untuk turun dari tempat tidur dan ia langsung berlari ke kamar mandi, lalu ia meraih handuknya yang ada di belakang pintu dan menutup knop pintu kamar mandinya rapat.
"dasar kecebong," Sendi menggeleng-gelengkan kepalanya dan di Sertai pula senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya.
tapi tiba-tiba Seno membuka sedikit pintu kamar mandinya dan melongok kan sedikit kepalanya.
__ADS_1
"kau jangan mengintip," racau Seno, setelah itu ia kembali menutup pintunya lagi.
"dasar kecebong, kau kira aku ini homo apa? jika aku ingin mengintip, aku lebih suka mengintip wanita yang sedang mandi daripada mengintip dirimu itu," teriak Sendi agar Seno mendengar ucapannya.
"hahahaha lucu sekali lawakanmu itu," saut Seno dari dalam kamar mandi.
"padahal dia yang melawak, dasar sinting," gumam Sendi. lalu ia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sembari menunggu Seno yang masih mandi.
tak beberapa lama kemudian Seno membuka knop pintu kamar mandi dan tampaklah ia yang bertelanjang dada dengan handuk yang terlilit di punggungnya. setelah itu ia berjalan menuju ke lemari untuk mengambil baju polosnya beserta celana pendek.
"setelah selesai memakai bajunya, Sendi dan Seno pun turun ke bawah menuju ke halaman depan rumah. mereka berdua nampak berlari-lari kecil beriringan dengan peluh sebiji jagung yang lolos dari dahi mereka.
"mau kemana kita?," tanya Seno masih tetap berlari-lari kecil sambil mengusap peluh di dahinya dengan menggunakan handuk kecil yang ia lilit di lehernya.
"kita keliling ke taman kota saja, nanti sekalian kita Istirahat di sana," ucap Sendi tanpa menoleh ke arah Seno, ia masih menatap ke arah depan.
setelah cukup lama mengelilingi taman kota, mereka pun akhirnya memutuskan untuk duduk di rerumputan di sekitar sana dan mulai meluruskan kedua kakinya. Seno terlihat merebahkan tubuhnya di rerumputan itu sambil melipat kedua tangannya ke belakang kepalanya. tapi Sendi masih terlihat duduk dan mengatur nafasnya agar normal kembali.
keringat mulai membasahi seluruh tubuh mereka, namun tak membuat mereka mengheningkan cipta. mereka terus bercanda hingga tertawa, entahlah apa yang sedang mereka tertawakan.
"kau bawa uang Sen?," tanya Sendi pada Seno.
"iya, kau mau beli minuman? tunggulah di sini, biar aku saja yang membelikannya," Seno pun bangkit dari duduknya lalu ia berjalan gontai menuju toko kecil yang menjual aneka makanan dan minuman.
tak lama Seno kembali dengan membawa dua botol minuman dan memberikan satu botolnya untuk Sendi.
Sendi langsung membuka penutup botolnya dan mulai meminum airnya hingga tersisa sedikit, Sendi memang terlihat kehausan hingga air mineralnya tinggal sedikit.
__ADS_1
"huhhh..... segar sekaliii," Sendi terlihat begitu lega karena rasa hausnya sudah hilang.
setelah itu Sendi bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi tempat Seno.
Seno yang sedari tadi diam memperhatikan Sendi pun akhirnya bertanya."mau kemana?,"
"ayo ikut aku," Sendi mengisyaratkan dengan tangannya kepada Seno agar mengikutinya.
Sendi terus berjalan hingga akhirnya dia berhenti di bibir sungai. masih terlihat sungai yang tak cukup dalam ini airnya masih bersih, bening, dan di rawat dengan baik.
"kenapa kau mengajakku berdiri di sini?," tanya Seno menatap Sendi yang terlihat berjalan dan mulai menceburkan diri ke sungai itu.
"kemarilah, airnya segar sekali," Sendi masih sibuk berenang di sungai yang kedalamannya mungkin hanya sekitar dadanya.
Sendi terlihat kesal karena Seno tak menghampirinya dan ia masih terlihat mematung di tempatnya berdiri.
lalu Sendi iseng menjahili Seno dengan menyipratkan air yang sebelumnya telah ia tangkup di kedua telapak tangannya.
-
-
-
dear note
tak terasa hari ini adalah hari terakhir kita dalam berpuasa, terus semangat ya seyeng, hehehhee. dan jangan lupa beri like,coment,poin and coin.
__ADS_1