
Arum tersenyum bahagia dan senang karena apa yang dia rencanakan berjalan dengan lancar sementara Bara menatap keluar jendela dengan tatapan mata yang kosong, hatinya penuh dengan perasaan galau dan tak menentu di satu sisi dia harus bertanggung jawab dan di sisi lain Bara tidak ingin kehilangan Vanessa, Apalagi apabila sampai Vanessa mengetahui perselingkuhannya, sungguh Bara tidak akan sanggup jika harus di tinggalkan oleh Vanessa.
Sesekali Bara melirik pada Arum yang kala itu sedang makan di mana sesekali Arum juga melempar senyum kepada Bara yang kebetulan kala itu juga sedang menatapnya, membuat Bara buru-buru memalingkan muka.
Merasa jenggah dengan apa yang dilakukan oleh Arum, Bara segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu tapi sebelum itu ketika melewati Arum, Bara berhenti dan mengatakan jika dirinya ingin kembali pulang ke kamarnya.
"Aku pulang dulu jika kamu butuh sesuatu kamu gunakan card ini, '
" Aku tidak butuh Card itu Mas, Aku butuh kamu menemani Aku malam ini karena Aku sudah sah menjadi Istri mu dan Aku ingin memberikan kepuasan pada suamiku malam ini karena ini adalah malam peertama kita."
"Tidak perlu kamu cukup beristirahat saja. "
"Tapi, Mas Aku juga ingin seperti pengantin pada umumnya dimana malam pertamanya siapa habiskan bersama dengan Suami. "
"Kita berbeda dengan mereka jadi jangan meminta yang labih, Bukankah kamu juga tau pernikahan kita bukan atas dasar cinta, Aku hanya bertanggungjawab dengan apa yang sudah Aku lakukan padamu meskipun Aku melakukannya tanpa sadar jadi sudahlah jangan berharap yang lebih diriku Aku sudah punya Anak dan Istri dan Aku sangat mencintai IstrikuIstriku, sekarang Aku pergi dulu jaga dirimu baik-baik, "
Bara segera melangkah meninggalkan Arum yang sedang makan dan berjalan menuju jwb pintu.
Sampai di depan pintu, Bara merasa kesal karena pintu nya terkunci yang pada akhirnya mau tidak mau para berbalik kembali menemui Arum yang kala itu masih menikmati makan.
"Arum, mana kuncinya pintunya terkunci itu, "
"Arum tersenyum kemudian bangkit mendekati Suaminya.
" Mas Bara mau kuncinya? "
"Iya mana, berikan cepat," Bara meminta kunci dari Arum dengan suara yang sedikit keras dan kasar karena dia sangat kesal ketika buru-buru justru pintunya dikunci dan Bara mengerti semua atas kesengajaan Arum untuk itu Bara meminta dengan suara keras dan kasar.
Sampai dihadapkan Arum Bara menatap tajam pada wanita yang sedang tersenyum padanya.
"Cepat berikan kuncinya! "
"Mas sabar sedikit kenapa, Aku ini istrimu dan Aku juga berhak mendapatkan perhatian dan juga Nafkah batin darimu kan!
" Nglunjak kamu Arum, cepat berikan dan jangan banyak bicara. "
"Baiklah, Mas Bara mau kunci itu kan ini kuncinya ada disini Mas ambil sendiri, "ucapan Arum dengan santai.
Dia menunjukkan kuncinya dia taru di dalam Braah nya dan hal itu membuat Bara semakin geram.
" Cepat berikan sini..! bentak Bara dengan kesal.
"Mas ambil sendiri saja, ini..!
Arum membuka dua kanncing kemeeja baju atasnya dan terlihatlah dua bukit dengan satu kunci bertengger disana.
" Vanessa...! ini gara-gara kamu, Aku bisa terjebak begini lihat saja kalau Aku pulang Aku tidak akan melepaskanmu, " geram Bara bermonolog sendiri.
Dengan Wajah yang sangat dingin menatap Arum dengan penuh kebencian Bara langsung maju kedepan dan dengan gerakan kasar Bara menggambil kunci yang Arum taruh di dalam bukit kembarnya.
Secara otomatis tangan Bara sudah pasti menyentuh benda kennyal milik Arum, meskipun gerakan Bara Kasar akan tetapi Arum menyukai nya.
Dan ketika kunci itu berhasil diambil Bara yang berniat melangkah ke pintu terkejut bukan kepalang karena Arum dengan berani menariknya dan sebelum Bara menyadari dalam kesadaran penuh Arum suy menyatukan bibinya pada Sang Suami.
Smakin marah dan geram meskipun hanya beberapa detik karena Bara langsung mendorong tubuh Arum ke belakang.
"Tidak tau malu kau, " teriak Bara yang kemudian berlari pergi meninggalkan Arum yang masih dalam posisi terjatuh dengan tatapan mata sendu.
"Kenapa kau bilang Aku tidak ttau malu Mas, Aku ini sudah menjadi Istrimu, " keluh Arum meratapi Nasibnya.
Sementara Bara yang merasa muak dan tidak Terima dengan sikap Arum pulang ke dalam hotel nya dengan perasaan marah dan kesal.
Ketika sampai di depan kamarnya Bara langsung membuka pintu, terlihat lah Istrinya sedang bercanda dengan putri dan Bibi pengasuhnya.
Melihat kedatangan Bara yang membuka pintu dengan kasar membuat Vanessa, Mikha dan Mba Sri menoleh kearah pintu, bibir Vanessa tersenyum melihat Suaminya sudah datang dan Mikhapun bergembira dengan berlari mendekati Bara.
"Papa..! Mikha langsung menghanbur dalam pelukan Papanya, Bara yang kesal dan marah mencoba tersenyum.
Vanessa melihat keanehan dari Suaminya.
" Mikha sayang tolong biarkan Papa dan Mama bicara sebentar, ada hal penting yang ingin Papa bicarakan dengan Mama, Bik Sri bawa Mikha ke kamarnya. "
"Baik Tuan, "
Bik Sri segera membawa Mikha keluar dari kamar hotel Mamanya di antar Bara sampai pintu kemudian dengan cepat pintu pun Langsung Bara kunci.
Sebenarnya Vanessa merasakan sikap Bara sangat Andhin akan tetapi Vanessa mencoba untuk menbuang pikiran negatifnya.
"Apa kamu sudah makan Mas? "
"Belum, "
__ADS_1
"Baiklah, tunggu Aku buatkan Makanan, tapi Aku hanya bisa buat Mie instan apa Mas Mau, "
"Mau..!
"Aneh banget dia sikapnya kayak orang sedang marah saja, " gumam Vanessa dalam hati.
Vanessa segera membuatkan mie untuk Suaminya.
Tidak menunggu lama Vanessa sudah selesai dan berniat membawa Mie ke ruang tamu akan tetapi Vanessa dibuat terkejut karena tiba-tiba Bara sudah ada dibelakangnya.
"Astaga Mas, kamu ngagetin saja, ini sudah siap Ayo makan. "
Bara mengambil alih piring berisi Mie yang ada di tangan Istrinya, kemudian meletakkan di samping meja dapur.
"Lho kok di taruh disini, Mas Mau makan di dapur apa? "
"Makannya Nanti saja, sekarang Aku mau makan ini saja, _____
Dengan cepat dan ganaas Bara langsung menyambar Bibir Istrinya.
Vanessa yang ingin bicara dan memberontakpun tidak bisa karena Bara tidak memberikan kesempatan sedikitpun, bagaikan orang yang sedang kelaparan Bara menyeesap dan memainkan dengan sangat buas.
Bahkan tangan Bara tidak tinggal diam dengan gerakan cepat merobek baju atas dan langsung memainkan benda kennyal.
Bara memberikan sedikit ruang untuk Istrinya mengambil oksigen beberapa detik.
"Mas jangan begini kamu kenapa sih, "
"Aku lagi mau saja, ayo, __
Tanpa banyak bicara Bara langsung mengendong tubuh Vanessa dan merebaknya diatas Ranjang.
"Maafkan Aku Nesa, Kamu harus membersihkan tangan dan bibirku ini, karena gara-gara kamu Aku harus berurusan dengan Wanita sialan itu, "gumam Bara dalam hati.
Vanessa merasakan sensasi kasar dari sentuhan Suaminya yang tidak pernah Bara lakukan padanya, ada rasa sakit bercampur dengan geli dan Nikmat, Tiba-tiba anggan Vanessa melayang pada beberapa tahun silam ketika Rendra sedang marah padanya, Rendra menyimpan kemarahan hatinya dan melampiaskan kemarahan dengan menyentuhnya dengan kasar.
"Apakah Mas Bara sedang marah padaku, apakah dia juga sama seperti Mas Rendra waktu itu, "
Bara yang sibuk dengan memainkan semua yang ada pada istrinya dan melihat sang Istri tidak begitu merespon dan sedikit mende sah dan sesekali meringis karena rasa sakit yang dia berikan membuat Bara melepaskan pangkuannya dan menatap sang Istri dengan kecewa.
"Kau lagi memikirkan laki-laki lain disaat Aku sedang menyentuhmu, memberimu Nafkah batin kan? "
" Kamu bicara Apa Mas!
Vanessa dibuat terkejut dengan sikap Bara yang tiba-tiba kasar padanya.
Entah setan apa yang ada dalam pikiran Bara yang tiba-tiba marah pada Istrinya melepaskan panggungnya karena mendadak hilang sele.. raa ketika melihat Istrinya diam tidak membalas sedikitpun yang dia lakukan, sangat kecewa itulah yang Bara rasakan.
Vanessa bangkit mendekati Suaminya yang marah berdiri dengan tubuh membelakangi.
Meskipun terasa canggung dan berat Vanessa mulai mencoba melunakkan hati sang Suami yang sedang kesal padanya.
Vanessa memeluk tubuh Bara dari belakang, Bara yang tidak bisa marah terlalu lama dengan sang Istri tiba-tiba tersenyum miring hatinya sudah menghangat ketika Vanessa memeluknya dari belakang, bahkan Darah Bara berdesir dengan hebat mana kala benda kenyal itu menyentuh kulit punggungnya ingin rasanya segera membalikkan badan dan menghabiskan semua yang ada pada Istrinya akan tetapi Bara tahan dia berusaha untuk tetap bersikap marah dan dingin pada istrinya meskipun berpura-pura itu sangat menyiksa.
Sudah tidak tahan rasanya ingin menyalurkan has.. ratnya akan tetapi Bara memiliki rencana yang lebih penting dimana itu akan menguntungkan dirinya.
"Mas, jangan Marah, "
"Bagaimana Aku tidak marah jika setiap kali aku menginginkanmu kamu memikirkan orang lain, cuma jadi patung yang hanya merasakan dengan membayangkan orang lain apa itu tidak menyakitkan Aku, "
"Terus Aku harus bagaimana agar kamu bisa percaya, "Vanessa berucap dengan suara lemah.
Sedangkan Bara tersenyum diam-diam, kemudian membalikkan badan menatap Wajah cantik sang istri yang sudah sedari pagi dia rindukan.
Ingin rasanya menciiuum dan meme luknya akan tetapi Bara tahaan agar terkesan dirinya benar-benar sedang marah.
" Apa kau mau melakukan ? "
"Iya, "
"Apapun yang Aku minta dan suruh, "
"Iya asal kamu mau percaya padaku Aku tidak memikirkan orang lain, Aku hanya memikirkan mu, "
"Baiklah, Aku punya dua syarat..!
" Apa itu? "
"Bara melangkah menuju kemeja dan membuka laci mengeluarkan sebuah kertas yang ternyata sudah bermaterai.
" Kita buat perjanjian hitam diatas putih bagaimana?
__ADS_1
"Perjanjian apa Mas? "
"Kau tidak akan meminta cerai dariku sebagai bukti kamu mencintai Aku Bagaimana?
" Apa tidak cukup hanya dengan berjanji saja, "
"Tidak, Aku mau ada perjanjian hitam diatas putih dan apapun itu kamu tidak memiliki hak menggugat cerai Aku,"
Melihat Vanessa terdiam Bara tertawa.
"Hahaha, sudah kuduga kau tidak akan bisa Nesa karet hatimu masih untuk Dokter sialan itu kan? "
Vanessa terperangaah hatinya terbakar dengan perasaan kesal.
"Baik, mana biar Aku tandatangani biar kamu percaya Aku tidak akan minta cerai darimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu, "
Bara tersenyum senang karena pada akhirnya Vanessa sudah masuk ke dalam perangkaapnya.
"Ini sayang kamu tandatangani. "
Dengan cepat Vanessa menerima dan mengambil bolpoin dan segera menandatangani surat perjanjian itu.
Senyum kemenangan tersungging dibibir Bara.
"Baiklah, sekarang kau lakukan syarat yang kedua sayang, "
"Apalagi?
" Layani Aku dengan kamu yang harus membangkitkan gai raa hku. "
Vanessa mendelik mendengar perkataan dari suaminya yang kini justru senyum senyum.
"Ayo, sayang kamu bisa kan? "
perlahan lahan Bara melepaskan ikat sabuk pinggang nya.
"Aku rasa kau sudah tau apa yang harus kamu lakukan, lakukan lah sayang, "
Dengan sedikit berat hati Akhirnya Vanessa menuruti semua yang Suaminya minta, beberapa kali Bara harus mencengkram kuat meja tempat nya berdiri karena hampir tidak sanggup menerima sensasi yang memabukkan yang diberikan Istrinya
Jika bukan karena ingin menghukum Istrinya sudah sedari awal Bara akan langsung mendorong dan merebahkan tubuh istrinya di atase Ranjang dan memimpin permainan tapi karena ingit menghukum dan menikmati Bara sengaja meminta Istrinya yang memimpin, hingga akhirnya Bara benar-benar tidak tahan dan kini dia yang memimpin.
Tidak pernah merasaa puu aass dan selalu kurang membuat Bara mengempur Vanessa berkali-kali.
"Satu kali lagi ya sayang, "
Meskipun lelah Vanessa terpaksa menerima dan mengagguk pasrah.
Bara memberikan selimut dan menatap Istrinya yang sudah tertidur, Wajah tampan itu tersenyum penuh dengan kepuu aaasan. Dengan lembut di kecukupnya kening sang Istri.
"Trimakasih untuk hari ini sayang, kau benar-benar membuat Aku mabuuk kepayaang dan sekarang Aku tidak perlu takut lagi akan kehilangan kamu karena kamu sudah menandatangani perjanjian itu, Aku tidak takut lagi jika Aku ketahuan berselingkuh, cepatlah hamil Anakku agar ada ikatan yang lebih kuat diantara kita. "
___________
____________
**Assalamu'alaikum maaf up nya lama ya...
trimakasih masih setia menunggu
kisi.. kisi.... Dokter dingin itu Papaku.
(Vanessa mengetahui perselingkuhan Bara)
( Kerena surat perjanjian Vanessa tidak bisa lepas dari Bara, hidup dlm duka dan kekecewaan terlebih istri Bara sdng hamil)
(Perselingkuhan Bara diketahui Robi dan Rendra)
(pergi ke pantai untuk menenangkan diri dengan membawa mobil sndiri, betemu Robi.. memberikan suport agar Vanessa cerai, Vanessa diam tidak menanggapi.... datang Rendra dengan tertawa....sebenarnya hati Rendra sangat sakit dan terkoyaak seakan tercabik-cabik melihat orang yang dicintainya terluka, melihat orang yang dicintai hidup di madu dan disakiti akan tetapi Rendra tdk menunjukkan rasa sedih nya di depan Vanessa.
dia justru tertawa mengejek)
"Sudah tau disakiti tidak mau pergi tetap bertahan itu bodoh lebih baik kamu mati saja daripada jadi orang bodoh)
perkataan Rendra langsung membuat emosi Vanessa yang membeku naik dengan perasaan marah Vanessa pun berkata.
" Iya aku memang bodoh dan Aku memang pantas mati, dan semua yang terjadi dalam kehidupan Aku itu karena kamu Rendra Admaja..)
Setelah bicara dengan marah Vanessa berlari masuk ke dalam mobil, mengendarainya dengan sangat kencang dan dengan kecepatan tinggi.
Rendra dan Robi terkejut dan takut mereka mengejar... akankah Vanessa benar-benar ingin mati bunuh diri**...?????
__ADS_1
Eva tidak Terima kakaknya di madu mulai merencanakan aksi balas dendam pada Arum.. dan akankah rencana Eva berjalan lancar dimana Arum dilindungi Faizal kakaknya...?