
Dengan tubuh bergetar dan bibir seolah sulit bicara hingga Wajah ceria Arum langsung memudar.
"Bagus..!"jika kamu masih ingat dengan Abangmu ini, datang ke alamat yang Aku kirimkan ke ponsel hpmu sekarang juga, Aku membutuhkannya dengan cepat, awas kalau tidak datang. "
"Tit..!
tanpa menunggu jawaban dari Arum sambungan telpon langsung dimatikan.
"Abang, Halo, Abang jangan dimatikan dulu Arum tidak punya uangnya, " teriak Arum yang rupanya sia-sia dimana Telpon sudah dimatikan secara sepihak.
"Bagaimana iniApa yang harus Aku lakukan dari mana Aku bisa punya uang sebanyak itu, kenapa Abang Faisal selalu memerasku, bukankah dulu juga sudah mendapatkan cek yang jumlahnya tidak sedikit, lalu kemana uangnya bagaimana mungkin bisa habis hanya dalam hitungan bulan, apakah Abang Faisal main juuudi dan dia kalah, jika seperti ini mampuslah Aku, karena pasti semua Aku yang harus membayarnya, sedangkan Aku dari mana punya uang sebanyak itu, dan apa tadi katanya harus ada sekarang juga, Abang Faisal ini apa ngak mikir Aku akan dapat uang darimana, coba sekarang apa yang harus Aku lakukan agar Aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, "
Arum bangkit dari duduknya berdiri mondar-mandir maju mundur sambil sesekali menggigit jarinya.
"Mas Bara, ya Mas Bara. Aku harus meminta bantuan padanya agar Aku bisa mendapatkan uang, tapi Apa Mas Bara mau memberikannya padaku, Istri yang tidak dia cintai dan Istri yang terpaksa dia nikahi dan dia cintai, bagaimana jika permintaan Aku di tolak, Aduuuuh kenapa sih Abang Faisal ini selalu bikin ulah, tau begini Aku sumpahin biar masuuk penjaaraa saja biar kapok, masak selalu Aku yang dia ganggu, tapi mau Ngagguin siapa lagi adiknya juga cuma Aku meskipun perlakuan dari Abang Faisal sangat buruk akan tetapi setidaknya dialah orang yang telah membuat Aku bisa tumbuh dewasa dan hidup di dunia ini, coba tidak ada dia mungkin Aku sudah menjadi tanah, tapi masalahnya sekarang apakah Mas Bara sudiih membantu jika tidak bagaimana, mau minta tolong sama Tante sukma juga sepertinya sangat tidak bisa karena Tante tidak ada di Rumah, tidak ada jalan lain Aku harus meminta bantuannya."
Bergegas Arum melangkah menuju kamar lantai atas dimana Bara sedang beristirahat di dalam kamarnya.
"Tok.. Tok.. Tok..! "
"Masuk, " seru Bara dari dalam.
Dengan perlahan-lahan Arum membuka pintu kamar kemudian masuk kedalam.
__ADS_1
"Ada apa, apa kamu tidak bisa tidur dan ingin di temani, ayo jika ingin di temani tidak ada Vanessa jadi kamu bisa bebas meminta bantuanku. '
" Tidak, Mas bukan itu maksud dari tujuan Aku datang kesini, '
"Lalu apa jika bukan itu, apa kamu mau makan di luarluar bersamaku, "
"Bukan itu juga, "
"Baiklah jika bukan itu lalu apa? "
"Mas, Aku butuh uang apa Mas Bara bisa meminjamkan Aku uang Nanti akan Aku ganti, jika Aku sudah melahirkan Aku akan bekerja di tempat Mas lagi, "
"Uang?
Arum menggangguk lemah.
"Beneran Mas mau meminjamkan Aku uang? "
Bara menganggukkan kepala.
"Katakan berapa yang kamu mau, "
"10juta Mas, "jawab Arum sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Bara mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Arum.
" Uang sebanyak itu mau kamu buat apa? "tanya Bara yang mulai merasa curiga dengan permintaan Arum.
Bara tidak mengatakan apapun akan tetapi dirinya yakin jika uang sebanyak itu bukan untuk kepentingan dan kebutuhan Arum sendiri.
Bukan hal yang aneh lagi jika Arum membutuhkan banyak uang karena sejak dulu Arum memang selalu memiliki kebutuhan mendesak tentang keuangan dan Bara baru memahami dan mengerti setelah bertemu dengan saudara Arum yang bernama Faisal dan dialah yang selalu meminta uang kepada Arum.
Bara yakin semua ini pasti juga ada hubungannya dengan Faisal karena tidak mungkin Arum membutuhkan uang terlalu banyak sementara dirinya berada di dalam atap dan Rumah yang sama dengan dirinya, tidak membutuhkan uang untuk membayar kontrakan ataupun untuk biaya makan untuk itu Bara yakin semua pasti karena permintaan dari Abangnya Arum yang bernama Faisal.
"A-Aku, __
" Sudahlah tidak perlu dijelaskan baiklah tunggu sebentar,"
Bara segera masuk ke dalam dan tidak menunggu lama Bara keluar dengan membawa selembar cek yang langsung dia ulurkan pada Arum.
"Ambil ini, disini ada 15 juta ambilah, sudah Aku lebihkan sisanya bisa kamu simpan. "
"Ini beneran Mas, trimakasih Aku akan mengembalikan setelah Aku bekerja. "
"Tidak perlu, kamu tidak perlu mengembalikan, bukankah semua sudah menjadi tanggung jawabku. "
"Trimakasih Mas, kamu baik sekali." seru Arum sambil langsung memeluk Tubuh Bara dan Bara hanya tersenyum miring.
__ADS_1
"Mintalah terus uang kepadaku Arum, karena dengan begitu Aku bisa lebih mudah untuk bisa melepaskan tanggungjawab ku bukan kah hal ini sama dengan Aku membeli Anak yang ada di dalam rahim mu jadi Anak itu Nanti hanya akan menjadi hak Aku dan Vanessa bukan lagi hak kamu karena Aku sudah menebusnya dengan uang yang akan selalu kamu minta untuk kamu berikan kepada Abang brengsek mu itu, " gumam Bara dalam hati.
Sementara Arum bernapas lega karena telah mendapatkan uang yang di minta oleh Abangnya, dan untuk saat ini Arum tidak perlu lagi pusing dan bingung dengan permintaan Abangnya sungguh dirinya bersyukur karena telah mendapatkan suami yang begitu baik dan pengertian yang sesungguhnya Arum tidak menyadari jika yang Bara lakukan semata-mata agar Arum tidak bisa memilki hak lagi atas Anak dan dirinya, karena Bara bertekad untuk membesarkan anaknya bersama istrinya Vanessa bukan dengan Arum.