DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 110. Bara yang Bingung


__ADS_3

Wajah Arum tampak berbinar senang ketika mengetahui Siapa yang datang sementara orang yang dibukakan pintu sangat syok melihat Siapa yang telah membukakan pintu untuknya, tentu saja hal itu membuat Bara syok karena dia mengetahui siapa yang sedang membukakan pintu untuknya dengan gerakan spontan Bara mundur dan wajahnya yang tadinya sangat berbinar senang kini menjadi sangat merah dan sangat terlihat sekali Jika dirinya sedang marah.


"Kau..? Ngapain lo ada disini teriak Bara dengan nada kasar dan penuh dengan penekanan akan tetapi tidak keras, karena Bara khawatir akan ada yang mendengarnya bahkan dengan kasar Bara menarik tubuh Arum hingga keluar dari pintu.


" Aduuuh, Mas. kok kasar sih sakit tauk, "


"Diam kau, sekarang jawab pertanyaanku, mengapa kau ada disini hah, kamu membuntuti Aku ya?"geram Bara bahkan karena emosi Bara tanpa sadar tangan kirinya mengepal kuat sementara tangan kanannya mencengkram kuat dagu Arum.


"Mas sakit, "


"Jawab pertanyaanku? "


"Aku, ____


"Aruumm...! kenapa lama? kamu bisa membukakan pintu kan? "seru Vanessa dari dalam ruangan dan Sontak saja hal itu membuat Bara terkejut kemudian melepaskan cengkramannya pada Arum.


Tepat di saat Bara sedang emosi dan mencengkram dengan sangat kuat dagu Arum Vanessa dari dalam ruangan berteriak memanggil Arum, karena Vanessa merasa Arum membukakan pintu sangat lama dan hal itu terpaksa membuat Bara melepaskan cengkramannya dari Dagu Arum dan mendorong Arum sedikit ke belakang kemudian dengan langkah tergesa-gesa Bara masuk ke dalam dengan wajah yang sangat merah padam karena menahan emosi kemarahan yang sedang menguasai dirinya.


Vanessa yang kala itu keluar dari ruang makan dan berjalan mendekati pintu melihat Suaminya berjalan dengan sangat tergesa-gesa dan Vanessa sedikit terkejut karena tanpa bicara apapun Bara langsung menarik tangan Vanessa dan membawanya Naik ke kamar lantai atas.


Vanessa sedikit terkejut dan heran karena Suaminya terlihat sedikit bersikap kasar kepadanya, sampai di dalam kamar Bara langsung menghempaskan tubuh Vanessa di atas ranjang kemudian menutup pintu dan menguncinya dari dalam, suatu hal yang tidak pernah Bara lakukan di mana Hal itu membuat Vanessa sedikit heran sementara Bara sengaja melakukan hal itu karena dia tidak ingin pembicaranya dengan sang istri didengarkan atau diintip orang dari luar.


"Mas, kamu kenapa sih sakit tauk, "ucap Vanessa dengan nada kesal.

__ADS_1


"Sakit..? "


Bagaikan orang yang tidak bersalah Bara justru mengulang perkataan dari istrinya.


"Tentu saja sakit kamu pikir enak didorong begini, "sinis Vanessa merasa kesal karena Suaminya tidak merasa bersalah sama sekali.


"Ranjang nya empuk bagaimana bisa sakit? "cibir Bara sambil tersenyum miring.


"Kamu itu kenapa sih Mas, pulang-pulang seperti orang yang sedang kesurupan begitu, "


"Seharusnya Aku yang tanya, kenapa kamu suruh Wanita itu yang membukakan pintu bukankah Aku sudah bilang dalam Chat HP kamu jika Aku pulang dan sudah ada di depan Rumah, kenapa kamu suruh orang lain yang membukakan pintu untuk Suamimu, kenapa kamu malas membuka pintu untuk Suamimu Nesa ?" Aku tau kamu belum sepenuhnya mencintai Aku dan menerima Aku tapi setidaknya hormati dan hargai cintaku padamu! " teriak Bara dengan sangat emosi.


Vanessa yang tadinya tidak mengerti apapun dari permasalahan yang membuat suaminya marah kini menjadi mulai mengerti dan memahami jika suaminya sangat marah karena dirinya tidak membukakan pintu dan justru meminta orang lain untuk membukakan pintu dan suaminya berpikir karena istrinya sangat malas, Selain itu Suaminya juga berpikir jika istrinya belum mencintai dirinya dan belum menerima dirinya sehingga dirinya tidak dihargai sama sekali.


Kini Wajah Vanessa juga ikut ikutan merah karena marah dan kesal dengan sikap Suaminya yang ternyata suka berprasangka buruk menuduh sembarangan tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Oh, Begitu Rupanya, Mas Bara marah karena Aku tidak membukakan pintu begitu? asal Mas tau bagaimana Aku menolak keinginan dari pembantu baru itu jika dia memaksa ingin membukakan pintu untuk mu? "teriak Vanessa karena ikut merasa kesal, meskipun apa yang Bara lakukan memang tidak membuat dirinya begitu sakit akan tetapi tuduhan Bara yang asal tuduh membuat hati Vanessa sangat sakit.


"Apa? pembantu, maksudnya apa ini? "


"Ngak usah sok berlagak Bodoh Mas, Mama yang mendatangkan dia sebagai pembantu Baru di Rumah ini dan Mama juga yang meminta Aku untuk menyiapkan kamar tidurnya di Kamar tamu Mama berpesan agar Aku memperlakukan dia dengan baik, untuk itu Aku juga baru saja mengajaknya makan di Ruang makan bersama dan ketika kamu datang dan Aku akan membukakan pintu seperti yang kamu minta dia bilang dia saja yang membukakan pintu dia bilang Saya kan pembantu Baru dan Saya harus belajar jadi mau bagaimana lagi , untuk menolaknya? "


"Sayang, maafkan Aku, sungguh Aku tidak bermaksud marah kepada mu, sakit ya mana yang sakit coba lihat, "ucap Bara karena menyadari dirinya yang bersalah.

__ADS_1


Bara yang menyadari dirinya bersalah mulai bersikap merajuk dan merayu agar istrinya tidak marah lagi kepadanya.


" Lepas, tidak usah Pegang-pegang..! sinis Vanessa dengan geram sambil menghempaskan tangan Bara yang menyentuh dan hendak meneluuknya.


"Sayang, tolong jangan marah maafkan Aku yang salah, Aku minta maaf, Sayang kamu boleh balas apa yang Aku lakukan, kamu boleh pukul Aku tapi Aku mohon jangan marah, " bujuk Bara dia benar-benar merasa takut jika Istrinya benar-benar ngambek padanya.


Kedua bola mata Bara menatap sayu wajah istrinya, Bara berharap Istrinya akan Iba dan memaafkannya, sementara Vanessa memilih membuang muka sungguh sangat kesal dituduh Bara yang kata-katanya sangat menyakitkan.


"Sayang Aku lapar ambilin makan dong, ini kepalaku pusing sangat lapar sekali sayang ayolah please. .!bujuk Bara mulai merajuk manja.


Vanessa menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, bahkan Bara sempat mendengar dengusannya, Bara benar-benar memahami dan mengerti jika istrinya tersinggung dan marah sungguh satu hal yang membuat hati Bara menjadi sesak karena dirinya tidak sanggup jika harus diacuhkan istrinyaistrinya dan hal itu membuat hati Bara menjadi takut dan bingung.


Sementara di luar kamar tepatnya di Ruang tamu tampak Arum sedang tersenyum bahagia.


"Yess, Aku pikir Mas Bara itu hanya suka marah padaku dan hanya bersikap kasar padaku ternyata sana Istrinya dia lebih galak dan kasar, Kira-kira di dalam kamar Maduku diapain ya? Ah pasti di pukulin dan pasti didalam kamar itu Madu jelekku lagi menangis, rasain Ah jadi kepo, Aku antarkan makanan ke dalam kamarnya sajalah sekalian ingin tau dan ingin lihat maduku di pukuulin Mas Bara pasti seru, " gumam Arum sambil senyum-senyum dengan menyiapkan makanan yang akan dibawa untuk Bara.


"Hei pembantu Baru ngapain lo Senyum-senyum begitu sudah tidak waraas, ya?


" Cih, babu rongsokan diam lo, suka-suka Aku mau apa toh ini bibir bibir Aku sendiri, awas saja kalau lo banyak bicara Aku staples mulut kamu itu, "


"Cuiiih, sombongnya, baru jadi pembantu baru sudah bertingkah Aku jadi khawatir jangan-jangan lo bisa jadi pelakor,"


"Kau..?lihat saja akan Aku bales kau Nanti, " geram Arum yang kemudian membawa nampan berisi makanan Naik ke lantai atas dimana disana adalah tempat kamar Vanessa dan Bara.

__ADS_1


"Woi, Babu baru lo mau kemana? "


"Diam, lo. Brisik!"sinis Arum dengan nada kasar dan dingin."


__ADS_2