
Merasa kesal karena Bara berkata sangat menyakitkan membuat Arum bertekad untuk membalas semuanya.
"Kamu tidak apa-apa kan Arum? "
Vanessa yang merasa Iba dan bersimpati meskipun dilarang oleh Bara Suaminya tetap bertanya kepada Arum Karena bagaimanapun juga Vanessa sangat khawatir jika pintu yang menjadikan Arum terjaduk sangat keras itu bisa membuat Arum pusing bisa jadi pingsan.
"Tidak apa-apa Mba, Saya baik-baik saja tapi bolehkah saya meminta segelas Air putih, karena saya tiba-tiba merasa haus."
"Oh, boleh sebentar Aku ambilkan, "
"Sayang ngak usah dia bisa minum di bawah dan, ___
Belum selesai Bara berucap Vanessa sudah menutup mulut Bara dengan jari telunjuknya kemudian Vanessa menggelengkan kepalanya kemudian bangkit dari duduknya melangkah untuk mengambilkan Air Putih yang ada di atas meja di mana mejanya terletak di dekat jendela, tempat menaruh minuman dan juga beberapa Snack makanan ringan jika tiba-tiba malam-malam ingin ngemil.
Bara yang memahami apa yang akan Arum lakukan segera ikut bangkit hendak meninggalkan tempat duduknya untuk mengikuti langkah kaki Vanessa istrinya akan tetapi pergerakannya tertahan karena tangan Arum dengan kuat memegang tangan Bara.
"Mas..!
" Lepas..! jangan sembarangan Pegang-pegang, " geram Bara dengan suara penuh penekanan akan tetapi tidak keras.
Bara berusaha melepaskan genggaman tangan Arum yang kala itu memegang tangannya sementara Arum bermain dengan sangat cerdas di mana dia memanfaatkan waktu yang hanya beberapa detik untuk membuat Bara tidak berkutik di hadapannya.
"Bukankah Aku ini Istrimu ?"ucap Arum dengan tiba-tiba dan sontak saja hal itu membuat kedua bola mata Bara membulat seketika menatap Arum dengan pandangan mata yang tajam.
Sementara Arum yang menyadari akan hal itu tersenyum dengan sangat manis bahkan dengan sangat berani Arum menundukkan wajahnya tepat menghadap ke arah Bara dan dengan sengaja Arum memperlihatkan belahan bukit kembarnya yang sengaja dia suguhkan didepan Bara, sontak saja hal itu membuat Bara langsung membuang muka.
"Arum jangan kurang ajar kau, Apa yang kau lakukan, pergi cepat? "
Bara membentak Arum dengan nada suara penuh penekanan yang mana Suaranya sangat lirih dan hanya bisa didengar oleh Bara dan Arum sendiri.
"Kenapa marah Suamiku, bukankah malam itu kamu sangat suka memainkannya jangan munafiklah,"
" Waktu itu Aku mabuk, Aku tidak tau apa yang Aku lakukan,"
"Sudahlah Mas, Nikmati saja bukankah semua yang ada padaku juga milikmu? " ucap Arum sambil tersenyum santai.
Bara yang kesal dan geram dengan sikap wanita yang ada di depannya tangannya yang ada di bawah meja makan mengepal kuat dengan kedua gigi mengatup rapat Wajahnya terlihat merah padam dan dengan gerakan cepat bibir Bara berteriak dengan sangat keras memanggil istrinya.
__ADS_1
"Sayang...?lama sekali sih ngambil minumnya, cepat sedikit apa tidak bisa, lain kali tidak usah sok baik membantu jika tidak bisa dengan cepat melakukannya? "seru Bara dengan suara sangat keras bagaikan halilintar.
Vanessa yang kala itu sedang menuangkan Air putih kedalam gelas sungguh terkejut mendengarkan suaminya tiba-tiba berteriak memanggilnya dengan nada keras suaranya terdengar sangat marah.
" Iya, sebentar, "
"Cepat sedikit kalau tidak bisa ngambil itu tidak usah bilang bisa dan mau membantu. "Lagi-lagi Bara berteriak dengan keras.
Vanessa melongo mendengarkan celotehan Bara yang tidak ada hentinya.
"Issh, Mas Bara ini kenapa ya, kok marah-marah apa lagi kumat dia, " ucap Vanessa dalam hati karena merasa geli dengan sikap Suaminya yang aneh dan dengan terpaksa akhirnya Vanessa buru-buru melangkah untuk memberikan Air putih kepada Arum.
"Arum ini minumnya. "
Vanessa segera mengulurkan Air putih yang ada ditangannya kepada Arum. Sungguh Arum sangat cerdas ketika Vanessa berjalan kearahnya dia sudah kembali berdiri sedikit jauh disamping Bara.
"Trimakasih, Mba. "
Arum segera meneguk Air putih yang diulurkan Vanessa kepadanya.
"Mas, kenapa kau tarik sakit tauk, "
"Sudah diam kita keluar, Aku sudah muak dengan Pembantu Mama itu, dia sangat kurang ajar. "Crocos Bara tiada henti di sepanjang jalan bahkan Vanessa yang bingung dan akhirnya mengikuti langkah Suaminya hanya bisa bilang Oh dan Oh terang saja hal itu membuat Bara kesal dan gemas pada Istrinya.
Sudah bersusah payah ngadu pada Istrinya akan tetapi Istrinya hanya menjawab dan merespon Oh dan Oh tentu saja hal itu membuat Bara kesal bercampur dengan Gemas, tanpa bicara lagi Bara yang sudah tidak tahan berada di dalam kamarnya yang ada Arum di dalamnya dan ketika mereka sudah diluar pintu dan hendak menuruni tangga dengan cepat Bara langsung mengedong Istrinya menuruni tangga, sontak saja hal itu membuat Vanessa terkejut bukan kepalang bercampur dengan malu, dimana Arum yang hendak keluar juga sedang menatapnya.
"Mas, turunkan Aku bisa berjalan sendiri malu, lagipula kamu hari ini itu Aneh banget tadi tiba-tiba membentak sekarang kok bersikap manis kamu kenapa sih Mas, sudah turunkan Aku malu dilihatin Arum tadi, "
"Peduli, siapa suruh matanya melihat, "
"Tapi Mas Aku takut turunkan,
" Sudah, diam tidak bakalan jatuh kan ada Aku. "ucap Bara sambil tersenyum.
Arum yang melihat kemesraan dari Bara dan Vanessa mencebik kesal dengan pandangan mata menatap tajam ke arah Vanessa dan Bara yang kala itu sedang menuruni tangga,
" Silakan dinikmati kemesraan kalian kali ini tapi tidak akan lama lagi apa yang menjadi kebahagiaan kalian akan segera Aku hancurkan karena tidak akan lama lagi, cepat atau lambat istri tersayangmu itu akan mengetahui jika Aku adalah istrimu dan Aku pastikan dia tidak akan pernah memaafkanmu, Tunggu saja saatnya Pasti akan tiba, " Sinis Arum dalam hati yang mana kemudian Arum juga keluar dari dalam kamar menuruni anak tangga meskipun dengan hati dan perasaan yang sangat kesal bagaimanapun juga ada rasa cemburu di dalam hatinya yang mana Dia melihat Betapa perhatiannya Suaminya kepada istri pertama.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda Mikha dan Neneknya yang kala itu mendaftarkan sekolah dan berlanjut pergi ke mall untuk membeli beberapa sayuran dan keperluan yang ada di dalam rumah, untuk itu Mikha dan Neneknya belum pulang ke rumah.
" Mulai besok kamu harus bangun pagi dan tidak boleh kamu bangun terlambat karena kamu mulai besok harus berangkat sekolah Apa kamu mengerti Mikha? "
"Ya, Oma. Mikha mengerti kan Mikha sudah besar, "
"Hmmm, baguslah, kalau begitu bantuin Oma memilih sayur. "
"Oma, mau beli sayur apa?"
"Apa saja, "
"Oma, Oma? sayur ini mau? " Mikha menunjukkan sayur Brokoli pada Neneknya.
"Hmmm, "
"Oma? "
"Apa lagu? "
"Mikha mau beli Snack untuk Mama dan Papa boleh kan Oma?"
"Ya, belilah? "tapi cepat kembali Oma tidak mau menunggu lama apa kau mengerti? "
"Tentu saja Oma, Mikha pasti mengerti. "
Setelah mengucapkan itu Mikha langsung berlari menuju ke tempat barisan makanan ringan terpajang, sementara sang Oma hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Mikha yang sangat lucu.
"Andai kamu itu cucu kandungku pastilah aku akan sangat senang dan bahagia, sayangnya kamu bukan siapa-siapa dari keluargaku jadi Aku terpaksa menyayangimu, "gumam Oma Mikha dalam hati.
" Bruuugh...!
"Eh, Maaf kamu tidak apa-apa kan? tanya Oma Mikha dengan cepat.
Karena terlalu fokus memperhatikan Mikha, Oma Mikha berjalan tanpa melihat ke depannya yang mana tanpa sengaja menabrak seorang anak kecil yang kala itu sedang berjalan.
"
__ADS_1