
Sungguh hati Vanessa merasa sangat gundah dan cemas, sudah hampir dua puluh menit Vanessa berputar mengelilingi sekolah untuk mencari putrinya akan tetapi semua sia-sia karena tidak ada Mikha di tempat itu.
Kesal, geram bercampur dengan resah membuat Vanessa pusing memikirkan keberadaan putrinya dan hampir saja Vanessa limbung karena kecapean mencari dan pada saat yang tepat muncul seorang Guru yang kebetulan hendak masuk ke dalam kantor.
"Maaf Ibu, baik-baik saja? " tanya guru itu dengan perasaan cemas.
"Bu, Anak saya tidak ada, " jawab Vanessa lirih.
"Ini dengan Ibunya Mikha Admaja kan? "
Vanessa mengangguk lemah.
"Tadi saya melihat Mikha pergi bersama dengan Papa dari temannya ketika saya tanya mau kemana, mereka bilang cuma mau beli Es krim yang ada di ujung jalan sana, Ibu tidak usah khawatir tunggu saja sebentar lagi pasti mereka akan pulang.
Mendengar perkataan dari wanita yang ada di depannya di mana wanita itu adalah seorang Guru, hati Vanessa mulai merasa tenang dan lega meskipun dalam hati merasa sangat kesal dan geram dengan ulah putrinya yang tidak meminta izin kepada dirinya.
Dimana dengan diam-diam dia justru pergi bersama dengan temannya tanpa meminta izin terlebih dahulu sehingga membuat dirinya merasa sangat cemas dan khawatir bahkan bagaikan seorang gila mencari ke sana kemari.
Kini Vanessa sudah bisa bernapas dengan lega.
"Trimakasih, infonya Bu, " ucap Vanessa yang kini hatinya sudah mulai tenang dan lega.
Meskipun dalam hati Vanessa bertanya-tanya Mikha ikut pergi dengan siapa karena tidak biasanya Mikha selalu ikut dengan orang asing, Vanessa berpikir mungkin teman Mikha ini adalah teman yang sangat baik menurutnya sehingga dia ikut pergi dengan mudahnya.
"Sama-sama Bu, tunggu saja sebentar lagi pasti datang."
"Ya, Bu Trimakasih. "
Vanessa menganggukkan kepala ketika Bu Guru meminta izin pergi.
"Mikha, Mikha kamu itu pergi sama siapa sih Nak? "
Meskipun kini ada perasaan lega akan tetapi tidak bisa dipungkiri jika hati Vanessa masih merasa kesal dan geram dengan ulah putrinya dimana Putrinya tidak meminta izin kepada dirinya.
Di kala Vanessa sedang memikirkan dengan siapa putrinya pergi sebuah panggilan telpon mengganggu lamunannya dengan perasaan malas Vanessa terpaksa menerima panggilan telepon yang tidak lain dari Bara suaminya.
"Sayang, lama sekali mengangkatnya apa kamu sedang sibuk, tadi Mas Bram telpon katanya hari ini Anak-anak pulang pagi karena Gurunya akan ada Rapat, benar begitukan Sayang? "
"Ya, masuk sekali lagi kemudian pulang, "jawab Vanessa datar.
"Hmm, suaranya buruk sekali bernada malas kenapa? kamu marah ya karena Mama meminta kamu untuk mengantar dan nungguin Mihka? "
"Tidak, Aku tidak apa-apa cuma capek saja, sudah ya Mas, lagi rame ngak enak sana ibu-ibu yang lain, "
"Hmm, Aku kan kangen sayang tapi baiklah cepat pulang ya, Aku menunggu di Rumah. "
"Ya, "
Vanessa langsung mematikan ponsel hpnya tanpa bicara apapun lagi hal itu membuat Bara sedikit mendelik heran, sangat terasa jelas jika Istrinya seakan malas menerima panggilan darinya.
"Pasti Nesa marah dan berpura-pura tidak marah tapi sesungguhnya hatinya kesal buktinya Aku di cuekin begini, Astaga Mama ada-ada saja kan jadi Aku yang kena imbasnya, sudah beberapa jam tidak ketemu Eh di jawab dengan dingin sekali, kan ngenes nih namanya. " gumam Bara bermonolog sendiri.
__ADS_1
Di tempat Sekolah Vanessa memilih duduk di dekat jalan masuk ke dalam kelas dimana hal itu Vanessa maksudkan dia akan segera tau ketika Mikha dan temannya datang dari membeli Es Krim.
Di ujung jalan Rendra bersama kedua Anak kecil sudah mulai masuk kembali ke dalam Mobil setelah mereka sudah mendapatkan Es krim yang mereka inginkan.
Rendra melajukan Mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Barat Sekolah kemudian berhenti disana.
"Om Tampan, kok berhenti disini kenapa tidak masuk saja? "
"Mikha sayang, makan Es nya disini saja kalau Es krim nya dibawa Masuk kasian teman-teman Mikha yang lain, jadi Om Tampan sengaja membawa Mikha kesini untuk menikmati Es krim nya dulu, kan makan Es krim tidak lama, "
"Oh, begitu ya Om, "
Rendra tersenyum sambil mengaggukkan kepala, kemudian turun membuka pintu belakang, membantu Mikha untuk turun, sebenarnya Mikha ingin turun sendiri karena merasa sudah besar dan bisa akan tetapi Rendra tetap menggendongnya membuat Arsel yang kala itu melihat Mikha turun dengan di gendong Papanya mengernyitkan dahinya.
"Nah Mikha bisa makan dengan melihat pemandangan disini makan dengan duduk ya tidak boleh sambil berdiri. "
Dengan patuh Mikha mengaggukkan kepala Mikha memilih duduk berdampingan dengan Arsel sambil melihat pemandangan sekeliling.
Rendra tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan cepat diambilnya ponsel dan di nyalakan untuk memutar Video dari kedua Putra-putri nya.
Setelah puas dengan jeprat jepret Rendra terlihat memencet mencet Nomor telepon yang tidak lama terdengar suara dari sebrang.
"Halo, Rendra ada apa? "
"Sebentar..!
Rendra sengaja mengunakan panggilan telpon dengan video call sehingga menampakkan Wajahnya.
Seorang Wanita yang sudah berumur meskipun tidak terlalu tua memicingkan Wajahnya menatap lekat-lekat Gadis kecil yang duduk di sebelah Arsel.
"Cantik, anak siapa tuh, Aduh Ren kamu jangan aneh aneh Anak angkat kamu si Arsel masih kecil begitu, masak sudah mau kamu carikan jodoh nya, Ren ini Zaman maju tidak laku lagi sekarang orang tua main jodoh jodohin anaknya apalagi Arsel masih bocah begitu, jangan kelewatan kamu meskipun Arsel bukan anak kandungmu akan tetapi kamu tidak punya hak atas kehidupan Arsel, biarkan dia memilih siapapun yang dia mau Aku tidak pernah mengajarkan kepadamu untuk memaksakan kehendak kepada orang lain, ingat itu anak itu memang cantik tapi Namanya juga masih anak-anak Dia tidak akan tahu ke depannya akan seperti apa dan bagaimana kamu tidak perlu mencarikan jodoh segala untuknya, kolot sekali pemikiranmu, Kamu itu seorang dokter tapi Bodoh, "ucap Wanita yang ada di dalam telpon membuat Rendra yang mendapatkan makian mendelik seketika.
Wanita yang ada di dalam telepon adalah Mama dari Rendra yang kala itu sengaja Rendra telepon untuk memberikan kejutan kepadanya tentang keberadaan Putri kandungnya, tapi belum sempat Rendra bercerita Mamanya sudah marah-marah dan memakinya Hal itu membuat Rendra hanya bisa terdiam untuk sesaat, karena sudah diajarkan sejak awal setiap orang Tua yang marah anak hanya wajib untuk mendengarkan.
Rendra menunggu amarah Dari Mamanya redah karena Rendra sudah terbiasa untuk tidak memiliki hak menjawab setiap amarah dari orang Tua sehingga Rendra menunggu beberapa saat Mamanya diam setelah Mamanya diam baru Rendra berbicara.
"Ma, Rendra minta maaf sudah membuat Mama kesal dan Marah tapi bukan itu maksudnya Rendra menelpon Mama, "
"Bukan itu, kalau begitu apa? "
"Rendra cuma mau ngasih tau Mama dia itu Cucu Mama Namanya Mikha, dia anakku dengan Vanessa Ma, "
"Apa, Cucu Mama? " yang benar Ren? "
"Benar Ma, tapi Anakku belum tau kalau Aku ini Papanya, lucu ya Ma Aku di panggil Om oleh anak kandungku sendiri, tapi mau bagaimana lagi, Nesa belum mengizinkan Aku untuk mengatakan terus terang jika Aku ini Papanya. "
"Rendra, Oh Itu cucu Mama cepat dekatkan Mama juga mau bicara dengannya, Cantik sekali Cucuku, ya jodohin saja Ren Mikha dengan Arsel. "
Issh, Mama ini bagaimana bukankah tadi Mama mengatakan Ini zaman maju bukan zaman dulu jadi kalau kita menjodohkan anak yang masih kecil itu sangat kolot tidak boleh, Bukankah seperti itu Ma, Bukankah Setiap anak punya hak untuk memilih dan menentukan sendiri pilihannya ini Mama kenapa mau menjodohkan? "
"Ya, tadi Mama kan tidak tau Ren, "
__ADS_1
"Hahaha, kita lihat saja Nanti bagaimana Ma, sekarang Mama sapa dia,"
Rendra segera mendekati Mikha dan Arsel yang duduk berduaan sambil menikmati Es krim.
"Mikha sayang ada Oma yang mau bicara sama Mikha beliau ini Mamanya Om Tampan, mau bicara sebentar ya, biar Mikha kenal juga sama Oma nya Om Tampan. "
Mama Rendra mendelik ketika mendengar perkataan dari Putranya.
"Astaga Norak benar ini anakku, masak dia mengatakan kalau dirinya ini Om Tampan, hadew parah, juga, si Rendra ini, " Gumam Mama Rendra dalam hati.
"Oh, boleh Om mana? "
"Ini sayang,"
"Haloo, Oma..? "
Mendengar suara Mikha yang begitu ceria Mama Rendra diam sambil menitikkan Air mata.
Karena belum ada jawaban Mikha kembali mengulangi sapaannya.
"Halo Oma...? "
Dengan suara serak bakhan sulit untuk di ungkapkan Mama Rendra menjawab dengan sedikit terbata.
"Ha-halo, Sayang, Nama kamu siapa?
" Mikha Admaja Oma, "
"Deg..! meskipun Vanessa tidak menyukai putranya dan meskipun Vanessa memilih meninggalkan putranya Mama Rendra masih di buat terharu karena Nama dari Cucunya Masih memakai Nama belakang dari Putranya.
" Oma lagi apa? "
"O-Oma lagi, __
" Oma, sepertinya lagi sedih ya tunggu, Om Tampan Oma lagi sedih Nih, Om Timor saja yang bicara Mikha mau habisin Es krim."
"Oh, baik sayang. "
"Halo, Ma..!
" Ren kapan kamu akan bawa Mikha ke Rumah Aku mau mengendongnya juga, "
"Lain kali saja ya, Ma Aku tidak ingin Vanessa marah jika tiba-tiba membawa Mikha Mama yang sabar ya, pasti Mama akan ketemu dengan Cucu Mama, "
"Baiklah Ren, tapi jangan lama-lama Mama sudah tidak sabar ingin memeluk Cucu Mama. "
"Siap Ma, Rendra akan carikan waktu yang tepat,baiklah Ma sudah dulu ya, Anak-anak sudah selesai makan Es krim nya Aku khawatir jika terlalu lama Vanessa marah dan curiga bisa-bisa kita tidak bisa ketemu lagi, "
"Ya sudah cepat balikkan ke Mamanya, biar Nesa tidak curiga, '
Setelah menganggukkan kepala Rendra langsung mematikan ponsel hp-nya kemudian mengajak Mikha bersama dengan Arsel untuk kembali Naik ke dalam Mobil, Rendra akan membawa Arsel dan Mikha kembali ke sekolah dimana Mereka sudah menghabiskan waktu kurang lebih 20 menitmenit, setelah memberikan kejutan kepada Mamanya.
__ADS_1