DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 10.Rencana Robi


__ADS_3

Di dalam sebuah Restaurant yang cukup ramai pengunjung Rendra bersama dengan keluarganya menikmati makan malam bersama di mana Rendra juga memesan satu kue ulang tahun untuk putranya, setelah menyalakan lilin dan berdoa Rendra meminta Arsel untuk memotong kue sendiri Meskipun tidak tidak dihadiri oleh siapapun hanya mereka bertiga Arsel sudah cukup sangat bahagia dan senang.


Menjadi anak dari seorang dokter ternama dan juga pemilik dari satu perusahaan tidak membuat Arsel sombong akan kekayaan, di mana Arsel lebih suka dengan kesederhanaan dan tidak terlalu suka dengan kebisingan terlebih Arsel sangat memahami jika Papanya tidak terlalu suka bergaul dengan banyak orang. Arsel seringkali mendapati Papanya lebih banyak diam dan bersikap dingin dan Acuh pada apapun yang ada di sekitarnya.


"Bagaimana, apakah Putra Papa hari ini bahagia? "


"Iya, Pa sangat Bahagia."


"Selamat Arsel, smoga kamu menjadi anak yang baik dan berbakti sama orang tua. "


"Trimakasi Mama, trimakasi Papa. " Arsel bergantian menciuum Mama dan Papanya serta menerima hadiah ulang tahun yang diberikan Mama dan Papanya untuk kali ini Rendra hanya memberikan sebuah jam tangan mewah kepada putranya.


"Pa, hadiah pesawatnya Kapan katanya Papa mau belikan pesawat untuk Arsel , "


" Nanti akan Papa belikan tapi tidak sekarang ya, kan Arsel baru minta Bagaimana papa akan belikan Ayo sekarang Arsel makan Setelah itu kita pulang. " dengan patuh Arsell menganggukkan kepala.


Melihat kedekatan Arsel dengan Rendra, Alena tersenyum kecut pada dirinya sendiri di mana meskipun dia sebagai Mama dan sebagai keluarga akan tetapi kehadirannya di tempat itu seolah-olah tidak ada artinya, Rendra sama sekali tidak mengajaknya bicara, tidak melihat ataupun merasa bahwa ada orang lain di tempat itu bahkan jarang sekali Rendra menyapa ataupun sekedar berbasa basi menyuruhnya makan, tersenyum dan ramah Ah boro boro itu, meskipun segala sesuatunya sudah terletak di atas meja begitu saja, sungguh miris apa yang dia rasakan kehadirannya sama sekali tidak memiliki arti apapun di mata mereka bahkan seolah-olah Rendra hanya sedang pergi berdua dengan putranya sesekali tertawa bercanda itu pun juga hanya dengan putranya.


Rendra menikmati makannya dengan sangat lahap, sesekali tangannya menyendokan Nasi ke mulut Arsel, dimana dengan sangat senang dan riang anak kecil itu pun menerima suapan dari Papanya, Arsal memang benar-benar sangat menyayangi Papanya daripada Mama karena itu Arsel lebih suka bermanja kepada sang papa.


Merasa kenyang dan cukup Rendra mulai mengambil tisu dan melap bibir dari Arsel yang belepotan setelah makan beberapa suap nasi dan juga makan kue ulang tahun, tanpa sadar Rendra melirik pada Alena yang kala itu masih Diam Terpaku dengan piring tetap bersih di depannya, melihat hal itu Rendra yang tadinya wajahnya yang ceria berubah menjadi sedikit menegang perlahan namun pasti Rendra menggeser duduknya dekat dengan Alena sementara Arsel sibuk dengan mainan yang dia bawa dari rumah yaitu mobil kecil di atas meja.


"Tidak perlu menunggu orang lain untuk memerintahmu makan, apa yang ada Makanlah pilih yang mana yang membuatmu suka, Dan aku harap ini yang terakhir kali aku menegurmu di sini, tidak perlu juga bersikap seperti pembantu karena kamu bukan pembantu, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau dan kamu suka, ingat Aku tidak suka melihat hal seperti ini untuk yang kedua kali, jadi pastikan kamu tidak akan bersikap seperti ini lagi jika kamu pergi bersama kami, "ucap Rendra pelan akan tetapi penuh dengan penekanan.


Serasa ada jarum yang menusuk ke dalam hatinya, Alena meneguk kasar ludahnya. Alena tidak menyangka jika Rendra akan menegur sikapnya, Alena berharap Rendra akan dengan tersenyum dan ramah meminta dirinya untuk makan akan tetapi Harapan itu ternyata tidak akan pernah Alena dapatkan di mana Rendra justru marah dengan sikapnya bahkan memberikan ancaman apabila dia mengulanginya lagi, maka kemungkinan besar Rendra tidak akan mengizinkan dia ikut untuk pergi.


Dengan perasaan sedih dan sesak di dada Alena mengambil makanan dan mulai menyuapkan ke dalam mulutnya Entah mengapa makanan dan hidangan yang sangat lezat di depan mata terasa sangat pahit dan hambar bahkan untuk menelannya serasa susah mungkin karena perkataan Rendra yang sangat menyakitkan hatinya.


Alena benar-benar tidak menyangka Jika dia akan bertemu dengan orang yang sangat dingin dan sangat egois serta Acuh dan memikirkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain diam-diam Alena mulai berpikir tentang hal negatif dari hubungan Rendra dan istrinya.


"Orangnya sangat Tampan tapi hatinya begitu keras egois dan ingin menang sendiri apakah hal itu yang membuat istrinya pergi mungkin istrinya tidak tahan dengan sikap nya yang sangat dingin Mungkin dia seringkali juga diacuhkan seperti Aku saat ini, sehingga dia tidak tahan dan akhirnya memilih pergi.

__ADS_1


"Kalau makan jangan sambil melamun, cepat makan kemudian kita pulang, Aku ada urusan dengan Robi Nanti kamu bawa Arsel pulang naik taksi Apa kamu ngerti? "


Dengan lemah Alena mengaggukkan kepala.


"Aku sudah selesai, Ayo kita pulang, Arsel sini sama Mama, Papa Ada urusan katanya. "


"Tidak mau, Arsel mau ikut Papa, tadi Papa janji mau belikan Arsel pesawat,"


"Papamu sibuk mau kerja, sayang, Ayo jangan bandel pulang sama Mama. "


"Tidak mau huaaa... hizk... hizk... Arsel ikut Papa. "


"Arsel jangan bandel Nanti mama memukulmu, lho, "


"Papa, ikut..!"rengek Arsel sambil menangis Arsel sangat takut jika mamanya memuukul dirinya.


"Ya, sudah kamu balik sendiri Arsel ikut biarkan saja, "


"Tapi, Mas Nanti dia mengaggu. "


Dengan cepat Rendra mengendong Arsel dan meninggalkan Alena sendiri Naik taksi. "


Setelah mobil Rendra pergi Alena mulai masuk ke dalam taksi di dalam taksi Alena kembali melamun.


"Bagaimana mungkin Aku bisa melepaskanmu Mas, kamu begitu baik dan perhatian pada Putraku Aku berharap suatu hari nanti kamu akan buka hatimu untukku dan kamu mau menerimaku agar kita bisa menjadi keluarga yang bahagia. " gumam Alena dalam hati.


Sementara mobil yang dikendarai Rendra bersama dengan Arsel sudah sampai pada satu tempat di mana Robi mengajak Rendra untuk bertemu, setelah dekat Rendra segera menggendong Arsel untuk mendekati Robi.


"Eah, boss. bawa anak lho, "


"Hahahaha iya si bocil nangis pingin ikut, "

__ADS_1


"Ayo, ikut Aku. "


Robi dan Rendra masuk ke dalam sebuah Mall kecil di mana Banyak mainan anak-anak di tempat itu perlahan-lahan Robi mengulurkan tangannya pada Arsel yang sudah cukup besar juga karena dia usia 7 tahun kemudian menempatkan Arsel dengan anak-anak yang lain, Arsel tidak menolak karena Arsa sudah sangat mengenal Robi sebagai pamannya yang mana Robi seringkali datang ke rumah untuk bermain ataupun membawakan mainan untuknya.


"Anak pintar, bermain dulu disini ya, Om dan Papa Ada di sana tuh, I'm mau ajak Papa ngopi, Arsel kalau sudah capek main bisa langsung datang temui Papa dan Om disana itu ya! " 7 Arsel pada salah satu bangku yang tidak jauh dari tempat mainan di mana jarak di antara mereka hanya sekitar 8 meter.


Setelah Arsa setuju dan mengangguk akhirnya Robby meninggalkan Arsel sendiri dan menemui Rendra yang sedang duduk dengan secangkir kopi di depannya.


"Anak pungut kamu itu benar-benar penurut dan sayang kamu sekali ya Ren kemana-mana dia ikut kamu kayaknya dia tidak bisa dipisahkan darimu, '


" Hahaha, Iya. "


"Rendra.. Rendra kamu sama anak kecil itu sangat sayang apalagi jika kamu bertemu dengan anakmu pasti anak Vanessa juga sekarang posisi usianya sama dengan anakmu itu kan? "


Rendra tersenyum kecut mendengar perkataan dari Robi.


"Iya, pasti sudah sangat besar seperti Arsel Aku tidak tahu apakah dia sangat cantik ataukah Dia sangat tampan di manapun dia berada Aku berharap semoga anakku itu sehat dan Vanessa menjaganya dengan baik.


" Apa kamu kangen dengan Anakmu, "


"Tentu saja tapi Aku tidak tau dimana mereka berada, "


"Sudah, kita bicara yang lain saja aku takut kamu jadi Melow Dan teringat lagi, Aku di minta Paman untuk menyampaikan pesannya, Lusa kita harus terbang ke London karena Papamu memberikan tugas untuk bertemu dengan salah satu klien di sana. "


"Secepat itu, "


"Ya, karena ini sangat penting.'


" Baiklah, Aku akan bersiap besok, Nanti kamu ikut Aku ke mall Aku mau beli pesawat buat Arsel agar dia senang, hari ini Arsel ulang tahun Apakah kamu sebagai pamannya tidak mau memberikan hadiah untuknya. "


"Oh jadi Arsel ulang tahun baik Nanti sekalian Aku suruh dia pilih mainan dia suka. "

__ADS_1


"Kamu tunggu disini Aku mau lihat Anakku dulu, " Rendra segera pergi menghampiri Arsel yang sedang sibuk bermain bersama dengan teman-temannya yang lain sementara Robi menyeruput kopi yang baru saja terhidang di atas meja bersama dengan beberapa cemilan kecil.


"Apa kamu tau Ren, kita bukan pergi untuk urusan kerja, tapi Aku akan ajak kamu untuk melihat Anak dan istrimu, Aku itu temanmu dan Aku tau kamu sangat merindukan mereka, Aku akan pertemukan kalian tanpa sepengetahuanmu, bahkan Vanessa juga tidak akan tau jika kalian akan bertemu, smoga dengan ini kerinduanmu bisa terobati, Aku yakin Vanessa pasti juga merindukanmu. "gumam Robi dalam hati.


__ADS_2