
Beberapa kali Robi meneguk ludahnya, seolah-olah kerongkongan terasa kering, Robi bingung harus mulai bicara dari mana sementara Rendra memberikan bermacam-macam pertanyaan sambil menatap wajahnya dengan sangat intens.
Sambil mengaruk kepala nya yang tidak gatal Robi mencoba menghindari pertanyaan Rendra dengan melangkah menuju Almari dimana beberapa baju tersimpan disana.
Merasa di cueki dan beberapa pertanyaannya tidak dijawab oleh Robi membuat Rendra sedikit kesal untuk itu Rendra mengikuti langkah kaki rapi dari belakang sambil terus bertanya.
"Hei, Rob jawai dulu pertanyaan ku, " ucap Rendra dengan sangat kesal yang mana Robby berusaha untuk tenang dan tidak menghiraukan segala pertanyaan dari Rendra.
"Tenanglah Ren, kamu tadi itu salah dengar Mana ada aku mengatakan tentang Vanessa kamu saja yang salah mendengarkan Makanya kamu jangan hanya memikirkan Vanessa saja sehingga orang lain Bicara apa kamu berpikirnya Vanessa sudah kamu minggir sana Aku mau berganti baju ucap Robi memberikan jawaban kepada Rendra yang mana membuat Rendra semakin kesal dan gusar membuat kesabaran Rendra berada di ujung puncaknya yang mana dengan sangat keras dan kasar Rendra menarik kah baju Robi sehingga tubuh Robi berputar berbalik menatap wajah Rendra.
"Haiss, kamu ini kenapa sih Ren? "
"Jawab dulu pertanyaanku, "bentak Rendra yang merasa kesal.
"Aku kan sudah menjawab nya mau jawaban yang bagaimana lagi, sudah jangan pikirkan itu lagi, Aku sudah lapar, mari kita turun untuk mencari makan."
"Rob, Kenapa sih kamu tidak jujur padaku sekarang Ceritakan padaku Vanessa yang mana yang kamu maksud atau jangan-jangan kamu sebenarnya sudah tahu di mana Vanessa berada Ayolah kamu jawab pertanyaanku. "
"Ren, setiap hari Aku selalu bersama mu dan mana Aku tau tentang Vanessa, tadi itu Aku hanya salah ucap saja, mungkin karena Aku juga sangat merindukan Vanessa, bukan kah kamu juga tau betapa Aku dan Vanessa itu juga teman dekat, jadi Aku tidak salah jika tiba-tiba Aku salah sebut. "ucap Robi membela diri, Robi benar-benar khawatir jika Rendra mendesak dan terus bertanya tentang Vanessa sementara dirinya sendiri tidak tahu di mana keberadaan Vanessa saat ini, meskipun jauh di dasar hatinya yang paling dalam Robi sedang menunggu SMS dari Arman tentang alamat Vanessa yang berada di brosur butik yang yang akan segera diresmikan.
__ADS_1
Mendengar perkataan Robi yang memang masuk akal membuat Rendra menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Baiklah kita turun mencari makan dulu. kamu cepat berganti baju Aku tunggu kamu di lantai bawah aku akan pesan makanan di sana" ajak Rendra pada akhirnya, yang mana Hal itu membuat hati Robi merasa lega, karena Rendra tidak lagi mempertanyakan tentang Vanessa yang mana Robi sendiri saat ini tidak tahu di mana Vanessa berada, sungguh sebenarnya Robi sangat menyesal dan merasa bodoh karena brosur yang sangat penting itu Raib dan hilang begitu saja.
"Baiklah Ren, kamu pesankan juga makanan untukku Yang Sama denganmu biar nanti setelah aku selesai mengganti baju aku terus makanan itu sudah tidak terlalu panas dan sudah terhidang di atas meja. "
"Ok, tidak masalah aku akan pesankan untukmu Hari ini aku baik padamu dan hari ini Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke toko-toko baju siapa tahu kamu ingin membawa oleh-oleh untuk pacar kamu yang ada di Jakarta kamu bisa memberikan baju untuknya, Tapi ingat jangan lupa kamu bawa uang card kamu agar kamu bisa memilih dan membeli baju apapun yang kamu suka. "
Dengan tersenyum masam Robi menganggukkan kepala sementara Rendra segera meninggalkan ruang kamar dan turun ke lantai bawah di mana Rendra berniat untuk sarapan pagi atau breakfast.
Setelah Rendra keluar dari dalam kamar Robi menarik nafas lega kemudian buru-buru Robi mengambil ponsel hp-nya dia berniat untuk menghubungi Arman kembali, Robi benar-benar tidak rela jika kepergiannya Ke London untuk bertemu dengan Vanessa semua sia-sia dengan cepat Robi segera menekan satu nomor telepon yang tertera nama Arman.
Sudah menunggu selama kurang lebih dari 20 menit akan tetapi telepon itu tidak diangkat juga sampai akhirnya sambungan telepon pun terputus sendiri, Robi merasa kecewa karena kelihatannya Arman tidak berada dekat dengan ponsel hp-nya atau Arman sedang sibuk tapi Robi tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dalam hati semoga Arman segera melihat panggilan telepon darinya Dan segera mengirimkan alamat brosur yang telah dijanjikan untuknya.
Melihat kedatangan Robi yang jalannya terlihat seperti macan yang sedang lapar Robi menggelengkan kepala nya.
"Ada apa, lagi patah hati apa ya? atau jangan-jangan kamu baru saja ditelepon oleh pacar kamu dan kamu diminta untuk membelikan baju yang bermerek mahal akan tetapi kamu tidak bisa memenuhi keinginan dari pacarmu Untuk itu kamu terlihat sangat lemas dan tidak bertenaga Apakah benar seperti itu, Kenapa sih kamu menjadi laki-laki yang bodoh sudah abaikan saja pacar kamu yang ada di Jakarta itu jangan kamu pedulikan lagi dia mau minta apapun tidak perlu Kamu turuti apalagi ingin minta dibelikan baju dengan bermerek mahal dan di tempat yang sangat terkenal pula, " Crocos Rendra yang merasa sangat gemas dengan sikap dan Robi yang terlihat tidak memiliki semangat.
Robi sendiri sedikit heran dengan apa yang dikatakan oleh Rendra di mana sedikit sedikit Rendra selalu menyinggung tentang pacarnya yang minta dibelikan baju mahal dengan merek mahal dan di tempat yang terkenal, Hal itu terlihat aneh karena seolah-olah Rendra seakan mengetahui sesuatu akan tetapi Robi masih belum mengerti apa itu.
__ADS_1
"Kamu kalau bicara jangan suka nuduh begitu Ren, mana ada pacarku berani minta seperti itu, lagi pula Aku itu belum memiliki pacar yang pas jadi semuanya hanya sekedar teman." jawab Robi sedikit kesal, Robi, segera meraih makanan yang ada di depannya kemudian tanpa menunggu lagi Robi segera melaahap makanan yang terhidang di depan meja.
Melihat Robi makan dengan sangat antusias dan lahap Rendra kembali mengeryitkan dahinya.
" Pelan-pelan Rob kalau makan kayak orang sedang kelaparan saja kamu itu, "
"Aku memang sedang sangat lapar Ren jadie Aku tidak akan sungkan makan semua yang kamu pesankan ini, "
Rendra hanya menggelengkan kepala Tak lama kemudian ponsel hp-nya pun berdering otomatis Rendra segera bangkit dari duduknya kemudian dengan bahasa isyarat menyuruh Robi untuk menikmati makan sendiri sedangkan Rendra ingin menjawab telepon yang Ternyata Dari Mamanya.
Menyingkir dari keramaian agar bisa menjawab telpon dari sang Mama.
"Halo, Ma ada apa, tumben menelpon Rendra, "
"Begini, Ren, Mama mau kamu membelikan Mama baju yang memiliki merk yang bagus dan terletak di sana Mama mau kamu belikan Mama tiga potong baju ya? "
"Tapi, Ma Rendra mana tau Merk baju yang terkenal disini, "
"Sudah, itu urusan kamu pokoknya Mama mau kamu belik itu, sudah, Mama lagi di tempat Arisan ini ingate jangan lupa belikan untuk Mama. "
__ADS_1
"Tit..!
Sambungan telepon pun langsung dimatikan Rendra sedikit bingung menghadapi sikap Mamanya yang terlihat sangat aneh karena Rendra sendiri tidak tahu harus pergi ke mana mencari merek baju yang terbagus dan terbaik di kota London, hingga akhirnya Rendra teringat suatu kertas brosur yang dia simpan ketika dia menemukan kertas brosur di rumah Robi yang mana memang sengaja Rendra ambil agar Robi tidak membuang-buang uang untuk pacarnya.