DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 162.Rencana


__ADS_3

Bara yang kalut segera memeluk dengan erat Tubuh Istrinya, meskipun jika harus jujur hatinya merasa senang karena Vanessa tidak tau jika Arum sedang hamil Anaknya, itu artinya dirinya masih aman, meskipun ada perasaan bersalah terlebih setelah hampir 10 tahun membina Rumah tangga dengan Vanessa dirinya baru kali ini melihat Istrinya menangis dan semua terjadi karena dirinya.


Sungguh hati Bara bagaikan di iris-iris ketika melihat Istrinya menangis, Bara memeluk dengan sangat erat seolah olah tidak akan bisa memeluk lagi, hatinya sesak kedua bola matanya pun Berembun.


"Sayang maafkan Aku, tolong jangan menangis Aku bersalah karena saat itu diam saja, Sayang kamu boleh menghukumku apa saja, tapi berhentilah menangis Aku tidak ingin melihat kamu bersedih dan sejak kapan kamu berada di Ruang tamu dalam keadaan gelap, hem, "


Vanessa merenggangkan pelukan dari Suaminya mendongak menatap pada Suaminya, dengan lembut Bara mengusap dan menghapus Air Mata Istrinya dengan tangan kemudian kembali memeluknya dengan erat dan mengecupnya dengan lembut bahkan dengan memejamkan mata sehingga buliran bening di kelopak mata Bara pun jatuh membasahi pipinya yang dengan cepat Bara hapus dengan punggung tangannya, agar Istrinya tidak tau, kemudian melepaskan pelukan nya menatap sendu Istrinya.


"Aku tidak mau Mas dekat dengannya. "


"Iya, sayang Aku janji tidak akan dekat lagi dengannya, maafkan Aku, " ucap Bara yang lagi-lagi memeluk erat istrinya sambil membelai lembut rambut Vanessa.


"Aku tidak mau sakit hati lagi dan Aku tidak mau mendapatkan penghianatan lagi, "lirih Vanessa mendengar itu hati Bara semakin sesak semakin perasaan bersalah menghimpitnya.

__ADS_1


"Deg..!


" I-Iya sayang, tidak akan, sudah jangan menangis lagi hatiku perih dan sesak melihatmu begini, Ayo tersenyumlah, Aku Suamimu dan hanya Suamimu, "ucap Bara yang lagi-lagi sambil memeluk Istrinya.


Seolah sulit menelan ludah dengan susah payah Bara menelan ludahnya.


"Aku sakit, hatiku sangat sakit melihat dirinya seperti ini, mulai besok Aku akan membawa mu, keluar dari Rumah ini, Aku tidak perduli dengan anak yang ada di dalam kandungan Arum. Aku tidak mau kehilangan Istriku Aku tidak butuh apapun meskipun Aku harus mengorbankan darah daging ku sendiri, lebih baik kehilangannya dari pada kehilangan Istriku ini, besok Aku akan meminta izin pergi jika perlu Aku akan membawa Vanessa dan Mikha ke London lagi. " gumam Bara dalam hati, sambil terus membelai Rambut Vanessa dan mengecupnya dengan penuh perasaan.


"Sayang, kamu pasti lelah menunggu, ayo kita tidur, "


"Iya, Aku janji Ayo kita tidur. "


Perlahan-lahan Vanessa Naik keatas Ranjang dan ketika hendak merebahkan kepalanya diatas bantal Bara langsung meletakkan tangannya.

__ADS_1


"Tidur disini, tidur dalam pelukanku, "


"Nanti tanganmu capek dan kesemutan Mas, "


"Tidak akan, Ayo tidurlah sini sayang. "


Vanessa tersenyum kemudian merebahkan kepalanya diatas tangan Bara, tidak menunggu lama Vanessa sudah terlelap, sementara Bara yang berpura-pura tertidur pun kini mulai membuka mata, menatap lekat lekat Istrinya.


"Aku sangat mencintaimu, Aku sangat takut kehilanganmu dan Aku tidak mau menunggu lama lagi, setelah kemarahanmu hari ini, hal itu sudah sangat membuatku takut, apa jadinya jika kamu tau jika Arum sedang mengandung Anakku, tidak, Vanessa tidak boleh sampai tau, Aku harus segera membawanya pergi jauh Aku tidak mau semua ketakutanku menjadi Nyata dan hal ini bisa menjadi kesempatan bagi Rendra untuk mengambil Vanessa dariku, Tidak Vanessa milikku selamanya akan tetap menjadi milikku."


_____


Di kamar yang berbeda Arum membanting tas slempang yang dia bawa diatas Ranjang.

__ADS_1


"Sial, Wanita sialan itu berani menamparku, Aku tidak akan memaafkanmu dan Aku tidak mau lagi harus diam biar Wanita itu tidak berani macam-macam kepadaku maka tidak ada jalan lain dia harus tau jika Suaminya itu juga Suamiku dan Wanita itu juga harus tau jika saat ini Aku sedang mengandung Anaknya dan Aku akan pastikan dia pergi dari Rumah ini, enak saja memperlakukan Aku seperti ini, tunggu besok Akan Aku buat kamu tidak akan lagi mampu menampar dan merendahkan Aku, "geram Arum dengan sangat emosi.


Arum tidur dengan tidak tenang tubuhnya miring ke kanan dan kekiri sungguh hatinya sangat resah menunggu datangnya pagi dengan tidak sabar.


__ADS_2