
Dengan langkah yang tergesa-gesa Arum segera menaiki tangga berjalan dengan sedikit cepat, Arum benar-benar ingin mengetahui apa yang dilakukan Bara Suaminya pada Wanita yang kini menjadi madunya, Arum sangat yakin jika Bara akan sangat marah kepada wanita yang menjadi Madunya, di mana Arum melihat dengan mata kepala sendiri ketika Bara menarik dan menyeret Wanita yang menjadi madunya Naik ke lantai atas.
"Pasti Wanita itu sedang menahan sakit dari Mas Bara karena Aku yakin Mas Bara pasti akan memukulnya dengan keras, Mas Bara itu sangat kasar dan tidak suka main-main jadi rasakan kau Wanita jelek. "sungut Arum bermonolog sendiri sambil melangkah menaiki anak tangga.
Sementara itu di dalam kamar Bara masih berusaha merayu istrinya yang lagi marah kepadanya.
" Sayang, maafkan Aku sungguh Aku tidak bermaksud begitu kamu tau Mikha bilang kita harus saling memaafkan agar kita bisa hidup tenang dan bahagia, "ucap Bara sambil memainkan kedua bola matanya berkedip jenaka.
" Ngak usah bawa-bawa Mikha deh, Mas nuduh Aku pemalas dan tidak menghargai Mas kan?
"Iya tapi itu kan karena Aku tidak tau jika Wanita itu, ___ ya wanita itu pembantu suruan Mama Aku tidak tau kan dan kamu juga pernah bilang semua kesalahan yang tidak sengaja bisa di maklumi dan si maafkan, mana buktinya Aku salah dikit tidak dimaafkan nih, "
Vanessa menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan dengan perlahan-lahan Vanessa membalikkan badannya menatap tajam kepada suaminya kemudian berjalan mendekati Bara yang kala itu berdiri sambil menatap wajah Vanessa dengan tatapan mata yang sendu dan sayu seolah-olah meminta dan mengharap agar Vanessa akan Iba kepadanya.
"Ya, Mas Bara benar semua kesalahan dan kekhilafan aku akan memaafkan kecuali kesalahan satu yang takkan pernah aku maafkan, yaitu kesalahan dari sebuah penghianatan Jadi aku harap Mas Bara Aku harap tidak melakukan kesalahan yang sangat sakral itu karena itu yang tidak akan pernah Aku maafkan, baiklah untuk kesalahan saat ini aku maafkan, " ucap Vanessa dengan tenang.
Sementara Bara bagaikan orang yang baru saja minum dan tersedak.
"Uhuk..!
" Uhuk..!
"Kok tiba-tiba batuk, tunggu sbentar Aku ambilkan minum,"
" Hehehe, tidak apa-apa sayang tapi kamu sudah maafin Aku kan? "
"Yaa, "
"Trimakasih, sayang. " ucap Bara sambil menatap istrinya yang sedang mengambilkan minum untuknya.
__ADS_1
Vanessa segera melangkah dan mengambil gelas yang ada diatas meja dan menuangkan Air putih didalam nya kemudian mengulurkan air putih itu kepada Bara,yang kala itu sedang terbatuk
Sungguh perkataan Vanessa membuat Bara terdiam menahan sesak didalam hatinya.
"Bagaimana ini, bagaimana jika Vanessa tau jika Wanita yang menjadi pembatu baru di Rumah ini juga Isteriku, Aku harus bagaimana, tidak Vanessa tidak boleh tau semua ini dan sebelum terlambat Aku harus mencari cara agar Vanessa tidak pernah mengetahui ini.
"Ini minum kok malah jadi melamun ada apa?
Bara langsung memamerkan barisan giginya pada sang Istri dengan tersenyum smrik.
" Trimakasih, sayang tentu saja Aku memikirkan kamu dan kita semua sayang besok kita pindah Rumah, Aku akan beli Rumah baru untuk kita, "
"Besok? "tanya Vanessa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Bara menganggukkan kepala ketika Vanessa menatapnya dengan tatapan mata tak percaya sungguh Vanessa merasa heran karena dirinya dan Bara baru tinggal di Rumah sang Mama mertua satu hari akan tetapi Suaminya sudah ingin mengajaknya untuk membeli Rumah baru dan tinggal di Rumah baru sendiri, seolah-olah Bara tidak merindukan Mamanya.
"Aku rasa tidak perlu buru-buru Mas, kasian Mama juga dia pasti masih rindu padamu Mas masak kita cepat-cepat pergi, "
"Tidak apa-apa Sayang, kan kita bisa datang berkunjung sewaktu-waktu. "
"Iya sih tapi jangan secepat ini tunggu satu minggu lagi Aku ngak enak sana Mama, "
"Tapi, Sayang, _____
" Tok...!
"Tok...!
belum sempat barang menyelesaikan ucapannya tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar Hal itu membuat barang sedikit perasa heran dan aneh karena tidak biasanya pintu kamarnya diketuk dari luar.
__ADS_1
"Biar Aku yang buka, "
"Jangan sayang, tidak Biasanya seperti ini, siapa yang ngetuk pintu kalau Mba Sri dia kan tau kalau Aku sudah ada di dalam kamar bersamamu dia tidak akan datang mengaggu, kecuali sangat penting, kalau seperti ini biar Aku saja yang buka, "
"Ya sudah buka sana cepat kasiani kalau Mba Sri menunggu terlalu lama di. luar. "
Bergegas Bara membuka pintu kamarnya dan ketika pintu terbuka Alangkah terkejutnya Bara ketika mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu, bahkan karena sangat terkejutnya Bara tidak membuka dengan lebar pintunya karena dia tidak ingin istrinya tahu siapa yang sedang datang menemui dirinya.
"Kau lagi, mau apa kesini pergi sana, "
"Apaan sih Mas Aku kesini kan, ____
Arum belum sempat menyelesaikan ucapannya suara Vanessa yang berseru dari dalam membuat Arum dan Bara sama-sama diam tertegun.
" Mas, siapa? Apa mba Sri..? "
"E-ng Anu tidak sayang tidak ada siapa-siapa kita salah dengar, "
"Tidak Mba, ini saya Arum..! seru Arum yang sangat memahami situasi.
Arum tau maksud dari Bara agar Istrinya tidak keluar dan tidak tau kedatangannya, tapi Arum juga paham jika dirinya diam dan selalu mengalah maka dirinya tidak akan mendapatkan apa-apa selain menangis dan Air mata, selagi Arum bisa maka dirinya akan memperjuangkan apa yang juga sudah menjadi haknya Bara juga Suaminya dan dia juga berhak atas Bara untuk itu Arum tidak akan mundur lagi dalam permainan dan persaingan ini, terlebih ada Mama mertua yang siap mendukung langkahnya, Arum bertekad akan membuat Bara mengakui akan kehadirannya sebagai istri keduanya dan masalah Bara akan bertengkar atau akan ada masalah dengan Istrinya itu bukan urusannya semakin hubungan mereka kacau akan semakin besar peluang dirinya bisa menjadi Istri utama Bara suaminya dan hal itulah yang diinginkan oleh Arum yang sesungguhnya menjadi istri satu-satunya.
"Berani sekali kau bicara dan berteriak begitu, " geram Bara dengan suara penuh penekanan sementara Arum hanya tersenyum melihat kekhawatiran dan kegundahan Suaminya.
"Hei, Arum ada apa? "
"Ini Mba, saya bawakan makanan untuk Mas Bara maksud saya Tuan Bara, "
Arum buru-buru meralat ucapannya ketika Bara melotot kepadanya.
__ADS_1