CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 27


__ADS_3

"apa semalam kau bertemu dia?," tanya Seno hingga membuat Sendi yang awalnya melamun, seketika terkejut dan langsung menoleh ke arah Seno.


"entahlah, aku tak mengingat apapun semalam," ucap Sendi jujur.


lalu Seno mengalihkan pandangannya ke arah Tara, "kau siapanya Mei?," tanya Seno tiba-tiba hingga membuat Tara sedikit kelabakan untuk menjawab pertanyaan Seno.


"a-aku kakak sepupu Mei," jawab Tara kemudian setelah ia berusaha untuk bersikap tenang.


"kau menemukan Mei di mana?," tanya Sendi dengan mengerutkan keningnya menatap ke arah Tara.


"kenapa mereka mengintrogasi ku," batinnya dalam hati.


"waktu itu a-aku menemukan Mei pingsan di depan rumah. dan ketika aku melihat wajahnya, aku mengenali nya yang ternyata adalah sepupuku. ayahnya adalah adik ayahku. jadi semenjak itu, Mei tinggal di sini bersamaku," ucap Tara memberi alasan. ia terpaksa berbohong, karena ia tidak ingin Sendi dan Seno mengetahui identitas nya yang notabennya dulu adalah seorang malaikat.


cukup lama Sendi memandangi wajah Tara, tatapannya penuh tanya. namun ia menepisnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


"eum, sebentar lagi jam kerjaku akan di mulai, ayo kita berangkat," ucap Tara mengalihkan pembicaraan. Seno pun mengiyakannya dan mengikuti langkah Tara yang sudah berjalan terlebih dahulu. ketika mereka ada di ambang pintu utama, tiba-tiba Sendi berlari mengejar Mei dan tak menggubris teriakan Seno dan Tara yang terus memanggil-manggil namanya. teriakan mereka terbuang percuma seiring punggung Sendi yang sudah tak terlihat lagi.


Seno dengan sigap mencekal lengan Tara ketika ia melihat Tara hendak berlari mengejar Sendi yang sudah tak terlihat lagi. "biarkan dia, biarkan dia pergi mengejar cintanya," ucap Seno yang seketika membuat Tara menoleh ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tara ingin menangis, namun seberusaha mungkin ia menahannya karena Seno masih berada di hadapannya.


"sebentar lagi jam kerjamu akan di mulai, ayo kita ke kafe," ucap Seno mengajak Tara untuk pergi ke kafe Sendi, dan terpaksa Tara pun mengiyakan ucapan Seno. mereka berdua berjalan beriringan ke arah sebaliknya menuju ke kafe, namun sesekali Tara menoleh ke belakang menatap jalan yang Sendi lewati tadi dengan tatapan sendu. entahlah, hatinya terasa mencelos ketika ia melihat Sendi mengejar Mei.


sebeku itukah hati Sendi hingga Tara begitu sulit untuk menembus pintu hati nya? namun kenapa Mei dengan begitu mudahnya mengambil cinta Sendi yang menurutnya sangat sulit untuk ia taklukan? sekelebat pikirannya terus berputar-putar di kepalanya. sungguh ia belum siap jika harus kehilangan Sendi lagi.


*****


di tempat lain, Sendi terus mengikuti Mei yang tengah berjalan kaki. namun langkah Sendi seketika terhenti ketika Mei yang ada di depannya juga menghentikan langkahnya dan berdiri di pinggir jalan seperti sedang menunggu seseorang.


tampak sekali mereka sedang terlibat dalam sebuah percakapan dan terlihat dengan jelas, mereka seperti begitu dekat, hingga Sendi melihat Mei yang sesekali tertawa karena pria itu kerap menggodanya.


"siapa dia?," gumam sendi dalam hati.

__ADS_1


lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju masuk ke dalam bar tempat Sendi mabuk semalam. bar itu terletak tak jauh dari jangkauan mereka, beberapa langkah saja mereka pun sudah sampai di bar. Sendi terus mengikutinya dengan hati-hati, ia tak ingin Mei mengetahui bahwa ia sedang membuntutinya. sekarang ini sendi sudah memakai sebuah jaket yang sebelumnya tadi ia ambil dari dalam tasnya untuk menutupi seragam sekolah yang sekarang ini sedang ia pakai.


ketika Sendi sudah masuk ke dalam bar, ia begitu terkesiap ketika melihat Mei yang tengah duduk di kursi sebelah pria itu di ujung meja sana. Sendi melangkahkan kakinya lebih mendekat, namun tak lupa tetap menjaga jarak agar Mei tidak mengetahui keberadaannya. terlihat dengan begitu jelas, Mei tengah menuangkan minuman keras di sebuah cawan di hadapannya dan setelah penuh, ia memberikan cawan itu kepada pria paruh baya tersebut. tak hanya satu kali, namun sudah beberapa kali Mei menuangkan minuman keras itu yang lalu di minum oleh pria itu. ketika cawan ke lima itu sudah penuh, Mei kembali menyodorkan cawan nya ke bibir pria itu, namun pria itu malah menepisnya pelan dan mengambil cawan itu dari tangan Mei.


"sekarang kau yang minum," ucap pria itu yang terdengar tidak begitu jelas karena sepertinya pria itu mulai mabuk, ia menyodorkan cawan berisikan minuman alkohol yang ia pegang ke arah Mei. namun dengan halus Mei menolaknya.


"aku tidak minum, lebih baik tuan saja yang meminumnya," ucap Mei dengan mengulas senyum. namun pria itu tetap memaksa Mei untuk meminumnya, dan dengan terpaksa Mei mengambil cawan itu dan hendak ia minum airnya.


namun saat minuman itu hendak mengaliri tenggorokan Mei, seseorang mengambil alih cawan itu dan kembali meletakkannya di atas meja. minuman keras yang seharusnya masuk ke dalam mulut Mei malah tumpah di baju dress selututnya karena ulah orang itu. Mei yang terkejut pun langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pelakunya. "pria mesum ini lagi," gumamnya dalam hati.


lalu Mei berdiri dan berjalan mendekati Sendi, mulut Mei terbuka secelah hendak memaki-maki. namun dengan cepat Sendi meraih pipi Mei dan mengusapnya pelan dengan mengulas senyum nya hingga membuat Mei diam membisu. amarahnya yang semula menyelimuti diri Mei pun seketika hilang ketika tangan pria di hadapannya itu mengusap-usap pipinya lembut. Mei mengerjapkan matanya masih merasa tak percaya dengan perlakuan pria mesum di hadapannya ini.


lalu Sendi mengalihkan pandangannya menghadap ke arah pria paruh baya itu dengan tatapan dingin dan tangannya yang tadi mengusap pipi Mei pun ia lepas, "jangan memaksa kekasih saya untuk minum minuman beralkohol itu. jika anda suka, minumlah sendiri, jangan mengajak kekasih saya," setelah mengatakan itu, Sendi langsung menggenggam erat lengan Mei dan mengajaknya keluar dari bar tersebut. Mei pun tak menolaknya karena jujur, saat ini ia masih terlihat syok karena kejadian sebelumnya.


namun baru beberapa langkah Sendi berjalan, Sendi menghentikan langkahnya dan Mei yang berada di belakang pun juga refleks berhenti karena ia mendengar pria paruh baya itu terus mengoceh memaki-maki dirinya walau tidak terdengar jelas. orang-orang yang berada di dekat mereka seketika menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Sendi membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pria yang terlihat sudah mabuk itu dan menatapnya dingin.


"kenapa kau membawa wanita ku pergi? aku membawanya kemari karena aku menginginkan dirinya," ucap pria itu dengan berdiri sempoyongan khas orang mabuk.


__ADS_2