DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 150.Kecemasan Vanesa


__ADS_3

Dengan terpaksa Arum menikmati makan nasi pecel tanpa bumbu dirinya hanya makan sayur dan Tempenya saja setelah selesai makan dengan cepat Faisal menyuruh Arum untuk segera pulang meskipun sebenarnya Arum ingin berlama-lama berada di rumah Abangnya, Akan tetapi karena Abangnya memaksa Arum untuk cepat selalu menyuruhnya pulang akhirnya mau tidak mau Arum pulang.


Merasa nyaman dan betah jika harus berlama-lama tinggal dengan Abangnya tapi Faisal, semenjak Arum sudah mulai bisa bekerja tidak pernah sedikitpun Faisal memberikan kesempatan pada Arum untuk berlama-lama dengannya.


Faisal mulai berubah dengan sering meminta uang kepadanya yang Arum sendiri tidak tau untuk apa.


Dengan memangil taksi yang sudah Arum bayar dan pesan untuk mengantar jemput dirinya, tidak perlu membuat Arum menunggu lama karena Taksi sudah datang hanya dengan satu pesan saja.


______


Duduk dengan santai dan Bibir terus tersenyum ketika melihat dan mendapatkan sapaan dari para Ibu ibu yang mengantar Putra-putri mereka untuk bersekolah.


Vanessa dan Mba Sri duduk berdampingan mereka memilih menunggu Mikha dari pada pergi meninggalkannya.


"Mba Sri apa kamu Capek jika merasa capek kamu boleh keluar jalan-jalan sebentar Nanti balik lagi ke sini."


"Tidak, Non, Aku tidak capek tapi Mama tadi berpesan jika kita di minta untuk sekalian belanja apa Mba Sri mau belanja dulu jika mau biar Aku yang nunggu Mikha Mba Sri belanja dulu dengan Pak Ujang. "


"Boleh Non, biar Nanti kalau Non Mikha pulang tidak perlu rewel karena kita harus singgah di pasar untuk belanja Baiklah Non, saya tinggal dulu, saya akan belanja apakah ada yang ingin Non Nesa pesan? "


"Hmmm, Belikan saja Aku dan Mikha Cenil jangan terlalu banyak gula minta gula merahnya di pisahin. "


"Baik, Non, "


Mba Sri segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan Vanessa yang kala itu masih duduk di samping sekolah.


"Mba Sri tunggu beli empat ya Cenil nya siapa tau Arum juga mau, "


"Aduh Non, ngapain juga mikirin ulet bulu itu dia itu bukan wanita baik baik jadi tidak perlu mikirkan Wanita itu,"


"Mba Sri, kok ngomonya begitu, ngak baik dan ngak boleh seperti itu."


"Aduuh, Non kamu ngak tau sih kalau Non tidak ada itu si Ulet Bulu suka ngodain Tuan. "


"Huuss, jangan bicara sembarangan Mba sudah cepat pergi entar keburu Mikha pulang, "


"Baiklah Non, "


Mba Sri segera melangkah pergi dengan hati dan perasaan kesal, Non Nesa ini di kasih tau kok tidak percaya dari awal dia datang Aku sudah yakin kalau si Ulet Bulu ini bakal jadi duri dalam Rumah tangga Non Nesa, Aku sudah berkali-kali memergoki dirinya sedang merayu Tuan Bara, Non Nesa di kasih tau kok tidak percaya.


Sungguh Aku merasa heran dan bingung dengan pemikiran Non Nesa, sebenarnya Non Nesa ini terlalu polos apa terlalu bodoh Masa dia tidak bisa membaca dan gelagat orang aku yang bukan apa-apanya Tuan Bara saja bisa merasakan dan memahami masa Non Nesa tidak memahami benar-benar heran Aku, Kok ada ya orang begitu percaya kalau Aku sudah tidak mungkin percaya lagi dan aku yakin apa yang menjadi pemikiranku pastilah tidak salah karena aku seringkali melihat dan mengetahui ciri-ciri orang yang suka mengganggu Rumah Tangga orang seperti itu selalu mencari perhatian selalu bersikap Manja dan selalu cari sensasi, pokoknya super Alaaay. "


Mba Sri terus bermonolog sendiri hingga dia masuk ke dalam mobil bahkan hingga mobil itu melaju, Mba Sri masih tetap bermonolog sendiri dengan pemikirannya sendiri.


Dia tidak bisa pikir dan memahami serta tidak habis mengerti dengan sikap Vanessa yang terlalu cuek dan biasa saja menghadapi Wanita yang sering sekali mengganggu dan menggoda Suaminya.


Apa yang dilakukan oleh wanita itu dianggap biasa saja sementara lewat kaca pandangan Mbak Sri Apa yang dilakukan oleh wanita itu sangatlah keterlaluan dimana itu bukan menunjukkan sikap yang baik dari seorang Wanita.


"Sudah Pak Ujang, turunkan disini saja biar kedepannya Aku jalan kaki, tidak baik juga Mobil masuk ke area dekat pasar disini saja Nanti Aku akan kesini setelah selesai belanja."


Pak Ujang menganggukkan kepala, Mba Sri turun dari Mobil dan melangkah masuk ke dalam pasar meskipun dengan bibir sedikit mengrutu.


Kurang lebih tiga puluh menit Mbak Sri mengelilingi pasar untuk membeli semua kebutuhan dapur.


"Permisi Mas, boleh saya minta tolongtolong? "


"Oh, silakan apa yang bisa saya bantu Mba, "

__ADS_1


"Tolong bawakan belanjaan saya ke Mobil yang ada di sana itu, "


"Oh, boleh, "


"Trimakasih, ya, "


Mba Sri segera menyodorkan uang sebagai upah dari bantuan orang yang membawakan belanjaan nya ke Mobil.


Sementara dirinya hanya membawa beberapa yang ringan. Ketika Mba Sri berjalan melewati pedagang kedua bola mata Mbak Sri membulat ketika melihat seorang wanita turun dari taksi dengan menggunakan baju berwarna kuning dan Mba Sri hafal betul siapa pemilik baju itu.


"Arum..! dari mana dia kenapa Naik taksi dan turun di pasar ini, " Gumam Mba Sri yang kemudian dengan langkah sedikit terburu-buru Mba Sri segera mendekati Arum.


"Hei Ulet Bulu ngapain lo ada disini? "


Memang dasarnya sudah benci dan kesal mau bagaimanapun juga tidak akan bisa bersikap manis ataupun berpura-pura baik.


Arum yang kala itu hendak berjalan terpaksa menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke belakang.


"Kau, kenapa kau ada disini? "


"Ciiih, ditanya bukannya menjawab justru balik bertanya, kamu pikir mau berjoget kesini namanya juga pasar pasti untuk belanja begitu masih juga bertanya. "


"Jika tau orang kesini tujuannya belanja ngapain juga kamu masih bertanya padaku apa kamu sedang sakit ingatan. "


"Deg..!


Kata-kata yang terkesan santai dan sederhana tapi menusuk ke dalam kalbu, ini bukan lagi makian tapi sudah penghinaan kelas kakap, terbukti Mba Sri tidak lagi bisa bicara apa-apa hanya kedua bola matanya yang menatap dengan pandangan mata horor lebih arah Arum sementara Arum tersenyum miring.


"Cuma pembantu sok, jadi Bos, kedudukan kamu itu lebih rendah dari pada Aku tidak perlu menampakkan diri sok berkuasa, karena jika kamu tau yang sesungguhnya pasti pingsan, sudah minggir Aku mau lewat. " sinis Arum yang kemudian berjalan sambil menabrak bahu Mba Sri.


"Hei tunggu, lo bawa mangga kayak orang yang lagi ngidam jangan jangan lo hamil dan jangan-jangan lo, __


" Diam, pemikiranmu itu tidak perlu kamu perdengarkan kepadaku, simpan dan pikirkan sendiri karena Aku tidak punya Waktu untuk meladeni semua celotehan kamu, "sinis Arum yang kemudian melangkah meninggalkan Mba Sri sendiri.


Arum segera pergi meninggalkan Mbak Sri setelah mengucapkan beberapa kalimat yang sangat membuat Mbak Sri tidak bisa bicara apa-apa hanya kedua bola matanya yang menatap tajam ke arah Arum, sementara bibir Mbak Sri terlihat kaku dan kelu dan terasa sangat sulit untuk bicara, karena apa yang dikatakan oleh Arum semuanya memang benar bukan hak dan juga bukan urusan dirinya untuk mengetahui ranah dari seluk beluk kepribadian Arum,


Bahkan Arum hamil atau tidak Itu juga sebenarnya bukan urusan dari Mbak Sri dan Arum tidak mau mendengarkan apapun yang Mbak Sri katakan sementara Mbak Sri merasa sangat bingung dan heran karena menerka-nerka dan berpikir sendiri.


Membuat Mba Sri berpikir negatif jika sebenarnya Arum hamil dengan laki-laki lain yang tidak bertanggung jawab dan Arum sengaja mendekati Tuannya yaitu Tuan Bara untuk menjebak dirinya.


"Kurang ajar pasti seperti itu yang dialami Arum sekarang, Aku harus cepat pulang dan memberitahu Non Vanessa untuk selalu berhati-hati karena apa yang akan dilakukan Wanita ular itu pastilah akan menjebak Tuan, mana ada Wanita hamil tanpa Suami akan diam saja pasti akan usaha untuk bisa mendapatkan Suami biar anak yang dalam kandungannya bisa memiliki Orang Tua yang lengkap ini sungguh berbahaya, Non Vanessa harus tau. "Lirih Mba Sri dalam hati.


Berlari-lari kecil dengan sangat riang ketika sang Guru sudah memberikan Waktu untuk beristirahat.


"Aku mau nemuin Mama pasti Mama nungguin Aku, "


"Ikut Aku saja ayo, hari ini Papaku yang ngatar dan yang menjemput Aku dan hari ini Papa mau ajak Aku beli Es krim yang Viral itu ayo ikut biar Papaku juga membelikan kepadamu,"


"Es krim yang Viral, Es krim apa itu? "


"Hhhhh, kamu tidak tau ya, itu lho Es krim Mixue Ayo..!


" Tapi, ___


"Sudah, Ikut saja, '


Seorang Bocah laki-laki kecil menarik tangan Mikha untuk diajaknya bertemu dengan sang Papa yang sudah berjanji akan membelikan Es Krim Viral yaitu Es Krim Mixue.

__ADS_1


Dengan terpaksa Mikha mengikuti temannya, bocah laki-laki yang baru saja sekolahnya di pindahkan ke tempat dirinya, menjadi sangat dekat dan akrab karena Tempat duduk mereka yang berdekatan selain itu Mikha seorang gadis yang tidak sombong ketika bocah laki-laki itu tidak banyak tau maka Mikha dengan senang hati membantu.


Sejak itulah mereka terlihat dekat dan akrab.


"Papa..! Ayo itu papaku." seru Bocah laki-laki yang dengan bangga memperkenalkan Papanya pada Mikha.


"Tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi berkulit putih langsung mematikan ponsel HPnya dan langsung menoleh kebelakang dimana sumber suara yang memanggil berasal dari sana.


" Mikha..! " seru laki-laki yang tidak lain adalah Rendra.


"Om Tampan..!


seru Mikha yang tidak kalah girangnya bisa bertemu dengan Om idolanya, entah apa yang menyebabkan Mikha begitu sangat menyayangi dan mengidolakan laki-laki yang ada di depannya mungkin karena diantara mereka ada ikatan darah yang kuat.


Dengan gerakan spontan seolah lupa akan situasi dan keadaan yang ada.


Rendra langsung berjongkok dengan merentangkan kedua tangannya dan tanpa menunggu Mikha langsung berlari dan masuk dalam pelukan Rendra.


Bocah laki-laki yang tidak lain adalah Arsel menatap heran pada kelakuan temannya dengan gerakan cepat pula berlari ikut memeluk papanya.


"Ini Papaku," seru Arsel yang membuat Mikha tertawa


"Hahaha, dia Om baik ku," jawab Mikha dengan santai.


Rendra memeluk keduanya dengan perasaan haru.


"Papa katanya mau membelikan Es yang Viraal itu, "


"Iya, ayo kita beli, "


"Om, apa Mikha juga akan di belikan? "


"Tentu saja sayang Ayo, tapi adanya di ujung sana kita pergi Naik mobil dulu, Nanti balik kesini. "


Dengan bersemangat Arsel langsung masuk ke dalam mobil, sementara Mikha diam berdiri.


"Mikha Sayang Ayo...!


" Nanti Mama bisa bingung mencari Mikha, "


"Sudah tidak apa-apa biar Nanti Om yang bicara kalau Mama kamu sampai marah. "


"Baiklah tapi janji ya, Om Nanti yangtanggungjawab kalau Mama MMarah" cicit Mikha meminta kepastian dari Rendra.


" Siap..! ayo Masuk. "jawab Rendra dengan senyum mengembang di bibir sungguh hatinya merasa sangat haru dan bahagia karena bisa bertemu dengan Putrinya.


Rendra membiarkan Mikha duduk di bangku belakang karena Rendra tidak ingin Mikha merasa tidak nyaman jika harus duduk berdesakan di depan.


Melihat semua Anak sudah keluar untuk beristirahat, sementara Vanessa tidak melihat Putrinya diantara mereka menjadi merasa sangat bingung dan resah Vanessa berjalan kesana kemari untuk bertanya.


"Maaf Mba, Mikha sudah keluar dari tadi, 'ucap salah satu Ibu ibu yang ada disana.


" Tapi, saya kok tidak melihatnya kira-kira kemana ya mbamba? "


"Maaf saya tidak tau, "


Dengan perasaan kecewa Vanessa kembali mencari keberadaan Putrinya dengan beberapa kali mengusap kasar wajahnya yang mulai berkeringat.

__ADS_1


__ADS_2