DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 185.Berhentilah Menangis


__ADS_3

Melihat temannya Robi melalui kaca spion sedikit kesal, Rendra menggulum senyum, sambil menggelengkan kepalanya. Robi yang melihat hal itu merasa sangat geram dan kesal karena dirinya yang merasa peduli dan perhatian kepada temannya Tidak Dianggap sama sekali bahkan Robi melihat Rendra justru tersenyum melihat kekesalan hatinya.


"Buuuugh..!


karena sedikit merasa gemas dan kesal Robby memukul kecil punggung Rendra yang karena itu sedang senyum-senyum sambil mengemudikan mobil.


" Auuwh..! kenapa aku harus dipukul Apa salahku tanya Rendra sok poloos dan tidak mengerti apa maksud dari Robi yang memukul dirinya, seperti Robi semakin kesal dan geram bicara dengan sedikit keras seolah dua orang laki-laki yang ada di sampingnya di mana kedua tangan dari laki-laki itu terikat ke belakang seolah-olah dianggap patung tak berguna sehingga keberadaan kedua orang itu yang ikut merasa bingung mendengarkan pertengkaran diantara mereka berdua.


"Dasar tidak tau trimakasih tidak peka juga teman berjuang untuk memberikan kebahagiaan yang ingin kamu dapatkan Justru malah kamu tertawakan seolah-olah perjuanganku tidak Kamu hargai sama sekali. "


"Hahaha, jangan marah kamu Nanti akan terlihat semakin tua, sudahlah jangan memikirkan itu, Aku tidak apa-apa jika Anakku tidak manggil ku Papa, Aku Terima semua yang Nesa putus kan dan Aku yakin itu yang terbaik, aku cuma berharap dan berdoa semoga saja Vanessa memberikan izin aku untuk bisa bersama dengan anakku meskipun hal itu sangatlah tidak mungkin. "


"Dasar Dokter bodoh, mau sampai kapan kamu begitu, kebahagiaan itu tidak datang dengan sendirinya tapi butuh perjuangan dan pengorbanan Jika kamu hanya diam menunggu dan tidak memperjuangkannya maka kamu tidak akan mendapatkan apa apa, manalah mungkin kamu itu tidak tahu tentang hal itu, " seru Robi dengan suara yang sedikit kesal dan geram karena Robi merasa sangat gemas sekali dengan sahabatnya yang terlihat tenang dan Acuh tapi sebenarnya hatinya begitu menginginkannya, sangat munafik dan sangat tidak jujur dengan hatinya sendiri bahkan Robi merasa sangat lelah karena menjadi dirinya lah yang seolah-olah sangat butuh dan lebih berjuang daripada yang akan merasakan dan mendapatkan nya.


"Sudah simpan energi kamu itu jangan brisik saja, karena sebentar lagi kita akan sampai setelah ini urusan kita belum kelar karena kita harus bisa menemukan Mikha dengan cepat, Aku tidak mau Anakku kenapa-napa Aku khawatir dia sedang menangis dan ketakutan karena jauh dari Mamanya. "


"Ya, Ren soal itu kamu tidak perlu khawatir karena Aku sudah siap untuk membantu cuma Aku itu ingin Anak kamu itu cepat memanggilmu Papa dan Aku akan dia panggil dengan sebutan Paman, Vanessa itu benar-benar tidak berperasaan padamu, masak membiarkan kamu tidak bisa mengatakan jika kamu itu Bapaknya. "


"Vanessa pasti memiliki alasannya sendiri dan Aku menghormati hal itu jadi sudah jangan bertindak dan bertingkah tanpa izin Vanessa dan aku peringatkan kamu jangan sekali-kali mengatakan kepada Mikha jika Aku adalah Papanya, karena Aku ingin Mikha bisa mengetahui jika aku adalah orang tuanya itu dari Mamanya sendiri bukan dari orang lain apa kamu ngerti itu, dan aku harap kamu mau berjanji untuk tidak mengatakannya karena jika tidak aku tidak mau menjadikan kamu temanku lagi dan aku juga tidak mau memiliki sepupu sepertimu, "ucap Rendra dengan sangat tegas membuat Robi memilih untuk membuang muka karena kesal

__ADS_1


" Ya, jangan khawatir Aku tidak akan mengatakan dan silakan kamu tunggu sampai dunia kiamat Vanessa baru mau ngasih tau jika kamu itu bapaknya. "sungut Robi dengan Wajah kesal.


Rendra tertawa renyah mendengar perkataan marah dari temannya, Mobil terus melaju dengan cukup kencang dan kini sudah memasuki halaman dari kantor keepolisiian.


" Turun cepat, " bentak Robi pada kedua orang tawanannya dengan dibantu Rendra.


Robi membawa tawanan itu masuk ke dalam kantor, kurang lebih satu jam lamanya Robi dan Rendra serta kedua orang laki-laki yang menjadi tawanannya berdiri menunggu hasil dan keputusan hingga akhirnya kedua orang laki-laki itu mendapatkan perintah tinggal di dalam sebuah ruangan berdinding besi.


Rendra dan Robi segera pergi setelah mengucapkan terimakasih.


Di sebuah Rumah yang jaraknya juga cukup jauh dengan Rumah tetangga bahkan bisa dikatakan Rumah itu sangat terpencil dengan Rumah warga lainnya tampak salah satu laki-laki yang baru saja memesan makanan dan menikmati makannya di samping ruangan yang lebih luas dan nyaman, menyatap makanan pesannya dengan sangat lahap.


"Habiskan makanan kamu, ini Rejeki buat kita cuma menjaga satu Wanita bodoh dan satu Anak kecil kita diberi uang yang lumayan banyak dan akhirnya kita bisa makan enak dan beli minuman yang mahal dan berkelas.


"Ting..! Bunyi gelas yang sengaja dibenturkan untuk mereka bersulam.


Mereka tertawa sambil minum minuman arak yang mereka beli. Di dalam kamar tempat Mikha dan Mba Sri di tahan Mikha terus menangis membuat Mba Sri Iba dengan penuh kasih sayang Mba Sri memeluk Mikha.


"Sabar ya Non, sebentar lagi Mama Nesa pasti akan segera datang untuk menjemput kita. "

__ADS_1


"Huaa, huaa, Mikha mau pulang sekarang..!!!


"Iya ya sabar sebentar Non Mikha jangan menangis, Nanti orang orang jahat itu akan mendengar dan Marah sama kita, Non Mikha diam ya! " bujuk Mba Sri dengan penuh rasa takut .


Mbak Sri sangat takut dan khawatir Jika suara berisik dari Mikha yang menangis bisa membuat kedua orang laki-laki yang menyandera mereka akan terganggu, Kemudian datang dan marah hal itu sangat dikhawatirkan oleh Mbak Sri untuk itu Mbak Sri berusaha keras menenangkan Mikha agar tidak menangis dengan sangat kencang akan tetapi semakin mbak Sri membujuk meminta Mikha untuk berhenti menangis Mikha semakin menangis dengan sangat kencang dan apa yang menjadi kekhawatiran Mbak Sri akhirnya terjadi juga.


Dimana tiba-tiba pintu kamarnya di dobrak dari luar dengan suara yang sangat keras hingga membuat Mbak Sri terkejut begitupun juga dengan Mikha di mana suara tangisnya semakin keras dan kencang.


"Suruh Anak ini diam! atau Aku yang akan membuat nya diam dengan caraku, "


"Ba-baik, tolong jangan sakiti dan ganggu Non Mikha dia masih Anak anak dia tidak tau apa yang dia lakukan Aku minta maaf Aku berjanji akan segera membuat nya diam, "


"Bagus, jika Aku dengar lagi Suara Anak itu maja Aku yang akan membuatnya diam. "


"I-iya," jawab Mba Sri dengan sangat gugup Mbak Sri segera mendekati Mikha dan menaruh tangannya pada mulut Mikha sehingga suara tangisnya tidak bisa lagi keras.


Mikha memberontak dengan apa yang dilakukan oleh Mba Sri pengasuhnya dengan mengoyang ngoyangkan tubuh kecilnya.


Mendengar janji dan penjelasan dari Mbak Sri laki-laki yang tadi datang dengan mendobrak akhirnya keluar dari dalam kamar dengan membanting pintu Hal itu membuat Mbak Sri terkejut dan mengeelus dadaa, Mba Sri menarik napas lega.

__ADS_1


"Syukurlah mereka pergi, Non tolong jangan menangis lagi, diam kita cari cara untuk bisa kabur dari tempat ini, apakah Non Mikha mau? "


Mendengar perkataan dari Mba Sri Mikha langsung diam dan menganggukkan kepala, hal itu membuat Mbak Sri tersenyum dan menarik napas lega, meskipun Mba Sri sendiri tidak yakin jika dirinya bisa keluar dari kamar itu, tapi yang terpenting saat ini Non Mikha nya tidak menangis lagi dan hal itu tidak akan membuat laki-laki yang menawan mereka berbuat khilaf dan Nekad untuk memukul Non Mikha nya.


__ADS_2