
Bara yang ingin melaabrak dan memaki laki-laki yang sudah berani memegang tangan istrinya di mana istrinya juga memegang tangan dari laki-laki itu terpaksa harus Bara urungkan, karena Bara menerima panggilan masuk dari Mamanya.
Pada awalnya Bara ingin mematikan dan tidak menerima panggilan dari sang Mama akan tetapi karena Mamanya lagi-lagi menelpon dirinya membuat Bara mau tidak mau Akhirnya menerima telepon dari Mamanya dan dengan terpaksa Bara mengurungkan niat untuk melabrak dan memaki laki-laki yang sudah berani dekat-dekat dengan istrinya.
Perasaan Cemburu marah dan kesal terpaksa Bara abaikan demi mendengarkan apa yang ingin Mamanya katakan.
Sungguh hati Bara merasa sangat kesal dan geram karena secara tidak langsung Mamanya telah menghalangi Niat Bara yang ingin memberikan perhitungan pada laki-laki yang berani mendekati Istrinya.
Sengaja Bara mencari tempat aman untuk mendengarkan panggilan telepon dari Mamanya.
"Halo Ma..!
" Bara kamu dimana kenapa Arum telpon Mama katanya dia di Rumah sendiri dan kamu pergi bersama dengan Istrimu tidak mau mengajaknya, kamu kan tau Arum itu bukan pembantu dia Anak teman Mama dan di Rumah cuma bantu bantu sedikit kenapa tidak kau ajak juga, apakah kamu tidak mau membantu Mama dan apakah kamu mau Mama terlihat sebagai seorang teman yang tidak baik sehingga anak dari teman Mama kamu abaikan begitu saja, "
Mama Bara bicara dengan panjang lebar tanpa memberikan kesempatan pada Bara untuk memberikan alasan sedikit pun, bahkan Bara hampir tidak diberikan kesempatan untuk bicara sama sekali karena Mama Bara terus bicara dan marah-marah tiada henti.
"Ma.. Bara, ___
"Sudah sudah Mama tahu kamu pasti mau memberikan alasan macam-macam pada Mama, itu tidak penting dan Mama tidak mau tahu apapun alasanmu sekarang Cepat pulang dan temui Arum Kasihan dia di rumah sendiri dan ingat Kemanapun kamu pergi kamu harus mengajak dan membawanya karena dia adalah anak dari sahabat Mama bukan pembantu di rumah kita jadi perlakukan Arum dengan baik seperti kamu memperlakuan Istrimu. "
"Tapi, Ma, ____
" Sudah, Mama tidak mau mendengar apapun Mama tunggu satu jam kedepan kamu harus sudah sampai di Rumah."
"Ma, Halo, Ma....
"Araaaagh....!
Bara memukul udara karena Mamanya sama sekali tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk bicara bahkan setelah memberikan ancaman padanya dengan santai dan tanpa merasa berdosa sedikitpun Mama Bara langsung mematikan panggilan telepon. di mana Dirinya dengan egois tidak memberikan kesempatan kepada putranya untuk menjawab ataupun menolak semua keinginan dari Mamanya bahkan alasan sedikitpun tidak diberikan kesempatan padanya.
Dengan geram dan bibir terus mengumpat karena kesal Bara langsung memasukkan ponsel hp-nya ke dalam saku, kemudian Bara teringat akan sosok laki-laki yang mengganggu istrinya membuat Bara berjalan dengan sangat cepat menuju tempat di mana Vanessa sedang menunggu dirinya.
Kekesalan Bara bertambah berkali-kali lipat di mana laki-laki yang mengganggu istrinya ternyata masih berada di sana bahkan terlihat dengan jelas keduanya sedang bersenda gurau hal itu semakin membuat Bara kesal dan cemburu.
__ADS_1
"Siapa sih, laki-laki itu kenapa belum pergi juga dan Nesa baru juga di ajak keluar sebentar sudah ada yang Ngagguin dia, ini tidak bisa dibiarkan, enak saja Ngagguin istri orang, " sungut Bara dengan langkah kaki yang lebar dan terlihat tergesa-gesa.
Sampai ditempat, berdiri tepat di depan Istrinya dan disamping laki-laki yang Hendak Bara maaki maaki ketika Bara hendak membuka mulutnya tiba-tiba Vanessa langsung bangkit berdiri dan menarik tangannya kemudian dengan cepat Vanessa memperkenalkan Bara pada laki-laki yang ada di depannya.
"Dokter Bambang kenalkan ini Suami saya, Mas kenalkan Beliau adalah Dokter Bambang Dokter yang dulu sering membantuku ketika Aku banyak tugas dan tidak bisa mengerjakan.
Bara yang tadinya hendak marah-marah dan memaaki maki laki-laki yang ada di depannya terpaksa Bara tersenyum sambil menggaggukkan kepala.
"Senang berkenalan dengan anda, " ucap Dokter Bambang sambil menggulurkan tangannya, Bara yang kesal terpaksa menerima ukuran tangan dari Dokter Bambang, meskipun Wajahnya terlihat sangat sinis dan dingin.
"Sayang, Mama baru saja menelpon dan meminta kita untuk segera pulang Ayo kita pulang. "
"Oh, saya juga ada urusan saya permisi dulu dan maaf itu Bibir Mas kenapa ada darah?tanya Dokter Bambang yang langsung membuat Vanessa dengan gerakan spontan menatap kearah Suaminya.
" Iya, Mas ada darah sedikit kamu kenapa? "
"Tidak apa-apa, " Bara langsung menepis tangan Vanessa yang hendak menyentuh bibirnya.
"Sudah Ayo pulang, Maaf kami permisi dulu, " ucap Bara yang langsung meraih tangan istrinya untuk dibawa pergi.
"Mas, kok Bibirmu berdarah seperti habis, ___
" Tadi terjadug Aspal lantai karena Aku buru-buru dan berjalan tidak melihat jalan." jawab Bara dengan cepat Bara tidak ingin Istrinya semakin bertanya dan semakin penasaran untuk itu Bara langsung memberikan alasan agar Vanessa tidak curiga kepadanya.
"Memangnya Mas ada apa kenapa jalan dengan terburu-buru, "
"Itu, karena kamu, "
"Vanessa melongo dengan jawaban dari Suaminya.
" Kok bisa Aku memangnya Aku kenapa? "
"Ngak nyadar ya, baru di tinggal sebentar sudah ketawa-ketawi dengan laki-laki lain. "
__ADS_1
"Oh, itu, hahaha begitu saja Jeleees Mas, "
"Tentu saja Jeleees kan kamu itu Istriku, "
"Trimakasih sudah mencintaiku, " ucap Vanessa yang langsung sambil memeluk Suaminya.
Hal itu membuat Bara mendelik dan bergetar hatinya, sungguh hatinya semakin takut jika perselingkuhannya sampai diketahui Vanessa.
"Iya, Sayang, " jawab Bara sambil membelai lembut rambut istrinya dengan tangan satunya karena tangan yang satu sedang mengemudikan Mobil.
"Aku harus secepatnya membawa Vanessa pergi dari Rumah Mama karena semakin lama situasi pasti akan semakin membahayakan, terlebih sikap Arum yang sering Nekad Aku tidak mau menggambil resiko dan Aku tidak mau Vanessa meninggalkan Aku untuk itu secepatnya Aku harus pergi dari Rumah Mama agar Vanessa dan Arum tidak bisa selalu bertemu dan bersama, meskipun Arum berjanji tidak akan membocorkan Rahasia kami tetap saja ini bukan suatu hal yang Aman yang pasti Aman Aku Aku bisa menjauhkan keduanya dan Aku juga harus bisa jauh dari Wanita itu agar dia tidak bisa selalu menuntut diriku.
Arum memang mau menjaga Rahasia ini tapi tuntutannya dia kepadaku semakin hari juga semakin menjadi jadi. "
"Mas, kamu lagi memikirkan apa?
" Oh, tidak ada Sayang Aku hanya lagi memikirkan bagaimana secepatnya blitar pergi dan pindah dari Rumah Mama. "
"Lho kenapa buru buru, kasian Mama masih Rindu sama kamu Mas, "
"Tidak masalah Nanti kita bisa sering datang dan berkunjung nke Rumah Mama lagipula nyaman dan enak kalau tinggal di Rumah sendiri, kamu juga tidak perlu mendengar omelan Mama yang sering kali cerewet itu. "
"Hahah, Aku tidak apa-apa kok Mas, "
"Tidak sayang itu tidak baik buat perkembangan Mikha pokoknya kita harus secepatnya pergi dari sana kalau bisa besok, "
"Apa? besok secepat ini? "
"Hmmm, kamu mau ya, "
"Aku nurut sajalah kalau begitu asal tidak nyakitin hati Mama, Aku takut Mama kecewa dan Marah. "
"Tenang saja biar Mama Nanti menjadi bagian dari urusan Aku pokonya kamu harus mau, "
__ADS_1
Vanessa tersenyum sambil menggaggukkan kepala.