
Bara yang tidak mengerti mengapa Vanessa tiba-tiba bersikap aneh dan sangat tidak seperti biasanya ikut berlari mengejar Vanessa yang sudah lebih dulu berlari dan masuk ke dalam mobil.
"Sayang kamu kenapa kok aneh begini, "
"Aku mau pulang, '
" Iya Aku tau tapi kamu belum makan apapun dan bukankah kita mau ke Mall untuk membeli oleh-oleh pada Mama.
"Iya, ayo, '
Bara tersenyum kemudian melajukan mobilnya menuju Mall, Vanessa mulai menarik napas lega karena dia bisa lepas dan jauh dari suatu pemandangan yang menyakitkan.
Melihat istrinya sudah kembali Netral tidak terlihat cemberut dan uring-uringan Bara mulai tersenyum lega.
" Apa Vanessa lagi akan kedatangan tamu bulanannya sehingga dia marah-marah, kalau sampai datang tamu bulanannya Itu artinya gagal lagi dong Aku punya anak, apa lebih baik Aku bawa Vanessa ke dokter saja biar diperiksa kandungnya.
"Mas ambil buah juga kan? '
" Iya sayang, ambil sesukamu, "
Bara yang saat itu sibuk menerima telpon sedikit menjauh karena di dalam Mall sangat bising.
Tanpa diketahui Bara dan Vanessa, Rendra mengikuti mereka dari kejauhan, tanpa berkedip Rendra memperhatikan mantan istrinya yang sibuk memasukkan barang belanjaan.
Kali ini Rendra yang menatap sambil mengulum senyum melihat mantan istrinya sibuk memasukkan semua barang belanjaan menatap Nanar ketika Vanessa kesulitan mengambil satu Barang yang sedikit tinggi dengan gerakan cepat Rendra tiba-tiba langsung berjalan mendekati, tidak lupa menggunakan kacamata, masker dan topi, Rendra langsung menggambilkannya untuk Vanessa dan memberikan tanpa bicara.
"Hei, trimakasih sudah dibantuin, maaf tidak begitu tinggi jadi kesulitan, sekali lagi trimakasih, "
tanpa bicara laki-laki itu yang tak lain adalah Rendra menganggukkan kepala kemudian memberikan badan dan berjalan menjauhi tempat di mana Vanessa sedang berdiri dan tanpa sengaja tubuh ke Kak Rendra yang ndak terlalu pergi menyentuh bahu Bara yang kala itu berjalan dengan sedikit terburu-buru.
"Maaf Aku tidak sengaja, "
"Iya, sama-sama, " jawab Rendra yang memilih terus melangkah akan tetapi langkahnya dihentikan Bara.
"Tunggu, Aku seperti mrnggenalmu, "
"Sial, ingatan laki-laki ini kuat juga, " gumam Rendra dalam hati.
"Maaf anda salah saya tidak pernah mengenal Anda maaf saya buru-buru, peemisi, "
Bara menatap tak berkedip punggung laki-laki yang baru saja dia tabrak tanpa sengaja.
"Mas, sini Aku sudah selesai semua, "
teriakan Vanessa membuat Bara yang kala itu sedang menetap dan mencoba mengingat-ingat orang yang baru saja ditabraknya karena Bara merasa sangat tidak asing dengan laki-laki itu.
__ADS_1
"Iya sayang, bagaimana apa semua sudah selesai, "
"Sudah, ayo kita pulang, '
" Sayang siapa laki-laki yang tadi disini itu, "
"Oh, dia Aku tidak tau dia membantu menggambilkan ini untuk ku, habisnya kamu ngak cepet datang sih Mas, Aku kan kesulitan itu terlalu tinggi dan Alhamdulillah ada orang baik yang bantuin, "cicit Vanessa sambil mendorong keranjang belanjaannya ke depan kasir.
" Sayang, sepertinya Aku kenal orang itu tadi tapi Aku lupa dimana dan, ___
"Sudah jangan bicara yang membingungkan kalau Mas Bara menggenal orang itu, hal itu wajar Mas Bara kan Sering keluyuran di Jakarta sapa tau itu teman lama, "
"Bukan begitu Sayang, dia seperti, ___
Bara melanjutkan ucapannya tetapi langsung meraih dari jemari Vanessa membuat Vanessa sedikit heran dan terkejut
" Mas mau apaan? "
Vanessa terlihat panik saat Bara meraih tangannya,
"Sayang, Cincin dari Rendra sudah kamu lepas bukan? "
Vanessa tidak menyangka jika Bara mempertanyakan tentang Cincin pernikahannya membuat Vanessa mendelik seketika dengan bibir mengerucut ke depan membuat Bara menjadi gemas.
"Sayang Aku cuma bertanya, kenapa Aku kamu pelototin begitu, "
Bara yang menyadari Istrinya sedang marah meraih tangan Istrinya dan menaruhnya di dada, Bara tidak perduli dengan beberapa pasang mata akan menertawakan tingkah dan kelakuannya.
" Sayang, maafkan Aku, Bukan maksudnya Aku ingin menyakiti kamu, Aku cuma mau memastikan Apakah Cincin yang Rendra berikan padamu itu berbentuk Bintang, maksudku ada lingkaran bintang ditengahnya dan berwarna putih, mungkin jelasnya Cincin bermotif bintang mutiara putih. "
Dengan kasar Vanessa menarik tangannya yang Bara taruh didadanya.
"Aku tidak mau membahas sesuatu yang tidak penting. "
"Sayang ini penting, karena Aku tadi melihat orang yang Cincinnya sama dengan Cincin pernikahan kamu dengan Rendra dan jangan-jangan, ___
" Brisik... Aku males bicara itu,"
Tanpa menunggu Bara Vanessa segera mendorong dengan cepat belanjaannya ke depan kasir, sementara Bara mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika benar Cincin pernikahan Vanessa berbentuk bintang mutiara putih itu artinya laki-laki yang tadi Aku tabrak adalah, _____
Sebelum Bara menyelesaikan ucapannya Vanessa sudah berteriak dan membuyarkan lamunannya.
" Mas sini cepat bayar, "teriak Vanessa yang juga sudah tidak mau perduli orang menatapnya, mungkin mereka berpikir Vanessa Wanita Norak dan galak karena suka berteriak-teriak.
__ADS_1
Sudah kesal dan jengkel itulah yang membuat Vanessa marah-marah, terlebih dia pergi ingin melupakan dan tidak mau tau dengan Rendra justru ditanya tanya soal Rendra tentu saja Amarahnya menjadi meluap.
"Iya, sayang..!
Bara yang menyadari Istrinya sedang marah dan menjadi pusat perhatian orang karena berteriak ditempat umum segera datang dan memberikan card pada sang penjaga kasih.
"Biar Aku yang bawa, "
Bara segera mengagkat semua belanjaan dan Vanessa berjalan dibelakangnya.
Vanessa sedikit terkejut tiba-tiba Bara berhenti di depan seorang petugas.
"Permisi Mas Tolong antar belanjaan saya ke mobil berwarna hitam disana ini sedikit rasa ucapan terimakasih.
terlihat petugas itu menganggukkan kepala kemudian langsung membawa belanjaan yang tadinya Bara bawa.
" Kok nyuruh orang sih, "
Bara tidak menjawab dia hanya tersenyum sambil melingkarkan tangannya pada pingang sang istri, apa yang dilakukan Bara membuat Vanessa mendelik dan menatapnya penuh protes, Bara cuek dengan tatapan sang Istri yang terlihat horor, bahkan dengan santainya tangan satunya Bara justru menangkup wajah sang Istri dan dalam hitungan detik Bara sudah menjatuhkan ciuumannnya dikening Vanessa.
"Mas, ini tempat umum bikin malu saja, " protes Vanessa yang terkejut dengan kejahilan Suaminya.
"Sayang ngapain malu, kamu berteriak teriak tadi juga tidak malu kan, Aku cuma mau menegaskan pada mereka yang melihat kita jika Aku sangat mencintai Istriku, "
"Iiiihh, Norak, "
geram Vanessa yang dengan kasar melepaskan tangan Bara dan berlari keluar lebih dulu menuju mobilnya.
Sementara Bara tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Silahkan pergi Dokter Rendra yang malang, Vanessa tidak akan pernah Aku biarkan kembali kepadamu, Aku tau tadi itu pasti dirimu, mungkin Vanessa tidak bisa mengenalimu tapi Aku, jangan kau kira Aku bodoh dan tidak mampu mengenali mu, " sinis Bara bermonolog sendiri sambil berjalan mengejar istrinya yang lebih dulu sudah pergi.
Di tempat lain tampak seorang Laki-laki mengusap kasar Wajahnya.
"Kau beruntung Nes, Suamimu sangat menyayangi dan mencintaimu, meskipun jika harus jujur hatiku sakit tapi Aku rela, karena kamu pasti sekarang hidup bahagia,"
Rendra tersenyum kecut sebelum kemudian mengagkat telponnya yang berdering.
"Halo..!
"Ren, kamu cepat kesini Arsel tidak mau Aku ajak pulang, dia bilang kamu sudah berjanji mau mengajaknya membelikan mainan baru, tuh dia moogok Nangis di depan toko, Aku sama Alena susah membujuknya, "
"Baiklah Rob Aku akan kesana, kamu langsung pergi saja ke Perusahaan Papa, disana ada meeting katanya dan kamu datanglah untuk mewakili Aku, tadinya Aku pikir Alena dan Arsel bisa kamu jemput pulang karena Aku ada urusan penting, ternyata membujuk satu Anak kecil saja lo ngak bisa Rob, beruntung urusanku sudah selesai, ya sudah bilang sama Arsel Papanya akan segera datang. "Sungut Rendra sambil mematikan ponsel hpnya.
Kala itu Rendra yang mengetahui Vanessa pergi dengan Bara segera menelpon Robi untuk menjemput anak dan Alena pulang sementara dirinya mengatakan sedang ada urusan penting yang sebenarnya Rendra hanya ingin mengikuti Vanessa yang kala itu pergi dengan Bara.
__ADS_1
"Ya..ya..Urusan penting apaan sih Ren kamu itu, menurutku tidak ada urusan penting dalam hidup mu selain memikirkan mantan istrimu itu, "
"Brisik...!geram Rendra yang langsung mematikan ponsel hpnya.