DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 164.Vanesa dan Arum bertemu.


__ADS_3

Vanessa yang merasa kesal karena pintunya ternyata dikunci dari luar kembali melangkah mundur untuk duduk.


"Menyebalkan, ngapain sih pakai menggunci pintu segala, bikin kesal tapi Aku kan tidak perlu khawatir kalau masalah terkunci di dalam Aku ahlinya, dulu Aku sering membantu membuka pintu yang terkunci ketika Aku masih bekerja menjadi Suster dan sekarang ngapain pusing baiklah Aku akan memberikan kejutan untuk mereka berdua, "


Vanessa segera membuka pintu menggunakan Penjepit rambut.


Di luar Bara yang sudah berada di dapur segera menemui Mba Sri yang saat itu sedang menyiapkan makanan untuk sarapan Pagi.


Mba Sri sedikit terkejut karena Bara tiba-tiba sudah berdiri di samping nya.


"Tuan, bikin kaget saja, " ucap Mba Sri sang pengasuh Mikha yang kala itu melihat Tuannya sudah berdiri di sampingnya, penasaran karena Tuan dan Nyonya Mudanya sampai pukul 7.00 belum turun Mba Sri menatap Tuannya dari atas sampai bawah, kemudian diam-diam mengulum senyum.


"Pantas kesiangan Tuan Rambutnya basah pasti semalam olahraga bebas, hihihi, "gumam Mba Sri dalam hati.


Sementara Bara yang melihat Mba Sri senyum-senyum menaikan satu alis matanya.


" Apa? ada apa Mba kenapa kamu senyum senyum begitu? "


"Ah Tuan tidak apa-apa, kenapa Tuan tidak memberikan perintah lewat telpon saja, ini pasti Tuan dan Non Nesa mau makan berdua di dalam kamar kan?


Bara yang tidak menyangka jika pembantunya tau keinginannya dan tujuannya datang kedapur nmengeryitkan dahinya.


"Kok Mba Sri tau jika Aku dan Nesa mau makan di dalam kamar saja. "tanya Bara dengan raut wajah sedikit bingung karena pengasuh dari Putri angkatnya selain pintar memasak dan mengasuh Putrinya ternyata buka pintar menebak pemikiran orang.


"Ah, Tuan jelas tau kan Non Nesa pasti capek dan lelah karena Tuan ajak olahraga malam dan pastinya memilih makan di dalam kamar. "


"Astaga, otak kamu itu Mba Sri mikir nya jauh sekali bagaimana kamu bisa berpikir begitu, semalam justru satu Ciuuuman darinya gak dapat pagi ini belum Ambil jatah," ucap Bara sambil menepuk nepuk bahu Mba Sri yang sedang melongo karena dirinya sungguh terkejut dan tidak menyangka jika Tuannya sangat looss dan jujur, membuat Mba Sri geli sendiri.


"Sudah cepat Mba bantu siapin makanan untuk sarapan pagi kami, Nesa minta masakan kepiting kamu sudah matang kan? "


"Oh sudah Tuan semua sudah siap, sebentar saya siapkan."


Mba Sri segera mengambilkan lauk dan Nasi menaruh semuanya di atas Nampan kemudian di berikan pada Bara.


"Ini Tuan, silakan di bawah, kasih Non Nesa makan yang kenyang dan enak biar dapet jatah, Ruma" cicit Mba Sri sambil tersenyum semetara Bara mendelik mendengarnya.


" Huuuusss, kamu itu, dah sana kembali kerja hari ini Kebutuhan Mikha semua Mba Sri yang kerjakan ya, kami tidak bisa mengontrol untuk hari ini. "


"Iya, Tuan!"


Bara segera keluar dari dapur sambil membawa Nampan untuk dibawah ke kamar Atas.


"Mas, Tunggu..!


Langkah kaki Bara langsung terhenti ketika dirinya dipanggil dan tangannya di geengam seorang Wanita yang tidak lain Arum.


Bara menarik napas panjang dan menghembuskanya dengan berat, kesal dan merasa terganggu.


" Arum kau ada apa?


"Mas bawa apa itu, makanan ya, mau makan berdua dengan Istri pertama mu, lalu Aku bagaimana? "


"Arum kau ini kenapa sih, sudah pergilah ke Ruang makan dan makanlah bersama dengan Mama, "


"Tidak mau Aku mau makan dengan Suamiku, Aku tidak mau anak ini rewel dan nendang nendang Aku lagi kalau tidak di turuti. "

__ADS_1


"Isssh, kamu jangan keterlaluan, sudah kubilang diam dan jangan membuat sesuatu yang aneh di di dalam rumah sudah minggirlah Aku mau Naik keatas, "


"Tidak mau Aku juga butuh perhatian darimu Mas, masa Mas tega sama Anak kamu sendiri, "


Bara mengeram kesal dengan mengacak rambutnya.


"Tunggu di kamarmu, Aku akan temani kamu makan tapi setelah ini, sekarang tolong minggir dan mengertilah. "bentak Bara yang merasa sangat kesal.


Dengan wajah masam Arum mulai melepaskan gengaman tangannya.


" Baik, Aku tunggu di kamar tapi Aku tidak mau lama-lama Mas harus cepat datang. "


"Ya sekarang minggirlah. "


Dengan berat hati Arum memberikan jalan pada Bara yang hendak lewat, Bara segera melangkah meninggalkan Arum yang menatapnya dengan wajah masam dan kesal.


" Sudahlah untuk saat ini aku bersabar saja lebih dulu daripada pusing memikirkan Mas Bara, Meskipun aku paksa dia tidak akan mau jika sudah berkeinginan untuk makan dengan istrinya.


Tidak apa-apa Aku lebih baik menunggu daripada membuatnya marah dan tidak akan menemui aku, lagi pula Aku mendengar dari mama Sukma Mas Bara dan wanita itu tidak memiliki anak dan yang saat ini bersamanya, itu bukanlah anaknya itu artinya mas Bara saat menikah dengan Wanita itu dia mendapatkan barang bekas dan sudah pasti akulah yang akan dipertahankannya karena Aku sedang mengandung anaknya Mas Bara darah dagingnya dan sudah bisa dipastikan juga segala kekayaannya adalah milik Anakku Bukan milik anak Wanita itu, "lirih Arum bermonolog sendiri sambil melangkah menuju ke dapur.


Arum segera membuat susu untuk dirinya yang mana selalu dianjurkan untuk di minum setiap Pagi agar bayinya sehat.


Bara yang Naik ke kamar atas dengan membawa Nampan berisi makanan dan ketika mengeluarkan kunci hendak membuka pintu sungguh terkejut karena pintu kamarnya sudah terbuka.


Dengan perasaan panik Bara bergegas masuk dengan langkah kaki yang cepat dan meletakkan Nampan yang dia bawa di atas meja dengan sedikit terburu-buru.


"Pintunya terbuka kemana Nesa, apa Aku tadi lupa tidak mengunci pintu, tidak itu tidak benar seingatku Aku sudah menguncinya agar Vanessa tidak keluar dari dalam kamar."


Bara terus bermonolog sendiri sambil berteriak-teriak memanggil-manggil istrinya, sungguh Bara kali ini di liputi rasa takut dan Was-was yang semakin dalam.


"Sayang, kamu dimana?


" Jangan-jangan Vanessa sudah turun ke bawah dan Aku tidak tau Aku harus segera mencarinya jangan sampai Vanessa bertemu dengan Arum Aku khawatir mereka bertemu dan Arum tidak bisa menyimpan rahasia."


Dengan langkah yang terburu-buru Bara kembali turun dari kamarnya.


_____


Vanessa yang sudah berhasil membuka pintu segaja berjalan ke ruang Tamu pergi ke Kamar Tamu utama karena disana kamar Arum berada.


Niatnya untuk ke kamar Arum terhenti ketika melihat Mba Sri sedang menyempatkan diri untuk menyiram bunga.


"Mba Sri belum berangkat Nanti Mikha terlambat sini biar Aku yang siram bunganya Mba Sri cepat bersiap kasian Mikha dan Mang Dadang menunggu di depan. "


"Baik, Non, duh Maaf jadi ngerepotin, "


"Tidak apa-apa pergilah, jangan sampai Mikha telat sampai di sekolah. "


"Baik, Non, "


Vanessa yang awalnya berniat untuk pergi menemui Arum dia tahan karena saat ini Vanessa akan menyelesaikan tugas Mba Sri dalam menyiram bunga.


Bunga-bunga yang beraneka ragam warna dan juga beraneka ragam jenis membuat Vanessa sedikit lupa akan Tujuan nya.


Arum yang sudah menyelesaikan minum susu nya berniat untuk masuk kedalam kamar, akan tetapi tanpa sengaja kedua bola matanya yang menatap ke luar halaman samping melihat Vanessa sedang menyiram bunga kedua tangannya menggepal kuat.

__ADS_1


"Wanita sialan itu ada disini, cepat sekali makannya dia benar-benar Wanita yang sangat menyebalkan pandai sekali mencari perhatian dengan berpura-pura membantu bekerja di Rumah ini dan ini kesempatan Aku untuk membalasnya, membalas semua apa yang dia lakukan padaku tadi malam. "


Dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa Arum membuka pintu samping penghubung antara halaman belakang dan ruangan dalam Rumah.


"Hei, Wanita sialan trima balasanku ini..!


" Plaaakk.. plaaaak, "


Dua tamparan keras langsung mendarat pada Wajah Vanessa yang kala itu tangannya yang baru saja meletakkan slang Air karena sudah selesai menyimram, di tarik dengan kasar dan keras, membuat tubuhnya berputar menghadap Wanita yang menariknya.


Sungguh hal itu membuat Vanessa terkejut dan belum hilang rasa terkejutnya tiba-tiba Wanita yang ada di depannya menamparnya dengan sangat cepat dan keras.


Arum yang masih kesal dan hendak menampar Wajah Vanessa untuk yang kesekian kalinya langsung Vanessa tangkap.


"Kau..!"Apa-apaan kau menamparku Wanita Jalaaa.. nng, "teriak Vanessa dengan memegang kuat tangan Arum yang hendak menamparnya lagi.


"Apa kau bilang Aku Wanita jalaaang, dasar Wanita brengsek dan sialan beraninya kau kemarin menamparku, "


"Hei, itu pantas untuk kamu yang menggoda Suami orang, Minta pertanggungjawaban dari pacarmu sana, jika kamu hamil jangan meminta pada Suamiku, "teriak Vanessa kesal dengan suara keras.


"Apa kau bilang?"Minta pertanggungjawaban pada pacar kamu gilaaa, Mas Bara itu Suamiku, dia bukan hanya Suamimu, "teriak Arum yang tidak kalah kerasnya.


"Jaga bicaramu, dasar Wanita jalaaanng, "


" Plaaaaakk...!


"Auuuwwh ..!


" Dasar Wanita gilaa Aku bukan Wanita jalaaanng, Mas Bara itu Suamiku, kalau kamu tidak percaya tanya padanya kamu saja yang bodoooh, "


"Plaaaakk... plaaakk..!


Vanessa yang kalaap menampar Arum berkali-kali dan berkali-kali Arum menjerit dan merintih karena sakit.


" Plaaaakk..!


"Auuuwwh..!


Arum yang berniat untuk membalas selalu gagal karena Vanessa lebih cepat mengayunkan tamparan nya.


" Hentikan... Nesaaa... Plaaaaakkkk..!


"Auuuwwh...! Sebuah tamparan keras mendarat pada Pipii Vanessa.


" Tante... Hizk... Hizk... Hizk, "


Arum berlari menghambur ke dekat Mama Sukma.


"Ma-Mama, Wanita jalaang itu sudah bicara lancaaang dan, ____


" Diam, kau Nesa..!


"Ma, Wanita itu, ___


" Apa? mau bertanya apa? Arum ini memang Istrinya Bara mereka sudah menikah dan Anak yang ada di dalam kandungannya itu adalah Anak Bara."

__ADS_1


Bumi yang Vanessa pijak serasa bergoyang bibir Vanessa bergetar bukan hanya bibir bahkan seluruh tubuhnya seolah lemas tidak bertenaga.


Buliran bening kini mulai deras membasahi pipi.


__ADS_2