
Mendapat pujian dan Sanjungan dari Arum membuat hati ibu Sukma semakin mengembangkan senyumannya, hati-Nya semakin berbunga-bunga dan bahagia berkali-kali menepuk bahu dan Wajah Arum dengan gemasnya.
"Kamu bisa saja memujiku, sudah Ayo kita pergi ke kamarmu karena Aku ingin melihat apa yang sudah kamu beli hari ini Apakah kamu sudah membeli baju-baju yang kamu butuhkan dan Apakah kamu sudah mencobanya Ayo aku akan melihat baju-baju pilihanmu dan kita juga akan menunggu kedatangan Bara di sana. Sebentar lagi Bara akan datang karena Aku sudah memanggilnya dan dia tidak akan pernah menolak keinginan dari ibunya, jadi kamu tenang saja tidak perlu menunggu di luar seperti ini kamu cukup menunggu Suamimu di dalam kamar dan jika ada sesuatu yang ingin kamu lakukan Kamu bisa bicara kepadaku. Aku akan membantumu sebisa mungkin."
"Iya, Tante Arum tidak akan sungkan untuk meminta bantuan pada tante Mari kita masuk dan tante bisa melihat apa yang aku beli. "
Di dalam kamar Bu Sukma, duduk di tepi ranjang ketika Arum mengulurkan dan menunjukkan semua barang yang dia beli.
Arum yang menunjukkan barang belanjaan yang dia beli kepada Mamanya Bara tanpa malu membuat Mama Bara yaitu Bu Sukma menggelengkan kepala karena dia melihat baju-baju yang dibeli oleh Arum adalah baju-baju yang sangat transparan dan juga beberapa baju lingerie.
"Bagaimana Tante tidak apa-apa kan? "
"Ya, bagus tidak masalah kamu memakai itu karena Bara juga sudah resmi menjadi Suami kamu jadi tidak pakai Baju pun tidak masalah, sepertinya, "
"Tante..!" seru Arum dengan senyum tersipu malu.
"Kamu coba saja mana yang kamu suka kamu pakai kan sebentar lagi Suami kamu itu akan datang, "
"Oh, iya Tante, Arum ganti baju dulu kalau begitu, Tante masih disini kan?
"Tentu saja, Aku mau menunggu Bara datang. "
" Baiklah Tante kalau begitu Arum pergi ke kamar ganti dulu untuk berganti baju harum akan mencoba baju yang ini sepertinya ini lebih Anggun dibandingkan dengan yang lain. "
"Ya, ya pergilah cepat. " seru Mama Bara kepada Arum yang langsung Arum patuhi dengan berlari-lari kecil masuk ke dalam kamar ganti sangat terlihat sekali Jika Arum sedang bahagia.
Di dalam kamar yang berbeda tampak Vanessa menatap gemas pada Suaminya yang Wajahnya terlihat kesal dan marah.
"Sayang kenapa kamu justru menertawakan Aku, bisa tidak sih sekali-kali kalau Suami itu bercerita didengarkan dengan serius dan ditanggapi dengan serius pula bukan justru diketawakan begini, "
"Siapa yang menertawakan kamu Mas, Aku tidak tertawa Aku juga tidak bilang apa-apa, Mas Bara saja yang terlalu perasa."
"Hmmm, ngeles ya awas kau, sayang tapi beneran orang yang ada di parkiran itu benar-benar menjengkelkan, masak Aku di suru foto sama mana dia maksa lagi terpaksa Aku foto bersama dengan tuh pembantu baru kesayangan Mama. "
"Hmmm, cuma di mintai foto saja marah Mas, "
"Bukan begitu sayang, orang itu terlihat sangat memaksa sekali. Selain itu masa ada di tempat parkir kita harus disuruh berfoto pasti itu bukan orang benar Siapa tahu fotoku mau disebar atau mau diapain lagi untuk dijadikanadang uang bisa saja seperti itu Aku hanya berpesan padamu jangan percaya kalau kamu melihat fotoku bersama dengan Arum itu karena aku dipaksa saja sama orang yang tidak bertanggung jawab. "
__ADS_1
"Ya, Mas Bara tidak perlu khawatir, Aku percaya kok dengan Suamiku, "
"Uhuk, uhuk, "
"Mas kamu Kenapa? "Mengapa tiba-tiba kamu terbatuk tunggu sebentar aku ambilkan minum, "ucap Vanessa yang merasa khawatir dengan Bara yang tiba-tiba terbatuk beberapa kali, Setelah menggulurkan air putih dan sedikit menepuk menepuk punggung Bara agar dia sedikit mendingan sementara Bara langsung meraih tangan Vanessa yang kala itu menepuk-nepuk punggungnya.
"Tidak perlu Sayang Aku tidak apa-apa, aku hanya khawatir orang yang ada di parkiran itu bukanlah orang yang baik dia sengaja mengambil foto Antara Aku dan Arum untuk disebarluaskan demi mendapatkan uang. "
"Jangan terlalu berprasangka buruk, "
"Bukan begitu Sayang, Aku cuma tidak mau istriku percaya dengan omongan orang yang tidak benar, "
"Hmmm, cuma begitu saja dipikirkan Mas, yang terpenting itu Mas kan tidak ada hubungan apa-apa dan foto dengan Wanita lain itu kan sekedar foto jadi tidak perlu juga Aku permasalahkan Aku percaya dengan Suamiku, "
Bara, mrngagguk sambil tersenyum kecut, sungguh dirinya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi Nanti jika Vanessa sampai mengetahui perselingkuhannya.
"Kenapa Aku harus takut Vanessa tidak akan bisa melakukan apapun atau meminta perpisahan dariku karena dia sudah menandatangani kontrak itu seharusnya aku sekarang tenang dan tidak perlu mengkhawatirkan lagi karena apapun yang terjadi Vanessa tidak bisa berbuat apa-apa Karena dia sudah terikat janji yang tanpa dia sadari." gumam Bara dalam hati sambil bibirnya mengulum senyum.
"Mas lagi ngetawain apa kok senyum-senyum sendiri begitu, hayoo mikir apa? "
"Ngak ada Sayang, Aku cuma membayangkan jika Istriku ini hamil dan badannya gendut, terus uring-uringan pasti ngemesin deh, dan pastinya akan manja banget sama Aku bisa-bisa Aku tidak di bolehkan kerja, "
" Sssttt, jangan samakan itu kan karena kamu sadar Aku bukan Bapaknya Mikha bisa jadi waktu itu kamu sungkan heheee, "
Mendengar perkataan Bara Vanessa langsung mendelik dan melayangkan sebuah pukulan kecil di punggung suaminya Di mana Bara berpura-pura meringis dan kesakitan.
"Buuugh..!
"Auuuw, sakit sayang, "
"Peduli, ngak lucu tauk, "
"Hmmm, ngambek ya, bobo yuk, ngantuk nih, "
"Tidur saja sendiri, "
"Hmmm, Baiklah, "
__ADS_1
Bara segera bangkit berdiri kemudian dengan gerakan cepat dan tanpa izin langsung mengendong tubuh Vanessa dan membawanya Naik ke atas Ranjang.
Tentu saja apa yang dilakukan Bara membuat Vanessa terkejut dan dengan gerakan spontan Memberontak.
"Mas, Apaan sih turunin bisa jatuh Aku Nanti, "Vanessa yang takut meminta Bara untuk segera menurunkan dirinya tapi tangannya justru melingkar di leher Suaminya, membuat Bara terkekeh kecil, semakin gemas melihat tingkah istrinya.
"Tenang Sayang, kalau jatuh Nanti barengan, "
Mendengar perkataan Bara Vanessa langsung mendelik.
"Sayang tatapannya jangan horor dong, yang mesra dikit kan bisa. "
"Salah sendiri, turunkan dong, "
"Iya, iya sabar, "
Bara yang memiliki tubuh kekar dengan tinggi badan yang cukup tinggi dengan sengaja melemparkan secara pelan tubuh Vanessa ke atas Ranjang dan dalam hitungan menit Barapun ikut menjatuhkan tubuhnya yang sengaja menimpa Istrinya.
Sontak saja hal itu membuat Vanessa berteriak kecil karena terkejut dan dengan gerakan spontan tangan Vanessa menampar Bara.
"Plaak..!
" Awwwh, sakit sayang kok Aku ditampar sih, "
"Kamu pikir Aku guling berat turun cepat ngak bisa napas nih, pokoknya malam ini Aku lagi tidak mau, ___
" Iyaiya, tidak perlu dilanjut Aku tau dan Aku juga tidak pernah memaksa istriku, jika malam ini tidak di kasih tidak apa, tapi tidur dipelukanmu kan boleh, "ucap Bara yang langsung menggullingkan tubuhnya disamping Istrinya.
" Kalau begitu mana Ayo peluk Aku, "
"Manja banget sih, "
"Sayang manja sama istri sendiri itu tidak apa-apa dan istri itu akan dapat pahala kalau nurut sama suami. " cicit Bara membuat Vanessa mencubit Suaminya, Bara tertawa dengan lepas dan dengan manja merebahkan kepalanya sejajar dengan kepala Istrinya.
"Kita tidur, sini kepalanya rebahkan disini Sayang, " Bara meminta Vanessa merebahkan kepalanya pada lengan tangannya dan tanpa menolak Vanessa melakukan apa yang Bara minta.
Di luar pintu Mba Sri yang diminta sama Nyonya Sukma untuk memanggil Bara terpaksa melangkah mundur.
__ADS_1
"Apa iya Aku harus mengganggu; Tuan Bara yang lagi bermanja dengan Non Nesa, Aku akan bilang jika Tuan Bara sudah tidur dan kamarnya terkunci, " Gumam Mba Sri yang memilih mundur meninggalkan kamar Vanessa dan Bara kemudian menuruni anak tangga kembali ke kamar ruang tamu utama di mana Nyonya besar Sukma sedang menunggu.