DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 78.GALAK


__ADS_3

Vanessa yang merasa heran melihat suaminya yang terlihat sangat gugup gusar dan resah mengeryitkan dahinya kemudian menatap tajam dan penuh Intens kepada suaminya yang duduk di depannya di mana suaminya mendapatkan tatapan dari Vanessa yang sangat intens membuat Bara buru-buru memalingkan muka Entah mengapa dia tidak sanggup harus bertatap muka dengan sang istri yang mana sesungguhnya Bara sendiri merasa sangat bersalah dengan keadaan yang ada.


"Apakah ada sesuatu yang sedang Mas pikirkan?


"Sesuatu, Apa sayang, " tanya Bara pura-pura tidak mengerti arah dari pembicaraan istrinya.


"Kamu itu lho Mas terlihat sangat gugup dan aneh Aku yakin Mas Bara memiliki suatu masalah yang Mas pendam Aku harap Mas Bara tidak memendamnya dan mau bercerita padaku Bukankah aku ini istrimu dan kita bisa membicarakan serta mencari solusi secara bersama-sama. "


Bara tersenyum kecut mendengar perkataan dari istrinya yang mana Vanessa menawarkan diri untuk membantu Apa yang sedang Bara pikirkan sementara Vanessa tidak mengerti dan memahami jika masalah yang sesungguhnya Bara hadapi adalah tentang dirinya di mana dia dengan terpaksa akan melakukan suatu penghianatan yang bisa saja membuat istrinya sangat marah dan kesal kepadanya bahkan bisa jadi suatu hal yang sangat menakutkan bagi Bara adalah ketika Vanessa tidak memaafkannya dan berniat untuk meninggalkan dirinya sungguh Bara tidak bisa dan tidak akan sanggup menerima semua itu untuk itu Bara merasa sangat bingung dan resah.


"Aku tidak mau bernasib seperti Rendra harus kehilangan dan menyesal karena suatu kebodohan bagaimana Aku bisa kehilangan berlianku yang sudah susah patah Aku dapatkan tidak, bagaimanapun juga Vanessa tidak boleh tau jika Aku akan menikah lagi dan Vanessa juga tidak boleh tau jika Aku berhianat, sial sekali sih Nasibku, " densus Bara tanpa sadar menggacak rambutnya, sebagai bentuk rasa kekecewaan.


Vanessa yang melihat tingkah dari Suaminya sungguh merasa heran dan Iba Vanessa yakin Papa dan Mama Bara sangat memaksa suaminya sehingga suaminya sdikit terlihat Frustasi.


Perlahan-lahan Vanessa Bangkit dari duduknya dan mendekati tempat duduk Suaminya, tanpa banyak kata Vanessa langsung melingkarkan tangannya pada leher sang Suami dan dengan secepat kilat menyatukan bibirnya pada pada sang Suami, Apa yang tidak pernah istrinya lakukan hal itu membuat kedua bola mata Bara mendelik tidak percaya jika kali ini istrinya yang memulai, meskipun hanya beberapa detik rasa nya sangat senang dan terharu, meskipun sangat terlihat sekali jika apa yang dilakukan Istrinya suatu hal yang sangat di paksakan mungkin hanya sebagai bentuk untuk menghibur, terbukti sangat kaku, belum juga Bara merasakan kepua- sannya Vanessa sudah melepaskan panutannya.


"Sayang, kok sebentar amat sih? "


"Hahaha, cukup Mas, sudah jangan bersedih lagi Nanti kalau Papa dan Mama Mas Bara meminta yang aneh aneh turutin saja buat mereka senang. "cicit Vanessa sambil melangkah pergi ke dapur untuk mencuci piring.


Bara yang tadinya sangat resah dan galau sedikit terhibur dengan gerakan cepat diapun bangkit dan mengekor langkah istrinya.


Tanpa meminta izin ketika Vanessa sedang mencuci piring Bara langsung memeluk istrinya dan menenggelamkan wajahnya pada punggung sang istri dari belakang, membuat Vanessa sedikit terkejut karena dia tidak menyangka jika Suaminya mengikuti nya.


"Mas, lepas geli tau Aku lagi mencuci, "


"Peduli, Sayang..? "


"Hmmm..!

__ADS_1


" Kamu bilang Aku harus menuruti semua yang Papa dan Mama perintahkan kan, "


"Iya, benar Mas harus menurut pada mereka agar mereka tidak memarahi Mas lagi, "


Bara berdehem kecil sejenak sebelum dia mulai bicara.


"Sayang...!


" Ya, "


"Jika Papa dan Mama menyuruh Aku untuk menikah lagi bagaimana?


" Pyaaaaarr...!


gelas yang dicuci Vanessa seketika jatuh dan hal itu membuat Bara sedikit terkejut dan langsung melepaskan pelukan nya ketika Vanessa hendak memunggut pecahan gelas yang terjatuh dilantai.


"Jangan diambil Sayang biar Aku saja, Nanti tangannu terluka, " ucap Bara sambil menepis tangan istri nya yang berniat meraih pecahan gelas .


"Sudah selesai, " ucap Bara sambil tersenyum menatap ke arah istrinya.


Bara sedikit heran ketika melihat Vanessa menatap nya dengan tatapan yang intes.


"Sayang..! mengapa menatapku begitu jangan menatap begitu bikin Aku takut saja, '


" Mas, kau tidak akan menghianati Aku kan? Aku tidak mau merasakan penghianatan untuk yang kedua kali karena Aku tidak akan sanggup untuk itu,"


"Deg..! serasa tercekat kerongkongan Bara sehingga untuk menekan ludahnya saja serasa sulit.


" Sa-sayang, A-apa maksudmu?

__ADS_1


Melihat Bara suaminya bicara dengan sangat gugup Vanessa hanya mengulum senyum kemudian melangkah keluar dari dapur menuju ke dalam ruang tamu, tinggalah Bara dengan perasaan gusarw dan resahnya kembali.


"Apa maksud dari Vanessa bicara seperti itu, apakah dia tidak akan memaafkan Aku jika Aku berhianat lalu bagaimana Nasib cinta ku, Aku tidak mau mengalami Nasib yang sama dengan Rendra kalau seperti ini Aku harus membuat perjanjian hitam diatas putih dengan Arum agar dia tidak macam-macam, karena Aku tidak akan bisa mengorbankan cinta ku apapun yang terjadi Vanessa tidak akan pernah Aku biarkan lepas dan kembali pada Rendra, Aku tau dia pasti masih menunggu dan Aku tidak akan memberikan kesempatan untuk itu, sekali Vanessa menjadi milik ku maka selamanya dia akan jadi milik ku tidak akan aku lepaskan apapun yang akan terjadi. " gumam Bara bermonolog sendiri.


Di malam yang sudah mulai merangkak Naik, dimana waktu sudah menunjukkan pukul 7.00 waktu Indonesia barat.


"Cepat...!jangan ada yang tertinggal, Aku tidak mau menunggu terlalu lama. "


"Mas, apa tidak bisa besok saja Arsel masih tidur dia capek sepertnya, "


Tanpa bicara apapun laki-laki yang tidak lain adalah Rendra segera meraih dan mengendong Arsel kemudian membawa nya berjalan menuju ke mobil dan merebahkan di kursi depan yang bangkunya sudah dibuat seperti Ranjang tempat tidur.


Setelah semua dirasa beres Rendra segera keluar dari dalam mobil dan kembali masuk ke dalam Rumah nya.


"Cepat, tunggu apa lagi? " teriak Rendra dengan sangat keras.


"Haiss ini Pak Dokter apa punya penyakit darah tinggi yak, pekerjaan nya marah-marah melulu, apa maksud nya coba malam-malam mengajak pindah Rumah, ini Rumah kan bagus kok mau di kosongkan, kan sayang, " gumam Alena bermonolog sendiri.


"Alena...! jika kamu tidak bisa cepat Aku akan pergi lebih dulu kamu bisa pergi dengan mang Mamad, "


"Iyaa, Mas tunggu... !"Aduh kok bisa ya ada Dokter segalak ini, " cicit Alena dalam hati.


Dengan tangan kanan dan kiri penuh dengan tentengan tas yang cukup besar Alena berjalan dengan sedikit terburu-buru sungguh dirinya tau dan paham segala yang Rendra ucapkan bukan sekedar ancaman karena Rendra bisa melakukan nya tanpa perasaan.


Sementara Bik Ijah terlihat senyum senyum melihat semua itu.


"Apa lihat liat ayo bantuin bawa ini? "


"Hahaha, Iya Nonton, Mari Aku bantu, "

__ADS_1


Bik ijah segera mengambil satu tas dan membawa nya menuju ke mobil.


__ADS_2