
Mama Sukma yang tidak bisa membuat hati dan pendirian anaknya goyah kembali masuk ke dalam kamarnya tapi sebelum itu, Mama Sukma menatap kamar yang ada di lantai atas.
Tempat Vanessa dan Bara biasanya beristirahat, Sesungguhnya hati Mama Sukma sangat sedih dan ikut prihatin dengan Nasib yang menimpa menantunya akan tetapi apa mau dikata Bara yang memiliki sifat keras kepala dan tidak muda untuk di bujuk tidak bisa di goyahkan dan jika dirinya membantu Bara memberikan ancaman akan membuang Arum yang jelas Jelas kini sedang mengandung cucunya.
Sudah sangat lama dirinya menunggu kehadiran sang Cucu kandung dan tidak mungkin dirinya akan mengorbankan semua jalan satu-satunya diam dan membiarkan Bara berbuat sesukanya.
"Maafkan Mama Nes, Mama tidak bisa membantu mu, kamu harus berusaha sendiri untuk bisa mendapatkan Anakmu lagi, Bara itu keras kepala dirinya tidak pernah main main dengan ucapannya dan sesungguhnya Mama sangat tau betapa sedihnya kamu harus berpisah dengan Anakmu tapi mau bagaimana lagi kalau kamu mau diam dan menerima Bara mungkin kamu akan bisa berkumpul lagi dengan Anakmu tapi Mama juga tau kamu sangat keras kepala pasti kamu tetap tidak akan mau dan keadaan nya akan semakin sulit kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan Anakmu, "
Puaas menatap kamar lantai atas dan bermonolog sendiri, Mama Sukma berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Menjelang pagi Bara sudah rapi dan segar duduk di Ruang makan menunggu kehadiran dari semua penghuni Rumah.
Hari ini Mama Sukma yang membuat sarapan pagi u untuk semuanya sementara Vanessa tidak keluar dari dalam kamar.
"Arum yang baru keluar dari dalam kamar setelah menggunakan kain atau alat yang membuat perut terlihat besar seperti orang hamil, Arum segera berjalan menghampiri Bara dan Mama Sukma yang sudah berada disana.
" Tunggu jangan duduk dulu, "Seru Bara ketika Arum hendak mendudukkan bokongnya di samping Bara.
" Memangnya kenapa Mas? "
"Panggil Vanessa untuk makan, "
Mendengar perintah dari Suaminya sontak saja hal itu membuat Arum mendelik tak percaya.
"Kenapa melotot cepat sana pergi panggil Nesa untuk turun makan, "
"Aku Mas, "
"Iya, kamu mau siapa lagi cepat sana pergi, "
"Mas, nyuruh Aku apa tidak salah nih, "
"Memangnya kenapa mau nyuruh Mama, cepat kamu Naik ke kamar atas dan panggil Vanessa untuk turun. "
"Maaf, Mas, bukannya Arum tidak mau cuma Arum lagi, ___
" Sudah Aku tidak mau mendengar alasan apapun cepat pergi atau Aku juga tidak menginginkan kamu berada di Ruang makan ini, "
Arum yang kesal menatap pada sang Mama mertua yang kala itu duduk di depan Bara di mana Mama mertua Arum hanya diam saja sambil menganggukkan kepala, pertanda Mama mertua Arum menyetujui dan meminta kepada Arum untuk mendengar dan menerima Apa yang diperintahkan Bara kepadanya.
Dengan wajah kesal dan masam akhirnya Arum bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju ke lantai atas sungguh dirinya sangat kesal dan geram dengan perintah suaminya.
Dimana dirinya harus memanggil wanita yang kini menjadi saingan hatinya.
Arum sendiri sangat yakin dan memahami jika Bara masih sangat mencintai istrinya jika dibandingkan dengan dirinya meskipun saat ini dirinya telah mengandung buah hati dari suaminya seolah-olah apa yang ada pada Arum tidak begitu penting bagi Bara.
Kesal malas dan kecewa akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengar dan menerima perintah dari Bara yang kala itu meminta dirinya untuk Naik ke atas untuk memanggil Vanessa agar turun untuk makan bersama.
Sampai di depan pintu Arum menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar karena kesal sebelum kemudian Arum mengetuk pintu dengan sangat keras dan kasar.
Vanessa yang ada yang ada di dalam sedikit terkejut dengan ketukan pintu yang berkali-kali mengetuk, bahkan tiada jeda dengan suara teriakan seorang wanita dari luar.
Merasa heran dan penasaran akhirnya Vanessa membuka pintu kamarnya dan tampaklah di depan pintu sudah berdiri Arum dengan wajah masam.
"Cepat Turun Mas Bara meminta kamu untuk turun makan."seru Arum dengan sangat kasar dan dengan nada tinggi seperti orang yang sedang membentaak.
Vanessa menaikan alis matanya.
" Hei, cepat turun ngapain menatapku begitu? "
"Kamu itu Aneh kalau kamu tidak ihklas untuk memanggilku ngapain kamu memanggilku tolak saja Suruan Suamimu itu dari pada kamu berteriak-teriak seperti orang yang kesurupan, "
"Kau..? "
"Sudah minggir Aku mau lewat kalau perut buncit kamu kena tendaaang Aku tidak mau tanggungjawab salah kamu sendiri berdiri di tengah jalan, "ucap Vanessa yang kemudian turun dari tangga.
__ADS_1
Sementara Arum mendelik mendengar perkataan dari Vanessa yang kemudian mengikuti Vanessa turun menuju ke Ruang makan dimana Bara sudah ada disana.
Bara tersenyum melihat Istrinya mau turun untuk makan dengan cekatan Bara langsung mengambil piring dan lauk untuk Vanessa dan diberikan kepada nya.
"Untuk Aku mana Mas, Masak cuma istri pertama yang di berikan perhatian makan diambilkan sedangkan Aku yang hamil Anak kamu tidak kamu pedulikan, "
"Ini Ambil untuk kamu, lagi pula Aku turun bukan untuk makan."
"Nes, Apa yang kamu lakukan, mengapa makanannya kamu berikan pada Arum, "
"Aku tidak butuh makanan itu, katakan padaku bagaimana keadaan Putriku saat ini? "
"Hmmm, Arum kamu pergi makan di kamarmu Aku ada yang penting dan ada yang perlu Aku bicarakan dengan Nesa."
"Tidak mau Aku juga mau makan bersama dengan Suamiku, "
"Aku perintahkan kamu masuk kamar Arum, '
Dengan kesal Akhirnya Arum masuk ke dalam kamar kini tinggal lah Bara dan Vanessa di Ruang Makan.
" Katakan bagaimana keadaan Anakku sekarang Mas, dia butuh sekolah dia juga butuh makan kamu sembunyikan dimana dia! "
"Sssstttt, tenang Sayang Mikha baik-baik saja kau ingin melihat nya, "
Dengan cepat Vanessa mengaggukan kepala. Perlahan-lahan Bara mendekati Tempat Vanessa berdiri kemudian menunjukkan satu Vidio yang memperlihatkan Mikha dengan sang pengasuh nya.
"Lihat Anak kamu baik-baik saja dia juga sedang makan dengan sangat lahap lihatlah Mba Sri sedang menyuapi Mikha dan Mikha makan dengan lahap lauknya juga kesukaan Mikha jadi kamu tidak perlu khawatir Sayang Mikha juga akan pergi ke sekolah, tapi tentu saja dengan pengawasan ku, "
"Aku mau melihat dan bertemu dengan nya, "
"Tidak untuk saat ini tidak bisa sayang kamu harus menurut padaku terlebih dahulu baru Aku akan mempertemukan kalian."
"Kau liciiik Mas, "
"Hahaha, mau bagaimana lagi semua karena kamu kan, "
"Tunggu..! kamu tidak bisa pergi begitu saja berikan ciuumaanmu padaku terlebih dahulu ini akan membuat Mikha hari ini tidak bermasalah. "
"Apa maksudmu? "
"Hahaha, Sayang apa harus Aku jelaskan, kamu tau kan jika kamu tidak baik padaku Aku juga tidak akan baik pada Mikha, lihat di belakang Mikha, "
Vanessa mendelik ketika melihat dia orang laki-laki yang ada di belakang Mikha mengarahkan pisauu mereka kearah Mikha dan Mba Sri.
"Mas kau apa yang kau lakukan pada Anakku, "
"Sayang, kamu sudah ingar janji semalam kamu tidak memberikan jatah malamku kan jadi jangan coba-coba mau mempermainkan Aku lagi jika kamu ingin Anak kamu baik-baik saja. "
"Berikan telponnya padaku Aku mau bicara, "
"Baiklah cuma lima menit, Cepat berikan telponnya pada Mikha biar dia bisa bicara pada Mamanya, ini sayang silahkan tapi ingat cuma lima menit."
Bara segera memberikan ponsel hpnya pada Vanessa dengan cepat Vanessa menerima ponsel hp yang diberikan para kepadanya dengan sedikit berlinang air mata Vanessa berteriak dan berseru Memanggil nama putrinya.
"Mikha.. Sayang ini Mama, "
"Mama...! Mikha mau pulang, Mama Mikha tidak mau disini Mikha takut, Mama jemput Mikha, bilang sama papa suruh jemput Mikha, "
"Iya Sayang kamu yang sabar Mama akan datang, "
"Waktu mu tinggal dua menit lagi, "
Mendengar peringatan dari Bara Vanessa mendelik.
"Mikha dengar Mama, Mikha harus cari dan ikut sama Om Tampan, ingat Mikha harus, ____
__ADS_1
" Sruuuutttt...!
Sebelum Vanessa menyelesaikan perkataannya Bara sudah mengambil dan merampas ponsel hp-nya.
"Mas Aku belum selesai bicara berikan telponnya, "
"Sudah cukup sayang waktumu hanya lima menit, sekarang ayo makan temani Aku, "
"Aku tidak mau, "
"Jangan keras kepala Aku bisa Nekad, Nes, Ayo duduk, "
"Aku tidak mau,"
"Duduk kataku,"
Bara yang emosi menarik tangan Vanessa dan menyereetnya untuk duduk, bersamaan dengan itu sebuah pintu dibuka dari luar.
Seorang tamu yang datang dengan pakaian lusuh dan compang csmping langsung masuk ke Ruang tamu.
"Maaf, saya ingin tau dimana kamar mandi yang Rusak, "
"Kau, siapa kau kenapa berani masuk ke mari hah, Mang Dadang...!
" Saya Tuan, "
"Siapa orang ini cepat suruh dia pergi. "
"Maaf Tuan katanya Dia suruhan dari Papa Tuan untuk membetulkan segala sesuatu yang rusak di Rumah ini, dia juga di izinkan tinggi disini katanya, "
"Apa? kenapa Papa tidak bilang padaku, cepat masuk sana di ujung sana kamar mandinya. "
Tanpak laki-laki itu mengganguk kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Bara kembali mendekati Vanessa dan menariknya untuk duduk dan makan
"Aku tidak mau lepaskan tanganku, "
"Jangan membantah kau harus mau apapun yang Aku perintahkan. "
"Aku tidak mau, __
" Maaf Tuan perut saya juga lapar saya boleh ikut makan, "
"Kau, ___
" Nona, Mari kita Makan, " ucap laki-laki berpakaian compaang caamping yang entah mengapa Tiba-tiba membuat Vanessa menurut.
Laki-laki berpakaian compaang caamping itu hanya mengajak Vanessa untuk makan dengan tangan mengepal akan tetapi satu jari telunjuk tidak ikut mengepal atau tergenggam.
Dengan cepat laki-laki berpakaian compaang caamping itu mengambil Nasi yang cukup banyak ada tiga centoong Nasi kemudian satu telur dadar.
Bara memperhatikan tingkah laki-laki di depan nya dengan mencibir.
"Dasar orang miskin melihat banyak makanan ikut makan tapi sukurlah dia cuma ambil telor dadar saja. " Gumam Bara dalam hati.
"Nona, makanan seperti ini itu pantas untuk orang yang tidak bisa masak, silakan dimakan. "
Vanessa mendelik mendengar dan melihat perlakuan yang kurang Aaajaar dari laki-laki yang ada disamping nya, akan tetapi tiba-tiba angan Vanessa melayang ke masa lalu.
"Nona Makanan ini cocok untuk kamu yang tidak bisa masak. " Dulu Mas Rendra bicara seperti ini tapi apa mungkin, ____
Vanessa yang mulai memperhatikan laki-laki ddi sampingnya dan seperti memahami laki-laki itu langsung bangkit berdiri.
"Maaf, perut saya mulaas saya pergi dulu, ingat Nona, jangan buat makanan mubazir. '
__ADS_1
Setelah bicara begitu laki-laki itu langsung pergi sementara Vanessa semakin heran akan tetapi Vanessa yang tadinya tidak berseleera makan tanpa sadar melahap makanannya tanpa mengeluh.