
Wajah Alena yang marah dan kesal tidak membuat sangat pembantu ikut merasa kesal, Bik inah sangat tau dan paham dengan sifat dan prilaku Tuannya yang sangat Keras dan dingin.
Bahkan hampir setiap hari Bik ijah melihat wajah Tuannya yang seperti itu, hal ini sudah berlangsung sangat lama dan itu terjadi ketika Istri pertama dari Tuannya pergi meninggalkan nya.
Mungkin perasaan kecewa dan kesal yang hanya bisa di lampiaskan dengan marah dan Marah bahkan tiada hari yang indah selain sikap dingin dan kasar yang Bik ijah lihat setiap hari, bahkan sekalipun tidak ada senyuman yang biasanya dulu sering Bibi ijah lihat.
Rendra masih berdiri terpaku sambil menatap ke atas gedung hotel.
Di sisi lain Vanessa yang membiarkan Suaminya masih berada di dapur dan dirinya sudah berada di dalam ruang tamu tiba-tiba Wajahnya menatap keluar jendela dan dengan tiba-tiba dirinya mulai menatap ke arah bawah dan pada saat yang bersamaan dimana Vanessa hendak menatap ke bawah, tiba-tiba suara Bara suaminya memanggilnya.
"Sayang, Ayo kita kembali ke kamar kita, "
"Iya, ayo Mikha sepertinya juga sudah sibuk dengan Mbak Sri, "
"Iya, sayang ayo Aku sudah ngantuk sekali, "
"Tunggu sebentar Aku akan bilang pada Mbak Sri kalau kita pergi, "
"Pergilah Aku tunggu disini,"
Vanessa segera pergi masuk ke dalam kamar dimana Mikha dan Mbak Sri sedang bermain, tidak lama kemudian Vanessa keluar setelah mengatakan jika dirinya akan kembali ke kamarnya.
Ketika Vanessa berada di ruang tamu dekat dengan jendela entah mengapa tiba-tiba dirinya kembali melongokkan wajahnya ke bawah dan menatap nanar pada sebuah mobil berwarna hitam yang mulai melakukan meninggalkan tempat itu.
Vanessa menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.
"Sayang kamu lihat apa ?
"Tidak ada Mas ayo kita kembali ke dalam kamar, " ucap Vanessa dengan tergesa-gesa.
Rendra yang merasa cukup lama berdiri kini mulai kembali masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Alena menatap heran ketika Rendra masuk ke dalam mobil dan berniat melajukan kembali mobilnya.
"Mas, kita mau kemana bukannya Mas mau membawa Aku ke hotel ini? "
"Siapa yang bilang kita akan ke hotel? "
"Lha tadi Mas Rendra kenapa masuk ke dalam hotel sana? '
" Aku masuk ke sana, mungkin Aku sedang bingung saja cepat pakai sabuk prngamanmu ini sudah malam kita harus cepat sampai di Rumah baru, "
Dengan perasaan kecewa Alena kembali memakai sabuk pengaman nya.
Tidak lama kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan cukup tinggi, Alena sedikit heran karena Rendra terlihat buru-buru dalam menggemudikan mobil nya.
Karena Rendra melanjukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi hanya dalam waktu 30 menit mobil itu sudah sampai di depan sebuah rumah bercat putih yang di samping kanan kirinya terdapat beberapa rumah tetangga hanya berbatas tembok sebagai pembatasnya.
Alena mengeryitkan dahinya sungguh dia tidak percaya jika harus tinggal di sebuah Rumah yang terbilang biasa saja.
"Ayo, kalian cepat turun, " seru Rendra sambil memgendong Arsel yang sedang tertidur pulas anak kecil itu tidak terganggu sdikit pun dia masih tertidur dengan pulsanya.
Sementara Bik ijah mengeluarkan semua barang yang ada di bagasi di bantu dengan penjaga Rumah mang Ilham yang ternyata sudah lama merawat rumah itu.
Alena yang merasa sangat segan dan malas belum juga masuk ke dalam Rumah, dia masih tetap berdiri di halaman rumah yang menurutnya ini sangat kecil dan tidak sebagus Rumah yang pertama kali dia tempati.
semua barang bawaan sudah dimasukkan ke dalam rumah semua sudah berkumpul di dalam rumah tinggallah Alena yang tidak ada di ruangan itu Rendra yang melihat tidak ada Alena langsung bertanya kepada Ilham yang kala itu sudah menata rapi barang bawaannya di tempat yang telah disediakan.
"Bik Mana Alena? "
"Non, Alena, lho apa Non Alena tidak ikut masuk, " ucap Bik ijah yang justru balik bertanya.
Rendra menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan kasar.
__ADS_1
"Mang ilham tolong kamu lihat di depan apa Non Alena masih di luar, "
"Baik, Tuan, "
Bergegas Mang Ilham keluar dari dalam rumah kemudian berjalan menuju ke halaman di mana Di sana ternyata telah berdiri Alena yang masih menatap kosong pada Jalan Raya di mana Alena seperti orang yang sedang tersesat karena kebingungan.
"Non, Alena. Tuan menyuruh Non agar cepat masuk ke dalam, "
Alena membalikan badannya kemudian mengangguk sambil tersenyum kecut ada perasaan malas dan enggan untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah yang tidak begitu besar dan terkesan sangat sederhana, Apabila dibandingkan dengan tempat tinggal di mana Dirinya selama ini tinggal.
dengan langkah berat Alena mulai membuka pintu di mana di dalam ruangan Rendra sudah berdiri sambil bersilang dada sementara pizza sudah berdiri di samping Rendra yang kala itu terlihat sangat kesal dan marah.
"Kenapa lama, cepat apa kamu mau tinggal diluar, cepat masuk ke dalam kamarmu dan bersihkan dulu kamar itu sebelum kamu tidur, "
"Apa, Aku harus membersihkan kamar lebih dulu sebelum tidur, kan ada Bik ijah biar Bik ijah yang melakukan, kenapa harus Aku, "
"Bik ijah juga sibuk membersihkan tempat tidur nya sendiri, jadi kalau kamu ingin tidur dengan kamar yang bersih dan rapi bersihkan sendiri, "
"Tapi, Mas ini kan tugasnya Bik ijah selaku pembantu di rumah ini, "
"Bik ijah memang pembantu di Rumah ini lalu kamu itu siapa Apa kamu pikir kamu itu Nyonya dirumah ini sehingga semua harus dilayani kamu kan cuma numpang jadi kerjakan sendiri pekerjaan mu, "
"Mas, kenapa Mas Rendra bicara seperti itu, jadi selama ini Mas anggap Aku bukan keluarga dan cuma orang yang numpang begitu? "
"Aku tidak mau berdebat dengan mu dan Aku tidak perduli dengan penilaianmu, karena Fakta nya kamu bukan siapa-siapa Aku dan Aku cuma membantu mu, jadi jaga batasan mu dan Bik ijah itu pembantu ku bukan pembantu mu jadi yang berhak memerintah dia hanya Aku dan terserah kamu apa kau mau ikut aturan ku atau pergi dari rumah ku toh putramu juga sudah besar kan? lagi pula untuk besok kamu harus mulai bekerja agar kamu bisa membiayai kehidupan putramu karena tidak selamanya Aku akan membantu mu jadi sekarang pergi dan bersihkan sendiri kamarmu,"
Dengan perasaan kesal dan malas Alena terpaksa mengikuti apa yang Rendra katakan.
"Bik, Antar dia pergi ke kamarnya agar dia tidak salah masuk kamar, "
"Baik, Den, "
__ADS_1
Bergegas Bik ijah mengajak Alena masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan Rendra untuk nya dan dengan terpaksa akhirnya Alena mengikuti langkah kaki dari Bik ijah.