DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 130.Kekesalan Bara


__ADS_3

Sudah Mba Sri duga Nyonya Bosnya ini sangat pengertian dan ramah, kalau Bos nya dia orang lain mana mau memasak untuk semua orang dan membiarkan pembantunya untuk beristirahat yang ada mereka akan marah-marah dan marah-marah bahkan mungkin akan keluar umpatan-umpatan yang sangat meyakinkan berbeda dengan bosnya yang ini, tanpa bertanya bahkan tidak berasa keberatan sedikitpun dengan senang hati mengizinkan pembantunya untuk beristirahat dan dirinya yang memasak.


Untuk saat ini Vanessa memang berbeda dengan saat lalu ketika dirinya masih menjadi istri Rendra dimana saat itu dia tidak pandai memasak.


Jangankan memasak menyentuh barang-barang di dapur pun Vanessa sangat jarang melakukannya, mungkin karena Vanessa tidak terbiasa berada di dapur sejak dirinya masih kecil dia selalu mendapatkan perhatian dari Ayah dan ibunya yang cukup berbeda dengan Eva adiknya.


Vanessa tidak pernah diizinkan untuk melakukan segala tugas yang ada di dapur, berbeda dengan Eva yang kerap sekali mendapatkan perintah dari Ibunya untuk membantu di dapur.


Meskipun merasa Aneh akan tetapi Vanessa tidak pernah mencari tahu apa yang menyebabkan kedua orang tuanya melarang dirinya untuk bersentuhan dengan yang namanya dapur.


hal yang paling mengejutkan ketika Eva marah padanya Vanesa dan mengatakan jika dirinya bukan anak kandung dari Ayah dan ibunya tapi yang mengherankan Bukankah setiap Ayah dan ibu yang bukan orang tua kandung atau mereka adalah ayah dan ibu tiri pastilah sikapnya akan sangat buruk kepada Putra angkatnya tapi yang terjadi pada pada Vanessa sungguh berbeda dia sama sekali tidak mengalami keburukan apapun bahkan kerap sekali apa yang dilakukan ayah dan ibunya adalah memberikan kasih sayang dan memanjakan dirinya dengan sangat besar dan hal itu yang membuat Eva membenci dirinya tapi lagi lagi Vanessa tidak mencari tahu Apa penyebab dari semua itu dan baru saat ini Vanessa mulai berpikir tidak ada yang namanya ibu tiri itu baik tapi yang terjadi pada kehidupannya sungguh berbeda 180 derajat di mana kedua orang tuanya sangat baik bahkan lebih baik.


Vanessa baru bisa belajar memasak ketika menjadi istri Bara dimana Mba Sri pengasuh Putrinya dengan sabar mengajari Vanessa untuk memasak.


Hari ini Vanessa menyiapkan menu yang sudah di rancang oleh Mba Sri pengasuhnya, ada pepes Ikan tempee goreng, sayur lodeh krupuk udang dan sayur bening bayam di campur dengan jagung ,sayur bening khusus untuk Mikha dimana dia tidak suka dengan sayur lodeh.


Di dalam kamar Bara yang masih tertidur dengan pulas sambil memeluk guling membuat Arum menggelengkan kepalanya.


"Ternyata Mas Bara kalau tidur hanya suka memeluk guling, Aku akan buat kejutan pada nya, "


Setelah memastikan pintu kamar tertutup Arum meraih guling dengan sangat perlahan dan dengan perlahan-lahan tidur disamping Bara, sesekali tangan Arum membelai lembut Wajah dan menatap dengan penuh Cinta.


"Kau benar-benar sangat Tampan, " gumam Arum dalam hati yang terus tiada henti menatap Wajah Bara.


Bara yang merasakan sebuah tangan membelai Wajahnya mulai terbangun memilih diam dan tetap terpejam.


"Diam diam Istriku mulai mengaggumi Aku juga hmm, benar kata pepatah sekeras-kerasnya sebuah batu bila setiap hari terkena tetesan Air lama-kelamaan akan hancur juga, begitu juga hati Istriku ini rupanya dia mulai membuka hati dan menerima Aku sebagai Suaminya, baguslah,hari ini bolos kerja saja enak kalau di perhatikan Istri kapan lagi bisa dibelai belai begini, peduli dengan Papa yang marah karena Aku bolos kerja pasti Papa paham kan Putranya lagi bermesraan, " gumam Bara dalam hati yang terus mencoba memejamkan kedua bola matanya menikmati setiap sentuhan dari tangan Istrinya.


Arum yang terus menggagumi Bara mulai mendekatkan Wajahnya.


"Mas Bara tidurnya pulas banget kecuup sedikit kurasa tidak apa-apa. "gumam Arum yang kini mulai mendekatkan Wajahnya.


Bara yang masih berpura-pura tidur menciuum Aroma Parfum yang berbeda sangat dekat dan menyengat hidungnya langsung membuka mata.


" Kamu baru beli parfum baru sayang, tumben pakai parfum Aroma melati biasanya tidak suka, "ucap Bara sambil membuka kedua bola matanya dan alangkah terkejutnya Bara ketika mengetahui siapa yang ada diatas Ranjangnya.


Dengan gerakan reflek Bara mendorong tubuh Arum menjauh darinya.


" Kau, ngapain kau berada di dalam kamarku, lancanng, keluar kau..?bentak Bara dengan suara yang keras dan kasar.


"Sayang dimana kamu? seru Bara sambil bangkit dari tidurnya dengan terburu-buru.


" Mas kamu itu kenapa sih, Aku ini Istrimu jangan bersikap seperti orang Asing yang tidak pernah tersentuh sama sekali, "


"Diam, kau, keluar dari kamarku, "


Arum tersenyum sinis sambil berjalan mendekati Bara.


"Kalau Aku tidak mau bagaimana?


" Jangan macam-macam kamu Arum, "


"Aku Macam-macam, apa tidak salah itu Mas, bukannya Mas yang suka macam-macam pada tubuhku, ayolah Mas saat ini tidak ada siapa siapa kamu tidak perlu munafik bukankah saat itu Mas juga sangat menikmatinya sekarang Aku sudah Sahabat menjadi Istrimu dan kita boleh melakukan apa saja jadi berhentilah sok jual mahal padaku, "


"Issh, itu sih maumu sudah kubilang berapa puluh kali waktu itu aku, __


" Mabuk, tidak sadar begitu kan, pokonya Aku tidak mau tau Aku juga istrimu Aku juga punya hak atas dirimu Mas, untuk itu Aku juga berhak menuntut kasih sayang dan perhatian kamu, '


"Jangan mimpi karena Aku tidak pernah mencintaimu, keluarlah sebelum Aku berteriak, "


"Waoo, galak sekali Suamiku ini, tapi Aku tidak takut dengan Ancamanmu, berteriaklah maka bajuku akan kulepas semua dan mereka pasti mengira kamu yang sudah memaksaku, "


"Omong kosong kamu berani mengancamku? "


"Kenapa tidak, Aku akan memperjuangkan apa yang menjadi hakku, "


"Arum Aku tidak ingin bertengkar atau berdebat keluarlah Aku tidak mau Istriku melihatmu disini masalah kita itu karena kesalahanku Aku minta maaf Aku akan berikan apapun yang kamu mau tapi tidak dengan hati dan diriku jadi mengertilah. "


"Enak saja seperti itu, kalau Aku hamil bagaimana, apa juga tidak berhak atas dirimu apa tega kamu buang anakmu darah dagingmu sendiri, Mas. "


"Jika kamu hamil Aku akan bertanggungjawab anak itu juga akan mendapatkan perhatian dari Aku tapi bukan kamu mengertilah Aku sangat mencintai Istriku tolong jaga perasaannya. "


"Kamu memang egois Mas dengannya kamu bisa bilang jaga perasaannya lalu aku bagaimana dengan perasaanku? "


Bara mengusap kasar wajahnya.


"Maaf..!


" Tidak Aku tidak mau itu Aku juga mau mendapatkan hakku sama dengan Wanita itu, "


"Arum..!mengertilah Istriku tidak akan menerima dia akan meninggalkan Aku jika tau Aku berkhianat. "bentak Bara yang tersulut emosi.


"Baguslah, biarkan saja dia pergi toh Aku juga bisa memberikan kepuuasaan buat kamu Mas, jadi biarkan saja dia pergi, "


"Plaaak..! jaga ucapanmu, "


"Mas, kau menamparku? "


"Pergilah jangan mengagguku, Aku pusing! "

__ADS_1


" Kenapa, tidak bisa dan kenapa Aku tidak boleh, Aku tidak peduli karena kamu sudah merusak kehormatanku? "


"Diam, itu jika kamu hamil sekarang pergilah, Nanti kita bicarakan lagi, "


"Kenapa sih Mas, kamu tidak bisa memberikan Aku sedikit saja perhatian bukankah setiap hari kamu memberikan perhatian pada istrimu, Aku berjanji tidak akan membocorkan Rahasia kita ini tapi dengan syarat berikan Aku perhatian Aku juga ingin mendapatkan sedikit perhatian dari Suamiku apa itu salah, " ucap Arum yang mulai menitikkan Air mata.


Bara yang melihat Arum menitikkan Airmata mulai merasa iba, dengan perlahan lahan Bara mulai merengkuh tubuh gadis yang ada didepan nya.


"Maafkan, Aku, tapi mengertilah Aku sangat, ___


Arum yang mendapatkan pelukan dari Bara tersenyum bahagia dan tangannya langsung menutup bibir Bara ketika hendak bicara.


" Jangan bicara lagi, Aku mengerti Aku hanya ingin Mas juga perhatian padaku, Aku tidak apa-apa hubungan kita ini sangat rahasia Aku sudah senang jika Mas mau memberikan sedikit saja perhatian padaku.


Bara tidak menjawab apapun hatinya berontak tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Bara hanya memejamkan kedua bola matanya sungguh situasi yang sangat sulit baginya.


Apa yang diminta Arum juga bukanlah suatu hal yang berlebihan dan lagi Arum juga mau berjanji untuk tetap diam dan tidak bicara apapun tentang hubungan mereka bukankah itu sangat kejam jika dirinya juga bersikap dingin dan sinis.


Bara terus bermonolog dalam hati sambil memejamkan kedua bola matanya dan tiba-tiba bibinya terasa ada yang menyentuh membuat Bara langsung membuka mata dan mendelik karena Arum telah meluuumaat bibirnya.


Bara tidak membalas sdikit pun, bibirnya tetap terkatup tanpa mau terbuka meskipun bibir Arum berusaha menerobosnya.


Bara mulai jenggah dengan sikap Arum yang mulai berani, dengan perlahan Bara mendorong tubuh Arum menjauh darinya.


"Sudah cukup sekarang keluar lah, "


"Baik, tapi Aku ingin merasakan sekali lagi, "


Belum sempat Bara memahami maksud dari Arum tiba-tiba bibir Arum sudah kembali mengeecuupnya.


Lagi-lagi Bara dibuat mendelik dengan apa yang dilakukan Arum.


"Tok, Tok, Tok..!


suara ketukan pintu membuat bara mendorong tubuh Arum menjauh darinya kemudian dengan cepat Bara berlari masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar mandi beras segera mencuci bersih bibirnya yang baru saja tersentuh oleh Arum.


" Sial, kenapa sekarang Aku tidak bisa berbuat apa-apa, ini benar-benar gila, apakah Nesa yang mengetuk pintu itu, bagaimana ini apakah ada bekas lipstik gadis sialan itu, jangan sampai ini terjadi, " geram Bara yang kesal pada dirinya sendiri.


Bara mulai mengosok bibirnya dengan Air berkali-kali.


Di luar Arum membuka pintu dan mendapati Mba Sri disana.


"Ulet Bulu apa yang kamu lakukan disini hah? "


"Ssssstt, jangan berisik kamu datang terlambat Aku sudah mendapatkannya daaaa, " ucap Arum sambil melangkah keluar kamar.


Tinggalah Mbak Sri berdiri dengan wajah bingung , Mba Sri benar-benar tidak mengerti dengan maksud ucapan dari Arum.


"Mba Sri, ada apa mana Nesa? "


"Itu, Tuan, Non Nesa dibawa sedang menyiapkan sarapan pagi, "


"Suruh dia Naik keatas sekarang juga, "


"Baik, Tuan, '


" Ada apa ya, Tuan sepertinya sedang marah nada suaranya kasar dan dingin. "


Sampai dibawa Mba Sri segera meminta Vanessa untuk masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar Bara menunggu dengan terus mengusap bibirnya.


"Kamu harus menghapus semua bekas dari Wanita itu, Menyebalkan sekali, "


"Krieekk..! pintu dibuka dari luar.


" Mas memanggilku, "


"Hmm, masuk dan kunci pintu nya. "


"Memangnya ada apa Mas, sebentar lagi kita akan sarapan pagi bersama, "


"Sudah lakukan saja, sarapannya Nanti. "


Vanessa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan, dengan sedikit terpasa menuruti apa yang Suaminya perintahkan.


"Bagus, sekarang Aku tanya saat Wanita itu kesini kamu dimana?


" Maksudnya Mas aoa?


"Itu, si Arum, "


"Oh, dia Aku ada disini memangnya ada apa? "


"Tidak ada apa-apa, jadi kamu yang mengizinkan dia masuk? "


Vanessa mengagguk. Melihat Vanessa mengagguk Bara tersenyum miring hal itu membuat Vanessa merasa heran.


"Ada apa sih Mas, "


"Tidak ada apa-apa, cuma, ayo, __

__ADS_1


Tanpa memberikan jawaban Bara langsung menarik tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya kemudian memagut dengan rakus bibir istrinya.


Vanessa yang tidak menyangka akan keinginan Suaminya hanya bisa mendelik karena bibirnya terbungkam dengan bibir Bara yang sangat rakus menjelajahi.


"Bersihkan semua bekas dari Wanita sialan itu sayang, "ucap Bara dalam hati bahkan Bara menggigit kecil bibir Istrinya ketika Vanessa belum mau membuka dan membalasnya.


Awalnya Vanessa mengira Suaminya hanya memanggut bibirnya tapi ternyata Bara mulai melakukan hal yang lebih.


" Mas, jangan pagi ini Mikha mau sekolah dan, __


"Itu biar menjadi urusan Mba Sri dan satpam, sudah kita nikmati saja saat ini, "


"Tapi, Mas, __


" ini Pagi Nanti ada yang datang, "


"Biar nunggu diluar, kan sudah dikunci, lagi pula salah kamu sendiri semalam Aku tidak dikasih, " cicit Bara berpura-pura marah, tapi yang sesungguhnya sengaja memberikan hukuman pada Istrinya karena dirinya telah disentuh Wanita lain.


Di luar Arum yang sudah mendapatkan bibir Bara tersenyum bahagia, bibirnya tidak henti-hentinya mengulum senyum.


"Hmmm, bahagia sekali apakah Menantuku ini baru saja mendapatkan durian runtuh. "


"Tante, bikin kaget saja, "


"Sudah ayo kita sarapan pagi, "


Nyonya Sukma dan Arum segera berjalan menuju ke Ruang makan. Sementara Mikha sudah disuapin Mba Sri dan dibawa keluar untuk berangkat sekolah bersama dengan Mba Sri dan satpam.


"Hei, kamu, cepat panggil Tuanmu untuk turun makan, kenapa mereka berdua tidak terlihat, "


"Nyonya besar ini bagaimana, sudah Nyonya makan saja sendiri bersama tuh Uler Bulu, Tuan pasti lagi minta Vitamin sama Non Nesa, "


"Vitamin, memangnya Mas Bara sakit apa? tanya Arum yang tidak paham maksud dari Mba Sri.


" Ulet Bulu, masa lo gak paham, Vitamin untuk kepuaasaan Tuan lah, '


"Hah, siang-siang begini? "


"Bukan cuma siang tapi setiap Waktu, sudahlah selamat makan tidak perlu menunggu Tuan dan Nyonya, "


Mba Sri segera melangkah pergi. Arum mengusap kasar wajahnya ada rasaa cemburu dan tidak Terima jika Suaminya bersama dengan Wanita lain.


"Aku harus melihatnya."


"Arum kau mau kemana, cepat makan, "


"Oh, iya Ma,"


Dengan sangat buru-buru Arum makan karena dirinya ingin mengetahui apa benar yang dikatakan pengasuhnya Mikha.


"Arum Tante ada urusan diluar, kamu baik-baik di rumah ya? "


"Oh, iya Tante, "


dua puluh menit kemudian Arum menylesaikan makannya benar-benar Arum makan dengan sangat cepat karena Arum benar-benar ingin mengetahui apa yang dikatakan oleh Mbak Sri itu benar atau salah karena tidak mungkin mereka melakukan percintaan di pagi hari menjelang siang.


Setelah Nyonya Sukma pergi Arum segera berlari Naik ke kamar atas tempat dimana Bara dan Vanessa beristirahat.


Bagaikan pencuri Arum mendekatkan telinganya dan Arum merasa kesal karena tidak melihat dan tidak mendengar apapun.


Di dalam kamar alaram tanda bahaya berkedip kedip.


Bara yang mengetahui tanda Alaramnya berbunyi Menarik nafas kesal.


"Ngagguin orang saja pasti wanita sialan itu, baiklah kamu boleh melihat dan mendengar biar kamu tau hanya dari Istriku ini Aku akan meminta kepuuasaaan.


Bara segera menekan tombol berwarna kuning dimana tombol itu membuat pintu yang ternyata ada lapisan kaca sebesar foto ukuran tiga kaili empat, terbuka tirainya dimana dari kaca tersebut bisa melihat kegiatan di dalam meskipun tidak seluruhnya.


"Mas, sudah, jangan lagi cukup, "rengek Vanessa.


"Tidak sayang Aku masih kurang Aku belum puuaass jika hanya sekali, boleh ya, "pintar Bara dengan pandangan mata yang sayu, membuat Vanessa hanya diam.


Sementara Bara tersenyum miring sambil melihat ke arah kaca yang sengaja dia buka tirainya.


" Silakan dilihat sesukamu, biar kamu tau apa yang terjadi waktu itu bukan karena kemauanku, lihatlah Aku lebih suka pelayanan istriku dari pada tawaranmu, " gumam Bara dalam hati.


Di luar Arum meneguk kasar ludahnya.


" Benar-benar gilaaa mereka, masak pagi begini mereka begituuan bukankah mereka bukan lagi pengantin baru, iih norak. '


Cerdas dan tidak ingin bisa terlihat semua Bara kembali mematikan tombol pembuka tirai kaca kecil dan kembali menempatkan pada posisi Normal kedap suara.


"Sedikit saja biar kamu tau Aku tidak memiliki naaff suu kepadamu dan hanya kepada Istriku Aku mau." ucap Bara lagi-lagi bermonolog sendiri.


Lain Bara lain pula dengan Vanessa, meskipun bukan hanya sekali melayaani sang Suami entah mengapa di dalam hatinya belum ada getar getar kepuaasaan yang hakiki dimana dirinya hanya akan mencapai ******* apabila membayangkan Rendra yang menyentuhnya.


"Ini sungguh gilaa mau sampai kapan Aku begini, kenapa sulit sekali menghapus dan membuang kenangan dari Dokter sialan itu, Aku harus selalu membayangkan dirinya menyentuhku baru Aku bisa mencapai puncak jika tidak Mas Bara akan kecewa karena Aku tidak mendapatkan puncaknya sial sungguh sial pasti ini penyakit Aku akan konsultasi kan pada dokter lain aku tidak mau seperti ini terus bisa gilaaa aku, yang tidur dengan ku siapa yang dibayangkan siapa. "


Arum yang mencoba untuk melihat kembali dan tidak melihat apapun lagi mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Kok hilang, mana kaca untuk mengintipnnya seingatku disini kan kok sekarang tidak ada, kok bisa begini ya? "


Arum yang pusing mengaruk kepalanya kemudian memutuskan untuk turun keluar dari kamar Bara.


__ADS_2