DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 126.Uler Bulu


__ADS_3

Dengan langkah sedikit tergesa-gesa dan perasaan tidak menentu Mbak Sri mengetuk pintu kamar utama di mana di dalam kamar itu sudah menunggu Nyonya besar yaitu Sukma Mama dari Tuannya Bara, sedang menunggu kedatangan dirinya.


"Tok.., Tok,.. Tok! "


"Masuk! "


Sebuah suara perintah dari dalam dengan cukup keras.


Dengan perlahan-lahan Mba Sri memutar knop pintu.


"Krieek...! "


Ketika pintu terbuka Mbak Sri langsung mendapati sebuah tatapan tajam dari Nyonya Sukma yang kala itu berdiri di belakang pintu sedang menunggu kedatangannya terlihat Mama Bara sepertinya sedang kecewa karena dia tidak melihat Bara di samping Mbak Sri


Dengan Wajah menunduk, sungguh tatapan dari Mama Bara sangatlah tajam dan terlihat seperti hendaklah menerkam nya.


"Kenapa datang sendiri mana Bara, apakah kamu tidak mendengar perintahku bukankah Aku meminta dirimu untuk memanggilnya, "


"Maaf, Nyonya Tuan sudah tidur pintunya sudah terkunci saya sudah memanggilnya berkali-kali tapi pintunya tidak dibuka juga, sepertinya Tuan dan Non, Nesa sudah tidur. "ucapan Mba Sri pengasuh dari Mikha sambil menundukkan kepala.


Mba Sri sangat paham dan mengerti jika Nyonya Besar Mamanya Bara ini sangat tidak suka kepada dirinya dan Majikan perempuan nya yaitu Vanesa bahkan terhadap Anak kecil pun Mba Sri paham jika Nyonya Sukma sangat tidak menyukai Mikha.


" Gedor yang keras kan bisa !"bentak Nyonya Sukma dengan sangat keras. Suaranya Mama Bara yang sangat keras dan terdengar berteriak suaranya menggelegar sampai ke telinga Arum yang kala itu sedang mencoba baju yang baru saja dia beli, sontak saja hal itu membuat Arum mengeriyitkan dahinya kemudian dengan perlahan-lahan Arum membuka pintu kamar ganti dan keluar. Arum sungguh sangat penasaran sama Mertuanya yang terdengar sedang membentak dan marah, entah siapa yang sedang dibentak Mama mertuanya karena kelihatannya Mama mertuanya sedang emosi tingkat tinggi.


"Maaf Nyonya sepertinya akan sia-sia karena Tuan dan Non Nesa sepertinya lagi.. lagi, lagi..


" Sudah diam, sudah salah bukannya Minta maaf tapi justru membuat alasan saja, Aku heran pada Bara bisa-bisanya dia memperkerjakan orang seperti dirimu sudah bodoh dan tidak bisa memiliki inisiatif sendiri, bagaimana caranya agar Tuan kamu bisa keluar dari kamar itu kalau bisa jangan sampai mereka itu melakukan hal-hal yang berlebihan dasar pengasuh bodoh.! "


"Deg..!


umpatan dan cacian dari Nyonya Sukma membuat Mbak Sri pengasuh dari Mikha yang kala itu menundukkan kepala langsung mendongak dengan menatap tajam kepada Nyonya Sukma yang ada di depannya, rasa takut dan rasa was-was serta khawatir yang tadinya dia miliki tiba-tiba menghilang begitu saja.


Tatapan tajam serta guratan amarah yang terlihat jelas di wajah Mbak Sri sempat membuat Mama Bara sedikit terkejut dan heran, karena baru kali ini dia mendapati seorang pembantu yang berani menatap dirinya dengan pandangan mata yang terlihat sangat kurang ajaar dan tidak memiliki sopan santun. Di mana majikan bicara dia berani menatap dan memandang bahkan pandangan matanya sungguh sangat berani.


"Kau berani menatapku? "


Mbak Sri membuang muka ke samping kemudian menatap kembali ke arah Nyonya Sukma sambil bibirnya terus menyunggingkan sebuah senyuman.


"Untuk apa saya takut sama anda Nyonya, Anda hanyalah seorang ibu dari Tuan dan Majikan saya dan anda bukan orang yang membayar dan menggaji saya juga bukan orang yang memperkerjakan saya, Jadi jika anda bersikap tidak sopan kepada saya, Saya pun bisa bersikap tidak sopan kepada anda jadi jaga ucapan Anda jika anda ingin dihargai dan dihormati bersikaplah seperti Majikan pada umumnya Jangan bersikap seperti Nenek lampir yang sudah tidak sabar ingin memangsa dan menjadikan tumbal para korbannya."Sinis Mbak Sri yang kini mulai ikut tersulut Emosi


'Kau....!'Aku akan katakan pada Bara agar segera memecat dirimu sekarang juga dan kau tidak akan memiliki pekerjaan lagi."geram Nyonya Sukma dengan suara yang sangat keras.

__ADS_1


"Betul itu Tante, biar pembantu sialan ini tidak kurang ajar lagi, Tante harus mengatakan kepada Mas bara agar dia segera memecat wanita ini Biar tahu rasa dia, " Timpal Arum yang langsung ikut berbicara tanpa diminta.


"Pok, pok, pok..!


Mbak Sri bukannya takut tapi dia justru bertepuk tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir tersenyum miring.


" Waoo, perpaduan yang tepat dan serasi, lakukan saja katakan pada Tuan jika Aku pengasuh dari Putrinya sudah kuraang ajaar kepada Nyonya dan suruh Tuan memecatku jika kalian bisa, "


"Kau, menantang kami? "


"Bukan menatang Nyonya tapi mengizinkan, Nyonya apa sudah sakit jiwaa, menyuruh Aku menghalangi Tuan dan Non Nesa bermesraan dan apa tadi, Nyonya bilang jangan sampai berbuat yang berlebihan, Apa Nyonya sakit ingatan mereka itu Suami Istri kenapa Nyonya melarang, berlebihan bagaimana, yang ada larangan Nyonyalah yang berlebihan dan larangan itu sepantasnya Nyonya berikan Pada uler bulu itu, masa iya di suruh beli baju buat ganti untuk bekerja dia beli lingerie dan baju transparan seperti yang dia pakai, mau jadi pelakor, "


"Plaaaak..! tutup mulutmu. "


Arum yang tidak tahan mendengar hinaan dari Mba Sri segera menampar Wajah Mba Sri dengan keras.


Tamparan yang langsung mendarat sempurna membuat Wajah Mba Sri berubah merah.


"Berani kau menamparku, trima balasan dariku, "


"Plaaaakk... plaaaak..!


Mba Sri melakukan pembalasan tamparan yang tidak cukup satu kali, Wajah Arum pun langsung memerah karena tamparan Mba Sri mendarat di pipi kanan dan kiri Arum.


"Nyonya jangan ikut campur karena sayapun tidak takut untuk membalas tamparan yang akan Nyonya lakukan kepadaku, ingat Aku bukan Pembantu Nyonya disini, "bentak Mba Sri yang kini suaranya juga mulai keras dan kasar.


"Kau, Aku akan suruh Putraku untuk memecat dirimu dan kamu pasti akan menyesal dan mengemis Ampunan dariku, " geram Nyonya Sukma yang kini tangannya tidak lagi berniat menampar pembantu yang ada di depannya.


"Iya Tante besok Tante harus adukan semua ini pada Mas Bara biar dia dipecat dan diusir biar jadi gelandangan dia. " seru Arum yang juga merasa kesal dan geram.


"Diam kau uler bulu, Aku tidak akan pernah di pecat oleh Tuan karena Aku juga bukan pembantu Tuan Bara, kalian harus mengadu pada Nona Vanessa, karena dialah Bos Aku, dialah Majikan Aku dan Dialah yang mengaji dan memperkerjakan Aku Tuan Bara hanya menyetujui saja dan Aku ingatkan pada Kalian Tuan tidak bisa berbuat apa-apa jika Non Vanessa tidak mengatakan setuju karena semuanya tergantung pada Non Vanessa jadi silahkan mengadu padanya, baiklah Aku pergi dulu silakan mengadu untuk kelancaanganku ini tapi ingat jangan salah mengadu karena Bos Aku Non Vanessa, "


Setelah mengucapkan itu Mbak Sri melangkah menuju ke pintu tapi ketika tangannya hendak membuka pintu dalam hitungan detik Mbak Sri membalikkan badan dan menatap kembali kedua orang yang berada di depannya.


"Eiit, ada yang lupa ini untuk kamu Uler Bulu, kamu jangan coba-coba menjadi Uler Bulu di dalam Rumah tangga Tuanku, ingat lo itu babu dan pantasnya lo itu sama Mang Parjo, ingat ya sama Mang Parjo, pakai dan pamerkan lingerie kamu pada Mang Parjo."


"Kau, __


" Sudah-sudah Arum biarkan saja, "


"Tante kenapa Tante menghalangi Aku, seharusnya Tante membiarkan Aku menampar Wajahnya, dia sudah sangat kurang Ajaar pada kita. "

__ADS_1


"Tidak berguna itu, sekarang kamu harus cari tau apakah Wanita itu memang pengasuh pilihan dari Vanessa atau dari Bara. "


"Pasti dari Mas Bara Tante Wanita itu pasti hanya ingin membohongi kita agar kita takut dan tidak jadi mengadu, "


"Hmmm, kau benar besok Aku akan tanyakan pada Bara, sudahlah lepas baju kurang bahan kamu itu, Bara tidak akan kesini, beristirahatlah besok kita pikirkan lagi, "


"Ya Tante, "


Arum menatap langit-langit kamar dengan pandangan mata yang menerawang cukup jauh di mana setelah kepergian dari Nyonya Sukma Arum mengganti baju kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pikirannya benar-benar kalut dan tidak tenang karena kini Arum baru menyadari jika di dalam rumah ini bukan hanya madunya yang akan menjadi hambatan dirinya untuk bisa dekat dengan Bara, tapi juga pembantu sialan yang sangat sok berkuasa dan berani melawan dirinya, bahkan dua kali dia mendapatkan tamparan yang keras dari wanita itu.


"Aku juga harus menyingkirkan Pembantu sialan itu, agar rencanaku bisa dekat dengan Mas Bara tidak ada penghalang dan sepertinya wanita itu lebih berbahaya daripada Vanessa yang bodoh itu." Gumam Arum bermonolog sendiri.


*****


Pergi menjauh setelah dirinya ketahuan jika dirinya adalah salah satu pembeli yang ada di dalam mall, Robi segera masuk ke dalam mobil untuk pergi meninggalkan tempat itu dan lagi-lagi telpon Robi berbunyi dengan tertera Nomor telepon milik Rendra.


Kali ini Robi tidak mengabaikan karena ketika Robi hendak mengangkat telpon tiba-tiba sebuah mobil putih sudah menghadang di depannya dan keluarlah sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan kulit putih bersih turun dari dalam mobil.


"Sial, itu kan Rendra Astaga langkahnya seperti orang yang mau perang saja.


" Dok, dok, dok.. buka pintunya cepat! "


"Mampuus gue Singanya lagi ngamuk, " gumam Robi dalam hati.


"Robi, cepat buka pintunya, "


"Iya-iya sebentar Ren, sabar orang sabar itu rejekinya jembar dan banyak disayang pacar, "


"Diam lo, turun..! "


"Astaga bener-bener sudah seperti singa kelaparan saja Rendra ini, tampangnya tidak mencerminkan Dokter yang lemah lembut, "


"Cepetan tidak pakai lama, "


"Aduh Ren, kan Aku bisa nyungsep kalau cepat cepat ini mobil kan tinggi juga, "


"Alasan, "


ketika Robi membuka pintu dan hendak melangkah turun dengan sangat cepat Rendra langsung menarik tubuh hobi dengan kasar dan keras kemudian menutup mobil dengan keras juga hingga menimbulkan suara yang gaduh.


"Eh, Ren kenapa kau tarik tarik Aku, "

__ADS_1


"Sudah diam cepat masuk, "


Rendra segera mendorong tubuh Robi masuk kedalam mobil berwarna putih miliknya. Bagaimana kambing yang tak berdaya Robi mau tidak mau mengikuti apa yang Rendra perintahkan kepadanya.


__ADS_2