
Vanessa yang menata tajam kepada Bara, membuat Bara, sedikit gugup dan resah akan tetapi Bara berusaha untuk menyembunyikan perasaan gugupnya dengan menyunggingkan sebuah senyuman.
"Sayang ngapain menatapku begitu Aku cakep ya, "
Vanessa tersenyum kecut mendengar perkataan Bara.
Vanessa berpikir Bara akan memberikan jawaban dan alasan sebelum dirinya bertanya tapi rupanya bara tidak ingin menjelaskan apapun kepada dirinya terbukti Bara justru tersenyum dan pandangan matanya seolah-olah tidak terkejut sama sekali.
"Mas apakah kemeja ini milikmu? "
"Ya benar kemeja ini milikku, kenapa sayang? "
"Itu noda lipstik siapa? "
Bara, tersenyum sambil meraih kemeja yang ada di tangan Vanessa.
"Ini kemeja ku yang dulu dan ini Noda lipstik dari cewek yang ngejar-ngejar Aku waktu itu, dia main peluk saja itu sudah lama terjadi kok Sayang, jauh sebelum kita menikah dan karena Aku sangat tidak suka jadi Aku langsung lempar ke kamar gudang waktu itu, " jawab Bara berusaha untuk bersikap tenang bara sama sekali tidak ingin istrinya mengetahui jika dirinya memiliki hubungan panas dengan wanita lain Karena Bara belum siap seandainya Vanessa marah dan meninggalkan dirinya.
"Oh, begitu kalau begitu bagaimana kemeja Ini mau dicuci apa dibuang kembali ke gudang seperti tadi, "
" dibuang saja sayang bagaimana kamu sudah selesai bersiap-siap,"
Vanessa tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Sudah Mas, "
"Ini kemeja biar Aku yang buang Oh Ya apa kamu jadi menjemput Mikha, "
"Iya, Aku akan menjemput Mikha. "
"Baiklah, kalau begitu Aku tunggu di Rumah. "
Vanessa tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Vanessa tersenyum kecut melihat sikap Bara yang sangat santai dan tenang.
"Ternyata Mas 'Bara sama saja dengan Mas Rendra, pandai sekali mereka berbohong, Mas Rendra tidak bisa berbohong terlalu lama padaku karena Aku punya bukti, tapi Aku tidak memiliki bukti apapun tentang Mas Bara, kalau begitu biarkan saja Aku akan Awasi dia diam-diam.
" Aku pergi menjemput Mikha dulu Mas, "
"Pergi lah Sayang hati-hati ya, lebih baik Mang Dadang saja yang membawa mobilnya, "
"Iya Mas jangan khawatir. "
Vanessa segera melangkah menuju pintu, "
"Sayang tunggu..!
Vanessa yang sudah berjalan menuju ke arah pintu akhirnya menghentikan langkah kakinya.
" Iya Mas ada apa? "
Bara terdiam sesaat dia ragu untuk mengatakan keinginan nya.
"Vanessa curiga padaku apa tidak ya, jika tidak kenapa dia langsung pergi tanpa bicara dan dia tidak memberikan ciuman padaku." gumam Bara yang akhirnya memanggil Vanessa kembali. "
" Mas Bara memanggil tapi diam sudah Aku pergi dulu Asalamualaikum, "
Tanpa menunggu Bara menjawab pertanyaan dan salamnya Vanessa sudah melangkah pergi dengan membuka pintu.
Bara yang baru saja menyadari kebodohan nya mengumpat kecil di dalam hati.
__ADS_1
"Sial, kenapa kemeja ini di temukan, smoga Vanessa tidak berpikir macam macam dan dia tidak tau jika kemeja ini baru dua hari kemarin Aku pakai, sial amat sih kenapa si Arum ninggalin noda lipstik juga.
Bara yang sdikit Frustasi menggacak kecil Rambutnya.
Di halaman sekolah, Mikha berlari-lari kecil ketika melihat sang Mama datang mendekat jemput nya.
"Mama...!
Dengan sangat riang dan bahagia Mikha memeluk Mamanya.
" Mama, lihat Mikha mendapatkan nilai bagus hari ini, Nilai Mikha yang paling tinggi di kelas Ma, lihat ! "
Mikha menyodorkan kertas ulangannya, kepada Vanessa dengan senyum mengembang dibibir Vanessa meraih kertas milik Mikha bibirnya langsung tersenyum ketika melihat angka yang tertera di kertas putri nya.
"Wah, 97 untuk Nilai Matematika kamu, hebat kamu Nak, kamu memang seperti Papa mu pintar dan cerdas. "
"Mama bukannya Papa Bara nilai matematika nya sangat buruk, Nenek Pernah marah marah karena Papa salah memberikan jumlah uang saat bayar makan dulu restoran dan Nenek marah marah katanya Papa sangat lemah di bidang ini sekarang kok Mama bilang mirip Papa, Mikha pasti mirip Mama lah, kan Mama pinter, "
Vanessa langsung tersenyum sambil mengacak lembut rambut putrinya yang mana sesungguhnya dia telah salah bicara mengatakan jika Mikha mirip dengan Papanya karena sebenarnya yang dimaksud Vanessa adalah Mikha mirip dengan Rendra.
Rendra sangat pintar dan cerdas dalam segala hal perhitungan sehingga dia bisa melakukan segalanya dengan sempurna.
"Maaf Mama salah sebut sayang, ayo kita pulang, "
"Mama, tumben Papa Bara ngak menjemput Mikha Papa sibuk ya? "
"Sangat sibuk sayang karena besok kita akan terbang ke Jakarta. "
"Ke Jakarta? "
"Iya, Ke Jakarta, "
Vanessa langsung meneguk ludahnya sambil tersenyum kecut.
"Sudah Ayo cepat pulang,"
Vanessa langsung meraih tangan Mikha dan menuntun nya masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan Vanessa masih memikirkan tentang kemeja yang baru saja dia temukan dan Bara suaminya mengatakan jika kemeja itu sudah lama, sementara penciuman nya mengatakan bau dari baju itu baru beberapa hari saja.
"Aku yakin sekali kemeja itu baru beberapa hari bukan tahun tapi mengapa Mas Bara mengatakan kemeja itu sudah lama, apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, selama ini Mas Bara tidak menunjukkan hal hal aneh bahkan selama menikah Mas Bara selalu baik dan bersikap biasa saja tidak ada hal yang mencurigakan, lalu bagaimana bisa ada Noda lipstik disana, Aku yakin itu baru beberapa hari lalu, Astaga Aku baru ingat Mas Bara pernah tidak pulang semalaman dia bilang sibuk di kantor dan tidur disana karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia kerjakan, apakah saat itu dia berbohong, ihhh kenapa Aku kepo, sebenarnya tidak masalah Mas Bara mau ngapain dan bersama siapa saja tapi rasanya kan ngak etis kalo Aku harus diam apalagi posisi Aku adalah istrinya dia kalau mau main wanita harus nya tidak usah lagi bersama ku, bagaimana pun juga Aku tidak mau berbagi lebih baik Aku pergi karena Aku hanya butuh laki-laki setia.
Aku harus mencari tau Aku tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang selalu di permainkan.
"Mang Dadang stop.. berhenti di depan situ, "
"Nyonya mau ngapain? "
"Tolong antar Mikha pulang, Aku ada urusan sebentar, "
"Biar saya temani Nyonya, "
"Tidak perlu, jika Tuan Bara bertanya katakan Aku sedang membeli sesuatu. "
"Baik, Nyonya, "
"Mikha sayang pulang sama Mang Dadang ya, Mama ada perlu sebentar. "
Dengan patuh Mikha menganggukkan kepala.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang ketika Vanessa sudah turun dan berjalan menuju halte biss.
__ADS_1
"Aku Naik Bis saja dari pada Naik taksi online toh kantor Mas Bara tidak jauh dari sini, Aku mau tanya apakah dua hari kemarin ada acara lembur di kantor yang membuat Suaminya tidak pulang.
Antrian Bis tidak begitu panjang sehingga Vanessa bisa segera Naik dan memilih tempat duduk yang nyaman.
Sambil menunggu Bis nya jalan Vanessa membuang pandangan matanya keluar jendela, dimana di balik jendela banyak berlalu lalang orang yang sedang menyebrang jalan.
"Maaf Mbak, Apa boleh saya duduk disini? "
sebuah suara mengejutkan lamunan nya.membuat Vanessa menoleh padanya Vanessa segera menoleh sambil menganggukkan kepala.
"Boleh silakan, "
"Trimakasih, "
Vanessa mengagukkan kepala kemudian pandangan matanya kembali menatap ke jendela.
"Derrrrt... derrrrt... derrrrt..!
bunyi sebuah ponsel milik gadis yang ada di sampingnya berbunyi.
" Halo, Pak!
"Apa kamu sudah sampai di kantor? "
"Belum pak saya masih di dalam bis. "
"Baiklah, tolong infokan pada semua staf jika besok saya akan pergi ke Jakarta, "
"Apa? ke Jakarta lalu saya bagaimana? "
"Nanti akan ada yang menggantikan posisi ku jadi kamu bekerja padanya. "
" Bukan itu yang Aku maksud, apakah Bapak akan menghindari dari tanggung jawab bapak kepada saya, Bapak akan mencampakkan saya dan melupakan saya begitu kah? "
Suara gadis yang mulai keras dan meninggi membuat Vanessa sedikit terganggu.
"Ini cewek kenapa tidak memelankan sedikit nada bicara nya bikin brisik, kelihatan nya dia korban dari pacarnya, kasian juga dia." gumam Vanessa dalam hati.
"Ini Aku pergi dengan keluarga ku dan tidak mungkin Aku juga membawamu, kamu tunggu saja kedatangan Aku Nanti, paling juga beberapa hari di Jakarta. "
"Pak, mana bisa Aku percaya kalau Bapak tidak membawaku dan bapak akan kembali lagi kesini, pokoknya Aku mau ikut, "
"Nanti Aku pikirkan, "
"Tit, " sambungan telepon pun langsung dimatikan. "
"Kenapa jahat sekali dia padaku hizk hizk..!
"Mbak, ini tisu untuk mbaknya, "
Vanessa menggulurkan tisu pada gadis disampinya.
"Trimakasih, saya itu lagi bingung dan sedih saya sudah menyerahkan semuanya pada Bos saya dan sekarang Bos saya hendak pergi hendak meninggalkan saya disini apa salah jika saya memaksa ingin ikut, "
"Tidak, Mbaknya tidak salah, memang mbaknya harus ikut, Laki-laki seperti itu memang harus kita kejar pertanggungjawaban nya, apa yang mbak lakukan ini sudah benar koh, "
"Trimakasih, Mbak, saya turun dulu saya mau ke kantor tapi saya belum makan jadi saya turun untuk makan dulu, "
"Iya mbak silakan, jangan sedih lagi mbaknya tidak salah apa yang mbak lakukan itu sudah benar.
Gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1