DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 166.Perasaan Takut.


__ADS_3

Dengan sangat kesal dan geram dengan di iringi derai Air mata Vanessa terus memukuli Dada bidang Bara.


Sementara Bara memejamkan kedua bola matanya, hatinya juga benar-benar ikut hancur dan sakit melihat Wanita yang sangat dicintainya menangis dan marah.


Ingin rasanya Bara memeluk dengan erat tubuh Istrinya akan tetapi Bara tidak memiliki keberanian lagi, Bara yang juga sangat mengetahui sifat Vanessa yang sangat keras kepala tidak berani melakukan, Bara tidak ingin Vanessa bertindak Nekad dan lebih marah lagi.


Memejamkan mata ikut merasakan kehancuran dan kesedihan dari Wanita yang sangat Dia cintai, Andai waktu bisa di ulang dan di putar lagi, Andai semua keburukan bisa di hapuskan ingin rasanya Bara menghilangkan dan menghapuskan segala sesuatu yang bisa membuat hati Wanita yang sangat dirinya cintai terluka.


Sungguh sangat sakit dan rasa sakitnya melebihi goresan pedang meskipun berdarah, jika ada pilihan mungkin Bara akan memilih terluka dan berdarah dari pada melihat orang yang sangat dirinya cintai terluka dan sakit hati.


Sangat sakit dan sangat sesak Bara tidak tau lagi apa yang akan terjadi untuk hari selanjutnya setelah ini, akankah mendapatkan maaf dari Wanita yang sangat dirinya cintai seiring berjalan nya Waktu ataukah tidak.


Bara tidak mampu lagi untuk menerka dan meraabaa rabaa akan seperti apa perjalanan rumahtangganya dengan Wanita yang sangat dirinya cintai setelah ini.


Baru kali ini Bara merasakan sakit dan sangat sesak di dalam dada yang tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata, bahkan sekedar untuk meneguk ludahnya serasa susah dan tercekat sangat susah dan sakit.


Perlahan-lahan Tubuh Vanessa melemah pukulannya pun mulai melemah seiring dengan Tubuh Vanessa yang mulai jatuh terduduk.


Bara sangat terkejut melihat hal itu dengan cepat menahan tubuh Istrinya agar tidak jatuh.


"Jangan sentuuh Aku, Aku sangat membencimu. "Suara yang sangat lirih bahkan terdengar sangat mengambang akan tetapi Bara merasakan rasanya sangat menyakitkan.


Seolah ada Batu besar yang menimpa dada Bara dengan kuatnya.


"Sa- sayang..!


Vanessa bangkit dari terjatuh berjalan dengan sangat lemah ke atas Ranjang kemudian duduk dengan Bibir terkatup rapat hanya butiran-butiran bening yang masih terus mengalir tiada henti.


Bara pun ikut berjalan mendekati Ranjang duduk di bawah lantai dengan pandangan mata sendu menatap Istrinya yang kini mulai diam terpaku.


"Sayang tolong jangan begini jangan menangis lagi, Hukumlah Aku pukul Aku sesuka mu tapi tolong berhentilah menangis hatiku sakit.


" Keluar Aku ingin sendiri. "


"Tapi, Sayang, "


"Keluuuaaarrrr... !Aku tidak mau melihatmu disini, "teriak Vanessa dengan sangat keras dan kencang.


" Sayang, Aku, ____


Vanessa yang kesal meloncat turun dan berlari kedekat pintu kembali mengambil pisau yang tadinya dia jatuhkan.


Bara mendelik melihat hal itu.


"Sa-sayang apa yang akan kau lakukan jangan main-main dengan pisau itu, "


"Keluar..! jika tidak Aku akan mengakhiri hidupku disini. "


"Deg..!


Kembali jantung Bara seolah berhenti mendadak, perasaan takut, cemas dan khawatir serta was-was jika Istrinya benar-benar Nekad membuat Bara memundurkan tubuhnya.


" Baik, Baik Aku keluar tapi berikan pisau itu padaku baru Aku mau keluar. "


Vanessa menjatuhkan pisau yang ada ditangannya dan Bara segera mengambil, sebelum Bara melakukan hal yang curaang dengan sangat kuat Vanessa mendorong tubuh Bara hingga keluar dari pintu kemudian dengan sangat cepat menguncinya.


Bara sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan Istrinya dimana dirinya kini sudah berada di luar kamar.


Bara masih bisa mendengar teriakan dan amarah dari Istrinya dari luar. Mendengar hal itu Hati Bara semakin sakit dengan perasaan tidak menentu Bara mengusap kasar Wajahnya.


Kemudian memukulkan tangannya ke dinding.


"Bodooh, dasar Bodoooh, dasar laki-laki tidak tau diri kau Bara..!


"Duuuuzzzz....!


" Duuuuzzzz...!


"Duuuuzzzz..!

__ADS_1


Bara berkali-kali memukulkan tangannya ke dinding hingga tangan Bara kulit nya mengelupas dan mulai mengeluarkan darah.


Bara tidak memperdulikan hal itu dia terus dan terus memukulkan ke dinding dengan Air mata yang juga mengalir membasahi pipi, Bara sungguh merasa menyesal dan hancur saat ini.


Mama Sukma yang kala itu berjalan di Ruang tamu mendengar suara pukulan mendongak ke atas dan terlihatlah Putranya sedang memukul mukuul dinding.


Bergegas Mama Sukma Naik Kelantai Atas.


"Bara hentikan, apa yang kau lakukan . "


Mama Sukma segera menahan tangan Bara yang hendak memukul mukuul dinding.


"Mama..! A-Aku sudah menyakitinya Ma, Aku laki-laki brengsek Ma dan Nesa Dia... Dia tidak mau melihat ku, Ma hatiku sakit, "ucap Bara sambil memeluk Mamanya.


Mama Sukma menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


" Vanessa hanya butuh Waktu sudahlah jangan terlalu dipikirkan Nanti lama-lama dirinya akan terbiasa, sekarang yang penting kamu juga harus memberikan perhatian pada Arum dia sedang hamil di dalam perutnya ada Anak kamu Mama tidak mau Anak kamu kenapa-napa. "


"Tapi Ma, ___


" Sudah tidak perlu lagi kamu pikirkan Vanessa, Ayo turun tunggu saja di bawah Nesa pasti juga akan turun jika kemarahan dan keterkejutan nya sudah hilang. "


"Mama bisa bicara begitu karena Mama tidak pernah menyukai Nesa sudahlah Mama urus sendiri itu Arum, "


Bara yang kesal karena Mamanya tidak mendukung dan tidak membelanya memilih melangkah menuruni tangga kemudian masuk ke dalam Ruang kerja dan menguncinya,


Merasa kecewa dengan sikap Mamanya Bara memilih menyendiri di dalam kamar. Mama Bara tersenyum miring melihat semua ini.


"Memang seharusnya seperti ini dan saat saat seperti inilah yang Aku tunggu Bara dan Wanita itu berpisah, Aku sudah muak melihatnya menompang di Rumahku, apa dia pikir Rumah ini tempat panti Asuhan yang bisa dia tempati seenaknya dengan Anak yang bukan darah daging dari Putraku, hanya menunggu sebentar lagi Wanita itu pasti akan pergi dari sini, " gumam Mama Sukma dalam hati yang kemudian melangkah turun dari tangga menuju lantai bawah.


_________


Di dalam kamar yang berbeda, Arum tampak sedang berbahagia.


"Yess, Akhirnya Aku akan bisa membuat Wanita itu pergi dari Rumah ini, melihat dirinya marah dan menangis oowh menyenangkan sekali baru sadar dia jika sekarang dirinya tidak memiliki haak apa-apa karena Akulah yang lebih berhak karena Aku sedang mengandung Anak dari Mas Bara, Aku harus merayakan kemenangan ini Abang Faisal harus tau jika Adiknya sangat pintar Aku akan pergi kesana sekarang. "


Arum segera bersiap pergi dari rumah setelah dirinya memesan taksi online, Arum sengaja tidak menggunakan sopir pribadi dari keluarga suaminya dikarenakan Arum lebih suka dan lebih merasa nyaman bila dirinya pergi dengan sopir taksi online di mana dia bisa berbuat dan bertindak semaunya tanpa ada pengaduan ataupun hal-hal yang tidak menyenangkan baginya.


Mobil taksi yang membawa Arum kini sudah mulai memasuki halaman Rumah yang tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu sempit.


Arum turun dari Mobil setelah hampir satu jam perjalanan dia lalui dengan menggunakan jasaa dari taksi online.


Meminta Sang Sopir taksi pergi dan meminta menunggu pesan darinya ketika dirinya minta di jemput pulang.


Dengan perlahan-lahan Arum membuka pintu yang tidak di kunci.


"Abang....! Arum datang. "


Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan sedikit kulit berwarna gelap segera menoleh ke sumber suara.


"Arum, kau ngapain kamu ke sini lagi?


" Idiiih, Abang Adiknya datang bukannya senang ini justru di marahi, kapan Abang bisa bersikap manis kepadaku, "


"Kamu datang itu cuma mengagguku Aku sibuk pulanglah, "


"Abang..! Arum punya kabar bagus buat abang. "


"Katakan, setelah itu pulanglah Aku akan keluar sebentar lagi, "


"Hmmm, memangnya mau kemana sih Abang, "


"Ke tempat Teman, "


"Paling juga tidak lama, Arum tungguin Abang pulang saja kalau begitu, "


"Tidak perlu pergi ke Rumah Suamimu buat Suamimu selalu memberikan kamu uang, "


"Astaga pikirannya Abang cuma uang dan uang, Nih Arum kasih 3 juta, buat Abang bisa bersenang-senang dengan teman Abang, Arum kesini mau kasih tau Abang kalau sttus Arum sudah tidak diam-diam lagi semua orang di Rumah sudah tau jika Arum Istri dari Mas Bara termasuk Istri pertamanya dan Istri pertamanya marah-marah, pasti sebentar lagi Istrinya akan pergi dan Arum akan menjadi Istri satu-satunya, bagaimana Abang, bukanlah ini berita bagus? "

__ADS_1


"Wah secepat ini, kau hebat Arum, baiklah kamu tunggu Abang pulang Abang cuma sebentar ke Rumah teman, kamu bisa ambil makanan di dapur Abang tadi masak dan membuat sayur bening bayam kamu bisa makan itu bagus untuk bayi kamu sudah Abang pergi dulu, lain kali bawa uang yang lebih banyak lagi, "


"Diih Abang uang melulu tapi Arum usahakan, Abang tenang saja Nanti seluruh harta dari Mas Bara akan menjadi milik kita. "


"Baiklah jaga diri baik-baik di Rumah Aku pergi dulu. "


bergegas Faisal membuka pintu dan keluar rumah sementara Arum menunggu kakaknya di dalam rumah Arum yang tidak terlalu lapar akan tetapi merasa haus segera pergi ke dapur dan kedua bola mata Arum membulat ketika melihat potongan buah nanas tergeletak di atas meja dengan penutup Ala kadarnya.


"Wah Nanas ini pasti rasanya segar dan enak. "


Dengan membawa semua potongan Buah Nanas Arum pergi ke Ruang tamu duduk dengan menikmati buah Nanas.


"Ini benar-benar segar biar saja Abang tidak usah Aku sisain Aku masih kurang ini, rasanya manis dan segar. "


Ada tiga potong buah Nanas yang sudah terkupas dan Arum segera melahap nya, setelah habis dan merasa kenyang Arum duduk dengan berselonjor kaki menunggu kepulangan dari Abangnya.


Duduk dengan berdiam diri dan dengan bermain game di ponsel hpnya membuat Arum merasa bosan dan mengantuk.


Akhirnya Arum merebahkan tubuhnya di atas kursi sofa sederhana yang ada di Ruang Tamu."


Kurang lebih tigapuluh menit Arum menunggu kepulangan dari Faisal Abangnya, Tiba-tiba Arum merasa perutnya sakit.


"Aduuh, ini kenapa mengapa tiba-tiba perutku sakit, Aduuuh Abang cepat pulang perut Arum sakit, Aduuuuh...!


Arum terus merintih sambil memegangi perutnya dengan langkah sedikit gontai Arum berjalan mendekati pintu.


Tidak lama kemudian Pintu dibuka dari Luar dan muncullah Faisal dirinya merasa sangat terkejut karena Arum merintih kesakitan.


"Arum kamu kenapa? "


"Abang perut Arum sakit, "


"Kenapa bisa begini, kamu ngapain saja ketika Aku tinggal pergi, "


"Arum tidak melakukan apa-apa, Abang ini sakit sekali Aduuuuh, Arum tidak tahan. "


"Baiklah tunggu Aku ambil motor Aku akan antarkan kamu ke puskesmas terdekat. '


" Cepat Abang Arum sudah tidak tahan ini, "


"Iya, tunggu, ngapain sih di rumah sampai bisa sakit begitu, "


"Abang, lihat..ada darah di kaki Arum sepertinya, ___ Abang Arum takut. "


"Arum, kenapa kamu tiba-tiba pendarahan begini, "


Dengan cepat Faisal mengendong Arum dan meminta nya bersabar Naik diatas motor.


"Abang tidak bisa ini sakit, "


"Baiklah tunggu Aku pinjam mobilnya tetangga sebelah, "


Faisal segera berlari tidak lama kemudian kembali dengan membawa mobil.


"Ayo, masuk dan duduk, kenapa bisa begini apa kamu di dalam Rumah loncat loncat, "


"Abang jangan ngaco deh mana mungkin Arum loncat loncat, "


"Lalu kamu ngerjain apa kenapa bisa jadi begini? "


"Arum tidak ngerjain apa-apa Abang Arum tadi tiduran tapi sebelum tidur Arum makan buah Nanas milik Abang. "


"Apa? Buah Nanas, bodoh sekali kamu itu buah kan tidak boleh buat orang hamil bisa keguguran dan jangan-jangan, ___


" Abang jangan nakut nakutin Arum, "


"Aku tidak sedang nakut nakutin Aku cuma menerka-nerka. "


"Jangan bicara begitu Abang Arum takut ayo lebih cepat Arum takut, "

__ADS_1


"Iya-iya, "


Faisal mulai menambah kecepatan dari laju mobilnya.


__ADS_2