
Untuk sesaat Bara membiarkan Arum memeluk tubuhnya, tidak ada penolakan ataupun kata-kata kasar yang terucap dari Bibir Bara seperti saat saat awal mula.
Arum yang merasa perubahan Bara sangatlah membuatnya senang perlahan-lahan Arum melepaskan pelukannya menatap lekat lekat laki-laki yang ada di depannya dengan pandangan mata sendu dan senyum mengembang di bibir.
"Mas, trimakasih banyak, "ucap Arum dengan rasa dan perasaan terharu.
Apa yang menurutnya tidak mungkin dan dirinya tidak akan bisa menuruti keinginan dari Abangnya yang pastinya Abangnya akan marah dan memakinya, kini Arum bisa bernapas lega dan tidak perlu lagi cemas.
"Hmmm."
"Mas, hari ini Arum boleh pergi kan? "
"Mau segera membelanjakan uang itu ya? "
Dengan tersenyum malu Arum Mengaggukkan kepala.
"Aku sudah tidak sabar Mas, "
"Hmmm, baiklah Aku akan bersiap akan Aku antar kau, "
"Tidak, tidak, Arum pergi sendiri saja, kalau mas Bara ikut apa kata Paman, bukankah Mas Bara izin tidak bekerja karena pusing kalau terlihat Mas Bara di luar bagaimana? "tolak Arum pada Bara.
Arum memberikan Alasan jika dirinya merasa khawatir apabila suaminya Bara bertemu dengan Papanya di luar yang pastinya akan mendapatkan marah, karena Bara Suaminya tidak masuk bekerja akan tetapi justru keluyuran, meskipun sesungguhnya alasan Arum bukan itu alasan Arum agar Bara tidak tahu kemana Arum akan pergi, yang sesungguhnya pastilah Arum akan pergi untuk menemui Abangnya yang telah meminta dirinya untuk datang dengan membawa Uang.
Bara yang sesungguhnya mengerti dan memahami ke mana Arum akan pergi tetapi Bara berpura-pura untuk tidak mengetahui dan tidak memahami apa yang akan Arum lakukan mengaggukan kepala.
"Baiklah pergilah dan jangan lama-lama jaga kandungan kamu dia juga butuh waktu untuk beristirahat. "
"Iya, Mas Aku mengerti tenang saja, Aku akan menjaga buah hati kita Aku pergi dulu."
Bara tersenyum kecut mendengar perkataan dari Arum.
Sungguh hatinya sangatlah Dilema bahkan khayalannya melambung tinggi seandainya yang hamil saat ini adalah istrinya Vanessa, mungkin kebahagiaan yang akan dia miliki berkali-kali lipat tapi apalah daya sampai hari ini istri yang selalu dia gauli dan dia cintai belum juga menunjukkan tanda-tanda dia hamil.
Hal itu terkadang membuat Bara merasa berputus asa Ingin rasanya mengajak Vanessa untuk memeriksakan diri akan tetapi karena Bara khawatir hal itu akan menyinggung perasaan istrinya maka Bara memilih untuk diam dan memendam segalanya di dalam hati,
Sudah sangat lama Bara mengginginkan seorang buah hati dari buah cintanya yang selama ini dia memiliki, Tapi entah mengapa Sampai detik ini belum juga Bara mendapatkannya.
Bahkan Bara terkadang merasa sudah berputus asa mungkin rahim Vanessa istrinya yang sedang bermasalah atau dirinya yang sedang bermasalah.
Belum adanya buah hati tidak membuat cinta dan juga kasih sayang yang Bara miliki kepada istrinya pudar, Bara tetap menyayangi Vanessa dan Bara tetap mencintainya meskipun ada kekecewaan yang tidak pernah Bara ungkapkan karena siapapun sudah pasti menginginkan memiliki buah hati dari benih mereka sendiri,
Bara segera menutup kamar setelah Arum keluar dan turun dari dalam kamarnya, Bara memahami jika semua pasti keinginan dari Mamanya dimana Mamanya meminta Vanessa istrinya untuk pergi mengantar Mikha pergi ke Sekolah, sementara dirinya tidak di izinkan ikut karena Mamanya mengginginkan dirinya bisa menghabiskan waktu bersama dengan Arum.
Keberuntungan berpihak padanya di mana Bara tidak perlu sibuk dan repot berpura-pura menyukai dan mencintai Arum dikarenakan Arum akan pergi meninggalkan rumah karena dia sudah pasti akan memberikan uang kepada orang yang memintanya dan sudah bisa dipastikan orang yang meminta uang kepada Arum pastilah Abangnya yang selama ini selalu mengganggu dan juga selalu mengusiknya.
Kembali Bara menyibukkan diri dengan laptop yang ada di depannya, hari ini Rumah akan terasa sepi karena Anak dan Istrinya juga tidak ada di Rumah.
Di luar Arum segera memesan taksi kemudian menunjukkan satu Alamat yang tertera di pesan ponsel hpnya.
Cukup melelahkan karena ternyata Arum harus duduk di Mobil taksi selama dua jam, Arum sedikit heran karena Abangnya selalu berpindah tempat tinggal, entah mengapa Abangnya tidak pernah berdiam diri dalam satu tempat.
Setelah menyodorkan uang kepada sopir taksi Arum segera turun dari mobil dan berjalan mendekati Rumah yang ada di depan nya.
Rumah yang jauh dari perkotaan dan jauh dari suara bising Mobil yang lalu lalang. dengan pemandangan disekitarnya masih tampak Asri Warna pohon yang hijau dan rindang.
Kedua bola mata Arum membulat ketika mengamati setiap pohon yang ada, ternyata di depan Rumah Abangnya tampak pohon buah mangga yang buahnya sedang berbuah dengan lebat, buah mangga yang kini sedang bergelantuungan.
"Mangga, pasti rasanya enak sekali itu, Aku harus cepat masuk dan meminta Abang Faisal untuk memetikan untukku, tapi ini alamatnya benar Rumah Abang Faisal kan, Aku khawatir salah, tapi Rumah ini begitu kecil dan jauh berbeda dengan Rumah Rumah tempat tinggal Abang Faisal, Rumah ini terlalu sempit dan sangat sederhana, lihat saja lantainya masih dari tanah belum ada keramik yang menghiasi juga dindingnya cuma terbuat dari Bambu, jendelanya dari kayu dengan kelambu kain merah yang dibiarkan berkibar, Aku menjadi ragu kalau salah alamat bagaimana? " gumam Arum bermonolog sendiri langkah kakinya begitu pelan bahkan terlihat sekali seolah sedang ragu antara ingin maju dan masuk ataukah tidak.
Dengan tangan sedikit bergetar Arum mulai mengetuk pintu.
"Tok, Tok, Tok..! permisi...!
Tidak ada jawaban ataupun suara tanda-tanda pintu akan dibuka dari dalam, Arum menggulang kembali dengan cara mengetuk pintu dan lagi-lagi hening tidak ada suara apapun.
Arum menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan sangat perlahan, sesekali kedua bola matanya justru menatap buah mangga yang sedang bergelantuungan.
"Kenapa tidak cepat dibuka, seandainya yang ada di dalam Rumah ini bukan Abang Faisal aku juga akan tetap meminta orang itu untuk memetikan mangga kepadaku Jika perlu aku akan membelinya, karena aku sungguh sangat menginginkannya rasanya pasti sangat segar dan nikmat.
Sudah lama sekali Aku tidak makan buah mangga ini pasti sangat enak sekali, Nanti aku akan membeli dan akan aku bawa pulang Siapa tahu Tante Sukma juga mau aku akan membuatkan manisan untuknya, kebetulan uang yang diberikan Mas Bara kepadaku cukup banyak Sisanya sehingga aku bisa membeli apapun yang aku mau, buah mangga pasti tidak terlalu mahal dan uang receh Aku pasti juga cukup, " gumam Arum bermonolog sendiri.
"Kok lama ya? "
"Permisi Tok... Tok.. Tok... Haloo, Permisi...! "
Arum terus mengetuk pintu sambil sesekali berusaha mengintip keadaan yang ada di dalam Rumah dari lobang lobang dinding bambu yang bercelah.
__ADS_1
"Kamu sudah datang Arum...! "
"Deg..!
Sebuah suara yang terdengar dari arah belakangnya membuat Arum yang kala itu fokus melihat ke dalam menjadi terkejut hingga dengan gerakan spontan dan reflek menoleh ke sumber suara yang ada di belakangnya.
" Abang.. kok Abang muncul dari belakang memangnya Abang dari mana? "
Tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Arum Faisal segera memggeluarkan kunci dan membuka pintu kemudian melangkah masuk ke dalam begitupun Arum yang melihat Abangnya masuk diapun mengikuti langkah kaki dari Abangnya.
Tampak keadaan Rumah yang benar-benar sangat sederhana.
"Apa sudah kau bawa uangnya? "
Arum langsung meneguk kasar ludahnya, dirinya belum di persilahkan masuk dandan duduk Tapi abangnya sudah bertanya tentang uang yang dia minta sungguh Arum benar-benar merasakan Abangnya tidak merindukan dirinya akan tetapi hanya merindukan uang yang akan dia berikan kepadanya.
"Ya, Bang,"
"Bagus, kalau begitu cepat berikan sekarang, "
"Abang, buat apa sih uang sebanyak itu, lagi pula Cek yang dulu Abang pegang kan masih ada harusnya, "
"Kamu tidak perlu bertanya sesuatu yang tidak perlu Aku jelaskan sekarang cepat berikan uangnya, "bentak Faisal pada Arum dengan suara keras.
"Abang! Arum bukan sapi peraah yang selalu harus menuruti semua kemauan Abang katakan dulu alasannya pada Arum biar Arum paham uang itu Abang buat apa, "
"Braaaakk...!
Faisal dengan geram mengebrak meja kayu yang ada di depan Arum hingga membuat Arum sedikit bertingkat karena terkejut.
" Sejak kapan Aku mengizinkan kamu mengetahui semua urusanku, cepat berikan uangnya kemudian kamu boleh pulang. "
"Abang, Arum tidak akan memberikan uang jika Abang tidak mau berkata jujur dan berterus terang pada Arum untuk apa uang itu, apa Abang main juuudi dan kalah, pasti itu yang Abang lakukan selalu menghambur-hamburkan uang dan tidak pernah berpikir bagaimana susahnya mencari uang. "
"Aruuum, berani kau menggurui Aku hah? "
Faisal yang tersulut emosi dengan perkataan Arum Adiknya mengangkat tinggi tinggi tangannya dan siap melayang ke wajah Arum.
"Apa, Abang mau memukul Arum pukul saja tapi kalau ada apa-apa dengan janjiku Abang Faisal yang harus bertanggungjawab."
"Apa? kau hamil. "
"Wah, bagus sekali, hebat kamu pertahankan Anak itu, ini akan memudahkan kamu mendapatkan uang darinya, dia akan menjadi pohon uang kita. "
"Abang pikirannya hanya uang dan uang melulu memangnya untuk apa Abang, jika uang itu Abang gunakan untuk berjudi, berhentilah Abang, juudih tidak akan membuat Abang senang yang ada Abang akan pusing karena banyak hutaang. "
"Anak kecil kamu tidak usah mengguruiku bersyukurlah Aku tidak memukul mu karena janin yang ada di dalam perutmu itu, tunggu Akan Aku petikan mangga untuk mu, setelah itu berikan uangnya dan pulanglah. "
"iiih Abang egois, masak Arum langsung diusir pulang, "
Faisal tidak menggubris perkataan dari Arum dengan cepat Faisal memanjat pohon mangga tidak lama kemudian turun dengan dua batang mangga yang sengaja dipetik dengan akarnya, dimana satu batang mangga berakar berisi lima sampai enam buah.
Arum yang melihat Abangnya turun dengan buah mangga ditangannya bersorak senang.
"Abang mana cepat Arum ingin segera memakannya. "
"Nih..!
Faisal meletakkan mangga diatas meja, Arum yang sudah tidak sabar ingin menikmati segarnya buah mangga memetik satu dari tangkainya kemudian mengarahkan ke mulutnya hendak menggigit mangga yang diberikan Faisal kepadanya.
Dengan gerakan cepat Faisal merampas mangga yang hendak di giigit Arum.
"Apa apaan kau ini, mau langsung memakannya tanpa mencuci tunggu Aku cucikan."
Arum melongo dan mendelik tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, seumur-umur baru kali ini Faisal bersikap perhatian kepadanya.
Diam-diam Arum tersenyum bahagia.
Tidak lama kemudian Faisal keluar dari dapur kecilnya.
"Nih, tangkap, "
Faisal langsung melemparkan buah mangga yang sudah dia cuci.
Dengan terpaksa Arum langsung menangkap buah mangga yang dilemparkan Abangnya, sangat tepat dan ternyata Arum cukup pintar dalam hal taangkap menaangkap, buktinya Arum bisa menangkap dengan sangat tepat.
"Tangkap ini juga, "ucap Faisal dengan melemparkan pisau kearah Arum.
__ADS_1
Sungguh Arum merasa sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang Abangnya lakukan, dengan santai dan tidak khawatir Adiknya terluka karena tidak bisa menangkap Faisal melemparkan pisau ke arahnya.
"Abang...! kau mau meembunuhku, kalau Aku tidak bisa menangkap bagaimana, kan bisa terluka dan berdarah Aku, "seru Arum yang kesal karena Abangnya bertindak sangat ceroboh dan bisa membahayakan dirinya.
" Aku sudah perhitungkan jika kamu adikku bekas dari Anak buah Mafia ternama kamu pasti bisa melakukan hal yang sangat mudah seperti itu, "
"Abang itu sangat berbahaya, "
"Tapi buktinya kamu tidak apa-apa kan? "
"Isssh benar juga padahal Aku tidak pernah belajar,"
"Kamu memang tidak pernah belajar tapi dulu kamu sering melihat, jadi sama saja cepat makan dan kupas bagaimana uangnya ada kan? "
"Ini Abang, 10 juta, memangnya Abang mau buat apa uang sebanyak itu,"
"Sudah itu bukan urusan kamu cepat makan mangga yang kamu minta kemudian pulanglah Suami kamu pasti mengkhawatirkan kamu, "
"Diih, Abang Arum mau beristirahat disini sebentar, "
"Abang tidak punya Nasi mau makan apa kau disini Nanti pergilah,"
"Lalu tadi pagi Abang makan apa? "
"Tidak ada, "
"Jadi Abang belum makan? "
"Kamu itu kalau bertanya tidak perlu aneh aneh, sudah Aku capek kamu pulanglah jangan lupa tutup pintunya jika pergi, "ucap Faisal yang langsung meninggalkan Arum duduk sendiri di ruang tamu, Arum menarik napas panjang kemudian bangkit dari duduknya dan dengan perlahan lahan Arum masuk ke dapur.
Arum sangat tertegun tidak menemukan apapun di dapur selain Air putih dalam kenndi.
"Abang Faisal tidak punya beras juga, dan di dapur tidak ada makanan apapun juga, kasian. "
Arum segera keluar Rumah dan seperti yang sudah diperintahkan Abangnya Arum menutup pintu.
Berjalan kaki hingga sedikit jauh di desa itu.
"Permisi Pak, boleh saya bertanya dimana ya disini orang yang berjualan beras maksudnya Warung tempat orang berjualan."
"Oh,lurus saja Mba disana ada Warung yang lengkap menjual apapun."
"Trimakasih, Pak, "
Sampai di tempat tujuan Arum segera membeli beras dan juga bahan makana lain selain menjual bahan mentah ternyata di Warung itu juga menjual makanan yang sudah matang.
Meskipun yang ada hanya Nasi pecel Arum membeli tiga bungkus makanan Nasi pecel kemudian kembali ke Rumah Faisal Abangnya.
Faisal sedikit terkejut ketika pintu Rumah nya dibuka.
"Arum, dari mana kamu Aku pikir kamu sudah pulang, "
"Aku lapar makanya Aku membeli Nasi Ayo kita makan Abang, "
"Makanan apa yang kamu beli itu? "
"Nasi pecel, ayo Abang Aku lapar Ayo kita makan, "
Arum segera menarik Abangnya untuk duduk kemudian Arum membuka kresek berisi tiga bungkus Nasi pecel.
"Ini dua bungkus buat Abang dan satu bungkus buat Aku ayo kita makan. "
Tanpa bicara Faisal langsung melahap Nasi pecel miliknya Arum tersenyum bahagia melihat Abangnya makan dengan sangat lahap.
Meskipun perlakuan Faisal tidak pernah baik akan tetapi Arum sangat sayang pada Abangnya meskipun terkadang Abangnya membuat dirinya kesal.
Perlahan lahan Arum mulai menyuapkan Nasi ke dalam mulut nya Arum mengikuti Faisal yang tidak menggunakan sendok, Arum makan dengan tangan setelah mencuci tangan.
Faisal yang melihat Arum hendak menuangkan bumbu kacang ke dalam Nasi pecel nya dengan cepat Faisal mengambil dan nenyambarnya.
"Abang, kok diambil sih itu kan punya Arum? "
"Kamu makan sayur dan tempee nya saja tidak baik makan bumbu kacang untuk kesehatan janin mu, "
"Tapi Bang, mana enak begini, "
"Diam dan cepat makan setelah itu pergilah, "
__ADS_1
"Iiih, Abang kelewatan dah, "
grutu Arum dengan wajah cemberut kesal, akan tetapi Arum tidak bisa memprotes lagi meskipun sesungguhnya apa yang harus makan sangatlah tidak enak karena tidak memiliki rasa apapun selain hambar.