
Mobil yang melaju dengan kecepatan kencang kini sudah mulai memasuki halaman tempat parkir di mana sudah berada dekat dengan Swalayan atau mall yang mana sudah sangat ramai pengunjung kala itu.
Bara memilih tempat yang teduh dengan disampingnya ada pepohonan rindang, hal itu akan membuat aman mobilnya dari sengataan sinar matahari yang panasnya bisa membuat mobil kesayangan Mamanya menjadi berubah warna, dari hitam cerah akan menjadi hitam keabuabuan.
Sengaja setelah menempatkan pada posisi yang aman Bara justru merebahkan kepalanya bersandar pada kursi duduknya dibelakang kemudi sambil tangannya yang lincah mulai meraih benda pipih yang ada di sakunya.
Arum yang melihat kelakuan Bara diam saja dan tidak segera turun akan terapi justru meraih ponsel hpnya membuang muka kesamping sambil menghembuskan napas dengan kasar, dengan mulut komat kamit seperti orang yang sedang membaca mantra.
"Huuuff, Baru juga sampai sudah sibuk mau menghubungi Istrinya, sungguh sangat menjengkelkan Aku harus memperluas stok kesabaran jika begini terus, memangnya mau bicara apa sih, kan tadi juga sudah berkecipa kecipi di depanku tanpa punya rasa malu sekarang masih mau telpon menghubungi, sebenarnya Mas Bara ini memang benar-benar buncin dan cinta banget sama istrinya atau cuma pura-pura, Mas Bara sengaja berbuat begitu hanya di depanku saja dan di hari hari biasanya tidak begitu, mungkin karena dia sangat ingin membuatku cemburu Ah bisa jadi juga seperti itu dan jika memang seperti itu berarti sebenarnya Mas Bara punya cinta padaku, ah senangnya dan jika melihat sikapnya sebelum malam itu, Mas Bara sangat baik dan perhatian pasti karena menjaga reputasi dan menghargai Istrinya ini Mas Bara pura-pura begitu. "Gumam Arum dalam hati sambil sesekali Wajahnya melirik pada Laki-laki yang ada disampingnya.
Bibir Arum tersenyum kala tanpa sengaja ketika dirinya melirik ke arah Bara saat itu, Bara juga sedang melirik dirinya.
Bara yang melihat senyum Arum ketika menatap dirinya dengan lirikan mata mendengus kesal Meskipun tidak terlalu terlihat.
Tangan Bara yang sudah memegang ponsel hp segera memencet satu Nomor dan melakukan panggilan kepadanya.
Bara menunggu dengan sabar panggilan teleponnya diangkat akan tetapi sampai 10 menit panggilan telepon yang dia berikan kepada istrinya tidak ada jawaban bahkan sampai telepon itu pun berhenti ssendiri, Wajah tampan yang tadinya kusut dan kesal karena sikap Arum yang menjengkelkan kini semakin kusut dan kesal, karena istrinya juga tidak segera menjawab panggilan telepon darinya.
Hal itu membuat Bara mendengus kesal karena dia melakukan panggilan telepon sampai 5 kali dan Vanessa tidak mengangkatnya sama sekali.
"Isssh, kemana sih Nesa. kenapa telponku tidak diangkat, lagi ngapain sih dia. " sungut Bara dengan Wajah kesal melempar ponsel hpnya ke depan.
__ADS_1
Arum yang duduk dengan manis di samping Bara lagi-lagi mencuri pandang ke arah Bara kali ini Bara yang kesal dan mendapati Arum sedang menatapnya sambil tersenyum, Bara pun menatap dengan Tatapan mata yang dingin dan penuh dengan amarah.
"Apa sih lihat-lihat, cepat turun dan beli baju, pilih mana saja yang kamu suka setelah itu kita pulang. "
"Kan Arum lagi menunggu Mas Bara, "
Jawaban Arum yang sangat tenang dan disertai dengan senyum yang mengembang di bibir membuat Bara semakin kesal dan geram bahkan Bara terlihat semakin marah, hal itu terlihat ketika Bara memukul setir mobil yang ada di depannya.
"Maksud kamu itu apa? "bentak Bara yang sedang diselimuuti rasa marah dan kesal di dalam hatinya.
Arum meneguk ludahnya sebenarnya perkataan Bara sangatlah menyakitkan dan tidak berprasaan karena Bara bicara dengan sangat keras dan kasar, akan tetapi Arum mencoba untuk memahami jika saat ini Bara mungkin belum bisa sepenuh nya menerima dirinya sebagai seorang istri dan Bara membutuhkan waktu untuk bisa menerima kehadiran dirinya dan Arum sudah membulatkan tekad untuk bersabar dan menunggu Bara bisa menerima kehadirannya dengan sepenuh hati, meskipun hal itu akan memakan waktu yang cukup lama.
"Kan Mas Bara yang akan menemani? "
Bara membulatkan kedua bola matanya ketika mendengar perkataan dari Arum di mana Arum berharap Bara menemani dirinya untuk membeli baju dan memilih baju yang akan dia beli.
"Aku, menemanimu, Tidak Aku tidak mau Aku hanya akan mengantarmu jadi kamu pergi saja sendiri, "
"Tapi, Mas, ___
" Tidak ada alasan apapun, cepat turun dan cepat kau memilih baju manapun yang kamu suka kemudian cepat kembali kesini, "
__ADS_1
"Lha Mas!"Nanti siapa yang bayar kalau Mas tidak ikut masuk, tidak Aku tidak mau Aku mau Mas menemani Aku untuk membeli baju, " kekeh Arum yang kini bersikeras tidak mau turun dari mobil.
Bara mengusap kasar Wajahnya sambil mendengus.
"Kamu khawatir tidak akan ada yang bayarin kamu begitu? "
Sambil tersenyum tidak peduli Pemuda Tampan disampingnya marah dan kesal, Arum menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Sungguh melihat hal itu Bara merasa sangat kesal dan geram Ingin rasanya Bara memukul Wanita yang ada di sampingnya akan tetapi hal itu tidak akan pernah Bara lakukan, karena Bara tidak akan berbuat di luar Batas.
Untuk itu Bara melampiaskan kekesalannya dengan memukul berapa kali setir mobil yang ada di depannya dan apa yang dilakukan Bara sempat membuat Arum sedikit terkejut karena Bara terlihat sangat emosi.
"Kau ini, sungguh keterlaluan, sudah pergi minta diantar masih juga minta ditemani, kamu kan bisa jalan sendiri dan saat bayar kamu bisa pergi menemui Aku dan Aku akan memberikan uang padamu dan kamu tinggal saja dulu belanjaan kamu itu begitu kan bisa, "
"Malu Mas, masak Aku harus bilang sama tukang kasir maaf Mas, Maaf Mba titip belanjaan saya dulu sebentar, Saya mau ke tempat parkiran untuk memanggil Suami saya karena dia yang akan membayar, masa Aku harus begitu dan bilang seperti itu mas, Bikin malu saja, bukan hanya Aku saja yang malu tapi Mas juga akan malu dibilang Suami tidak tahu diri, suami tidak punya perasaan dan suami tidak berhati dan tidak berperikemanusiaan membiarkan istrinya belanja sendiri, Bukankah itu akan sangat mencoreng Nama baik Mas Bara? belum lagi ketika datang dan ingin bayar uang, ketika Mas Bara berjalan semua pasang mata pasti akan tertuju pada Mas Bara, coba pikirkan orang-orang akan memandang dan menatap Mas yang pastinya dengan pandangan yang mengejek, mencibir dan pasti para Emak emak seantero Mall akan menyumpahi Mas dengan kalimat kalimat keramaat, pasti ini ya akan ada yang bilang Amit amit punya menantu ganteng dan tampan tapi pelit dan tidak berhati pasti begitu, "
"Sudah diam..!"bawel dan banyak bicara saja kamu itu, sudah cepat turun." bentak Bara dengan suara yang sangat keras, dimana dirinya kini juga ikut turun dari mobil.
Arum tersenyum penuh dengan kemenangan ketika melihat Bara juga membuka pintu mobil dan turun dari mobil, itu artinya apa yang Arum katakan telah membuat hati dan pikiran Bara terpengaruh dan berubah.
Dimana tadi Bara yang bersihkeras tidak mau mengantarkan dan menemani Arum untuk pergi berbelanja membeli baju, kini Bara juga ikut turun yang artinya dia juga pasti akan menemani Arum untuk berbelanja, diam-diam Arum tersenyum karena dia telah berhasil mempengaruhi Bara
__ADS_1
"Ternyata sebenarnya Mas Bara sangat mudah dipengaruhi Jika seperti ini aku sangat yakin cepat atau lambat aku bisa merebut Mas Bara dari tangan wanita itu, Mas Bara orangnya tidak terlalu berpikir panjang dia akan selalu memutuskan segala sesuatu dengan penuh kecepatan di mana emosinya dia yang akan bekerja terlebih dahulu bila dibandingkan dengan akalnya, "desis Arum bermonolog sendiri dalam hati sambil tersenyum.