
Arum yang merasa bahagia dan senang karena bisa tinggal satu atap dengan Bara suaminya terus bersenandung Ria, meskipun kedatangannya ke rumah itu berpura-pura menjadi seorang pembantu akan tetapi semua itu tidak penting bagi Arum karena yang penting bagi Arum dia bisa Satu Atap dan bisa bersama dengan suaminya karena Arum yakin Seiring berjalannya waktu maka semua akan berubah dari dirinya yang kini menjadi pembantu pastilah lama-kelamaan akan menjadi Ratu.
Setelah mengemasi semua barangnya meletakkan pada tempat dan merapikan semua Arum segera keluar dari dalam kamar kemudian berjalan menuju ke ruang makan, sungguh hatinya tidak sabar ingin bertemu dengan Bara Suaminya karena hampir satu jam dari kedatangannya Arum belum melihat Bara.
Arum hanya melihat salah satu pembantu Rumah itu yaitu Mbak Sri dan juga istri pertama Bara yang kini menjadi madunya.
Sampai di depan pintu ruang makan Vanessa yang sudah duduk manis menunggunya tersenyum dengan sangat manis ketika melihat Arum muncul dari balik kelambu, Arum yang melihat Vanessa sedang tersenyum kepadanya Arum pun mengulum senyum sambil mengganggukan kepala sungguh sangat santun dan sangat sopan kesan pertama yang Vanessa lihat tentang pembantu Baru Mama mertuanya.
"Sini, ayo duduk sini, "ajak Vanessa sambil tersenyum.
" Trimakasih, " jawab Arum sambil mendudukkan bokongnya didepan Vanessa.
"Ayo, kamu ambil sendiri mau makan apa, "
"Oh, Iya.Trimakasih."
Melihat Arum hanya diam saja dan hanya menatap dirinya membuat Vanessa merasa sangat geli dan heran karena gadis yang ada di depannya hanya diam dan menatap dirinya hingga tak berkedip membuat Vanessa lagi-lagi mengulum senyum.
"Hei, ada apa Ayo Makan jangan hanya melihat Aku saja, tidak perlu sungkan ambil apa saja yang kamu mau, "seru Vanessa mengingatkan.
Sekilas pandangan mata Vanessa melihat bayangan dari Mba Sri yang melintas di depan pintu dengan gerakan Reflek Vanessa bangkit dari duduknya berteriak memanggil sosok bayangan yang lewat itu dimana sosok itu tidak lain adalah Mba Sri pengasuh Mikha.
"Mba Sri sini?
tentu saja yang dipanggil dengan sebutan Mbak Sri segera menoleh ke sumber suara kemudian dengan sangat pelan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
" Tidak, Non. Saya makan di belakang saja. "
"Tidak kamu juga harus makan disini, Ayo Marilah jangan ragu-ragu tidak perlu kamu merasa cemas dan takut ayo ke sini, "ajak Vanessa untuk yang kedua kali karena tatapan Vanessa yang begitu tajam dan begitu meminta agar dirinya mau makan bersama dengan Vanessa Akhirnya Mbak Sri mau tidak mau melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang makan meskipun sesungguhnya dalam hati Mbak Sri memang mengharap itulah yang dia inginkan karena dia ingin melihat dengan dekat Apa yang dilakukan dan siapa gadis yang ada di depannya dan mengapa Gadis itu sangat dispesialkan oleh Nyonya Besarnya yang kini menjadi Mama mertua istri dari bos Tuannya.
"Oh, Iya Non, "
Dengan langkah pasti Mba Sri masuk ke dalam Ruang Makan, Arum yang melihat salah satu pembantu dari Bara Suaminya yang ikut duduk dan makan bersama dengannya menatap dengan tatapan mata tidak suka, terlihat dari Wajahnya yang tiba-tiba melengos dan memilih membuang muka.
Mba Sri yang sedari tadi mengawasi dan memperhatikan Gadis yang menjadi pembantu Baru dari Nyonya Besarnya, menatap sinis karena dia bisa merasakan dan memahami jika sesungguhnya Gadis yang ada didepannya sangat tidak suka kepadanya.
"Hei, Namamu siapa ayo kita makan silahkan ambil sendiri jangan sungkan sungkan." seru Vanessa Menggulangi ucapannya.
__ADS_1
" Oh, iya," jawab Arum sambil tersenyum meskipun senyum yang dia berikan adalah senyum keterpaksaan. " Namaku Arum Mba, "
"Oh, salam kenal ya, Aku Vanessa dan ini Mba Sri, silakan ambil makannya jangan sungkan sungkan anggap di Rumah sendiri. "
"Issh, belagu sekali sih ini cewek, tentu saja Aku akan mengaggap Di Rumah sendiri
"Sudah tidak perlu banyak berpikir cepat ambil makanannya, apa iya kamu minta diambilkan makan oleh Non Nesa? " cibir Mba Sri dengan nada kasar dan sinis.
Arum menatap tajam pada Mba Sri yang dianggapnya sangat tidak sopan dan kata-katanya sangat menyakitkan hati.
"Kurang ajar sekali sih ini pembantu, lihat saja Aku akan buat perhitungan dengan kamu agar kamu tau siapa Aku, seenaknya saja bicara dia pikir siapa dia cuma pembantu saja belagu, " sungut Arum dengan kesal.
Tanpa bicara Arum segera mengambil makanan yang terhidang diatas meja, kemudian tanpa basa-basi langsung melahapnnya.
Mba Sri yang melihat tingkah Arum kini mulai cuek dengan mengambil makanan untuknya sendiri.
"Non, Nesa. Apa mau diambilkan? "
"Boleh Mba, seperti biasanya saja Nasinya jangan banyak-banyak. "
"Begitu saja minta diambilkan, tapi kenapa dari tadi belum lihat mas Bara kemana dia, apa di belum pulang kerja, " ucap Arum dalam hati sambil kedua bola matanya celingukan melihat kearah luar pintu yang mana kelambu dari Ruang makan terbuka.
"Kamu lagi liatin apa kalau makan tuh lihat piring dan Nasimu bukan liat liat kesana kemari kayak pencuri saja."
"Eh, kamu suka-suka Aku lah mata mata Aku sendiri kamu sendiri kalau makan lihat juga tuh piring dan Nasi mu bukan justru liatin Aku, kayak yang punya rumah saja padahal situ cuma pembantu, "
"Kau..!
"Sudah-sudah kenapa kalian jadi bertengkar sudah ayo kita makan tidak perlu saling merendahkan kalian itu sama. "
"What....? apa maduku ini tadi bilang? sama, dia pikir siapa Aku pembantu begitu, Cihhh belum tau dia kalau Aku justru sama dengan kamu bahkan sebentar lagi Akan Aku geser kedudukanmu biar kamu tau siapa Aku, seenaknya saja bilang Aku sama dengan pembantunya, " geram Arum dalam hati dimana Arum hanya bisa melupakan kekesalannya dengan makan cepat agar dirinya bisa segera pergi dari Ruang makan.
Untuk sesaat suasana di ruang makan hening Mbak Sri tidak lagi banyak berbicara karena dia menghormati apa yang Nona vanessanya ucapkan kepada dirinya sementara Arum pun juga tidak lagi celingukan seperti yang tadi dia lakukan karena dia sedang fokus segera menghabiskan makanan yang ada di atas meja kemudian pergi dari ruangan itu karena ruangan itu terasa sangat panas baginya.
Sangat terlihat jelas jika Arum makan dengan sedikit terburu-buru Hal itu membuat Vanessa kembali menegur Arum agar dia menikmati makanan yang ada di atas meja dengan santai dan rileks.
"Pelan-pelan saja Arum, Nanti kamu bisa tersedak, "
__ADS_1
Dengan senyum sedikit dipaksakan baru menganggukkan kepala sementara Mbak Sri menatap Arum dengan tersenyum sinis.
"Rupanya ruangan ini sangat panas baginya jadi dia ingin segera menyelesaikan Makannya Non, "
mendengar perkataan Mbak Sri Aru menatap tajam kepada Mbak Sri yang perkataannya sangat pedas baginya sementara Vanessa menggelengkan kepala.
"Mba Sri sudah ayo lanjutkan makannya jangan bicara saja. "
"Baik, Non, "
Mbak Sri mengikuti apa yang dikatakan oleh Vanessa tidak lama kemudian suasana di ruang tamu kembali hening beberapa menit kemudian terdengar suara Bell Rumah berbunyi.
"Ting tong...!
" Ting Tong..!
Dengan gerakan hampir bersamaan Vanessa dan Arum serta Mbak Sri bangkit dari duduknya Karena Mereka sama-sama berdiri akhirnya mereka saling berpandangan.
"Biar saya yang buka, kan saya pembantu baru, "
"Oh, ya silahkan, " ucap Vanessa dengan ramah.
"Tidak usah, kamu makan saja biar Aku yang buka ini tugasku, "sahut Mba Sri dengan cepat.
" Biar, saya saja, "
"Tidak usah biar Aku saja, "
"Mba, biarkan saja Arum yang buka biar dia belajar, "
Mba Sri mau tidak mau Akhirnya membiarkan Arum yang membuka pintu, dengan senyum dalam hati Arum bersorak senang.
"Smoga yang datang Mas Bara dan ini akan menjadi kejutan spesial buatnya, "gumam Arum dalam hati sambil melangkah menuju ke pintu.
Tidak lama kemudian Arum sudah membuka pintu dan wajahnya semakin berbinar senang ketika mengetahui siapa yang datang.berbeda dengan orang yang sedang dibukakan pintunya dia terlihat Syok hingga tanpa sadar melangkah mundur.
" Kau...? "
__ADS_1