DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 191.Kemarahan Rendra


__ADS_3

Rendra yang merasa sangat cemas Dan Panik melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi bahkan dengan berani Rendra menerobos lampu merah, banyak peluit dan juga polisi yang kala itu sedang berjaga merasa geram, bahkan ada diantara mereka yang langsung tancap Gas Motor untuk mengejar Mobil dari Rendra.


Entah mendapatkan pengalaman dari Mana Rendra yang kala itu sedang di kejar polisi membelokkan Mobil dengan sangat cepat kemudian memutar arah.


Robi sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rendra yang terlihat sangat profesional dalam melihat jalan, memutar arah bukannya kembali lagi ke asal mula dan jauh dari tujuan, akan tetapi juga bisa semakin dekat hingga polisi itupun kehilangan jejak.


Tidak lama kemudian sekitar 20 menit Rendra sudah memasuki halaman rumah sakit yang dituju Rumah Sakit xx Jaya, di mana di tempat itulah Vanessa pingsan entah apa yang membuat Vanessa pingsan dan berada di dalam rumah sakit Rendra tidak mengatakan apapun kepada Robi dan Robi hanya bisa mengikuti sambil memijit-mijit kepalanya karena merasa pening dan pusing dengan sikap bosnya yang berubah bersikap dan kelakuan secara mendadak dan hal yang sangat menjengkelkan semua perintahnya dan semua keinginannya tidak bisa ditawar-tawar karena jika dirinya menawar sudah otomatis diturunkan di Jalan, Karena Rendra tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Mobil membelok dengan sangat cepat di tempat parkir kemudian dengan sangat cepat pula Rendra membuka pintu mobil kemudian menutupnya dengan sangat keras dan tanpa menunggu Robi turun Rendra sudah berjalan mendahului masuk ke dalam Rumah Sakit hal itu semakin membuat Robi geram dan kesal karena Rendra tidak menunggu dirinya.


"Eh, Ren tunggu..! "


Seolah tuli Rendra tidak menghiraukan teriakan Robi yang kala itu terburu-buru turun dari mobil dan mengunci mobil kemudian dengan sedikit berlari Robi mengejar langkah kaki dari Rendra dan berdiri mensejajarinya.


"Ren Slow sedikit kenapa, Vanessa cuma pingsan bukan mati kamu kok seperti orang kesetanan begitu, "


Mendengar perkataan Robi dengan cepat Rendra menghentikan langkah kakinya, Wajahnya merah padam dan kedua tangganya langsung mencengkram kuat krah baju Robi, tentu saja hal itu membuat Robi sangat terkejut, baru kali ini dirinya melihat kemarahan Rendra yang sangat besar.


"Jika kamu tidak tau apa-apa lebih baik diam dan pergilah Aku tidak butuh kamu temani. " sinis Rendra sambil mendorong tubuh Robi untuk menjauh darinya.


Robi yang tidak menyangka Rendra akan semarah itu merasa sangat terkejut dan bingung.


"Ren, Aku tadi cuma bercanda jangan marah, Ren tunggu..!


Rendra tidak memperdulikan teriakan Robi langkah kaki Rendra semakin cepat dan lebar.


" Di mana Wanita yang baru saja pingsan, "


"Di Ruangan sana, apakah Anda kerabatnya kasian sekali dia itu tadi sedang, ____


" Diam, jangan berisik Aku tidak mau mendengar apapun, "bentak Rendra pada salah satu penjaga Rumah Sakit yang memberikan Informasi kepadanya.


Tentu saja apa yang dilakukan Rendra membuat sang penjaga menghentikan langkah kakinya kemudian menatap Robi dengan tatapan dan pandangan mata penuh dengan tanda tanya, Robi yang memahami hal itu hanya menaikkan bahunya sebagai jawaban Jika dia juga tidak mengerti.


sampai di depan pintu render segera membuka pintu dan langsung disambut oleh suster Yuni yang kala itu menjaga Vanessa yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Dokter Rendra..!


" Mana dia!


"Itu Dokter, Suster Vanessa belum sadar dari pingsannya dan saya baru saja mendapatkan informasi jika Suster Vanessa mendonorkan darah tanpa di priksa terlebih dahulu kesehatan nya, mereka beralasan karena Waktunya sangat mendesak dimana Pasien nya benar-benar kritis dan tidak bisa menunggu lama."


"Tinggalkan kami berdua disini tutup pintunya. "


"Baik, Dok, "


Suster Yuni segera keluar dari Ruangan dan pada saat itu Robi hendak masuk akan tetapi Suster Yuni melarangnya.


"Jangan masuk, Dokter Rendra sedang membantu Suster Vanessa untuk sadar. "


"Cuma pingsan saja kenapa sampai segitunya, halah bilang saja tuh Dokter Rendra mau di dalam berduaan doang, " cicit Robi sambil senyum-senyum.


Suster Yuni menatap Robi dengan tatapan mata yang tidak suka, Wajah cerianya mendadak menjadi dingin.


"Aku tidak tau siapa anda saya cuma mau ngasih tau kepada Anda jika Anda tidak tau apa-apa lebih baik Diam dan Do'akan yang terbaik saja." ucap Suster Yuni yang kemudian memilih duduk sedikit menjauh dari Robi.


Ucapan Suster Yuni yang secara kebetulan sama dengan ucapan Rendra kalau itu membuat Robi mulai bertanya tanya.


Dengan perlahan-lahan Robi mendekati Suster Yuni,


"Maaf, apa maksudnya dari kata jika tidak tau apa-apa lebih baik diam? "

__ADS_1


"Duduk saja kita tunggu Dokter Rendra keluar, "


Jawaban dari Suster Yuni semakin membuat Robi merasa heran dan bertanya-tanya.


Di dalam Ruangan Rendra menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan sangat kasar.


"Croboh, kamu benar-benar Croboh dan selalu berbuat bodoh, Aku tidak mengerti kenapa sampai bisa mempertaruhkan nyawa sendiri demi orang lain, cepat sadar jangan tidur saja capek Aku kalau harus ngurus penyakitmu ini, bangunlah Nes, "Seru Dokter Rendra dengan suara penuh penekanan.


Rendra menarik napas panjang kemudian mengusap kasar Wajahnya.


" Mana mungkin dia bangun, Vanessa tidak akan bisa secepat ini sadar dan Aku tidak bisa juga membuang-buang Waktu.


Dengan cepat Dokter Rendra membuka pintu dan meminta Suster Yuni untuk masuk, dimana luar Ruangan telah berdiri Dokter yang membantu Vanessa untuk mendonorkan Darahnya.


"Dokter Rendra maaf saya benar-benar tidak tau dan Saya minta maaf atas kejadian ini, "


"Istriku tidak akan sembarangan mendonorkan darahnya pada orang, Maksudku Pasien ku, tidak akan mudah mendonorkan Darahnya pada Orang karena dia tau resikonya, sekarang cari tau dan berikan infonya padaku siapa orang yang telah mendapatkan Darah dari Pasienku Aku yakin Istriku sangat mengenal orang itu maksudku Pasien ku sangat mengenal Orang itu. "


"Baik, Dok, saya akan segera mencarikan informasi dan segera memberitahu Dokter."


"Suster Yuni Bantu membawa semua barang Miliknya kita pindahkan Suster Vanessa ke Rumah sakit Sehat Sentosa. "


"Baik, Dok, "


"Ren, Nesa, kenapa sih? "


"Tidak kenapa-napa Ayo bantu Aku, siapkan Mobilnya. "


"Dokter, saya sudah mendapatkan informasi nya dan apakah Nona ini tidak di rawat di Rumah sakit ini, saya akan siapkan Ruangan khusus. "


"Tidak, Dia harus ditangani Dokter Bambang karena pasien saya ini adalah pasien dari Dokter Bambang dan beliau hanya bertugas dan ada di Rumah Sakit Sehat Sentosa."


"Oh baiklah Saya akan sediakan Mobil Pribadi untuk Dokter Rendra.


Tidak menunggu lama Vanessa sudah berada di dalam mobil pribadi yang tempat nya seperti Ruang kamar dimana Vanessa bisa berbaring dengan nyenyak.


Robi hanya bisa menggelengkan kepala ketika ingin membantu Mengagkat tubuh Vanessa, Rendra tidak mengizinkan.


Robi dan Rendra yang membawa Vanessa dan Suster Yuni akhirnya sampai di Rumah Sakit Sehat Sentosa dimana Rumah sakit ini adalah Rumah Sakit Pribadi Milik Rendra dan tempat Pertama kali Vanessa bekerja sebagai Suster.


Kedatangan dari Dokter Rendra dan Vanessa langsung disambut beberapa Dokter dan Suster semua segera membantu Dokter Rendra membawa Vanessa masuk ke dalam Ruang perawatan pribadi milik Dokter Bambang.


"Dokter Rendra, kamu tenang saja Suster Vanessa hanya kekurangan darah sehingga dirinya terlihat sangat pucat dan lemas sebentar lagi Dia akan siuman saya sudah memberikan obat kepadanya. "


"trimakasih Dok, "


"Suster Yuni, tolong jaga Suster Vanessa kami ada hal penting yang harus kami bicarakan. "


"Baik, Dok, "


Dengan Sabar suster Yuni duduk di samping Suster Vanessa yang tidak lama kemudian tangan Vanessa bergerak-gerak.


"Suster Nesa anda sudah sadar, "


"Aku dimana? "


"Suster ada disini di Rumah sakit Sehat Sentosa."


"Apa, di Rumah sakit Sehat Sentosa, "


"Ya, Suster, Suster Vanessa ada di sini jadi sekarang Suster Vanessa tenang saja, "

__ADS_1


"Suster Yuni, "


"Iya, Suster Vanessa ini Aku Kita sudah lama tidak bertemu kenapa ketika bertemu Suster Vanessa harus terbaring begini, cepatlah sembuh, biar kita bisa ngobrol berdua lagi, "


Vanessa tersenyum kemudian dengan tiba-tiba Vanessa berusaha duduk dan turun dari Ranjang.


"Suster Vanessa jangan turun dulu Suster Vanessa masih lemah, "


"Maaf, Suster Yuni Aku harus pulang Aku harus mencari Anakku, "


Vanessa yang berniat membuka pintu dan ketika pintu terbuka di depannya sudah berdiri Dokter Rendra.


"Kau Mau kemana Nes, cepat kembali ke tempat mu, "


"Mas Rendra ,Aku mau mencari Mikha Aku mau bertemu dengan Mikha kasian dia pasti sedang menangis dan ketakutan."


"Aku bilang kembali kw tempat mu dengan berjalan sendiri apa Aku gendong, "


"Mas, Aku tidak sedang bercanda Anakku sedang di tawan Mas Bara Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya apa kamu tidak memikirkan itu, bukankah Mikha itu Anakmu, "


"Hmmm, Baru sadar kalau Aku ini Bapaknya kenapa dari kemarin tidak bicara apapun padaku, sudah kembali beristirahat sana tidak perlu memikirkan Mikha, Nanti biar Aku sendiri yang akan menjadi jemput Mikha kesini, "


"Mas Bara tidak akan mengizinkan biarkan Aku saja kalau Aku yang bicara pasti Mas Bara mau menerima dan mendengarkan. "


"Tentu saja Bara mau memang dia sedang menunggu kamu yang datang padanya sudah urusan Mikha biar Aku yang urus, cepat kembali ke Ranjangmu atau Aku gendong, "


"Tapi, Mas, ____


Rendra yang kesal dengan sikap Mantan Istrinya yang sangat keras kepala segera langsung mengedong Vanessa dan meletakkan tubuhnya di atas Ranjang Rumah sakit.


" Mas jangan Malu sama Suster Yuni, "


"Sudah diam,"


Suster Yuni berpura-pura memalingkan wajahnya berkali-kali


untuk tidak melihat akan tetapi kedua bola matanya mengintip


"Sudah kamu diam disini sampai kamu pulih, awas kalau sampai kemana-mana, Aku pergi dulu, "


"Mas, Rendra. '


Rendra yang melangkah menghentikan langkah kakinya, "


"Apalagi? "


"Bawa Mikha secepatnya pulang padaku. "


"Hmmm, "


Rendra kembali melangkah keluar dan menutup pintu sampai di luar Ponsel Rendra berbunyi.


"Derrrt..!


Derrrt...!


" Halo..!


"Dokter Rendra saya sudah mendapatkan informasi nya orang yang mendapatkan Donor Darah dari Nona itu adalah Ibu Sukma beliau Ibu dari Tuan Bara Wijaya. "


"Apa? Ibu dari Bara Wijaya baiklah trimakasih informasi nya.

__ADS_1


" Tit, " Rendra mematikan ponsel hpnya.


"Bara..!"Vanessa menderita karena Untuk menyelamatkan Mamamu dan kamu harus bertanggungjawab atas semua itu tunggu kedatangan ku Aku akan bawa Anakku, " geram Rendra dengan kedua tangan mengepal,


__ADS_2