DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 157.Tidak Tenang


__ADS_3

Perkataan Vanesa yang datar bahkan terlihat dingin membuat hati Bara sedikit bergetar ada rasa tidak enak dan tidak nyaman ketika mendapatkan Izin dari Istrinya secara dingin.


Vanesa yang sudah mengatakan dan mengizinkan Bara pergi, tanpa menoleh kebelakang langsung melangkah menuju anak tangga, Vanesa berniat untuk Naik ke lantai atas kamarnya.


Bara yang melihat hal itu sungguh dibuat kelimpungan, entah mengapa tidak ada senyum dan juga wajah ceria Istrinya membuat Bara merasa sulit untuk bisa segera pergi. perasaan hatinya yang sangat tidak tenang seolah olah ada satu beban berat yang menganjaal di hatinya.Karena Bara merasakan Hatinya tidak tenang akhirnya dia menahan tangan Vanesa yang kalau itu hendak Naik ke kamar lantai atas. i


"Sayang tunggu..!


Vanesa menatap tangan Bara yang menggengam tangannya.


" Ada apa? "


"Sayang apa kamu marah? "

__ADS_1


"Marah kenapa Mas, "


"Aku akan pergi mengantar Arum, "


"Tidak, Bukankah aku sudah mengatakan jika aku mengizinkan kamu pergi kenapa Masih bertanya, "


"Iya, sayang kamu memang sudah mengizinkan diriku tapi sepertinya Apa yang kamu katakan itu sangat terpaksa, aku tidak melihat senyum di wajahmu itu artinya kamu tidak terlalu menyukai kepergianku Apa benar seperti itu. "


Anisa menari tangannya dari genggaman tangan para kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan seolah-olah ada beban berat yang sengaja dia simpan kemudian bibirnya tersenyum tipis.


Mas Bara tidak perlu memikirkan Aku ataupun menghiraukanku biasa saja Aku tidak aapa-apa, 'ucap Vanesa yang kemudian melangkah Naik ke atas kamarnya dan Bara tidak bisa mencegah kepergian Vanessa lagi Bara hanya bisa menatap dengan pandangan mata yang sendu karena apa yang dikatakan Vanessa semuanya memang bbenar, jika Vanessa melarang dirinya pun dirinya tidak mungkin menuruti dan mendengarkan apa yang Vanessa katakan karena Bara harus mengikuti perintah dari Mamanya dimana Bara diminta untuk segera mengantar Arum pergi ke Dokter dikarenakan sakit yang Arum derita kambuh lagi.


Dengan perasaan yang tidak menentu akhirnya Bara membalikkan badan kemudian melangkah menuju ke ruang tamu dan berjalan keluar halaman Rumah, Di mana Di depan mobilnya sudah berdiri menunggu Mama Sukma dengan pandangan mata dari mama Sukma kala itu benar-benar sangat tajam dan sangat terlihat dingin kepadanya seolah-olah sedang Marah dan benar saja ternyata tidak lama kemudian mamanya memanggil dan berteriak kepadanya

__ADS_1


"Bara, kamu lama sekali Apakah kamu tidak tahu jika Arum sedang kesakitan seperti itu cepat pergi sebelum sakit yang Arum derita lebih parah dan bisa membuat bayi yang ada dalam kandungan Arum Kenapa napa."


Dengan sangat lemah Bara Mengaggukkan kepala.


"Ayo kita berangkat, " ajak Bara pada Arum agar segera masuk ke dalam Mobilnya dan dengan cepat Arum segera langsung masuk ke dalam mobil dengan hati yang riang dan juga dengan hati yang sangat bergembira karena dirinya akan bisa berduaan dengan cukup lama dengan Bara meskipun apa yang akan dilewati bersama dengan Bara masih dalam situasi yang terpaksa.


Suasana di dalam mobil terlihat sangat Hening dan legam Bara tidak banyak bicara ataupun mengajak bicara Arum yang kala itu duduk di sampingnya sementara Arum menatap barang yang kala itu sibuk dan fokus mengemudikan mobilnya.


"Mas, trimakasih ya sudah mau mengantar Aku, "


tanpa bicara Bara mengganggukan kepala Arum yang melihat hal itu sedikit merasa kecewa karena Bara sama sekali tidak bicara.


"Mas, apakah kamu tidak suka dan tidak ikhlas mengantar aku pergi ke dokter Bukankah ini juga sudah menjadi tanggung jawabmu karena bayi yang aku kandung adalah anakmu. '

__ADS_1


" Aku tau, dan sudahlah jangan bicara apapun lagi karena aku tidak memiliki keinginan untuk mendengarkan apa yang ingin kamu katakan." ucap Bara pada Arum,


Apa yang Bara katakan benar-benar membuat Arum sedikit kesal dan geram, karena Arum tau jika Bara pergi dengan terpaksa.


__ADS_2