DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 79.KESAL


__ADS_3

Dengan sedikit terburu-buru Alena segera masuk ke dalam mobil dan berniat untuk duduk di depan setelah memasukkan semua barang bawaan nya ke mobil bagasi belakang.


"Mas, Aku duduk dimana? "


Alena merasa bingung harus duduk dimana ketika melihat bangku depan sudah di pakai Arsel putranya untuk tidur.


"Kenapa masih bertanya duduk dibelakang sana sama Bik ijah, "


"Mas, Arsel kan lagi bobo Mas pindahin ke bangku belakang saja biar dia lelap bobonya kan ada Bik ijah yang akan menemani. "


"Kamu itu bawel ya cepat masuk dan duduk kalau kelamaan Aku tinggal kamu, "


"Hsiss, galak sekali sih tidak cocok jadi seorang dokter, "


"Apa kamu bilang? "


"Ah tidak, bukan apa-apa Mas, Aku cuma bilang Mas Rendra ganteng, "jawab Alena dengan cepat meskipun sejujurnya Alena tau Rendra bukan laki-laki bodoh yang di gombalin langsung percaya dan senang tapi setidaknya apa yang dikatakan Alena tidak akan membuat Rendra terlalu marah padanya.


Entah setan apa yang sedang berada di dalam Jiwa laki-laki tampan yang ada di depan nya ini sikapnya begitu dingin dan setiap perkataan nya sangat menyakitkan hati, untung nya Alena memiliki stok kesabaran tinggkat tinggi sehingga dia tidak begitu kecewa dan down ketika sikap Rendra dibawah angka rata-rata.


Mobil melaju dengan kecepatan cukup kencang dan setelah perjalanan kurang lebih satu jam tiba-tiba mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah yang ada di kawasan kota itu.


"Kalian tunggu disini, " ucap Rendra dengan suara lirih yang kemudian, tanpa bicara banyak Rendra segera turun dari dalam mobil, sementara Alena terkejut dan terkesima melihat hotel megah yang ada di depan nya, tanpa banyak bicara Alena langsung turun juga dari dalam mobil kemudian berjalan mendekati Rendra yang berdiri terpaku menatap ke atas gedung hotel yang sangat megah.


Dengan Wajah berbinar senang Alena berdiri mensejajari Rendra yang kala itu berdiri terpaku menatap ke arah gedung hotel paling atas.

__ADS_1


"Mas Rendra mau mengajak kita tinggal di hotel ini ya, Astaga Mas, Aku pikir kita mau pindah saja ternyata mau membawa kami untuk Honeymoon, trimakasih Mas Aku sangat senang sekali, ini hotel memang sangat megah dan bagus cocok untuk kita dan Aku rasa Mas Rendra sangat pintar dalam memilih tempat yang, ____


Alena tidak bisa melanjutkan ucapan nya dikarenakan Rendra langsung melangkah masuk ke dalam hotel.


Membuat Alena yang kalau itu berdiri disamping nya langsung berjalan dengan sedikit tergesa-gesa mengikuti langkah dari Rendra.


"Mas mau pesan kamar ya, dua kamar saja Mas, biar Aku Nanti satu kamar dengan Mas Rendra dan Arsel sama Bik ijah. "


Seakan tuli Rendra tidak menjawab dan juga tidak bicara apapun, hal itu sedikit membuat Alena kesal karena merasa di cuekin.


"Ini Dokter bener-bener kelewat dinginnya, kok dia bisa sih bersikap begitu seharusnya dokter itu ramah, baik santun murah senyum dan, __ Ah tidak seperti ini, dingin seperti Es batu masak Aku bicara panjang lebar tidak di jawab sedikit pun, bener bener Dokter sombong sok kecakepan tapi memang dia cakep sih Ah kapan Aku bisa merasakan dipeluk oleh nya masak Aku cuma ngerasain sekali itupun saat Aku mau bunuh diri, Apa iya Aku harus berakting bunuh diri lagi biar mendapatkan pelukan nya, jika dibutuhkan Aku mau coba rasanya Aku sudah cinta mati sama Dokter dingin ini, "lirih Alena yang terus bermonolog sendiri.


" Dia disini, Aku bisa merasakan keberadaan nya, " lirih Rendra dengan suara yang pelan akan tetapi masih bisa di dengar oleh Alena yang kala itu berdiri disampingnya.


Alena berpikir dirinya yang dimaksudkan Dokter disamping nya.


Terlihat Rendra menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.


"Selamat datang di kota ini Sayang cepat atau lambat kita akan berjumpa lagi mungkin takdir akan memperbaiki kehidupan kita smoga hati-mu masih untuk ku, "


"Wuiiih, Mas Rendra ini ngomong apa sih, kok kayak orang linglung begitu, bertemu dengan siapa coba pakai bawa-bawa nama Takdir segala sok so sweet, apa Mas Rendra lagi mabuk ya? " gumam Alena merasa bingung dengan Rendra yang berucap sangat lirih seolah olah dia sedang bicara sendiri.


Langkah kaki Rendra juga terlihat Aneh dia hanya mondar mandir di depan petugas tanpa mau mendekati dan mendaftarkan diri untuk masuk, hal yang sangat aneh dan membingungkan, belum juga rasa bingung Alena terjawab Rendra segera melangkah keluar hotel yang mana terpaksa Alena mengikuti.


"Lho kok keluar lagi sih Mas, kita kan belum pesan kamar? "

__ADS_1


Lagi-lagi Alena harus menelan kekecewaan karena Rendra tidak menjawab pertanyaan nya.


Rendra kembali terlihat diam terpaku sambil menatap ke atas gedung hotel, yang mana Alena pun ikut menengadahkan kepala nya.


"Ada apa sih kok Mas Rendra menatap ke atas terus, " gumam Alena yang mulai merasa bingung dengan apa yang dilakukan Rendra.


"Siapa yang menyuruhmu turun, cepat masuk kembali ke dalam mobil, "seru Rendra dengan suara yang tiba-tiba keras dan mengema seperti biasanya.


" Apa kamu tuli Alena, cepat masuk kedalam mobil..! "


"I-iya, "


Belum usai rasa bingung dalam dirinya kini Alena kembali dibuat bingung dengan sikap Rendra yang kembali dingin dan kasar, dengan sedikit buru-buru dan dengan wajah yang masam Alena segera masuk ke dalam mobil sambil menangis gumpat.


"Mas Rendra benar-benar Dokter galak, apa dia tidak tau dari tadi Aku disamping nya eh sekali lihat langsung marah dan menbentak bentak begitu, "


"Makanya Non harus dengarkan perintah Den Rendra kan tadi sudah dibilang jangan turun lha Non Alena kenapa ikut turun, "


"Iiih, Nenek tua kau juga menyalahkan Aku, "


"Bukan menyalahkan tapi memberitahu, "


"Ya, sama saja tauk, " sungut Alena dengan wajah kesal sambil mendudukkan bokongnya di dalam mobil barisan kedua.


Sementara Bik ijah terkekeh melihat gadis yang ada disampingnya marah-marah.

__ADS_1


__ADS_2