
Seolah memahami apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya, Vanessa yang merasa bersalah karena telah membiarkan hatinya memikirkan dan melamunkan masa silam, di mana seharusnya dia melupakan semua itu dan melangkah untuk menjadi istri yang baik dan berbakti.
Perlahan-lahan Vanessa menyentuh tangan bara yang kala itu menikmati makannya sendiri tanpa bicara, Vanessa mengetahui dan memahami jika suaminya sedang marah dalam diam.
"Mas masakan Bibik enak ya, lain kali Aku mau belajar masak biar bisa membuat masakan sendiri untuk Suami dan Anakku, "Cicit Vanessa memberikan penjelasan dan mengungkapkan keinginannya mencoba mengalikan pembicaraan agar hati Bara tidak lagi sakit ataupun marah kepadanya, tapi rupanya Apa yang dilakukan Vanessa salah karena Bara tetap diam dan hanya menganggukkan kepala tanpa mau bicara atau menoleh padanya,seolah olah tidak menganggapnya ada.
Sebenarnya hati Vanessa cukup kesal dan geram melihat sikap Bara yang seperti kekanak-kanakan karena marah pada sesuatu hal yang hanya tanpa sengaja Vanessa rasakan Karena sejujurnya Vanessa juga tidak ingin larut dan selalu teringat akan Masa lalu akan tetapi terkadang Masa lalu itu seringkali muncul dan juga seringkali mengganggunya dengan tiba-tiba tanpa mampu dia kendalikan..
Melupakan sebuah kenangan itu tidak mudah terlebih melupakan orang yang sangat kita cinta tapi bukan berarti tidak bisa Vanessa sudah berusaha sekuat dan semampunya untuk tidak lagi larut dalam ingatan dan kenangan masa lalu akan tetapi terkadang, kenangan masa lalu seringkali membuatnya rindu yang tanpa dia sadari dan tanpa dia inginkan datang dan muncul begitu saja.
Jika itu salah dirinya sendiri tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana untuk menghentikannya karena Sampai detik ini kehadiran Bara belum bisa sepenuhnya menghapus kenangan masa silam, tapi bukan berarti dirinya lantas mengabaikan Suami dan mengharap masa lalu kembali.
Sungguh semua itu tidak ada dalam pemikiran Vanessa, dirinya tau akan tanggung jawabnya dan dia juga tau akan batasannya, untuk itu Vanessa tidak lagi ingin bisa bersama dengan Rendra mantan Suaminya, jangankn bertemu melihat pun jika bukan karena terpaksa Vanessa sudah tidak mau, semua dia lakukan demi menjaga keutuhan Rumah tangganya dan menjaga hati dan perasaan Bara agar tidak terluka.
Merasa kesal dicuekin Suami Vanessa menarik tangan dan bahu Bara sedikit keras membuat Bara spontan menghadap kesamping menghadap istrinya.
"Mas Bara marah? "
Lagi-lagi Bara tidak mau menjawab pertanyaan Vanessa istrinya, Bara memilih mengalihkan pandangan matanya ke makanan.
Vanessa yang kesal dengan sikap Suaminya, mendengus dengan keras.
"Baik, Mas Bara lanjutkan makannya Aku sudah kenyang, "
Vanessa segera bangkit dari tempat duduknya dan akan melangkah pergi.
Bara yang melihat hal itu sedikit terkejut dengan sikap istrinya yang justru marah kepadanya. Niat hati ingin pura-pura marah pada Istrinya agar sang Istri merajuk dan merayunya tapi faktanya sungguh berbeda, justru Istrinya marah dan main pergi begitu saja, tentu saja hal itu membuat panik Bara.
Untuk itu Bara segera bangkit dan dan menahan tangan Vanessa agar tidak pergi meninggalkan dirinya.
"Sayang mau kemana kamu kan belum makan, ayo makan, " bujuk Bara pada Istrinya dan tanpa Bara sadari Vanessa diam-diam mengulum senyum dia tahu jika suaminya sangat mencintai dan menyayangi dirinya untuk itu Bara tidak akan pernah tega jika melihat dirinya marah, kesal atau pun bersedih untuk itu Vanessa sudah sangat mengetahui jika dia berpura-pura marah pastilah kemarahan Bara yang tadinya ngambek karena Vanessa tanpa sadar mengingat dan mengenang masa lalu akan segera hilang Dan Ternyata semua prediksi dan dugaan dari Vanessa benar adanya kini Vanessa tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Tidak usah, Aku tidak lapar lagi pula ngak enak makan sama orang yang cuek dan dingin sama kita. "
"Hmmm, duduk Aku suapin, "
Vanessa yang berpura-pura marah langsung membalikkan badan dan tersenyum.
"Sudah tidak marah dan cuekin Aku kan? "
"Tidak sayang sini, "
Bara langsung memeluk Istrinya dan Vanessa kali ini langsung membalas prlukan dari Suaminya.
"Duduk kita makan, biar Aku yang suapin. "
__ADS_1
"Tidak usah Aku bisa sendiri, "
"Mau Aku marah dan ngambek lagi?
Dengan cepat Vanessa menggelengkan kepalanya.
" Nah kalau begitu nurut apa yang Aku katakan. "
Vanessa tidak lagi menolak keinginan Bara ketika dirinya hendak disuapin untuk itu Vanessa membiarkan apapun yang Bara inginkan?
Di tengah-tengah keduanya sedang asyik menikmati makan malam dan di mana Bara sedang memanjakan istrinya tiba-tiba kedua bola mata Vanessa melihat sang bibik keluar dari dalam kamar sambil membawa koper di tangannya sontak saja hal itu membuat Vanessa heran dan merasa aneh.
"Mas, lihat, itu Bibik mau kemana, kenapa dia membawa koper segala, ini kan sudah malam. "
Mendengar perkataan dari istrinya Bara langsung menatap ke arah yang ditunjukkan istrinya, terlihatlah sang Bibi sedang berjalan sambil membawa koper di tangan kanannya, Bara juga merasa heran dan bingung Mengapa Bibi tiba-tiba membawa koper malam-malam di mana saat ini sudah pukul 07.00 malam meskipun belum terlalu malam akan tetapi sesuatu hal yang aneh jika jam seperti itu membawa koper keluar Rumah, bagaikan seorang pembantu yang baru saja dimarahi oleh majikannya dan diusir secara paksa.
."Sayang, Kau tunggu disini dan lanjutkan makanmu biar kutaya Bibi mau kemana malam malam membawa koper."
"Aku juga mau tanya Mas, Aku ikut, "
"Tidak usah, kamu harus makan kalau tidak Aku akan marah lagi padamu apa kamu mau Aku marah lagi? "
Dengan cepat Vanessa menggelengkan kepalanya.
"Nah, kalau begitu nurut apa kataku, "
"Bik, mengapa kau membawa koper, Emangnya Bibi mau ke mana ini kan sudah malam Kenapa Bibi membawa koper, untuk apa koper ini Bi?"tanya Bara secara beruntun di mana Kedatangan Bara Menghadang sang Bibi membuat sang Bibi sedikit terkejut karena dia tidak menyangka jika dirinya akan kepergok sama Bara.
"Eh, Den Bara, Bibi mau pulang kampung Den, "
"Apa? Pulang kampung malam-malam begini, memangnya tidak bisa besok pagi apa?
" Maaf, Den tidak apa-apa Nyonya yang meminta malam ini juga saya harus pulang kampung dan Den Bara tidak usah khawatir Nyonya sudah memanggilkan taksi juga buat saya. "
"Kok tumben Mama meminta Bibi pulang kampung malam-malam begini, apa Bibi buat kesalahan dan Mama marah, "
"Tidak Den, Bibi tidak membuat kesalahan apapun, Nyonya bilang Bibi sudah lama tidak pulang kampung untuk itu Bibi boleh pulang hari ini juga biar yang di kampung tidak rindu sama Bibi."
"Oh, begitu biar kuantar, "
"Tidak perlu Den ini tadi taksi nya sudah bilang jika sudah ada di depan, "
"Baiklah kalau begitu Bibi hati-hati, "
"Baik Den, kalau begitu Bibi permisi dulu, "
__ADS_1
Bara menganggukkan kepala tapi semenit kemudian Bara kembali memanggil sang Bibi.
"Bi, Tunggu..! "
"Ya Den, "
"Ini untuk Bibi Nanti beli oleh-oleh sendiri untuk cucu Bibi ya, "
Bara mengeluarkan uang sekitar10 lembar uang merah dan diserahkan kepada sang Bibi.
"Den, tidak usah Nyonya sudah memberikan banyak uang pada Bibi kemarin. "
"Tidak apa-apa ambil saja untuk Bibi dan tunggu sebentar,"
Bara berlari kecil mendekati Istrinya yang ada di Ruang makan.
"Sayang mana gelang kamu, "
"Ini Aku pakai kenapa Mas, Aku selalu memakainya kok, curiga gak Aku pakai begitu, "
Bara tersenyum kemudian melepas ikatan dari pengait gelang milik istrinya, Vanessa hanya memandang sambil mengeryitkan dahinya.
"Mas Pinjam sebentar besok Mas belikan yang lebih mahal dari ini. "
Vanessa tidak bicara apapun juga dia hanya merasa sangat bingung dan aneh melihat sikap suaminya yang tiba-tiba melepaskan kancing dari gelang yang dia pakai kemudian membawa gelang itu pergi.
"Bi, ambil dan bawa ini juga, "
Bara mengulurkan gelang istrinya diberikan pada sang Bibi
"Den, tidak perlu, tadi Den Bara sudah ngasih uang, "
"Sudah tidak apa-apa ambil saja Bi, anggap itu hadiah dariku, "
"Trimakasih, Den,"
para tersenyum sambil menandukkan kepala sementara Vanessa yang diam-diam mengikuti para hanya menghilangkan kepala sambil mengeluh senyum kemudian kembali melangkah ke ruang makan akan tetapi rupanya Apa yang dilakukan oleh Vanessa terlihat oleh Bara sang suami dengan cepat barang mengejar kemudian menggenggam tangan istrinya.
"Ketahuan Nih, ngintip ya, maaf Sayang gelangnya Aku kasihkan Bibi, kamu tidak marah kan besok Aku akan belikan yang baru dan yang lebih mahal kamu sendiri yang akan pilih besok, "
"Tidak usah Mas, tidak apa-apa kok perhiasan Aku kan banyak jadi tidak perlu beli lagi. "
"Tidak masalah Aku kan Sismimu dan Aku bertanggungjawab menyenangkan istriku, "ucap Bara sambil memeluuk istrinya menciuum lembut kening sang Istri.
" Ehemm, seharusnya kalau mau bermesraan itu tau tempat jangan di tempat umum dan terbuka ini norak namnya. "
__ADS_1
"Mama...!
seru Vanessa dan Bara secara bersamaan mereka secara spontan saling melepaskan diri dari pelukan masing-masing dan tidak bisa dibayangkan Wajah merah merona dari Vanessa yang menahan malu karena ternyata di depannya sudah berdiri sang mertua.