
Di lantai Bawa Vanessa yang sedang sarapan pagi dan Mba Sri yang sedang menyuapi Mikha hampir selesai sementara Mama Bara dan Arum mereka belum memiliki keinginan untuk sarapan Pagi bersama, Mama Sukma meminta Vanessa untuk sarapan pagi lebih dulu karena khawatir Mikha akan datang terlambat kesekolah.
"Apa kamu sudah selesai makan Nes," tanya Mama Sukma ketika dirinya masuk ke Ruang Makan.
" Sudah, Ma. "
"Baiklah cepat pergi, antar Anak kamu ke sekolah dan kamu juga boleh ikut jika mau sekalian kalian Nanti belanja. "
" Baik, Ma, Ayo Sayang kita berangkat,"
"Tunggu Ma, Mikha belum salim sama Papa, '
" Sudah Ngak usah Papa kamu itu sedikit pusing jadi jangan di ganggu cepat berangkat sana salim sama Oma saja, " ucap Mama Sukma melarang Mikha untuk pergi menemui Papanya.
Dengan Wajah cemberut Mikha menuruti apa yang Omanya perintahkan.
Tidak menunggu lama Mikha, Vanessa dan Mba Sri pergi untuk mengantar Mikha ke sekolah dengan bantuan Satpam.
Setelah kepergian Vanesa, Mama Sukma mengulum senyum bibinya tersenyum miring dan dengan cepat Melambaikan tangan ke arah Arum yang kala itu berada di dalam kamarnya dan duduk menunggu panggilan dari mama mertua.
"Arum..! cepat antar sarapan pagi buat Suamimu, kalian makan saja berdua Mama ada urusan dengan teman Mama jadi Mama pergi dulu selamat bersenang-senang, hari ini kamu bisa bersama dengan Suamimu sepuaasmu. "
Trimakasih, Tante. "
Mama Sukma tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Di dalam kamar Bara yang Baru saja selesai menganti bajunya dan berniat keluar kamar tertegun ditempat ketika mengetahui pintu kamarnya sudah terbuka dan Arum sudah berdiri disana.
"Kau, mau apa kau kesini? "tanya Bara dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa tidak suka.
"Memberikan sarapan pagi Buat Mas Bara. "jawab Arum dengan senyum mengembang di bibir, Wajahnya tampak ceria dan bahagia.
Bara mengusap kasar wajahnya, kemudian meneguk kasar pula ludahnya kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan sangat kasar.
"Trimakasih sekarang pergilah, "jawab Bara dingin.
" Mas, Aku juga belum makan kita makan bersama, Aku mau makan bersama dengan Mas Bara. "
"Isssh, Arum kamu jangan aneh-aneh, keluarlah sebelum Aku hilang kesabaran." bentak Bara yang merasa sangat kesal.
__ADS_1
"Mas, Aku ini istrimu bukan orang lain, apa tidak bisa kamu bersikap manis sedikit kepadaku, Aku mau keadilan darimu, Aku ini sedang mengandung Anakmu, apa kamu mau Aku stres gara-gara sikap kasar kamu yang menjengkelkan itu."sungut Arum kesal karena Bara masih bersikap dingin kepadanya.
Bara hanya bisa menarik napas panjang dan mengusap kasar Wajahnya.
"Arum..! maafkan Aku tapi sungguh Aku tidak bisa menerima dirimu meskipun saat ini kamu sedang hamil anakku, mengertilah Aku tidak bisa berpura-pura untuk bisa mencintaimu, Aku sudah punya Istri dan Aku sangat mencintainya."
"Cukup Mas, kamu tidak perlu bicara panjang lebar tentang itu jika belum bisa mencintai Aku setidaknya Mas belajar agar bisa mencintaiku, sudahlah Aku sekarang tidak mau tau, Aku tidak mau peduli apapun tentang hati dan perasaanmu, Aku hanya mau, perhatian kamu yang adil kepadaku dan juga kepada bayiku, bukan kah dia anakmu, apa kamu mau menelantarkan anak kandungmu sendiri, " teriak Arum emosi wajahnya sudah merah dan di kedua kelopak matanya mulai berair.
"A-Arum tenanglah jangan berteriak begitu Nanti anak kita kenapa-napa, "
Arum menatap Wajah Suaminya dalam dalam.
"Anak kita? "
"Iya, Anak kita, "
Arum merasa haru mendengar semua itu dengan cepat langsung memeluk erat tubuh Bara Suaminya dan kali ini Bara tidak lagi menolak bahkan Bara juga membalas pelukannya,
"Kau tidak akan kekurangan kasih sayang dariku juga anak kita, sudah ayo kita makan. "
Arum bersorak senang karena kali ini Bara sudah bersikap meluunak dan mulai peduli.
Arum langsung menuruti apa yang di perintahkan Suaminya.
"Maafkan Aku Nes, Aku terpaksa membagi cintaku, karena Wanita yang ada di depanku ini kini dia telah mengandung Anakku dan Aku tidak mungkin menyia-nyiakan anakku, smoga kamu memahami dan mau mengerti, " gumam Bara yang bermonolog sendiri dalam hati.
Sementara Arum tersenyum bahagia karena telah mampu menaklukkan hati laki-laki yang ada di depannya.
"Kamu juga harus makan, Mas coba sentuh dan dengarkan anak kita bergerak-gerak disana. "
"Bara tersenyum kecil kemudian menganggukkan kepala.
Mas sudah kenyang, "
"Iya, Aku juga sudah kenyang, Aku balik dulu ke kamar sini biar Aku taruh di dapur semuanya. '
" Tidak usah, kamu tidak perlu membawanya biar Aku yang bawa. "
"Mas mau menemani Aku turun. "
__ADS_1
"Hmmm, Lain kali tidak usah Naik tangga, itu bahaya untuk bayi yang ada di dalam perutmu, kalau ingin bertemu Aku kamu telepon saja, "
"Beneran, Mas akan datang jika Aku telpon, "
Bara menganggukkan kepala.
"Yang benar Mas, "
"Ya, kalau ragu boleh kamu coba tapi ingat jaga baik-baik anak yang ada di dalam kandungan kamu Aku tidak mau dia kenapa-napa. "
"Baik Mas, perintahmu siap Aku laksanakan. "
Di dapur Bara yang sedang mencuci piring bekas makan mereka berdua dan Arum yang melihat hal itu semakin bahagia dengan manja Arum masuk ke dapur dan langsung memeluk Bara dari belakang.
Tidak seperti biasanya kali ini Bara tidak menolak sama sekali bahkan membalas pelukan dari Arum.
"Kenapa disini, cepat beristirahat Aku mau bayiku punya istirahat yang cukup."
"Baiklah Mas, Aku pergi beristirahat dulu, "
Arum segera keluar dari dapur dan setelah Arum keluar dari dapur Bara menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar.
"Aku akan bersikap adil dan juga akan memberikan cinta serta kasih sayang yang kamu inginkan, tapi itu hanya berlaku sebelum Anakku lahir, karena setelah dia lahir Aku yang akan merawatnya bersama dengan Istriku Vanessa sedangkan kamu, maaf, Aku akan membuangmu karena Aku tidak butuh kamu dan Aku tidak mencintai kamu, sekarang nikmati saja perhatian, kasih sayang dan cintaku yang sesaat karena setelahnya kamu tidak akan mendapatkan apa apa, Aku tidak akan melepaskan Vanessa tapi Aku akan melepaskan dirimu akan Aku bawa pergi jauh Anakku dan kamu tidak akan pernah menemukan Aku karena Aku juga akan menceraikan dirimu, tunggu saja saat itu akan tiba dan semuanya jangan kau salahkan Aku, salah kamu sendiri yang terus mengejarku." geram Bara bermonolog dalam hati sambil bibirnya tersenyum miring.
Di dalam kamar Arum yang sedang berbahagia bersenandung kecil sambil menari-nari kecil di dalam kamarnya.
Rasa bahagia yang tidak pernah Arum duga sebelumnya.
"So sweet deh, hari ini Mas Bara sudah bisa menerima Aku dan Anakku, sungguh Aku sangat bahagia, Aku sungguh tidak sabar untuk memperlihatkan pada Wanita itu jika Suami yang dia banggakan sekarang juga menjadi milikku dan setiap malam bakan akan selalu bersamaku."
Sibuk bermonolog sendiri dengan lamunan dan hayalannya sendiri terpaksa terganggu dengan suara dering telpon.
Dengan sedikit malas Arum mendekati Narkas dan meraih ponsel hpnya tanpa melihat siapa yang sedang menelpon Arum langsung menaruhnya di dekat telinganya.
"Halo..!
" Hei, Arum..!"cepat kau datang kesini jangan hanya memikirkan kebahagiaan kamu sendiri, hingga lupa pada tanggungjawab mu, cepat datang dan bawa uang 10 juta Aku butuh sekarang juga. "teriak seorang laki-laki dari sebrang
"Abang, Faisal..! "desis Arum dengan suara bergetar sungguh dirinya terkejut dan tidak menyangka jika Abangnya bisa menemukan dirinya bahkan tau nomor telepon nya.
__ADS_1