
Bara memukul stir mobil beberapa kali dan beberapa kali pula Bara menggusap kasar Wajahnya, hati dan pikiran nya sangat kacau sungguh Bara sangat menyesali kecerobohan nya yang mana sampai merengut kehormatan dari sekertaris nya sendiri.
Seorang sekertaris yang seharusnya dia lindungi dan dia hormati justru dia rampas dan dia rusak kehormatan nya.
Mobil melaju dengan kecepatan kencang hingga tidak membutuhkan waktu lama, Bara sudah sampai dihalaman Rumah nya.
Pintu gerbang segera dibuka mang Dadang ketika Bara membunyikan klakson mobilnya berkali kali, seakan-akan Bara sangat terburu buru dan tidak sabaran sehingga Bara membunyikan klakson sebanyak tiga kali.
Bara langsung turun dari dalam mobil dan menyerahkan kunci mobilnya kepada Mang Dadang untuk di masukkan ke dalam garasi, dengan langkah tergesa-gesa Bara melangkah menuju pintu.
"Apa yang harus Aku katakan jika Vanessa bertanya, Aku dari mana, terpaksa Aku harus berbohong padanya agar semua baik-baik saja karena jika Aku berterus terang sudah pasti Vanessa tidak akan memaafkanku dan aku tidak mau Vanessa pergi dan menjauhiku, tidak ada cara lain selain membohongi dirinya, Semua demi kebaikan dan keutuhan Rumah tanggaku."
Perlahan lahan pintu Rumah terbuka ketika Bara membuka pintu dengan menggunakan kunci cadangan yang dia miliki.
"Tuan Bara! tumben baru pulang, " tanya Bik Sri yang kala itu sedang menyapu dan melap perabotan Rumah.
Melihat Bara Tuannya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan darinya, Bik Sri mulai merasa bersalah dan merasa tidak pantas dan tidak berhak bertanya seperti itu.
"Maaf, Tuan Bara. Semalam Nyonya Menunggu Tuan Bara pulang sampai tertidur di sofa, karena Saya tidak berani mengganggu dan membangunkannya maka saya membiarkan Nyonya tidur di sofa dan nyonya tidur di sofa hingga pagi hari."
Bara yang tadinya tidak memperdulikan ucapan dari Bik Sri mulai menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke arah Bik, Sri ketika mendengar jika istrinya menunggu kepulangannya sampai larut malam hingga tertidur di sofa.
"Apa Nyonya tidak kedinginan tidur di sofa?"harusnya kamu bangunkan bukan kah di Ruang tamu ini sangat dingin? "
"Maaf, Tuan, Saya tidak berani Saya hanya memakaikan selimut untuk Nyonya dan ternyata apa yang Tuan Bara khawatirkan benar, tadi saya lihat Nyonya seperti demam, mungkin karena efek tidur di sofa dan saya tidak mematikan AC karena saya sangat khawatir Nyonya kepanasan, Maaf Tuan , saya benar-benar tidak tau dan ceroboh. "
Bi Sri berkata dengan kepala menunduk sangat terlihat jelas jika dirinya sedang menyesali apa yang terjadi dengan Nyonyanya karena keteledoran dirinya.
"Jadi sekarang Nyonya Demam? tanpa menunggu jawaban dari Bik Sri yang ditanya Bara langsung naik dan berlari ke kamar atas untuk menemui istrinya, wajahnya terlihat sangat cemas dan khawatir.
"Iya, Tuan, yaa.. Tuan Bara sudah pergi, enak sekali jadi Nyonya, Tuan sangat mencintai nya sangat terlihat jelas jika Tuan sangat mencemaskan Nyonya. "
"Tap..
" Tap.
Tap..
Bara Melangkah dengan sangat cepat menuju lantai atas kamarnya, langkah kaki Bara terlihat seperti sedang berlari wajah cemas terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Ceklek..!
Vanessa yang kala itu sedang menyisir rambutnya sedikit terkejut karena pintu kamar dibuka dengan Sedikit keras dan terkesan tergesa-gesa dengan gerakan spontan Vanessa menoleh ke arah pintu.
" Mas Bara? "
Bara segera berlari mendekati istrinya dan tanpa bicara langsung menyentuh kening istrinya dengan punggung tangan, wajahnya terlihat sangat cemas.
__ADS_1
"Sayang, Bik Sri bilang kamu lagi demam, bagaimana rasanya sekarang, kenapa harus tidur di sofa sih, lihat sekarang dirimu jadi pucat dan demam.
Vanessa mengeryitkan dahinya melihat sikap Bara yang aneh, tangannya menepis tangan Bara yang dirasa sangat berlebihan.
" Ini Demam biasa Mas tidak perlu di khawatirkan Aku tidak apa-apa, "
"Tidak apa-apa bagaimana, demam begini masih bilang tidak apa-apa, ini tadi bagaimana kenapa juga harus mandi kalau demam cukup cuci muka saja kan? "
"Hei, Suamiku, kenapa kamu panik begitu ini biasa saja lagi, "seru Vanessa dengan tertawa.
"Aduh Nona tentu saja Aku panik kamu itu istri ku dan kamu sangat ceroboh kenapa tidak bisa jaga kesehatan sedangkan kamu itu juga seorang Suster? "
"Hahaha, Kan Aku lagi nungguin Suamiku pulang, kenapa tidak menelpon ku dan kenapa tiba-tiba lembur tidak bilang, pasti Aku berbuat salah iya kan? Mas, Aku minta maaf kemarin Aku kembali bertemu dengan Mas Rendra dan Aku, ____
" Stop.. sudah sayang, jangan di bahas lagi, Aku tidak marah padamu mana bisa Aku marah dengan istri cantik ku ini, "ucapan Bara sambil merengkuh istrinya masuk kedalam pelukan nya.
Vanessa pun membalas pelukan sang Suami tapi tiba-tiba Vanessa melepaskan diri dari pelukan Bara.
" Kalau tidak marah padaku kenapa tidak pulang? "
Satu pertanyaan yang benar-benar hampir membuat Bara kesulitan hanya untuk sekedar meneguk ludahnya, bibirnya terasa kaku dan tercekat.
"Itu... itu.. karena, ___
Vanessa yang menatap kedua bola mata Bara dan Bara yang tidak mampu harus beradu pandang dengan sang istri karena Bara menyadari dirinya telah berbuat kekhalifahan, Bara mengalikan pandangan matanya ke samping.
Melihat sikap Bara yang aneh Vanessa menangkup wajah Suaminya sehingga Wajah sang Suami mau tidak mau menatapnya.
"Karena... tentu saja lenbur sayang dan Aku sangat capek sekali hari ini tapi Aku masih kuat kok kalau kamu minta untuk menemani kamu ke dokter, "
"Ke dokter? ngapain Mas, "
"Tentu saja biar demam kamu turun. "
"Hahaha, tidak perlu ini juga sudah mendingan. '
" Yakin, Nanti kalau parah dan demam nya tambah tinggi bagaimana? "
"Kan ada Suamiku yang akan merawatku, "
"Tapi Aku bukan Dokter mana bisa, "
"Tentu saja Bisa, Suamiku tinggal peluk Aku Nanti panasnya akan turun."
"Benarkah, kalau begitu sini Sayang Aku peluk biar panasnya turun. "
Bara segera menarik pingang istrinya kemudian memeluk nya. "
__ADS_1
"Ceklek... Oh Maaf Tuan, Nyonya saya tidak sengaja saya hanya mau mengantarkan pesanan Nyonya yang minta dibuatkan bubur Ayam. "
"Tidak apa-apa, masuklah sini mangkoknya biar Aku yang Suapin Nyonya. "
"Iya Tuan, "
Bik Sri segera memberikan satu mangkok bubur Ayam kepada Bara, kemudian sambil menundukkan kepala Bik Sri pergi keluar kamar, di luar Bik Sri bermonolog sendiri.
"Wah, Tuan dan Nyonya benar-benar so sweet, Tuan Bara benar-benar sangat sayang dengan NyonyaNyonya, kapan ya Aku punya Suami idaman seperti itu, Tuan Bara benar-benar Suami idaman, Nyonya benar-benar beruntung punya Suami seperti Tusn Bara, sudah kaya, Tampan, dan sangat menyayangi Non Mikha meskipun tau Non Mikha bukan anaknya, benar-benar Suami Sempurna.
"Mbak Sri... siapa yang sempurna? "
"Hei, Nona kecil lagi nguping apa yang Mbak Sri katakan ya? "
"Hahaha, Mikha tidak nguping tadi Mikha dengar sendiri kan, Mbak Sri ngomong nya keras Mikha jadi dengar deh, "
Bibik Sri semakin gemas melihat tingkah lucu dari anak asuhnya yang kelewat cerdas dan pintar.
Dengan gemas Bibik Sri segera berjongkok sambil menangkup Wajah cantik Mikha.
"Apa Nona kecil penasaran dan ingin tau siapa yang Mbak Sri maksud Sempurna itu? "
Dengan cepat Mikha mengaggukan kepala, melihat respon jawaban Mikha Mbak Sri segera menggendong Mikha ke meja makan kemudian mendudukkan nya.
"Kalau Nonton Mikha ingin tau Mbak Sri bisa kasih jawaban tapi ada syaratnya? "
"Apa syaratnya? "
"Non Mikha kali ini kalau makan harus habis bagaimana? "
"Kok itu syaratnya yang lain dong Mbak Sri, " cicit Mikha merajuk.
"Tidak bisa, hanya itu syaratnya tinggal pilih mau apa tidak? "
"Hmmm, Baiklah, karena Mikha penasaran Mikha mau, "
"Bagus, anak pintarpintar, baiklah kita makan dulu. "
Dengan telaten Mbak Sri menyuapi Mikha sedangkan Mikha dengan terpaksa mau bahkan menghabiskan sarapan paginya.
"Ok, karena sudah habis makannya Mbak Sri akan tepati janji Mbak Sri, Nah yang Mbak Sri bilang sempurna itu Papa Bara dia Papa yang sangat sempurna karena Papa Bara tampan dan sayang sama Non Mikha dan Mama Non Mikha. "
"Papa, Bara? salah... yang sempurna itu Om Tampan, dia juga sayang sama Mikha dan Mama, jadi Mbak Sri salah, "
"Om Tampan itu siapa? "
"Ada deh, pokoknya dia yang paling sempurna, "
__ADS_1
Cicit Mikha sambil turun dari kursi kemudian berlari kecil ke ruang tamu.
"Non tunggu, di jawab dulu Mbak Sri kan ngak tau siapa itu Om Tampan. "seru Mbak Sri sambil berlari mengejar Mikha dengan senyum mengembang di Bibir.