DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 121.Robi yang Sial.


__ADS_3

Dengan hati berbunga-bunga Arum turun dari dalam mobil sambil tersenyum, hatinya serasa mendapatkan tetesan Air yang sejuk ketika Bara Suaminya mau turun dan menemani dirinya untuk berbelanja baju.


Sudah terukir beberapa rencana ketika dirinya sudah sampai di Mall.


"Di tempat umum Mas Bara tidak akan mampu menolak semua kemauan ku dan juga Nanti apa yang akan Aku lakukan dan Aku akan bisa menikmati menjadi Istri yang sesungguhnya yang pastinya juga akan diperhatikan dan disayang oleh nya.


Mana mungkin Mas Bara akan memperlakukan Aku buruk dan dingin di tempat umum, pasti dirinya akan malu jika berbuat seperti itu, sungguh Mama Sukma adalah mertua yang paling cerdas dalam memberikan ide.


"Aku Akui orang tua itu mempunyai keahlian khusus dalam mendekatkan seseorang, buktinya Aku tidak perlu jauh dan tinggal sendiri hanya bermodalkan telpon dan di datangi kala mberikan uang saja, Aku kerap mendapatkan bentakan dan juga sikap yang super dingin, sulit untuk bisa Aku cairkan, Tiba-tiba Wanita tua itu datang menawarkan tempat dan sekarang memberikan jalan yang mudah dimana Aku justru bisa pergi berduaan, sungguh Mama Sukma mertua yang hebat, meskipun tidak bicara Aku bisa melihat sebuah kebencian yang ada di dalam hati Mama Sukma pada Wanita yang menjadi Istri pertama Mas Bara, meskipun Aku tidak tahu ada permasalahan apa diantara keduanya. tapi Aku tidak mau tahu tentang hal itu, bagiku cukup Mas Bara bisa memberikan perhatian padaku dan juga memberikan kasih sayang kepadaku bagiku semua itu sudah Cukup, Aku tidak memperdulikan yang lain, dan aku hanya menginginkan akulah yang akan menjadi istri satu-satunya dari Mas Bara Aku tidak ingin menjadi istri kedua dan aku ingin hidup bahagia bersamanya , Aku yakin semua akan mudah dengan bantuan Mama mertua sungguh keberuntungan sedang berpihak kepadaku sehingga aku tidak perlu bersusah payah mencari cara bagaimana aku bisa hidup dekat dengan mas Bara suamiku karena Masalah yang akan mengatur semuanya. "


Bara yang kala itu berjalan di depan Arum sedikit merasa heran dan geram ketika dirinya berhenti dan melihat Arum masih berjalan dibelakang dengan santa terlebih Bara melihat Arum berjalan sambil melamun di mana sesekali Bara melihat bibir Arum tersenyum.


"Jalan yang cepat, Aku sudah capek nih ngantar kamu! "


Arum yang berjalan sambil melamun sedikit terkesiap, ketika dirinya menyadari jaraknya dia belajan dengan Bara jauh tertinggal di belakang.


"Astaga, Aku tidak sadar jalan terlalu lama pantas saja Mas Bara marah, "


Arum segera mempercepat langkah kakinya berusaha menjajari langkah kaki dari bara hingga keduanya kini berjalan beriringan memasuki Mall yang ada di depan mereka.


"Cepat kamu ambil dan pilih baju yang kamu suka, Aku tunggu disana, kamu bisa melambaikan tangan ketika kamu hendaklah membayar kembali kasir sekarang cepat pergilah. "


"Jadi Aku memilih dan beli sendiri? "


"Sudah jangan banyak protes kalau tidak mau ya sudah ayo kita pulang. "


"Issh, kok gitu ya baiklah, tunggu disana Jangan kemana-mana ya? "


Bara tidak menjawab pertanyaan dari Arum sedangkan Arum dengan sedikit kecewa terpaksa memilih baju sendiri, sementara Bara menunggu ditempat yang tidak jauh dari kasir dimana di dalam Mall juga terdapat beberapa kursi yang sengaja disediakan untuk pengunjung bisa duduk beristirahat.


Arum yang terpaksa memilih baju sendiri tiba-tiba terbesit di dalam angannya untuk membeli lingerie dan beberapa baju yang cukup transparan di mana Arum memang sengaja memilih baju-baju yang serba tipis.


Di mana Baju itu akan menampakan lekuk tubuhnya ketika dia pakai dan Arum yakin Mama mertuanya tidak akan keberatan dan hal itu Arum lakukan untuk bisa menarik perhatian dari Bara karena siapapun hatinya akan berontak dan juga pasti akan bergerak dan tergoda ketika melihat sesuatu yang sangat menantaang, sesuatu yang sangat mengoda Iman kaum Adam.


Kurang lebih dua jam lamanya Arum memilih baju yang akan dia beli setelah merasa cukup dan juga merasa semua baju yang dia inginkan sudah dia ambil Arum segera melangkah ke depan kasir dengan bibir tersenyum gimana Arum ingin segera melihat reaksi dari para suaminya ketika dia memakai baju pilihannya di mana baju-baju itu sungguh sangatlah menggoda.


Suasana di depan kasir lumayan ramai terpaksa Arum harus ikut berbaris mengantri di belakang ketika Arum ingat akan Bara yang membayar semua maka Arum membalikkan badan berniat untuk memanggil dan menghampiri Bara yang kala itu tidak jauh dari tempatnya.


"Duuuzzz...!Aduh Maaf saya tidak sengaja. "


Arum yang membalikan badan dengan terburu-buru tangannya yang memegang keranjang tanpa sengaja menabrak seorang laki-laki yang ada di belakangnya.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Arum pada sosok laki-laki bertubuh tinggi berkulit kuning dengan memakai kacamata.


"Tidak apa-apa Mba, "


"Apakah Aku terlalu tua untuk kamu panggil Mba sepertinya usia kita tidak jauh berbeda, kenalkan Aku Arum."ucap Arum yang langsung menyebutkan Namanya tanpa menggulurkan tangan untuk perkenalkan karena Arum justru menggulurkan keranjang yang dia bawa.


sangat terlihat jelas laki-laki yang ada di depannya sedikit terkejut dengan ukuran keranjang yang Arum Arahkan kepadanya.


"Oh, iya Saya Ro, __


" Maaf, Mas. bisa minta tolong bawain keranjang saya sebentar, Saya mau memanggil Suami saya disana, "ucap Arum dengan tiba-tiba memotong perkataan dari laki-laki yang ada di depannya sehingga laki-laki itu tidak jadi memperkenalkan diri, yang saat ini Arum juga sudah bergeser tempat berdiri di kesamping laki-laki itu,


Laki-laki yang tidak jadi menyebutkan Nama lengkapnya karena Gadis yang bernama Arum tiba-tiba mengalihkan pembicaraan seolah-olah Namanya tidak begitu penting membuat laki-laki berkacamata hitam itu mendelik, tentu saja Arum tidak akan tau karena laki-laki itu belum melepaskan kacamata nya.


Arum sendiri seolah-olah sangat cuek dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh laki-laki yang ada di sampingnya, Karena tanpa menunggu jawaban apapun dari laki-laki yang ada di sampingnya Arum segera melangkah pergi dengan meninggalkan keranjangnya di tangan laki-laki berkacamata hitam.

__ADS_1


"Gadis egois, masa iya Aku cowok ganteng begini disuruh pegang keranjang mana tidak menunggu jawaban dariku mau apa tidak, coba kalau Aku cowok tidak berhati sudah kulempar ini belanjaan orang, perasaan Aku yang bernasib Sial, sudah ditabrak dengan keranjangnya mau membalikkan badan tidak lihat-lihat orang di belakangnya, main ayun keranjang seenaknya hingga menabrakku sekarang ditambah keranjangnya suruh Aku yang pegang dasar Gadis Egois.


"Aku tahu Gadis yang memiliki sifat egois itu sangat banyak dan sikap seperti ini sama persis dengan sikap Eva, benar-benar pelakuan Gadis itu mengingatkan aku pada istri brengseknya Rendra yang bodoh itu, gara-gara gadis egois itu dia sekarang seperti orang gilaa kehilangan keluarganya mencari keluarganya dasar Rendra bodoh. " geram laki-laki berkacamata dengan suara lirih.


laki-laki itu terus mengumpat dengan suara yang lirih akan tetapi umpaatan itu sempat terdengar oleh beberapa telinga dari para pengunjung yang kala itu juga sedang berbaris menunggu antrian dan di antara mereka menatap tak berkedip dengan sikap laki-laki berkacamata yang dianggap seperti orang gila marah-marah sendiri.


Bukannya tidak mengerti dan tidak menyadari tentang pandangan mata dari orang-orang di sekelilingnya laki-laki itu tetap cuek dengan terus tetap ngumpat dalam hati dia berpikir orang-orang tidak akan tahu tentang dirinya karena dia sedang memakai kacamata hitam


"Biarlah mereka hanya menerka-nerka dan mencaci sementara wajah dari orang yang mereka tertawakan tidak akan pernah mereka ketahui." gumam laki-laki itu dalam hati.


"Sayang, ini belanjaan Aku, bawain, Aku capek Aku mau duduk disana kamu sendiri saja yang Antri bayar aku mau beristirahat di sana, "ucap seorang Gadis dengan tiba-tiba tangannya langsung mengulurkan keranjang miliknya tapi ketika Gadis itu mengulurkan keranjang dan melihat tangan dari laki-laki yang ada di depannya sudah memegang keranjang Gadis itu melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Sayang kamu beli baju juga untuk siapa ini?


Tanpa meminta izin Gadis itu langsung meraih keranjang yang ada di tangan laki-laki berkacamata kemudian memeriksa isi dari keranjang yang ada di tangan laki-laki itu wajahnya merah padam dengan kedua bola mata melotot dan dengan kasar Gadis itu kembali meletakkan keranjang di tangan laki-laki berkacamata hitam yang ada di depannya.


"Sayang di keranjang itu ada lingerie milik siapa itu, pacar baru kamu ya? "


"Sssst, jangan berisik dan berteriak-teriak malu dilihat orang. "


"Aku tidak peduli, jawab dulu punya siapa itu, "


"Ssstt diamlah jangan berisik tuh gadis itu datang. "ucap laki-laki berkacamata hitam pada wanita didepannya.


Sontak saja apa yang dikatakan oleh laki-laki yang ada di depannya membuat Gadis itu menoleh ke arah di mana laki-laki itu menunjuk dengan jari telunjuknya.


" Sudahlah Awas kalau bohong Aku capek Aku mau duduk dulu, Nih kamu sendiri yang bayarin dan Antri disini Aku mau duduk, "


"Tapi sayang mana bisa tanganku yang satu sudah memegang berat Nih, " ucap laki-laki itu membujuk gadis yang ada di depannya agar mau membawa kajiannya sendiri dan berdiri di sampingnya.


"Apes Benar Nasibku hari ini tau begini ogah Aku diajak ke Mall, "gumam laki-laki berkacamata hitam dalam hati?


" Maaf, Mas lama mana belanjaan saya biar saya sendiri yang membawa. "


"Nih, "ucap laki-laki berkacamata hitam dengan datar perasaan hatinya benar-benar sangat sedih karena dirinya merasa diperalat oleh kedua Wanita.


Dengan cepat wanita itu segera mengambil keranjang belanjaan miliknya tanpa mengucapkan terima kasih Langsung membalikkan badan dengan mendekati laki-laki yang ada di depannya.


" Mas Ayo sedikit maju ini belanjaan Aku, tidak apa-apa kan Aku mengambil banyak? '


tanpa bicara apapun laki-laki yang ada di depannya menganggukkan kepala sementara laki-laki yang berkacamata yang kini berdiri di belakangnya laki-laki melotot dengan pandangan mata kesal dan marah.


"IIssh, dasar Gadis Egois sudah dibantu bukannya bilang trimakasih, tersenyum basa basi juga tidak, benar-benar keterlaluan Aku yang dari tadi berdiri mengantri seharusnya dia bilang trimakasih kek, kemudian meminta Aku yang lebih dulu ini tidak diam dan tidak peduli, benar-benar keterlaluan."sungut laki-laki berkacamata hitam.


Tidak lama kemudian sekitar menunggu 20 menit akhirnya tiba barisan Gadis yang dibantunya dan juga dirinya tampak laki-laki itu sedang memberikan kartu card-nya untuk membayar semua belanjaan Gadis yang dinilai egois oleh laki-laki yang ada di belakangnya.


"Ini semua sudah Aku bayar Ayo sekarang kita pulang, "


Gadis itu menganggukkan kepala sambil meraih kresek berisi baju yang sudah dibelinya di saat laki-laki dan Gadis itu sedang membalikkan badan terlihatlah dengan sangat jelas wajah dari laki-laki yang dikatakan sebagai suami dari gadis egois.


Seperti melihat musuh yang sudah lama tidak bertemu tampak laki-laki berkacamata hitam sangat terkejut hingga kedua bola matanya melotot, dengan gerakan cepat dan buru-buru keranjangnya langsung dia taruh dengan sangat keras dan kasar di atas meja kasir dan dengan gerakan cepat melepas kacamata hitamnya, kemudian hendak berlari pergi.


"Hei, Mas tunggu bayar dulu belanjaannya, "


mendengar teriakan dari wanita penjaga kasir membuat laki-laki yang tadi berkacamata hitam menoleh ke belakang kemudian ikut berteriak dengan suara yang cukup keras pula.


"Tunggu sebentar Nanti akan ada yang kesini untuk bayar saya pergi dulu, "

__ADS_1


"Hei... Mas tunggu...! "


Seolah menulikan telinga laki-laki itu tetap tidak memperdulikan teriakan Wanita penjaga kasir.


Setelah menengok ke kiri dan kanan laki-laki itu bergegas menghampiri seorang gadis yang sedang duduk sambil memainkan ponsel hp-nya, tanpa bicara banyak tangan laki-laki itu menarik gadis yang sedang asik duduk dengan bermain dengan ponsel hp-nya untuk bangkit berdiri.


"Aduuuh..! Sayang apaan sih pakai tarik tarik tanganku segala mana nariknya kasar lagi sakit tauk, "


"Sudah diam! cepat pergi ke kasir bayar semua belanjaan kamu Aku ada urusan, mana HP kamu Aku pinjam. "


Tanpa menunggu jawaban laki-laki itu langsung merampas ponsel hp yang ada di tangan Gadis itu kemudian mendorong sedikit Gadis itu untuk pergi ke kasir, tampak Gadis itu sangat terkejut dan merasa sangat heran dengan perilaku dan tindakan yang dilakukan oleh laki-laki berkacamata hitam, tapi Percuma saja dia marah dan berteriak karena laki-laki itu bagaikan orang yang sedang kesetanan sudah berlari pergi menghilang dari hadapannya, hanya dalam hitungan detik dan tubuhnya sudah menghilang dari pandangan berbaur dengan banyaknya lalu lalang pengunjung yang datang silih berganti.


"Sial ini jadi Aku yang bayar sendiri belanjaan Aku, brengsek banget sih, Robi jadi cowok itu, tau begini Aku tidak mau ke Mall jika ujung-ujungnya Aku sendiri yang harus bayarbayar. " sungut gadis itu mengrutu dalam hati, sambil berjalan menuju ke kasir dan dengan berat hati membuka dompetnya.


"Permisi, permisi..!Maaf, "


Seorang laki-laki dengan langkah kaki terburu-buru menyibak kerumanan dari setiap orang yang menghalangi jalannya.


"Tidak Aku tidak akan salah lihat bukankah laki-laki yang bersama dengan gadis Egois itu adalah Bara, Suaminya Vanessa lalu mengapa Gadis Egois itu tadi bilang jika laki-laki itu adalah Suaminya, apa ini maksudnya Aku harus menyelidiki.


tangan lincah laki-laki itu yang megang ponsel hp dari pacarnya yang diraampas tadi segera memencet nomor telpon.


Tidak lama kemudian terdengar suara dari seberang.


"Halo, siapa ini? "


"Siapa-siapa ini Aku Ren, "


"Astaga Robi, ini lo pakai nomor siapa, kehabisan kuota sehingga nelpon Aku pakai nomor baru. "


"Sudah diam ini tidak penting ada yang lebih penting untuk kamu dengar, "


"Apa?"


"Aku melihat Bara Suaminya Nesa di Mall dengan Gadis lain. "


"Oh, itu, begitu saja kamu heboh Rob, Bara itu seorang pengusaha bayak kliennya, lagipula Aku melihat sendiri Bara sangat mencintai Nesa, sudahlah ganggu orang saja Aku baru sampai Rumah ini capek. "


"Eh, bukan cuma itu Ren kamu jangan bodoh Gadis itu bilang kepadaku kalau Bara itu Suaminya. "


"Uhuk... uhuk.!


" Ren lo kenapa? "


"Sialaan kamu Rob Aku kan lagi minum kopi kamu kalau ngasih info itu yang benar jangan main-main. "


"Isssh, siapa juga yang main-main Aku serius, Gadis itu tadi bilang dengan sangat jelas. "


"Lalu apa yang kamu lakukan? "


"Menghubungi kamu memberitahumu masih nanya lagi, "


"Bukan itu yang kutanya kan dodol, cepat cari dan selidiki, jangan lupa kirimkan lokasi mu Aku akan kesana ingat jangan sampai kamu kehilangan jejaknya. '


" Siap, Bos, '


panggilan telepon pun akhirnya dimatikan dan Robi segera mencari keberadaan Bara dengan gadis egois yang tadi bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2