
Rendra merasa lega setelah memberi kejutan kepada Mamanya, Dimana Mamanya dulu sangat menginginkan Istrinya segera memberikan Cucu kepadanya dan Rendra sangat yakin jika saat ini pasti Mamanya sangat Bahagia.
"Aku akan membawa Mikha bertemu dengan Mama tapi tidak sekarang karena jika sekarang Vanessa bisa curiga dan dia tidak akan mengizinkannya, Aku harus mencari Waktu yang tepat, "
Mobil yang membawa Mikha dan Arsel sudah memasuki halaman sekolah, Vanessa yang melihat sebuah mobil berhenti dan pertama kali seorang bocah kecil perempuan turun dengan di gendong seorang laki-laki Bertubuh tinggi berkulit putih.
Vanessa langsung berjalan menghampiri.
"Mikha..!
" Mama..!
Seorang laki-laki bertubuh tinggi segera membalikkan badan.
Vanessa sungguh dibuat terkejut untuk yang kesekian kali karena Putrinya ternyata sedang bersama dengan Papa kandungnya.
Dengan bibir tersenyum, laki-laki itu menurunkan Mikha.
"Mikha sayang sana pergi dan peluk Mama kamu, "
"Mama..!
" Mikha kenapa kau tidak minta izin pada Mama seharusnya kamu itu, ___
"Mikha masuk saja Nak, biar Om yang jelasin ke Mama galak kamu, Arsel bawa Mikha masuk."
"Baik, Pa, Ayo Mikha kita masuk, permisi Tante Mikha mau saya ajak masuk dulu."ucap bocah laki-laki yang langsung menarik tangan Mikha untuk masuk kedalam kelas.
Vanessa tidak bicara apa-apa tapi pandangan matanya terlihat tidak suka, menatap tajam pada Rendra yang berdiri dengan santai dan dengan senyum mengembang dibibir.
"Jangan ganggu Anakku, kenapa sih, kamu masih juga Membuntuti Aku?
" Mikha itu juga Anakku apa salahnya jika Aku dekat. "
"Mas, masalah kita sudah berakhir tolong mengertilah bukankah kamu juga sudah memiliki Anak, berhentilah menjadi orang yang serakah yang ingin menguasai semuanya sendiri sudah cukup kamu menyakiti aku dan telah membuat Aku kecewa untuk itu jangan lagi kamu mendekati ataupun membuat kecewa Mikha karena aku tidak ingin Mikha kecewa, karena ternyata kamu adalah Papa kandungnya, "
"Perasaan kamu sungguh berlebihan Nes Bagaimana aku bisa mengecewakan anakku sendiri bagaimana aku akan membuat dia kecewa, Aku justru membawanya ingin membuat dia juga senang bisa merasakan apa yang aku berikan pada anakku juga, Aku ingin memberikan kasih sayang yang sama apa salahnya, Bukankah Mikha itu juga putriku jadi aku punya hak untuk hal itu, Berhentilah kamu untuk melarang diriku lagi karena aku tidak akan pernah mau mendengarkan laranganmu aku punya hak terhadap Mikha karena Mikha adalah anakku."
"Apa, punya hak Apa kamu lupa Mas, sejak dalam kandungan Mikha hanya bersamaku, kamu tahu apa tentang diriku dan Mikha sekarang setelah Mikha sudah besar kamu ingin mengakuinya tidak bisa, meskipun di dalam tubuh Mikha mengalir darahmu akan tetapi aku tetap tidak akan pernah memberikan Mikha kepadamu Lupakan Mikha dan lupakan Aku kamu bisa mendapatkan anak perempuan dari istrimu pasti dia akan membuatkan anak perempuan untukmu dan jangan sekali-kali mengganggu Anakku."sinis Vanessa dengan Nada keras dan dingin.
"Melupakan, mudah sekali kau bicara Nes, meskipun kamu tidak mengizinkannya Aku tetap akan selalu memberikan perhatianku padanya jangan minta Aku untuk melupakan darah dagingku sendiri apalagi kamu suruh Aku untuk mendapatkan Anak perempuan dari istriku, mengapa harus Aku kenapa tidak kamu saja, sudah sana bikin anak perempuan lagi untuk Si Brengsek Bara, Aku juga tidak sudih Anakku selalu hidup degannya jadi jangan coba-coba menghalangiku, sana buat anak baru dari darahnya Bara agar Aku tidak akan merampas Anakmu tapi untuk Mikha dia anakku jika kamu berani menghalangi maka Aku akan membawa pergi dia jauh darimu, "
"Kau mengancamku? "
"Jika terpaksa, mau bagaimana lagi Mikha juga darah daging ku Aku punya hak penuh atas Anakku, "
Vanessa tersenyum miring,
"Aku akan membuat kamu tidak pernah bertemu lagi dengan anakmu, Mikha hanya anakku dan Mas Bara untuk kamu buat Anak perempuan sendiri saja dengan Istrimu itu tidak sulit, jadi jangan coba-coba kamu berbuat macam-macam karena Aku dan Suamiku tidak akan membiarkan itu. "
"Waoo...pok..pok...pok..,hebat coba ulangi dengan siapa? dengan Suamimu, mau sampai kapan kamu di bodohi olehnya, buka mata dan telingamu Nes, Bara bukan laki-laki baik yang sungguh sangat sempurna, dia tidak lebih dari laki-laki pengecut yang berselingkuh di belakangmu, kamu saja yang bodoh masih saja percaya, "
"Plaaaakkk...!
Sebuah tamparan keras mendarat pada Wajah Rendra.
" Nes, kau, ____
"Kenapa? sakit, mau membalas, Aku peringatkan sekali lagi jangan ganggu kami dan jangan menghina Suamiku, Aku yang lebih tau dia dari pada kamu, dia sangat menghormati dan sangat mencintai Aku tidak seperti kamu yang bisanya hanya menyakiti. "
"Ya.. ya... Aku dengar dan Aku tidak mau tau itu terserah kamu cuma satu pesanku, jangan coba-coba kamu memisahkan Aku dengan darah dagingku, karena Aku juga bisa berbuat Nekad, "
"Jangan coba-coba kau mengancamku karena Aku juga akan mengatakan semua ini pada Suamiku dan lihat saja kamu tidak akan melihat Mikha lagi karena Aku dan Suamiku tidak ingin Mikha dekat dengan mu, "geram Vanessa yang sudah merasa sangat emosi dan kesal.
"Ciiih, masih saja membanggakan laki-laki brengsek itu, suatu hari jika kamu mengetahui kenyataan dari semua yang Aku katakan benar jangan pernah kamu mengeluh pada, ___
"Tidak perlu merasa khawatir apapun yang terjadi Aku tidak akan sudih meminta bantuan kamu, "
"Baiklah, Aku pegang ucapanmu, " geram Rendra yang juga tersulut emosi. Dengan langkah cepat Rendra berbalik dan berniat pergi dari hadapan Vanessa.
Ketika Rendra hendak berjalan Rendra sedikit terkejut karena ketika dirinya membalikkan badan Rendra melihat seorang wanita membawa kresek berisi belanjaan di tangan kanannya.
Tampak wanita itu sedikit terkejut dan merasa heran melihat Rendra sementara Rendra memilih terus berjalan tanpa melihat dan menggubris pandangan aneh dari wanita yang ada di depannya.
Saat itu Rendra hatinya juga merasa kesal dan geram dengan sikap Vanessa yang benar-benar sudah membuatnya tersulut emosi karena bagaimanapun juga hati dan darah Rendra terbakar ketika Vanessa berkali-kali memuji dan membanggakan suaminya di depan matanya.
Begitu juga dengan Vanessa Wajahnya tidak kalah tegang dan merah karena emosi, entah mengapa hatinya betul-betul merasa kesal dan geram.
Vanessa sendiri tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hatinya ketika di Halaman Rumah sakit bertemu dengan Rendra hatinya tidak sesakit dan semarah ini tapi ketika bertemu dengan Rendra di halaman sekolah dimana dirinya datang bersama dengan Putranya rasa sakit di dalam hatinya tidak bisa Vanessa bendung.
Wajah kesal dan muka masam masih terlihat dengan jelas.
"Non Nesa, siapa orang itu, apakah dia berbuat tidak sopan kepada Non Nesa sehingga membuat Non Nesa kesal? "
"Bukan siapa-siapa Aku tunggu kalian di dalam Mobil kepalaku pusing Mba Sri tunggu Mikha keluar dan bawa Masuk ke dalam Mobil. "
__ADS_1
"Baik, Non, "
Vanessa langsung melangkah pergi meninggalkan Mba Sri dan berjalan cepat menghampiri Mobil yang sudah berada di samping tempat Parkir sekolah.
"Aduuh, kenapa Aku lupa Aku kan mau memberitahu Non Nesa, jika tadi Aku bertemu dengan Ulet Bulu di pasar dan Si Ulet Bulu sedang membawa mangga, ya sudahlah Nanti saja Aku ber ceritanya.
Kurang lebih 30 menit Mba Sri menunggu Mikha yang Akhirnya di pulangkan semua murid-muridnya karena Guru-guru akan mengikuti Rapat.
Mikha masuk ke dalam Mobil dengan Wajah ceria.Sedangkan Vanessa masih berwajah nasam dan kesal.
"Mama kenapa Mama cemberut saja apa Mama masih Marah sama Mikha? "
"Tidak perlu bertanya harusnya Mikha sudah tau, "
"Ma, Om Tampan itu baik, dia juga tidak mengajak Mikha pergi jauh cuma beli Es krim Doang Mama kok masih marah, "
"Sudah mulai hari ini Mikha tidak boleh dekat-dekat dengan Om Tampan, Mikha tidak boleh ketemu Om Tampan Mama tidak suka,"
"Kenapa Mama tidak suka? "tanya Mikha dengan pandangan mata serius menatap Mamanya.
"Apa harus Mama jelaskan tidak perlu bukan, sudah, pokoknya tidak boleh ya tidak boleh apalagi kamu dekat sama anaknya Om kamu itu, "
"Om Tampan Ma? "
"Ya siapa saja terserah, pokoknya tidak boleh."
"Alasannya apa Ma? "
"Isssh, pokoknya tidak boleh tidak pakai alasan sudah, jangan banyak tanya lagi, "
"Kalau sama Papa boleh berarti boleh ya, Ma Nanti Mikha mau izin sama Papa Bara. "
"Tidak Papamu juga tidak mengizinkan Mama sudah bilang juga padanya, jangan bandel dan dengarkan Mama. "
Mikha langsung terdiam meskipun dengan mimik wajah yang masam.
Mba Sri yang melihat hal itu merasa heran dan Aneh tidak bisanya Nona Vanessa nya bersikap kasar dan keras seperti itu.
"Non Nesa Aneh sekali mengapa terlihat sangat Marah, tidak biasanya seperti ini, "gumam Mba Sri yang merasa sangat bingung.
_______
Mobil taksi yang membawa Arum sudah sampai di halaman depan Rumah setelah kurang lebih Arum duduk di dalam Mobil taksi kurang lebih satu jam lamanya.
"Mba uangnya kelebihan ini, dua ratus saja sudah cukup. "
"Tidak apa-apa Pak, Ambil saja kelebihannya. "
"Trimakasih Mba, "
Sopir taksi segera pergi setelah mengucapkan terimakasih dan menganggukkan kepala. Arum yang sedang berbunga hatinya segera masuk ke dalam.
"Pasti Vanessa belum pulang, Aku harus cepat menemui Mas Bara.
Dengan langkah yang sangat bersemangat Arum segera pergi Naik ke kamar atas, untuk menemui Bara, sambil menenteeng kresek hitam berisi buah mangga.
" Tok, Tok, Tok....!
"Sebentar Sayang, Aku ambil kunci dulu, " seru Bara dari dalam kamarnya, yang mana langsung membuat hati Arum berbunga senang.
"Sayang benar pulang pagi kan? " seru Bara bersamaan dengan membuka pintu kamarnya dan Bara langsung tertegun ketika mengetahui siapa yang datang.
"Kau, __
" Selamat Sore Mas? "sapa Arum dengan Wajah berbunga dan dengan mata berbinar senang yang tanpa bicara langsung memeluk tubuh Bara membuat Bara yang terkejut semakin dibuat Syok dan tertegun.
Dengan tersenyum kecut Bara merenggangkan pelukan Arum, Bara sangat khawatir dengan perbuatan Arum yang semakin berani kepadanya dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menerima.
"Ya, ada apa mengapa kau kesini? "
"Aduhh, Mas kamu itu bagaimana sih, tentu saja untuk menemui Suamiku Papa dari Anakku, "
"Iya, untuk apa Aku sedang sibuk tolong pergi dan jangan selalu mengganggu. "
Arum tersenyum masam mendengar perkataan dari Bara.
"Mas kamu kok tega sih berkata seperti itu, Aku ini sedang mengandung anakmu dan saat ini aku membutuhkan perhatian yang lebih darimu mengapa kamu bersikap dingin padaku, apa tidak bisa lembut dan manis sdikit padaku Aku ini sedang mengandung Anakmu lho, apa Mas Mau Aku strees gara-gara kurang perhatian dari Mas, bukankah seharusnya Mas itu tau jika Aku sangat membutuhkan kasih sayang jangan buat Aku sedih apalagi tertekan Mas, mau bayi yang ada di dalam kandungan Aku tidak sehat?
"Arum kenapa kamu bicara seperti itu, Aku bukan tidak suka dan tidak perhatian tapi saat ini Aku banyak pekerjaan mengertilah, tolong jangan berpikir negatif kamu dan Anak kamu akan mendapatkan perhatian dariku kamu jangan khawatir, tidak perlu was-was Aku akan memberikan perhatian seperti apa yang kamu minta. "
"Benarkah, kalau begitu kenapa Aku tidak di izinkan masuk? " ucap Arum yang merasa bingung dengan sikap Bara yang sangat melarang dirinya untuk bisa terlalu dekat dengannya.
Hal itu membuat Arum merasa sangat diabaikan dan Bara lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa yang diinginkan oleh Arum.
Meskipun di dalam hatinya yang paling dalam Bara merasa sangat kesal dan juga tidak ingin bisa berada dekat dengan Arum, Bara khawatir jika sewaktu-waktu istrinya akan kembali pulang dan mengetahui tentang Arum yang tiba-tiba berani dengan lancaang masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Akan tetapi karena tidak memiliki alasan yang bisa membuat Arum keluar dari kamarnya membuat Bara hanya tersenyum kecut kemudian mempersilahkan Arum masuk dan duduk.
"Masuklah ada apa? "
Dengan senyum mengembang di bibir dan dengan cepat Arum segera masuk ke dalam kamar sambil meletakkan kresek hitam di atas meja kemudian duduk sambil Melambaikan tangan memberikan isyarat kepada Bara untuk segera masuk dan duduk di sampingnya.
Meskipun dengan perasaan tidak suka akhirnya Bara menuruti apa yang diminta oleh Arum meskipun Bara melakukan semuanya dengan perasaan terpaksa.
"Apa? " tanya Bara ketika dirinya sudah duduk di depan Arum.
Arum menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan sangat perlahan.
"Lihat apa yang ada di dalam kresek itu? '
Bara memicingkan kedua bola matanya.
" Memangnya apa isi di dalam kresek itu?
"Buka saja Biar Mas tau, "
Bara mulai meraih kresek hitam yang ada di depannya kemudian dengan perlahan membuka dan melihat isi di dalamnya.
"Buah mangga, masih hijau begini mana manis buat apa lagi beli buah mangga hijau begini apa tidak ada yang sudah matang? "
"Hahaha, ini enak Mas rasanya segar, cepat Mas kupasin mangganya buat Aku! "
Bara mendelik mendengar perintah dan permintaan Arum.
"Apa? kamu nyuruh Aku untuk ngupas mangga, "
"Iya, mau siapa lagi kan kamu Mas yang jadi Papanya bayi ini, cepetan Mas sudah sangat ingin ini, "
"Sial, sekarang Wanita ini sudah berani main perintah, tapi jika Aku biarkan dirinya juga tidak akan segera pergi dan jika Aku kupas disini bau dari mangga ini bisa membuat Nesa Curiga kalau ada orang yang makan mangga di dalam kamar, Aku harus membawa Arum pergi dari kamar ini secepatnya jangan sampai Vanessa datang lebih dulu." gumam Bara dalam hati
"Baiklah ayo kita pergi ke dapur Aku bantu kupas mangga disana, "
Tanpa menolak Arum segera mengaggukkan kepala. Arum dan Bara langsung turun dari kamar menuju ke dapur, setelah menyuruh Arum untuk duduk Bara segera mengambil pisau dan menggupasnya.
"Ini..!
" Trimakasih! ucap Arum yang kemudian langsung menarik tubuh Bara untuk duduk di dekatnya.
Bara sedikit terkejut akan tetapi Bara tidak bisa menolak.
"Enak sekali, Mas mangganya sangat segar dan manis. "
"Manis? hijau seperti itu manis, "
"Iya Manis ini enak sekali, cobalah Mas, "
"Tidak usah, "
"Ayo, Mas sedikit saja bayi kamu ini juga ingin melihat Papanya makan mangga, ayo Mas, "
Dengan perasaan yang campur aduk akhirnya Bara menerima uluran mangga yang sudah dikupas, mangga hijau yang katanya Arum sangat manis.
Meskipun sedikit ragu dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arum tapi melihat Arum makan mangga dengan begitu lahap membuat Bara mulai merasa yakin jika mangga yang ada di tangannya adalah mangga hijau yang manis dan segar.
Bara mulai memasukkan mangga ke dalam mulutnya dan menikmati rasa dari mangga dan dengan seketika Bara langsung mual dan memuntahkan mangga yang ada di dalam mulutnya ke tong sampah yang ada di dekat dapur.
"Hoeek...!
" Hoeek.. kamu ngerjain Aku ya? " geram Bara yang merasa kesal karena telah dibohongi dan di permainkan oleh Arum.
"Apa sih Mas, tidak ini mangga memang manis.'
"Manis apaan Asem kecut begini Manis, dasar pembohong tujuan kamu mau ngerjain Aku kan? " geram Bara dengan suara keras dan dengan Nada marah karena kesal.
Arum merasa takut dan terkejut dengan sikap Bara yang tiba-tiba marah kepadanya. berbeda dengan seorang Wanita paruh baya yang tidak begitu tua dan masih terlihat jelas kecantikan nya dirinya justru tertawa melihat Bara yang marah marah karena kesal.
"Hahaha....Bara... Bara...!
Mendengar suara tawa yang menertawakan dirinya Bara langsung menoleh ke sumber suara.
" Mama.. ! kenapa Mama menertawakan Aku apa ada yang lucu, " geram Bara yang masih dalam mode kesal.
"Tentu saja kamu lucu Bara, Arum itu kan lagi hamil, kalau mangga muda pasti dia bilang enak kan Arum itu lagi ngidam. "
"Siapa yang lagi ngidam Ma..? "
Sebuah suara yang juga tiba-tiba ada di depan dapur yang mana langsung membuat Mama Sukma, Bara dan Arum serentak menatap kebelakang sumber Suara.
Bara yang mengetahui siapa yang datang dan melihat Wajahnya langsung Bara berubah pias dan pucat, bibirnya bergetar
"Sa-sayang, Ka-kapan kamu datang? "tanya Bara dengan perasaan cemas.
__ADS_1