
Rendra yang melihat Vanessa di perlakuan tidak baik merasa sangat geram dan kesal, kedua tangannya mengepal dengan kuat, kedua bola matanya menatap tajam dan giginya mengeluarkan bunyi gemeretak.
Wajah Rendra merah padam melihat perlakuan Bara yang sangat kasar, sungguh Rendra tidak pernah menyangka jika Bara bisa berbuat kasar dan sangat menyakiti Vanessa Mantan istrinya.
Selama ini Rendra berpikir jika Vanessa bahagia dan Bara adalah sosok seorang suami yang sangat penyayang dengan penuh cinta dan perhatian kepadanya karena hal itulah yang membuat Rendra memilih untuk diam dan mengalah, tidak lagi mengejar ataupun mengganggu kehidupan mereka berdua.
Tapi setelah perasaan aneh yang dia rasakan dengan ketidaknyamanan dan ketidaktenangan yang Rendra sendiri tidak mengetahui Apa sebabnya membuat Rendra memutuskan untuk melihat dan mengetahui keadaan dari mantan istrinya, sekaligus Rendra juga ingin melihat Bagaimana keadaan dari putrinya yang sudah lama tidak bertemu dengan dirinya.
Sungguh Rendra harus bersikap sabar dan menerima semua kenyataan di mana dirinya tidak diizinkan untuk membawa dan mengatakan secara langsung kepada putrinya jika dirinya adalah Ayah kandung dari Mikha.
Tiba-tiba memiliki perasaan aneh dan memikirkan Mantan Istrinya yang membawanya datang menemui dan mencari tahu tentang keadaan dari mantan istrinya membuat Rendra kini mengetahui jika Mantan istrinya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Dia memiliki satu masalah yang tidak pernah dia katakan kepadanya, sungguh Rendra mengutuk dirinya Karena pernah mengancam dan pernah berkata kepada Vanessa jika dirinya tidak ingin peduli lagi di mana sesungguhnya hal itu hanyalah sebuah gertaan belaka karena Rendra merasa kesal pada Vanessa yang tidak mendengar dan tidak percaya dengan apa yang dia katakannya saat itu, dan Vanessa yang keras kepala tidak mau harga dirinya jatuh serta memiliki gengsi yang tinggi memilih diam dan tidak bicara kepadanya.
Beruntung perasaan hati Rendra peka sehingga keadaan buruk yang sedang Mantan istrinya alami bisa Rendra ketahui.
Melihat Bara masih terus menarik tangan Vanessa dengan keras dan kasar Rendra tidak ingin tinggal diam dan hanya sebagai penonton saja.
Dengan cepat Rendra segera mengambil kursi kecil yang terbuat dari kayu dan terletak disebelah pot bunga yang ada di dalam ruang tamu dan dengan gerakan cepat Rendra berlari kearah Bara dan mengayunkan kursi yang dia bawa tepat pada punggung Bara.
Rendra yang muncul dari arah belakang tidak Bara sadari sehingga dengan mudah Rendra mengayunkan kursi yang dia pengang tepat pada punggung Bara dan bisa di pastikan Bara langsung meringis kesakitan dan dengan gerakan refleks menoleh kebelakang.
"Auuuwwww, kau..! apa yang kamu lakukan hah?
" Oh Maaf saya tidak sengaja,"
Dengan geram Bara mendekati Rendra dan siap memberikan pukulan kepadanya, tapi sayangnya Rendra langsung menangkap tangan Bara.
"Jangan coba-coba memukulku, "
"Kau pikir kamu siapa mau melawan ku, "geram Bara emosi.
Rendra tersenyum sinis.
" Apa gertakan kamu itu bisa membuat Aku takut, pukul saja jika kau bisa, "sinis Rendra memberikan tantangan kepada Bara.
Tentu saja apa yang dilakukan Rendra semakin membuat Bara marah dan emosi dengan gerakan membabi buta Bara mulai menyerang Rendra,
Dengan tenang Rendra melayani semua serangan yang Bara lakukan kepada nya, beberapa kali pukulan Bara mengenai ruang kosong hal itu semakin membuat geram Bara.
"Tukang servis sialan, beraninya kau ikut campur dengan masalah keluarga ku, Aku tidak akan melepaskan mu..! " Geram Bara berapi-api.
Rendra tersenyum miring.
__ADS_1
"Kamu sungguh bodoh, mana ada tukang Servis berani ikut campur dalam urusan Rumah tangga orang, lihat baik-baik siapa yang berdiri di depan mu ini, Bara Wijaya.! "
Rendra segera membuka topeng kulit penutup wajahnya dan terlihatlah Wajah aslinya ketika Rendra sudah membukanya.
Bara sangat terkejut mengetahui siapa yang berdiri di depan nya begitu juga dengan Vanessa dirinya tidak percaya jika Rendra ada di sini.
"Rendra..! desis Bara di sela sela keterkejutan nya.
"Mas, Rendra..!"seru Vanessa yang tidak kalah terkejutnya.
" Kamu pergilah Nes, Aku tidak tau kemana tujuanmu, yang Aku tau Suami brengsek mu ini yang melarang kamu pergi tidak akan bisa melarangmu selama ada Aku, pergilah, "
Vanessa mengganguk senang dan bahagia sampai dirinya lupa jika kepergiannya untuk mencari putri mereka, Vanessa baru ingat setelah dirinya berada di dalam mobil taksi.
"Aaaaraaag, sial kenapa Aku lupa bilang jika Aku pergi untuk mencari Anaknya, sekarang mau balik lagi malas mereka lagi berantem dan Aku tidak mau membuang-buang Waktu, Aku harus cepat menemukan Mikha putriku agar Mas Bara tidak bisa lagi mengancamku dan Aku bisa segera bebas, Aku sudah lelah hidup berumah tangga yang hanya membuat hidupku susah, Aku mau hidup dengan tenang, damai dan bahagia bersama dengan Anakku."
Di dalam Ruang tamu tempat Bara dan Rendra bertemu, keduanya saling menatap dengan sinis.
"Kamu pikir dengan menyuruh Vanessa pergi dan keluar dari Rumah ini kamu sudah merasa menang, kamu salah Dokter Rendra, Vanessa tidak lama lagi pasti akan kembali, Oh ya kamu belum tau kan apa yang menyebabkan Mantan Istrimu itu pergi, biar Aku beritahu, dengar baik-baik Vanessa pergi untuk menemui Mikha dan Ya Apa kamu tidak ingin tau dimana Mikha, ?
"Ck.. ck.. ck... Sungguh Ayah yang luar biasa, datang hanya ingin menemui Mantan Istrinya dan tidak peduli dengan Anaknya hebat, kamu sungguh Dokter yang hebat bahkan Aku salut dengan penyamaran kamu, datang sebagai tukang untuk membetulkan Kamar mandi yang rusak berpura-pura kamu ini adalah suruhan dari Papa ternyata hanya untuk menemui Mantan Istri masih cinta Rupanya dengan Istri orang, apa kamu tidak laku sehingga masih mengharapkan mantan yang dulu kamu sia-siakan? "
"Diam kau brengsek..!
"Brengsek kau, Buuuugh.. buugh..!
Rendra memukul Bara dua kali dan Bara tidak membalas pukulan dari Rendra Bara tersenyum miring, kemudian berjalan mendekati Rendra setelah dirinya jatuh tersungkur dengan bibir berdarah, dengan satu jari Bara mengusap luka yang ada di bibirnya. "
"Mau memukulku lagi, atau mau membunuhku, lakukan saja tapi lihat dulu ini, Halo bawa Mikha pergi cepat tidak perlu kesekolah."
Rendra mendelik melihat layar ponsel HP dari milik Bara yang menunjukkan satu Anak kecil dan satu orang Wanita dewasa sedang ditarik masuk ke dalam mobil, terdengar suara teriakan berontaak dari keduanya, Rendra tercengang melihat hal itu "
"Mikha...! Mikha kau apakan Anakku Brengsek..!
Rendra yang emosi berniat untuk memukul dan merampaas ponsel HP Bara akan tetapi Bara tahan dengan mengangkat tinggi ponsel hpnya.
" Eiiiit, Slow Dokter jangan galak galak jaga sikap mu jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu dengan Anakmu, "
"Kau..!
"Diam dan jangan melawan, cepat telpon dan suruh kembali Vanessa kesini, jika tidak Aku akan pisahkan kalian dengan Anak kalian, cepat telpon Vanessa sekarang juga. "
"Tidak..!
__ADS_1
" Buugh..!
"Telpon sekarang Rendra?
" Tidak...!
"Buuugh... buuuugh....! Bara memukul Rendra tanpa ada perlawanan karena keselamatan Anaknya lebih pentingkatakan, Rendra memilih diam.
"Kau ingin mampuuus, apa kamu tau Aku akan menyiksamu jika kamu tidak menuruti apa yang aku katakan?
" Aku tidak takut lakukan saja tapi jangan harap Aku mau kamu perintahkan, Vanessa tidak akan kembali dia akan bisa membawa anaknya.
"Hahaha, jangan terlalu yakin, Vanessa tidak tau dimana anaknya bagaimana bisa menemukan, ini kesempatan untuk kamu, dengarkan Aku dan turutin perintahku makan kamu bisa bersama dengan Anakmu. '
" Sekali Aku bilang tidak tetap tidak, "
"Baiklah kita lihat sampai dimana kamu bisa bertahan, kalian masuk dan bawa laki-laki ini tempatkan di tempat yang sudah Aku persiapkan. '
" Baik, Ayo ikut kami, "
"Bara Aku peringatkan padamu jangan coba-coba kamu lukai Anakku karena jika itu kamu lakukan Aku tidak akan melepaskan mu, "
"Pergi dan jangan melawan karena Anakmu ada di dalam cengkraman ku, "
"Brengsek kau, "
"Hahaha, bawa pergi dia. "
"Baik, Bos, "
Bara tersenyum miring menatap Rendra yang dibawa dengan paksa oleh dua orang laki-laki dan ketika Bara membalikkan badan tampak di depannya berdiri seorang wanita paruh baya sedang menatapnya dengan pandangan mata yang sangat tajam dan intens, wajahnya benar-benar menunjukkan rasa tidak suka dan kecewa, Wajah Tua yang masih terlihat kecantikan nya.
"Mama..!
" Bara, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan, ini tidak benar Sejak kapan aku mengajarkan dirimu bersikap yang sangat memalukan seperti ini, kembalikan Mikha kepada orang tuanya Bukankah kamu sudah memiliki istri, ikhlaskan dan biarkan mereka pergi. "
"Tidak, sampai kapanpun Bara tidak akan melepaskan Vanessa, Bara tidak perduli jika harus dengan cara paksa. "
"Bara, ini sangat berbahaya bagimu dan ini bisa menjadi Urusan yang sangat panjang kamu jangan main-main dalam hal ini sudah lepaskan Vanessa dan biarkan dia hidup bersama dengan anaknya Bukankah sebentar lagi kamu juga akan memiliki seorang anak jadi Lupakan hal itu kamu harus bisa menerima kenyataan jika Vanessa tidak ingin lagi hidup bersama denganmu."
"Araaaagh, Mama selalu saja tidak pernah mendukung apa yang Bara lakukan dan Bara tidak mau tahu Mama mau mendukung ataupun tidak, Bara akan tetap melakukan apa yang menurut bara benar karena Bara tidak ingin kehilangan Vanessa, jika Vanessa tidak bisa berada di sisi Bara dengan baik-baik maka Bara akan memaksanya dengan cara yang tidak baik. " seru Bara yang kemudian berlari Naik masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Mama Sukma yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengeluus dada, di mana Dia sangat sedih dengan apa yang dilakukan oleh putranya karena yang dilakukan oleh putranya sudah tidak lagi hal-hal yang bersifat positif akan tetapi sudah menjadi suatu hal yang sangat negatif dan bisa panjang urusannya.
__ADS_1